
Akhirnya, hari yang mendebarkan tiba. Ya~ meskipun ini masih permulaan sih, dibanting nanti pas Sidang Kelulusan. Tetapi tetap saja, menanti hari ini sukses membuat Kanaya ketar-ketir.
Pertama, karena sampai dua hari menjelang seminar -Ibu Andin belum membalas email Proposal Skripsi nya. Syukurnya Ibu Andin masih membalas chat -nya, biarpun itu tidak sesuai dengan yang Kanaya harapan. Isinya, beliau meminta maaf karena tidak dapat memeriksa Proposal Skripsi nya sebab beliau sedang menjalani operasi sesar.
Kedua, karena alasan pertama juga -informasi terkait persiapan Seminar Proposal Skripsi tidak tersampaikan dengan jelas dan semua keteteran.
Hah~
Kanaya pengen nangis rasanya saat itu, sangking gondok juga bingungnya karena waktu mepet. Sedangkan dia belum selesai ngerapihin Proposal Skripsi, tetapi itu juga harus disimpan dalam bentuk soft copy pada CD-R dan buat Presentasi, bahkan untuk presentasi Kanaya juga gak tahu bagaimana.
Syukurnya, dia punya teman dan keluarga yang senantiasa mendukungnya -kecuali Bang Dhika!! Asli, dia ngeselin. Bukannya bantu atau apa, malah ngomporin.
Tetapi ya, sudahlah. Sekarang Kanaya harus fokus dengan yang akan menantinya di depan mata dan mempersiapkannya lebih matang. Jadi Kanaya mengulas kembali materi terkait isi Proposal Skripsi nya, hanya garis-garis besar ditambah dengan pertanyaan bocoran yang dia dapat dari Kating (kakak tingkat atau senior).
Tek … Tek … Tek …
Denting jarum jam seperti terdengar nyaring di telinga Kanaya, baginya waktu berjalan sangat lambat -hingga dia merasa bokongnya mulai panas karena kelamaan duduk dan telapak tangannya berkeringat sangking gugup nungguin Dosen Pengujinya datang.
Hah~
Ternyata dia salah strategi dengan berangkat pagi, dengan alasan biar gak keburu-buru. Bayangkan saja, pukul setengah tujuh dia sudah di kampus, sedangkan Seminar di mulai pukul delapan dan ini masih ada waktu sekitar dua puluh menit.
Ya Rabbi~ cepet datang kek' Pak Adhi!! Biar ini cepet kelar Seminarnya. Gak tahan sumpah, nunggu rasa nahan mules gini.
"Selamat Pagi." Suara berat khas seorang penuh wibawa dan karisma itu datang dari pintu masuk.
Kanaya menoleh dan mendapati wajah menarik dan familiar.
Panjang umur, datang juga Bapak Dosen Gebetannya Si Adel.
"Sudah banyak ya, yang datang. Kalian ini rajin-rajin rupanya~ Datang jam berapa, heum? Jangan-jangan abis Subuh," ujar Pak Adhi sembari merapikan isi tasnya.
'Abis matahari terbit, Pak!' timpal Kanaya dalam hati.
"Yang duduk paling belakang pasti yang datang duluan," oceh Pak Adhi lagi dengan tatapan mengabsen satu-satu mahasiswa, terutama yang duduk di belakang.
Emang, dan Kanaya pertama.
"Udah pada siap ya, berarti?" goda Pak Adhi namun terdengar seperti ancaman bagi mahasiswanya.
"Enggak Pak!!" jawab para mahasiswa lantang dan serentak.
"Jujur banget kalian," komentar Pak Adhi bernada sarkas. "Tapi siap atau tidak, itu bukan urusan saya. Tugas saya cuman menilai hasil kerjaan kalian dengan objektif, jadi kerahkan usaha terbaik kalian dan berdoa."
Pak Adhi berjalan ke tengah kelas. "Bisa kita mulai sekarang?"
"Ya!" jawab Mahasiswa meski terdengar ragu.
"Baik, kita berdoa lebih dulu. Setelah itu akan saya absen dan kalian kumpulkan proposal skripsi di meja saya," jelas Pak Adhi. "Ahh … rapihkan pakaian dan tempat duduk kalian -bangku depan tolong diisi. Jas almamater dipakai saat presentasi saja, jadi bisa dilepas dulu sekarang. Memang gak sumpek apa kalian?" ucap Pak Adhi sebelum kembali ke mejanya.
Sementara Kanaya, meski dia duduk anteng di bangkunya yang kini berpindah ke barisan dua sejajar dengan meja dosen, tetapi sedari tadi dia ngedumel. Sibuk membenarkan perkataan Adel soal Pak Adhi yang punya banyak aturan dan kalo ngomong pedas.
'Semoga dilancarkan lisannya saat bicara dan otaknya saat berpikir, serta ditenangkan hatinya. Yang paling utama, semoga nilainya bagus!!' doa Kanaya.
---
Proposal Skripsi baru saja dikumpulkan, mahasiswi mulai waspada, menunggu siapa yang bakal dipanggil duluan. Tetapi yang paling was-was adalah mereka yang nomor absennya awal.
Hmmm~ kalau Kanaya sih masih terhitung aman, absennya di tengah agak ke bawah.
"Siapa yang mau jadi sukarelawan maju duluan?" tanya Pak Adhi memancing mahasiswa.
Senyap, semua bungkam seribu bahasa.
"Gak ada?" tanyanya masih menunggu. "Saya kasih poin lebih loh," tawarnya.
Pak Adhi menghela nafas. "Kalian ini kalau mental macam kerupuk melempem, gimana mau bersaing di dunia kerja yang kejam?"
Masih tak ada sahutan.
"Baik saya panggil acak saja," putus Pak Adhi pasrah lalu dia berdiri dari bangkunya dan melihat-lihat tumpukan Proposal Skripsi.
"Selama teman kalian Presentasi, harap tenang dan perhatikan. Awas saja, kalau saya lihat kalian nyender tembok terus tidur. Langsung saya tarik ke depan dan babat abis," ultimatum Pak Adhi. "Muthia Seana, harap siapkan diri."
"Haaahhh~~." Kanaya menarik nafas lega setelah tahu bukan namanya yang dipanggil. Namun sangking senangnya, dia tak sadar kalau helaan nafasnya sampai terdengar ke meja dosen.
"Siapa itu yang narik nafas kenceng banget?" sorot mata tajam Pak Adhi mengabsen ke arah sumber suara.
'M*mpus,' batin Kanaya yang mulai menyesali perbuatannya. Dia menunduk lesu di bangku.
Dan tanpa perlu bersusah payah, Adhi segera menemukan tersangkanya, karena tatapan mahasiswa lainnya langsung tertuju pada seorang gadis. "Mbaknya, yang narik nafas paling kenceng … abis ini maju, ya? Biar nanti gak perlu ngehela nafas mulu dan kelamaan tegang," ucap Pak Adhi dan diakhiri dengan senyuman mematikan -secara harfiah.
Sebab rasanya, oksigen di sekeliling berasa lenyap.
'B*go! Kanaya b*go!' umpat Kanaya menyalahkan dirinya sendiri.
"Mbak?" panggil Pak Adhi. Kanaya ter
paksa mendongak sembari berusaha menampilkan tampang setenang mungkin. "Nama kamu siapa?"
"Ka … Kanaya, Pak," jawab Kanaya mati-matian tetapi tetap saja tak mampu menyembunyikan kegugupannya hingga dia bersuara gagap. Doanya belum terkabul.
Pak Adhi mengambil absensi dan melihatnya sembari memegang pena. "Kanaya Cempaka?"
"Iya, Pak."
Setelah Kanaya mengiyakannya, Pak Adhi tampak membulatkan pada lembar absensi.
Kanaya tebak, Pak Adhi baru saja menandainya.
Dauble m*mpus!!
Jangan sampe nilainya minus, cuman gara-gara sesuatu yang manusiawi semacam menghela nafas.
"Kamu siap-siap. Ingat! Abis ini kamu yang presentasi … dan perhatiin juga temanmu yang maju pertama," ucap Pak Adhi pada Kanaya dengan langsung menatap pada matanya.
'Adel, gue takut sama dosen gebetan lo. Huhu … gimana nasib nilai seminar gue,' jerit Kanaya dalam benaknya.
"Muthia, silakan dimulai presentasinya," ucap Pak Adhi kemudian mempersilakan mahasiswa pertama.
'Ack! Come on, Kanaya. Fokus!! Abis ini lo yang maju,' tegur Kanaya pada dirinya sendiri.
••
T
B
C
••
Bisa gak ya, kanaya?
>>>
See you next part~
×××^×××
Btw aku mau cerita dikit .. bolehkan?
Jadi selama masa lo ngerjain skripsi, ada saatnya lo ngerasa capek banget sampe titik darah penghabisan, bukan cuman fisik tapi juga batin sampe pengen nangis.
Dan ya, gue juga sempet nangis pas ngerjain skripsi … juga beberapa temen gue.
Terus pas gue seminar , … itu bakal gue ceritain nanti. Kkkk~
Muah!!