Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 49 - Perselisihan]



Adhi dan Kanaya pulang larut karenanya, namun setiba di rumah mereka menemukan Eyang, Bude dan Pakde duduk di ruang tamu –tampaknya para orang tua itu menunggu mereka.


“Kok Eyang, Bude sama Pakde belum tidur?” tanya Adhi sembari menghampiri para orang tua itu dan mencium punggung tangan mereka dan diikuti Kanaya.


“Ngapain kamu, Dhi ... sampai jam segini kalian baru pulang?” balas Bude Ratna dengan balik bertanya.


“Enggak Bude, itu ...,” Adhi hendak menjawab, namun kalimatnya dipotong.


“Pasti kamu dicegah-cegah sama perempuan itu, ya?! Dasar perempuan kegatelan!”


“Astagfirullah, Bude. Itu gak bener, kami di sana murni cuman dengar penjelasan Sukma saja,” jawab Adhi namun tak sedikitpun mampu mengambil kepercayaan Bude Ratna.


“Ingat Dhi, sekarang kamu sudah punya istri. Jangan sampai kamu tergoda dengan batu kerikil dan membuang berlian, lalu rumah tangga kalian hancur karena perempuan masa lalu kamu,” ucap Bude Ratna lagi sinis.


“Hal seperti itu gak akan terjadi, Bude ... karena aku gak ada niat sedikitpun melukai siapapun, terutama Istriku. Dan yang harus Bude juga semua tau adalah ... Sukma bukan orang yang buruk seperti yang selama ini kita kira, dia juga korban,” jelas Adhi.


“Huh! Ujung-ujungnya kamu masih aja belain perempuan itu, Dhi.”


“Bukan membela, Bude ... memang kenyataannya seperti itu. Kanaya juga dengar sendiri ceritanya.”


Bude Ratna berdecak kesal sembari beranjak dari duduknya. “Ya ampun~ tak habis pikir Bude sama kamu, Dhi. Sudahlah kamu bawa Istrimu menemui perempuan lain, lalu kamu minta dia juga mendengarkan cerita perempuan itu. Gak punya hati kamu! Tega!” ucap Bude Ratna terdengar perih dan memukul dadanya meluapkan emosi yang bercampur di sana.


“Bude!” panggil Adhi dengan nada agak tinggi sampai semua orang tersentak mendengarnya. “Tolong dengar dulu aku ngomong,” pintanya kali ini merendahkan suaranya. “Aku mau jelasin semuanya, biar kita gak ada salah paham lagi.”


Bude mendengus. “Maaf Dhi, Bude gak tertarik buat denger cerita tentang perempuan itu. Sudah cukup keluarga kita dipermalukan karena dia, dan perempuan itu juga gak pernah ada omongan selama ini sama kita buat memperbaiki kesalah pahamannya. Jadi buat apa lagi? Dan sekarang, udah telat,” pungkasnya dan pergi.


Adhi sendiri mengusap wajahnya kasar, dia terlihat lelah. Tetapi masalahnya belum selesai dan dia tak berniat berhenti sebelum itu. Lantas Adhi ikut beranjak bangun mengikuti sang Bude, namun lengannya ditarik oleh Eyang.


“Sudah Dhi, lagi pula sekarang udah malam. Istrimu juga sepertinya perlu istirahat,” ucap Eyang menasehati.


Adhi menghela nafas dan menjawab, “Iya Eyang.” Lalu dia kembali dan mengajak Kanaya untuk masuk ke kamar.


Setelah masuk kamar, Kanaya tak banyak bicara. Dia segera membasuh wajah dan menggosok gigi –dia beranjak ke tempat tidur dan menarik selimut menutupi badannya. Sementara Adhi, baru kembali dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu cukup lama di dalam sana –sepertinya dia cukup kesulitan karena hanya dapat menggunakan tangan kirinya.


Setelah itu dia menghampiri ranjang dan duduk di pinggirnya, memandangi sang Istri yang memunggunginya dengan membalut seluruh tubuh dengan selimut. “Neng, udah tidur?” tanyanya. Tak ada sahutan. “Neng.” Dia memanggilnya dan berulang kali, tetapi tetap hening –hanya helaan nafasnya sendiri yang terdengar olehnya.


“Maafin Mas, Neng,” ucap Adhi dengan nada sesal. “Maaf,” ucapnya lagi dengan suara hampir menghilang.


Terdengar helaan nafas dari balik selimut –sebelum selimut itu tersibak dan Kanaya bangun untuk berbalik menghadap suaminya. “Eneng gak tau harus gimana sekarang, rasanya gak karuan. Jadi gak usah diperpanjang lagi Mas, udah malam juga,”pintanya dan kembali berbaring.


O


O


O


Keheningan masih berlanjut hingga fajar terbit, bahkan saat waktu mereka sarapan bersama sekalipun. Terlebih lagi, Bude Ratna yang tak terlihat.


“Bude ke mana?” Adhi yang penasaran menanyakan keberadaan Budenya itu pada sang Eyang dan Pakde, namun hanya gelengan kecil yang dia dapatnya.


Hal tersebut membuat Adhi sampai menghela nafas dengan berat, lalu kalau seperti ini –mungkin dia butuh lebih lama waktu untuk menyelesaikannya sebelum mereka pulang ke Jakarta. Itu tidak baik, karena dia harus mengajar. Tetapi dengan kondisi tangannya yang seperti ini, tentu juga menyulitkan kegiatan perkuliahan.


“Pakde, nanti tolong bilangin ke Bude, kalau aku gak bakal balik sebelum masalah ini selesai,” ujarnya dan beranjak dari meja makan sembari membawa piringnya untuk ditaruh di bak cucian.


Kanaya yang melihat sang Suami pergi, dia buru-buru menghabiskan makanannya dan mengikuti Suaminya.


“Mas,” panggil Kanaya saat dia berada di kamar. “Apa maksudnya kita gak bakal pulang sebelum kelar masalahnya? Terus kuliah sama skripsi aku gimana?” tanyanya beruntun sekaligus menunjukan ketidaksetujuannya.


“Tinggal minta ijin, toh kuliah kamu juga sudah tidak efektif ... terus kalau skripsi kamu, kan saya Dosen Pembimbingnya,” jawab Adhi yang terdengar seperti meremehkan bagi Kanaya.


“Gak bisa gitu dong, Mas. Skripsi aku masih banyak yang harus dikerjain. Ini aja pergi dua hari, kepikiran terus,” keluh Kanaya.


“Kamu ada buat penyimpanan cadangan kan di Drive atau Email?” tanya Adhi.


“Iya, terus?” Kanaya balik bertanya.


“Kalau begitu, berarti tinggal kamu download aja filenya dan kerjain. Soal laptop, nanti Mas bantu pinjemin,” jawab Adhi kembali memberi solusi, tetapi tetap tidak memuaskan Kanaya.


Kanaya menarik dan menghembuskan nafas perlahan, mencoba bersabar dengan sikap sang Suami. “Mas,” panggilnya dengan menahan emosi. “Kan Mas tau sendiri, aku skripsi ngulang dan aku gak bawa buku referensinya. Jadi gimana aku mau ngerjain?” ujarnya menjelaskan duduk permasalahnnya.


“Kanaya,” panggil Adhi layaknya seorang Dosen pada mahasiswanya saat ini dan membuat gadis itu terkejut dalam diam. “Kamu inikan sudah mahasiswi tingkat akhir, seharusnya kamu sudah bisa memikirkan solusi dari masalahmu. Kalau seperti ini saja kamu masih bingung, bagaimana nantinya setelah kamu di masyarakat nanti?”


“Mas ...,” panggil Kanaya namun segera dipotong kembali.


“Kamu cari saja referensi lain, Google kan bisa. Enggak perlu terlalu terpaku dengan isi skripsi sebelumnya,” jawab Adhi dan berbalik hendak meninggalkan kamar.


“MAS!” Kanaya meninggikan suaranya kali ini, tampaknya dia sudah tak dapat menahan emosinya lagi. “Mas, dari semalam aku diam bukan karena aku terima masa lalu Mas dengan Mbak Sukma atau ngerti semua cerita sedih itu. Tapi karena aku menghormati Mas sebagai suami aku,” ungkapnya lirih. “Aku tau Mas mau selesaiin semua kesalahpaham, tapi kalo caranya seperti ini ... MAS –KAMU EGOIS BANGET!! MAS JAHAT!!” teriaknya diakhir dan air matanya tumpah sudah tak dapat dia tampung.


“Istri Mas sebenarnya siapa sekarang? Apa alasannya rela banget belain Mbak Sukma sampe kayak begitu? Mas masih cinta sama mantannya? Mau balikan lagi?” imbuh Kanaya bertubi-tubi.


“Bukan gitu, Neng ___.” Adhi hendak menyanggah, namun dia segera dipotong oleh Kanaya.


“Asal Mas tau ... sebelum jadi istri Mas, aku ini seorang anak yang cuman pengen cepet lulus kuliah dan segera ngebahagiain orang tuanya. Tapi dengan datangnya lamaran dari Mas yang juga Dosen Pembimbingku, aku berpikir dan setuju buat nikah karena supaya bisa segera mencapai dua impian itu,” ungkap Kanaya terdengar sarkas. “Tapi kalo sikap Mas terus seperti ini setiap kali ngebahas Mantan, rasanya aku gak kuat untuk mengejalaninnya lagi,” pungkasnya lirih.


“Ini bukan pertama kalinya kita cek-cok pas ngebahas Mantannya Mas. Mas ingat gak, malam setelah pernikahan?”


Adhi terdiam sejenak dan kembali mengingatnya, lalu dalam benaknya dia membenarkan hal tersebut. Seperti sekarang, hal itu terjadi lagi saat dia bermaksud meluruskan kesalahpahaman. “Neng, maafin Mas kalau sikap Mas ini menyinggung perasaan Eneng. Tapi percaya sama Mas, karena Mas ngelakuin ini untuk kebaikan kita semua. Jadi tolong bersabar sebentar saja, heum?” pintanya sembari memegang sebelah pundak sang Istri. Dan sama seperti sebelumnya, Adhi mengusahakan untuk menyelesaikan setiap masalahnya.


Kanaya terdiam, sementara sang suami masih menunggu jawabannya. Namun akhirnya dia tak memberi jawaban yang ditunggu sampai akhir, Kanaya menurunkan tangan suaminya dari pundaknya, lalu meninggalkan sang suami.


“Neng?” panggil Adhi.


“Maaf Mas, aku enggak bisa,” jawab Kanaya dan kembali berbalik pergi.


“Tapi Neng ...,” panggil Adhi lagi seraya mengikuti sang Istri.


“Tolong jangan paksa aku, Mas,” ucap Kanaya dengan suara bergetar. “Dan aku mau sendiri dulu saat ini,” lanjutnya dan meninggalkan kamar hendak keluar rumah. Namun ternyata langkahnya tak mulus, setelah menutup pintu –Kanaya jatuh dan duduk bersimpuh sembari tangannya masih memegangi gagang pintu. Sesak dan nyeri, itu yang dia rasakan saat ini –tetapi dia mencoba sekuat mungkin menahannya agar tidak ada yang tau perasaannya saat ini.


Tetapi saat itu, sayangnya Eyang lewat dan segera menghampiri sembari bertanya, “Kanaya, kenapa?” ada nada khawatir dalam tanyanya.


Kanaya tersentak sejenak sebelum dia mengontrol emosinya kembali normal. “Gak apa-apa, Eyang,” jawabnya setenang mungkin.


Eyang tak lantas percaya dengan jawaban Kanaya, dia hendak bertanya lagi –namun Kanaya beranjak dari tempatnya dan pamit undur diri untuk keluar. Sementara itu, meski Eyang mau menahannya –dia hanya bisa mengiyakannya karena melihat ekspresi dari gadis itu. “Hati-hati ya, Nak Kanaya,” pesan Eyang.


Sepeninggalan Kanaya, Eyang beralih memasuki kamar tersebut untuk menemui Adhi dan dilihatnya sang cucu hanya berdiam diri duduk dipinggir tempat tidur dengan berpangku sebelah tangan. Lantas Eyang menghampiri dan duduk di sebelahnya.


“Eyang?” panggil Adhi dengan nada bertanya.


“Mau sampe kapan kamu di sini, Dhi?” tanya Eyang.


“Ya?” Adhi bingung.


“Dasar laki-laki, gak peka!” sentak Eyang sembari memukul lengan atas sang Cucu. “ Dhi, kalau perempuan bilang A –bukan berarti jawabannya A juga.”


Kening Adhi semakin mengkerut.


Eyang menghela nafas. “Perempuan itu, lain di mulut, lain lagi di hati. Jadi laki-laki gak bisa asal nurutin maunya, harus ngerti apa yang dia mau sebenarnya,” jelas Eyang.


“Jadi aku harus gimana, Eyang?”


“Ya ampun~ gitu aja masih nanya?!” Eyang menarik telinga Adhi dan bicara keras, “Kejar dan cari Istri kamu, Dhi~ kalo perlu rayu biar luluh hatinya!”


Adhi segera menjauhkan diri dan mengucek telinganya yang terasa pengang sehabis diteriaki Eyang.


“Buruan!” teriak Eyang lagi.


“Iya Eyang,” jawab Adhi menurut dan segera pergi.


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Semoga kesalahpahaman bisa cepat selesai, ya~


x x x x x x


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you ~