
Adhi pergi mencari Kanaya, meski awalnya atas ucapan Eyang, tetapi kini dia menyadari hal tersebut –kalau itu adalah yang harus dia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya dan hubungan mereka.
Hanya saja, hingga dia sudah berkeliling sekitar –dia belum menemukan Kanaya. Ya Tuhan, ke mana Istrinya?
Cemas, Adhi kembali mencari ke tempat yang lebih jauh lagi dan sesekali bertanya pada warga. Syukurnya, ada yang melihat sang Istri yang berjalan ke arah perkebunan Teh dan lantas dia segera pergi ke sana.
“Kanaya!” panggil Adhi ketika melihat sosok Istrinya meski jarak mereka masih cukup jauh. Lalu saat gadis itu menoleh dan berbalik, entah dari mana ada perasaan meluap yang muncul dan itu mendorong dirinya untuk segera berlari menghampiri sang Istri.
Grep!!
Adhi merengkuh Kanaya dalam pelukannya erat seakan tak ingin melepaskannya kembali. “Ya Allah, Neng~ Mas khawatir banget kamu kenapa-napa, mana kamu baru di sini dan gak kenal siapa-siapa. Tapi untung aja tadi ada tetangga yang liat, kalo gak, Mas udah bingung nyari kamu di mana lagi. Ya Allah, Neng~ jangan lagi kabur-kabur ya,” ocehnya panjang.
Kanaya yang masih mencerna perlakuan Suaminya –terdiam, sebelum akhirnya dia mendorong sang Suami dan melepaskan pelukannya, lalu memandang wajah di hadapannya dengan tanda tanya.
Lakinya kenapa? Lagiankan dia bukan anak kecil yang gampang ilang dan gak tau jalan pulang.
“Gak, ini salah Mas yang maksa dan bukannya kejar kamu pas pergi. Mas minta maaf dan janji bakal nurutin maunya Eneng. Kalau Eneng mau pulang, kita pulang sekarang dan Mas nanti juga bakal bantu ngerjain Skripsi Eneng sampe tuntas, kalau perlu Mas bantu ketikin juga,” lanjut Adhi tak kalah panjang dari sebelumnya.
Kanaya menatap sang Suami aneh, tanpa mengedipkan mata. Tadi Mas ngotot banget, sekarang kebalikannya –jadi baik banget. Kesambet apa? Malaikat?
Tetapi Kanaya tidak memusingkannya lagi, lebih dari itu, dia bersyukur karena suaminya sudah sadar. “Eneng maafin Mas,” ucapnya dengan senyuman –dan kini giliran dirinya. “Aku juga minta maaf, seharusnya Eneng juga bisa ngertiin Mas –karena kita udah jadi bagian hidup satu sama lain.”
Adhi menatap pada mata Istrinya dalam, seakan mencari hal lain dari ucapan yang baru saja dia dengar. Lalu entah sejak kapan, tangannya menangkup wajah Kanaya dan dia mendekatkan jarak mereka.
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat di dahi Kanaya dan membuat gadis itu kaget hingga pupil matanya membulat. “Mas!” teriaknya setelah memulihkan keterkejutannya. “Inikan tempat umum!” omelnya.
Adhi hanya menampilkan deretan giginya sebagai jawaban. “Ayo kita pulang, nanti Eyang malah ikut nyari-nyari kita,” ajaknya sembari menggandeng pergelangan lengan sang Istri.
O
O
O
Rasanya seperti Dejavu, saat mereka tiba di rumah sudah ada Eyang, Bude dan Pakde yang menunggu.
"Kapan perempuan itu mau datang?" tanya Bude Ratna dengan nada tak suka.
Adhi dan Kanaya mengerutkan kening, sama-sama tak mengerti orang yang dimaksud oleh Bude Sukma.
"Sukma," ucap Eyang menjelaskan.
Kini Adhi berpikir, sepertinya Eyang sudah berhasil membujuk Bude Ratna untuk mau menyelesaikan kesalahan paham antara kedua keluarga tersebut. Syukurlah, semua berjalan dengan baik pada akhirnya -baik Kanaya maupun Bude.
"Kita tunggu aja, Bude. Toh ini juga masih pagi," jawab Adhi.
"Terserah," jawab Bude dan pergi meninggalkan ruangan.
"Dhi," panggil Eyang. "Coba kamu telepon Sukma dan tanya kapan dia datang."
“Aku enggak punya nomornya, Eyang,” jawab Adhi.
Eyang menghela nafas. “Budemu gak bakal mau kalau harus nunggu lebih lama lagi,” resah wanita lanjut usia itu. “Ya sudah, kamu jemput saja.”
“Jemput siapa?” tanya Bude Ratna yang tiba-tiba muncul kembali. “Perempuan itu?” sinisnya benar-benar kentara. “Kenapa repot-repot banget ngurusin mereka? Mau dateng syukur, berarti masih ada etika mereka. Kalaupun enggak, bodo amat. Mereka yang punya urusan sama salah, malah kita yang repot.”
"Cukup Ratna!" ucap Eyang pada putrinya dengan nada tinggi.
“Adhi, sudah sana kamu jemput Sukma!” putus Eyang akhirnya.
“Jangan Adhi juga yang suruh jemput, Bu. Yang Ada nanti perempuan itu malah cari kesempatan,” sanggah Bude Ratna pada Eyang. “Mas sana jemput perempuan itu,” ucapnya pada sang Suami –Pakde.
Kanaya hanya dapat memperhatikan cekcok keluarganya ini. Sebenarnya, siapa yang Istrinya Mas Adhi? Jadi Bude yang repot. Udah dendam kusumat apa Bude sama Mbak Sukma?
o x o x o x o x o
Akhirnya Pakde berangkat untuk menjemput Sukma, lalu setelah beberapa belas menit Pakde kembali –hanya saja dengan membawa tentengan.
Bude Ratna langsung menghampiri dan bertanya, “Punya siapa? Terus perempuan itu mana? Gak jadi dateng?”
“Ini bawaan punya Sukma, katanya buat oleh-oleh Adhi sama Kanaya,” jawab Pakde.
“Jadi dia gak berani dateng terus ngasih sogokan?” ucap Bude Ratna sembari memeriksa isi kantong tersebut. “Entah apalah yang dibawanya, dikata kita gak mampu bawain oleh-oleh buat Adhi sama Kanaya apa? Lagian segini doang, mending gak usah. Malu-maluin diri sendiri aja, masa ngasih cuman sedikit. Mana cukup buat ngasih keluarga besan sama temen-temennya. Udah, gak usah diterima –balikin aja lagi. Lagian takut nanti diguna-guna,” celanya tak ada habis.
“Oh~ berani dateng juga itu perempuan?”
Pakde geleng-geleng kepala dengan kelakuan Istrinya dan mulutnya yang pedas, dia jadi tak enak hati juga. Lantas Pakde segera memberi tahu yang lain tentang kedatangan Sukma.
Setelah diberitahu, Eyang dan Adhi berdiri dan berjalan keluar –teras.
“Sukma,” panggil Eyang ketika melihat sosok tersebut.
Sukma menoleh dan segera menghampiri Eyang. “Assalamualaikum, Eyang apa kabar?” tanyanya sembari mencium punggung tangan wanita lanjut usia itu.
“Waalaikumsalam, alhamdulillah Eyang baik. Kabar kamu dan Ibu gimana?” tanya Eyang balik.
“Alhamdulillah, Sukma dan Ibu juga baik Eyang.”
“Yasudah, ayo kita masuk,” ajak Eyang.
Mereka duduk bersama di ruang tamu dan mengobrol, awalnya hanya obrolan ringan –agar Sukma bisa lebih rileks dulu. Lalu setelah itu, Sukma mulai menceritakan inti masalahnya –meski dengan tersendat-sendat dan sesekali digubris oleh Bude Ratna, namun Eyang segera mengambil tindakan agar dapat menyelesaikan bicaranya.
Setelah menceritakan kisah kelamnya, Sukma minta maaf dan dia tak berlama-lama untuk tinggal, dia segera pamit untuk pulang.
Sepeninggalan Sukma, keluarga tersebut masih berkumpul di ruang tamu. Terjadi keheningan sesaat sebelum Eyang mulai bicara. “Ratna, apa hatimu masih akan sekeras itu untuk tidak menerima maaf dari Sukma? Bagaimanapun, anak itu sudah lama menanggung beban dan derita,” ucap Eyang pada putrinya.
“Kalau perempuan itu bicara jujur dari awal, dia gak perlu dibenci selama ini,” balas Bude Ratna masih belum terima.
“Kamu masih belum mengerti rupanya,” ucap Eyang menyayangkan. “Seharusnya kamu paham, karena kamu juga perempuan, Ratna.”
Mendengar Eyang berkata demikian, rasanya Kanaya ikut tersentil. Bagaimanapun, dia juga tak lantas mengerti dan masih menyalahkan sang Suami dan Mbak Sukma –merasa menjadi korban diantara kisah masa lalu dua orang.
“Sukma saja tak berani cerita pada keluarganya, kalau cerita pada kita pasti lebih sulit. Lalu ... biar bagaimanapun, Sukma tak memperpanjang masalah dengan menikahi Adhi dulu. Anak itu sudah banyak berkorban, Ratna.” Eyang menghela nafas panjang, helaannya terdengar perih. “Ya Rabbi, kenapa selalu perempuan yang menjadi korban dan menanggung derita seperti ini,” pungkasnya dan meninggalkan ruang tamu.
Setelah Eyang pergi, satu-persatu dari mereka meninggalkan ruang tamu dan menyisakan Bude Ratna –yang tampaknya masih merenungkan perkataan sang Ibu. Mau seperti apapun, perkataan Eyang memang benar. Syukur masalahnya hanya sampai gagal melangsungkan pernikahan dan Sukma tak melanjutkan kebohongannya –yang saat itu tengah hamil anak pria lain.
Kalau sampai Sukma terus berbohong dengan menyembunyikan kehamilannya dan anak itu lahir dikeluarga mereka, entah bagaimana jadinya reaksi keluarga kalau sampai itu terjadi? Tidak terima, itu pasti –mungkin saja perceraian adalah jalan keluar yang akan dipikirkan. Pada akhirnya, anak tersebut juga akan menjadi korban.
Kini Bude Ratna menyadari kesalahannya dan sepertinya dia juga perlu meminta maaf pada Sukma dan keluarganya. Bagaimanapun dia bersalah karena telah membuat keluarga itu dikucilkan oleh warga. “Astagfirullah,” ucapnya penuh sesal sembari membungkam mulutnya yang telah banyak melakukan dosa.
O
O
O
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
O
O
O
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you later~