Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 37 - Ngomongin Mantan]



Sepeninggalan kedua belah pihak keluarga yang sempat bertamu di tempat tinggal mereka, pasangan baru itu kembali menyibukkan diri masing-masing. Kanaya sedang membereskan bajunya ke dalam lemari, sementara Adhi … entah dimana keberadaan sang Dosen/Suaminya itu? Kanaya belum melihatnya lagi sejak keluarganya berpamitan pulang dan Pak Adhi mengantarnya.


Kini dia sendirian di apartemen -dalam kamar utama. Tapi tenang saja, meski hari sudah malam dia tidak akan takut dengan makhluk yang sempat ikut pindah dan memancing keributan sepanjang malam.


Dia sudah musnah~ MATI KAU, KECOA!! Hahah!!


Tapi kalau diingat-ingat, lucu juga. Abang sama Adik Iparnya -Rendra, pas nangkep Kecoa.


Ya ampun~ ternyata Rendra 11/12 sama Abangnya. Dan bikin Kanaya mikir, apa Pak Dekan/Bapak Mertuanya juga takut Kecoa. Kok bisa sih, para laki-laki itu ciut sama Kecoa? Sebenernya mereka hidup di bumi bagian mana?


Kanaya terlalu asik dengan pikirannya, hingga tanpa sadar tangannya menyenggol sesuatu di dalam lemari saat memasukkan bajunya dan benda itu jatuh.


Praakkk!!


Ya Rabbi~ ceroboh banget sih dia, kalau Pak Adhi liat ... marah gak ya?


Kanaya membungkuk untuk mengambil benda yang merupakan sebuah figura, lalu diangkatnya dan … pecahan kaca berjatuhan.


'M*mpus gue!!' paniknya dan buru-buru membereskannya, namun salah satu jarinya malah jadi korban goresan dan mengeluarkan darah meski tak terlalu banyak -hanya saja rasanya tetap perih.


"Aww!!" ringisnya Dan meletakkan figura tersebut dalam posisi sebaliknya, hingga tampak sebuah foto … perempuan!!



Melihat foto tersebut, membuat Kanaya bertanya dalam benaknya. "Èng~ siapa perempuan yang ada di foto tersebut? Sampai Pak Adhi masih menyimpannya."


Kanaya merasa tidak enak, selain karena perih di jarinya -entah kenapa ada rasa perih lainnya yang baru saja muncul di salah satu bagian dalam dirinya.


Tetapi Kanaya segera menepisnya -pikiran dan perasaan buruk. Lalu kembali membereskan kekacauan yang dia buat dan juga bajunya.


Selang beberapa saat kemudian, Pak Adhi kembali -dia juga menenteng sebuah kantung belanja berbahan kain.


"Maaf lama, tadi saya ngobrol sama tetangga," jawab Adhi tanpa ditanya.


Kanaya mendehem.


Pak Dosennya ini masih saja pekanya tinggi, macam bisa baca pikiran.


"Apaan itu, Pak?" tanya Kanaya yang tertarik dengan isi kantung yang dijinjing sang Dosen/Suami.


"Ini … ya~ dari tetangga kita itu," jawab Adhi dan meletakkannya di meja dapur sembari mengeluarkan isinya.


Kanaya mendekat untuk melihat.


"Oh iya, kamu diminta datang besok ke saung buat kenalan sama warga," beritahu Adhi.


"Emang harus ya, Pak?" tanya Kanaya ragu.


"Iya lah, harus!!" jawab Adhi tegas. "Kamu kan warga baru di sini, terus mereka belum tau kamu itu istri saya. Selain juga untuk menghindari fitnah -menikah karena kebablasan, seperti dalam kasus kita yang gak ngundang pas nikah dan dadakan juga acaranya."


Kanaya mengangguk paham dan setuju untuk datang. "Kapan pertemuannya, Pak? Jam berapa? Saya kan besok mau ke sekolah buat penelitian."


"Tenang aja, acaranya sore. Mereka pada dasarnya orang sibuk, Neng. Tapi sisi baiknya, mereka tetap nyempetin diri untuk bermasyarakat. Meski kadang cuman untuk memuaskan rasa penasaran atau ajang gosip sih," jawab Adhi skeptis.


"Bapak juga dateng, kan? Nemenin saya? Saya gak mau dateng sendiri," tanya Kanaya dengan nada meminta.


"Iya," jawab Adhi singkat. "Eh … Neng, kamu udah selesai bebenahnya?"


"Ya? Oh! Dikit lagi kok. Kenapa Pak?"


“Ada hal yang mau saya tanyakan sama kamu, saya penasaran dan gak ingin ada salah paham,” ucap Adhi serius sembari berbalik menatap langsung pada Kanaya.


“Soal apa, Pak?”


“Laki-laki yang tinggal di sebelah rumah kamu, siapa? Sebelumnya dia juga datang pas acara akad nikah dan saya ngerasa aneh dengan tingkah kalian. Dia bukan sekedar teman kamu kan?” tanya Adhi penuh kecurigaan.


Ya~ tingkat kepekaan Dosen/Suaminya ini memang gak bisa diragukan dan kalau sudah seperti ini, Kanaya tidak bisa mengelak. “Iya, dia mantan pacar saya,” aku Kanaya tanpa ragu.


Adhi menghembuskan nafasnya kasar. “Neng, saya udah kan ... hubungan kalian gak pantas dengan kamu yang udah nikah dan masih suka sama dia. Tapi kenapa kamu masih ngedeketin mantan pacar kamu? Kamu beneran mau selingkuh? Di depan mata saya.”


“Pak, terakhir kali saya bilang –saya minta maaf ... itu udah selesai. Tapi kenapa sekarang Bapak ngebahasnya lagi? Bapak gak percaya sama saya? Atau jangan-jangan ___.” Kanaya menutup mulutnya dengan tangan, lantaran terlintas hal gilaa dalam pikirannya. “Bapak gak lagi cemburu kan?!” imbuhnya penuh penekanan.


“APA?” Adhi terkejut dengan dugaan tiba-tiba sang Mahasiswi/Istri, hingga kehilangan kata-kata setelahnya.


“Pak! Kalo saya perhatiin, tingkah Bapak juga aneh tau hari ini,” goda Kanaya dan menyudutkan sang Dosen/Suami.


Adhi mundur dan sebisa mungkin menghindari tatapan gadis tersebut.


“Neng, kalau kamu cara bicaranya seperti itu pas ngomongin mantan ... bisa-bisa saya beneran cemburu,” aku Adhi malu.


Kanaya terkekeh. “Masa?” godanya.


“Udah, gak usah di bahas lagi. Selesaiin sana bebenahnya.”


“Dasar!! Orang Bapak duluan juga yang mulai,” balas Kanaya yang enggan menurut untuk berhenti dan kembali bicara. “Tapi emang tragis benget sih Pak, kisah asmara saya tuh. Mendem perasaan udah lama dan pacaran cuman beberapa minggu, terus abis itu dinikahin. Belum lagi apa yang Bapak bilang di malam pertama, wah~ sakitnya berkali-kali lipat!!”


“Kamu sekarang gak lagi nyesel nikah sama saya, kan?” selidik Adhi.


“Enggak Pak, tenang aja. Malah sekarang saya mikirnya, saya lumayan tepat milih Bapak.”


Adhi tertawa sumbar mendengar penuturan Kanaya. “Lumayan tepat, kamu bilang? Bukannya harusnya kamu ngerasa beruntung, saya pilih nikah sama kamu. Padahal di luar sana banyak Mahasiswi yang suka sama saya,” ucapnya menyembong.


Ah~ Kanaya jadi inget sifat Dosen yang satu ini, narsis. Ternyata masih toh. “Maaf Pak, saya masih banyak kerjaan di kamar. Saya permisi,” ijin Kanaya memotong pembicaraan.


"Ya udah sana, selesaiin. Saya mau beresin ini dulu," ucap Adhi terdengar merajuk seraya memasukan makanan dari tetangganya ke dalam kulkas.


"Iya Pak," jawab Kanaya sembari terkekeh dan masuk ke kamar.


Saat Kanaya berbalik dan meninggal dapur, Adhi tanpa sengaja melihat jari gadis itu terikat tisu. Tetapi hanya sampai disitu, dia tak menanyakan lebih lanjut alasannya.


o


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


o


Foto siapa ya itu?


Kira-kira Kanaya bakal nanya gak ya?


x x x x


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you soon~


0


0


0


LAGI NGETIK NEXT PART!!


Ditunggu ya~


Jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN ^^