Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[7. DEADLINE]



Sudah tak dapat diselamatkan lagi kondisi kamar ini, barang-barang berceceran di setiap sudut ruangan. Kanaya, gadis pemilik kamar tersebut sedang bergelut dengan buku dan laptop untuk menyelesaikan tugas skripsinya. Sedari matahari naik hingga turun ke peraduan, dia belum juga beranjak dari posisinya.


Beberapa anggota keluarga di rumah silih berganti memanggilnya agar gadis itu makan terlebih dahulu, tapi hanya dijawab deheman olehnya. Hingga puncaknya, gedoran pintu berkali-kali mengusik ketenangannya. Kanaya sendiri sudah tau siapa pelakunya, Randhika Tirta Buwana.


Kanaya beranjak bangun dan menghampiri pintu. “Berisik!” sungutnya tak lupa memberi sedikit tendangan di tulang kering milik pria pembuat onar itu.


Sang empu mengaduh sembari memegangi kakinya yang terasa nyeri. “Lo dipanggilin gak keluar-keluar. Suruh makan aja susah!” omelnya. “Lagi ngapain sih, loh? Sok sibuk banget.”


“Emang sibuk gue! Ngerjain skripsi.”


“Udah, tinggalin dulu. Makan!” titah Randhika dan tangannya menarik kerah belakang baju Kanaya.


“Apaan sih, Bang! Emang gue kucing?!” protes Kanaya dan menepis tangan Randhika.


“Lo kalo gak di giniiin, gak jalan.” Dhika menarik kembali Kanaya setelah dia berbalik.


“Lepas … akh!! Gue belom save kerjaan gue.”


Dhika angkat tangan. “Buruan keluar loh abis itu,” peringat Randhika sebelum dia melepaskan cengkramannya pada baju Kanaya.


“IYA!!” jawab Kanaya gedek. Asli dah, Bang –nya doang emang yang paling bawel, ngeselin dan gak ada pengertiannya diantara semua keluarganya.


-


Kanaya keluar dan menyambangi dapur untuk makan sesuai yang diperintahkan keluarganya. Sebuah piring dan sendok diambilnya dari rak peralatan makan sebelum dia menghampiri meja tempat lauk tersaji dan anggota keluarga yang lainnya sudah duduk. Kanaya mengambil beberapa centong nasi, sepotong ikan, sesendok sambal dan terakhir diguyur dengan sayur bayam. Sementara itu, sepasang mata memperhatikannya.


“Makannya di rapel, Kak Nay?” tersirat nada mengejek dari pertanyaan yang dilontarkan seorang gadis usia belasan tahun, Sofia Atta Purnama. Dia adik Kanaya, si Bungsu dan saat ini dia sedang menempuh bangku pendidikan jenjang sekolah menengah pertama –SMP.


Kanaya hanya mendesis sembari memandang tajam pada gadis remaja itu, namun tidak memperpanjang perdebatan lantaran ingat mana yang lebih berfaedah. Lalu dia kembali lenggang kaki menuju kamarnya.


“Mau kemana, Nay?” kali ini seorang wanita yang beberapa tahun lebih tua di atasnya yang bertanya, Anindita Maulidya. Teh Dita adalah Kakak pertamanya –Sulung. Statusnya sih sudah menikah dan saat ini sedang hamil di trisemester terakhir, karena itu dia tinggal bersama keluarganya lagi disini –untuk berjaga-jaga takut lahiran sendirian di rumah.


“Aku mau makan di kamar aja, biar bisa ngerjain tugas lagi,” jawab Kanaya.


“Makannya disini aja atuh, Neng. Kan enak makan bareng-bareng,” ajakan lembut mengalun dari bibir wanita paruh baya, sang Ibu –Nurlela Faridha.


Kanaya masih bergeming di posisinya sembari memegangi piring yang berisi makanannya.


“Duduk.” Suara tegas yang terdengar seperti perintah yang tak dapat disangggah mengudara dari seorang pria yang berstatus kepala keluarga tersebut –Harisdarma Kuswara.


Kanaya melangkah pelan kembali ke meja makan dan duduk untuk makan bersama keluarganya.


-


Makan malam keluarga itu berlalu begitu saja dengan tenang, hingga satu persatu dari mereka meninggalkan meja dan menyisakan dua wanita –Kanaya Cempaka dan Nurlela Faridha. Ibu dan anak itu sedang membereskan peralatan makan.


“Udah, biar Ibu aja yang beresin. Eneng lanjutin tugasnya,” sela Ibu pada Kanaya yang sedang mencuci piring.


“Gak apa-apa Bu, nanggung,” jawab Kanaya bersi keras.


Mau tak mau Ibu Nurlela membiarkan anaknya menyelesaikan cuci piringnya itu, tapi masih tetap dibantu membilas cucian yang sudah disabuni Kanaya. Selesai semua piring dicuci dan ditata rapi di rak, Kanaya mengeringkan tangannya yang basah dengan mengelapnya pada celananya.


“Kotor atuh Neng,” sang Ibu memberikannya sehelai serbet bersih.


Kanaya menerimanya dengan deretan gigi putih yang dia tampilkan. “Naya balik lagi ya Bu, lanjut ngerjain skripsinya,” beritahunya.


“Iya, tapi jangan diporsir ya. Harus cukup istirahat dan jaga kesehatan. Ibu liatin, kamu sering begadang sama makan telat,” ujar Ibu Nurlela cemas dengan putrinya.


“Yah Bu, kalo gak gitu nanti Naya gak lulus-lulus donk. Ini ada dapet mood sama pencerahannya susah, kalo otak lagi ON gini, kudu dimanfaatin sebelum datang malasnya,” dalih Kanaya.


“Kalau ada yang susah, coba tanya Abangmu, dia –kan juga pernah skripsian.”


“Ck! Tampang macam Bang Dhika ngerjain skripsi, nembak dia itu skripsinya –dikerjain jasa tulis,” cibir Kanaya.


“Hush! Gak bener itu. Abangmu juga sama susahnya kok pas skripsi dulu.”


“Masa?” tanya Kanaya tak percaya. “Kayaknya dia kerjaannya cuman main game sama nonton TV atau nongkrong aja deh,” ujarnya sembari mengingat jika Abang –nya itu sama sekali tak pernah terlihat belajar.


“Perlu gue tunjukin ijazah gue? Biar lo liat Dek, Cumlaude gue.” Orang yang diomongin nongol, plus pake nyombong.


“Gak usah, gue sibuk,” sahut Kanaya menolak mentah-mentah dan melenggang masuk ke kamarnya.


“Dasar Adek durhaka! Gak ada sopannya sama Abangnya. Songong!” cerca Randhika dan hendak menendang bokong sang Adik yang tampak menantang di matanya.


Tetapi bukan Dhika namanya, kalau setengah-setengah berbuat. Setelahnya dia menghampiri kamar Kanaya dan masuk dengan dramatis. “Dek! Kalo IPK lo lebih tinggi dari gue, lo boleh minta apapun. Tapi kalo IPK lo jeblok, lo jadi babu gue. Deal?”


“Ch! Dasar bocah ... maennya taruhan segala. Dah sono, hus ... hus ... pergilah kau setan,” usir Kanaya dan mendorong pintu –menutupnya.


"Apa Lo bilang? Bo ... bocah?!"


Perlawanan Dhika tak semudah itu, apalagi setelah harga dirinya terluka. Dia balik mendorong pintu kamar Kanaya dari luar.


“Uhhh!!” Kanaya sekuat tenaga menahan pintu dari dalam. “Bang, kalo lo masih gangguin gue, nanti gue panggil Bapak,” ancam Kanaya.


Brakkk ....


Pintu tertutup hingga terdengar dentuman yang keras, itu akibat Dhika yang tiba-tiba melepaskan diri, sementara Kanaya masih mendorong pintu dengan sekuat tenaga dari dalam.


“Aduh! Kampret loh Bang ... sakit tangan gue kejepit!” umpat Kanaya.


Sial emang punya Abang model Randhika, unfaedah!! Ancur mood dia buat lanjut ngerjain skripsi, mana jarinya nyut-nyutan. Awas aja, dia buang nanti koleksi video games –nya.


-


Tuk ... Tak ... Tik ...


Kanaya mengetik layaknya orang yang baru nemu keyboard, dua jarinya pelan-pelan menyentuh toots laptopnya –ala sebelas jari. Itu pun masih berasa sakit, pengen nangis rasanya. Namun baru dia berpikiran begitu, suasana malam yang hening karena anggota keluarganya yang lain mungkin sudah terlelap –hal itu membuat telinga lebih sensitif. Ragu, Kanaya menghentikan gerakan jarinya di keyboard dan menajamkan pendengarannya.


Merinding.


Itu beneran suara orang menangis, yang dia dengar.


“IBU!!!” jerit Kanaya dan berhambur keluar dari kamarnya.


Bruukkk ...


Kanaya jatuh terduduk lantaran tubuhnya menabrak sesuatu, dia memberanikan diri untuk mendongak. Suasana ruang tengah yang gelap karena lampu dimatikan, membuatnya sulit memastikan apa yang berdiri di hadapannya. Tetapi yang pasti, ada sosok besar yang berdiri di hadapannya. Kayana ingin menjerit lagi.


“Woy! Ngapa lo?”


“A ... abang?”


Akh~ Randhika sialan!!


Kanaya kesal dan menjenggut rambut dan mencubit sang Abang.


“Ampun Nay, lepas!” pinta Dhika.





TBC


○○○


Lagi deadline, digangguin. ENYAH KAU SETAN!!


Tau jugakan gimana hebohnya Kanaya sama si Abang Randhika ... Belom aja sama Sofi juga Teh Dita ... Rame!!


Kira-kira kelar gak yah tuh, skripsinya si Nay?





PS : Maaf, bukannya kemarin aku gak update episode 6 –nya. Itu sudah aku kirim dari hari Minggu siang (24/11/19), cuman masih tahap review oleh Mangatoon.


Like and comments ... biar aku semangat nulis xD


Terima kasih sudah membaca ^^