
Kanaya tidak ingin menunda-nunda, jadi meskipun kemarin dia baru saja bimbingan dan kembali dari rumah orang tua sang Dosen saat malam –hari ini dia tetap pergi ke sekolah. SMA Pertiwi, sekolah lamanya yang menjadi tempatnya melakukan penelitian.
Tetapi yang Kanaya jumpai di pintu gerbang, bahkan satpam sekolahnya sudah beda orang. Ya~ memang usia si Babe satpam sekolahnya yang dulu itu, sudah berumur lanjut sih. Sayang sekali, padahal niatnya dia minta ditemenin sama Babe.
Ngomong-ngomong, udah berapa lama sih dia dari terakhir ke SMA Pertiwi? Kayaknya baru beberapa bulan lalu deh, pas pertama kali datang buat minta ijin penelitian sekalian data sekolah untuk ngerjain Bab III Proposal Skripsi.
Dan pas itu dia kaget banget liat gedung sekolahnya yang berbeda dari tiga tahun lalu –saat dia datang untuk mengambil ijazah, tentu saja lebih bagus sekarang.
Kanaya gak ngerti dah ... giliran dia udah lulus, sekolahnya jadi bagus –rasanya pengen balik lagi. Udah kayak mantan aja, giliran udah sama yang lain –dia makin cakep. Eh?!
Kanaya menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran akibat kata ‘Mantan’. Lalu kembali berjalan memasuki gedung sekolahnya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Kanaya pada sang satpam.
“Ya, ada yang bisa dibantu Mbak?” tanya Satpamnya.
“Iya. Saya Kanaya mahasiswi dari Universitas Tri Widura –saya datang untuk melakukan penelitian, Pak.”
“Sebelumnya udah ada janji?”
“A ... ada,” jawab Kanaya pake mikir lagi. Aneh, kok gagap sih dia. “Tapi itu pas awalan minta ijin, terus ini saya datang mau kasih Surat Pengantar Penelitian resminya,” ucap Kanaya seraya menunjukan amplop yang masih disegel dan bercap kampusnya.
Si Bapak Satpam hanya melihat sekilas, lalu mengembalikannya lagi pada Kanaya. “Ya udah, Mbak lapor dulu ke Piket. Biar nanti diantar ke Kepala Sekolah,” beritahu sang satpam.
“Baik Pak, terima kasih,” ucap Kanaya dan menghampiri meja piket.
Padahal tuh yah, kalo ada Babe –dia bisa langsung ke atas gak perlu repot lapor ke piket. Mana kayaknya guru yang jaga piket juga baru, gak bisa pake alasan Alumni lagi dah.
“Permisi Bu, saya Kanaya mahasiswi dari Universitas Tri Widura,” sapa Kanaya dan memperkenalkan dirinya pada seorang guru perempuan yang tampak muda.
“Ya, ada perlu apa?” tanya sang Guru penjaga piket singkat dan datar.
Kanaya menarik sudut bibirnya, untuk menunjukan tersenyum ramahnya. “Saya mau melakukan penelitian, Bu. Ini suratnya.”
Sama seperti sang satpam lakukan, Guru Piket tersebut juga hanya melihat sekilas. Lalu dia mengantar Kanaya ke ruang Kepala Sekolah yang ada di lantai dua.
“Tunggu di sini sebentar ya, Mbak,” pinta sang Guru Piket, sebelum dia masuk ke ruang Kepala Sekolah. Tak lama Guru Piket itu keluar dan mempersilahkannya masuk untuk menemui Kepala Sekolah.
“Assalamualaikum, permisi,” ucap Kanaya.
“Ya, masuk,” jawab suara seorang pria yang terdengar familiar bagi Kanaya.
“Abi!” panggil Kanaya spontan saat melihat sosok pria paruh baya itu. Dia senang, akhirnya ketemu dengan orang yang dia kenal juga.
“Loh? Si Eneng toh yang datang. Kenapa gak bilang dulu kalo mau main ke Pertiwi,” jawab sang Kepala Sekolah. “Bu Rum, ini Adek kamu juga –alumni sini dia,” ucapnya memperkenalkan Kanaya pada sang Guru Piket.
Kanaya menggangguk lembut dan tersenyum –menyapa pada sang Guru Piket yang dipanggil Bu Rum. Lalu setelahnya sang Guru Piket undur diri dan Kanaya kembali berbincang dengan Abi Luqman.
“Saya bukan mau main Bi’, ini ada perlu buat tugas kampus,” jawab Kanaya masih terdengar riang, lalu memberikan Surat Pengantar Penelitian.
Jadi Pak Luqman ini Guru Biologi, terus kenapa dipanggil Abi ? Karena tiap beliau ngajar, sering banget diselingi ceramah.
Apalagi kalo bahas pelajaran reproduksi, murid cewek sama cowok disuruh jaga jarak sama beliau. Terus suka Sidak, buat ngerazia murid. Abis itu, ya~ ceramah lagi. Paling doyan nyeramahin murid yang ketahuan pacaran mojok-mojokan, siap-siap pengang dah tuh kuping.
“Lagi skripsi kamu, Neng? Gak kerasa ya, udah mau lulus kuliah aja. Apaan nih judulnya? Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah. Wah! Saya dong, ini mah,” ujar Abi Luqman.
“Iya Bi’ ... jadi nanti saya mau wawancara sama videoin, bolehkan?” tanya Kanaya.
“Bisa banget, Neng. Tapi nanti kabarin kapan mau wawancaranya ya, jadi Abi bisa cukuran dulu –biar ganteng,” sahut Abi Luqman jenaka.
“Tenang aja, Bi’ –bisa diatur,” jawab Kanaya. “Oh iya Bi’, saya mau minta untuk gurunya juga.”
“Gampil itu mah, kamu tunjuk aja orangnya. Nanti Abi yang bilang.”
Kanaya senang bukan main, Alhamdulillah~ penelitiannya menemukan jalan mulus. Semoga lancar dan bisa segera lulus.
“Ya udah Bi’, gitu aja,” ucap Kanaya ancang-ancang mau pamitan.
“Lah? Cepet amat Neng, serius ini udahan?” tanya Abi Luqman.
“Iya Bi’, ini saya cuman mau kasih surat. Kalo yang lainnya nanti, masa datang-datang langsung nugas,” dalih Kanaya.
“Ya~ gak apa-apa, biar cepet kelar. Emang gak mau?”
“Mau lah, Bi’. Masa enggak. Ini juga udah puyeng saya.”
“Nah, makanya ... terus abis ini mau kemana? Pulang?”
“Iya, pulang Bi’. Banyak kerjaan juga soalnya.”
“Ya udah-dah pulang sono, jangan kelayapan. Ada ongkos gak? Atau diantar sama si Ono?”
“Ada Bi ongkos mah. Si Ono, siapa?” tanya Kanaya.
“Itu ... T.T.S –an kamu,” sahut Abi Luqman menggodanya.
“Dih! Abi, masih aja dibahas,” balas Kanaya antara malu-malu dan enggan.
“Abis kalian tuh ya, nempel mulu. Kalo ada kamu, pasti ada Dimas atau kebalikannya. Hampir aja saya tangkep kalian sebagai pasangan mesum,” nostalgia Abi Luqman.
“Enggaklah Bi’, kita mah friends aja,” jawab Kanaya setenang mungkin.
“Ya~ terserah kamu mau bilang apa, yang penting bisa saling jaga diri. Abi doain yang terbaik buat kamu.”
“Terima kasih Bi’, kalo gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum.”
“Ya, sama-sama. Waalaikumsalam.”
◦ ◦ ◦
Kanaya sedang berdiri dekat pos satpam, dia mengeluarkan ponselnya untuk memesan Oj-Ol. Namun dia melihat banyak notifikasi pada layar ponselnya. Pak Adhi? Mau ngapain Dosennya?
Pak Adhi :
Mbak Kanaya, ada di rumah? Saya ada perlu. [08:37]
Pesan pertama masuk setelah Kanaya berangkat untuk menuju sekolahnya, mungkin Kanaya sedang di jalan dan tidak mengetahui ada pesan karena ponselnya mode senyap.
Panggilan suara tidak terjawab. [08:51]
Pak Adhi :
Saya akan tunggu di rumah kamu saja. [09:03]
Dosennya mau ngapain sih? Sampe dateng ke rumahnya.
Pak Adhi :
Kamu masih di sekolah, kan? Saya nyusul kamu. [09:58]
Ya ampun~ bener-bener dah nih Dosen. Kanaya segera menekan tombol panggil pada kontak sang Dosen, seraya berjalan keluar dari kawasan sekolah dan berjalan tergesa-gesa menuju jalan besar untuk naik angkutan umum.
“Halo Pak,” ucap Kanaya buru-buru setelah panggilannya diangkat. “Bapak gak usah nyusul saya, ini saya udah selesai kok dan langsung pul___.”
“APA?!” kagetnya dan menghentikan langkahnya.
'Iya, ini saya udah masuk ke jalan SMA Pertiwi ... tunggu!' jawab Pak Adhi dan menjeda panggilannya. 'Mbak Kanaya yang berdiri deket tempat sampah, kan? Pake baju coklat,’ imbuhnya.
Kanaya menoleh kanan dan kiri, bukan memastikan posisinya –karena hidungnya sudah mengakuinya. Tetapi dia hendak mencari keberadaan sang Dosen.
Tin ... Tin ...
Perhatian Kanaya segera tertuju pada suara klakson yang berbunyi nyaring, tak jauh darinya –sebuah mobil hitam sedang melaju ke arahnya. Tidak salah lagi, itu Pak Adhi –Kanaya ciri itu mobilnya.
Benar saja, mobil itu berhenti di depannya. Lalu pintu depan bangku penumpang terbuka. Kanaya mendekat, melihat ke dalam mobil.
“Masuk,” titah sang Dosen.
Kanaya tidak punya pilihan selain menurutinya. Emangnya mau kemana lagi coba dia? Kabur mah gak bakalan bisa.
“Bapak ada apa, sampe jemput saya ke sekolah segala? Tadi katanya mau tunggu di rumah,” tanya Kanaya setelahnya dia menaruh bokong.
“Sabar Mbak Kanaya, udah nafsu nyerang saya aja. Atur nafas dulu,” sahut Pak Adhi.
Lagi-lagi dia menurut. Tapi emang dia capek sih, engos-engosan setengah lari tadi.
“Jadi ... tadi saya emang niatnya nunggu kamu datang saja. Tapi Ibu saya nyuruh jemput kamu,” jelas Pak Adhi. “Terus Ibu kamu juga bilang, sekolah kamu deket. Ya sudah, saya susul kamu,” lanjutnya.
Pasrah, Kanaya pasrah.
Setelah pertanyaannya dijawab, Kanaya diam sembari menikmati perjalanan pulang menuju rumahnya.
Tapi ... sebentar, kayaknya ini bukan jalan arah ke rumahnya deh.
“Pak, saya mau dibawa kemana?” tanya Kanaya sudah seperti dia diculik saja.
“Loh? Saya belum bilang ya, kalau mau ajak kamu pergi ke tempat lain dulu buat cari barang,” sahut Pak Adhi tenang.
“Enggak.”
“Ya udah, nanti kamu juga tau pas sampe,” jawabnya malah memancing rasa penasaran Kanaya.
◦ ◦ ◦
Pak Adhi membawa Kanaya ke sebuah pusat perbelanjaan besar di kota, dan hingga saat ini dia belum tahu apa tujuan sang Dosen menbawanya ke sana. Kanaya pun capek nanya, soalnya dijawabnya –nanti kamu juga bakal tau. Terserah Pak!
Tanpa Kanaya duga, mereka memasuki sebuah toko perhiasan –kirain dia bakal diajak makan. Hah~ akhirnya dia menyadari kalau dia akan benar-benar menikah dengan sang Dosen. Padahal tadi pagi dia sudah lupa, gara-gara ngurusin penelitian skripsi.
“Ayo Mbak Kanaya, dipilih cincinnya yang kamu suka,” ujar Pak Adhi.
Kanaya blank. “Gak tau Pak, terserah,” jawab Kanaya bingung.
“Ya~ jangan terserah, nanti saya kasih yang ini,” ledek Pak Adhi seraya tangannya menunjuk ke arah Cincin Batu Akik.
Kanaya mencibir, namun setelahnya dia tetap melihat-lihat ke dalam etalase kaca. Dan entah sangking bingung atau senengnya dia melihat berbagai model cincin, waktu sudah terlewati hingga belasan menit –Pak Adhi.
Pada akhirnya, Mbak Penjaga Toko membantu untuk merekomendasikan beberapa model cincin. Dari lima cincin yang dipilihkan, kini tersisa dua.
Kanaya berpangku dagu pada salah satu tangannya, masih bingung. Namun di tengah kegiatannya berpikir, tangannya ditarik –Kanaya kaget dan membuatnya menoleh.
Adhi memegangi tangan Kanaya, lalu dia mengambil sabuah cincin dan memasangkannya di jari manis kiri Kanaya. “Menurut saya, kamu cocok sama yang ini,” ujarnya. “Pas!”
Kanaya terpaku memandangi cincin itu sudah melingkar dengan sempurna di jarinya. Ya Rabbi~ belum juga apa-apa, dia udah deg-degan aja.
“Mbak Kanaya suka gak?” tanya Pak Adhi.
Kanaya mengangguk pelan, lalu matanya kembali memandangi cincin di jarinya tersebut.
“Yang ini Mbak,” ucap Adhi pada sang Penjaga Toko.
“Baik,” jawab Mbak Penjaga Toko seraya menerima cincin pilihan pembelinya itu. “Perhiasan yang lainnya, Pak?” tanyanya.
“Enggak, ini saja dulu,” jawab Pak Adhi.
Sang Penjaga Toko mengangguk paham dan pergi ke belakang untuk membungkus cincinnya.
“Bapak nggak?” tanya Kanaya yang bingung karena mereka hanya memilih cincin untuknya.
“Itu nanti, lain lagi urusannya kalau sama cincin saya,” jawab Pak Adhi menimbulkan tanda tanya bagi Kanaya. “Kamu gak sabar, pengen buru-buru saya nikahin ya?” godanya.
“Lah! Enggak Pak,” bantah Kanaya.
Pak Adhi terkekeh melihat respon Kanaya yang berlebihan. “Saya ajak kamu buat pilih cincin tunangan dulu,” jawabnya.
“Emang udah ditentuin tanggalnya?”
“Segera, sedang dalam pembicaraan,” jawab Pak Adhi. “Memangnya kamu pikir, apa alasan saya dan orang tua saya datang hari?”
Kanaya tak dapat menjawab, tetapi bukan karena dia tak tau –melainkan dia tak berani.
“Gak usah terlalu dipikirin, kita jalani ini bertahap –nanti juga bakal sampe kok. Nikmati saja prosesnya, sembari kita saling mengenal dan memahami pribadi masing-masing,” ucap Pak Adhi menenangkan Kanaya seraya mengusap puncak kepalanya.
Kanaya kembali mengangguk, matanya menatap sang Dosen dan membalas dengan senyuman.
●
●
T
B
C
●
●
Ciee~ yang GerCep!! Selangkah demi selangkah menuju HALAL.
Abis beli cincin tunangan, ngapain nih?
Ayo Kanaya, dikebut skripsinya. Biar puyengnya nanti gak double.
BTW, udah berasa belom manis-manisnya Pak Adhi??
wkwkwk
- - -
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you ~