
“Assalamualaikum,” ucap Adhi di depan pintu masuk kediaman Keluarga Mertuanya.
Sementara Kanaya lanjut tidur dengan duduk di bangku teras.
Tak lama pintu di buka dan diiring sahutan salam, “Waalaikumsalam. Eh~ Nak Adhi! Udah pulang? Loh, kok sendiri aja?” Ibu Nurlela menyambutnya.
Adhi hendak mencium tangan Ibu Mertuanya, tapi tangannya masih dipasang alat penyanggah –dia jadi bingung.
Lalu Ibu Nurlela yang baru sadar dengan kondisi Menantunya, dia terperangah kaget. “Loh~ ini tangannya kenapa, Nak Adhi?” tanyanya khawatir.
“Oh, ini jatuh Bu,” jawab Adhi tak sepenuhnya berterus terang.
“Aduh~ hati-hati Nak Adhi. Terus Kanaya mana? Dia gak ikut? Ya ampun~ dasar tuh anak, padahal Suaminya lagi sakit, bukannya ditemenin,” tanya Bu Nurlela lagi baru ingat anaknya.
“Kanaya ikut juga, Bu. Ini kita baru sampai dan langsung ke sini, soalnya Kanaya kangen rumah katanya.”
“Dasar ngerepotin! Terus di mana Kanaya nya?”
Adhi terkekeh mendengar omelan mertuanya pada sang Istri yang jelas-jelas ada di sebelah mereka, tapi mungkin saja Istrinya tak menyadari hal itu karena sangking pulasnya. “Itu Bu.” Adhi menoleh pada Istri yang tengah tertidur di bangku teras. “Dia kecapean, Bu.”
“Ya ampun, malah tidur,” ucap Ibu Nurlela dan mengampiri putrinya, lalu menepuk-nepuk pundak Kanaya untuk membangunkannya. “Neng, bangun! Kalo mau tidur, di dalam sana.”
Kanaya melenguh panjang dan mengucek matanya sebelum bangun. “Ibu?” panggilnya masih setengah sadar.
“Iya, udah sana tidur di dalam,” titah Bu Nurlela lagi.
Kanaya mendehem, lalu menyalimi punggung tangan sang Ibu -baru setelah itu dia beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam menuju kamarnya.
“Ya udah, Nak Adhi ayo kita masuk,” ajak Ibu Nurlela pada sang Menantu.
“Iya Bu,” jawab Adhi sembari menarik koper.
“Eh~ Nak Adhi ngapain? Udah, barang-barangnya taruh di situ dulu. Mending Nak Adhi istirahat aja gih, itu mah gampang –nanti Ibu suruh Dhika yang bawain ke dalam.” Bu Nurlela mendorong Menantunya untuk segera masuk.
“Iya Bu, maaf jadi ngerepotin.”
“Ya gak mungkin ngerepotin lah, kan kamu juga keluarga –jadi gak ada istilah begitu.”
Adhi tersenyum dan berterima kasih atas kehangatan keluarga mertuanya. “Ngomong-ngomong yang lain pada ke mana, Bu?” tanyanya karena merasa rumah tampak sepi.
“Biasalah Nak Adhi, kalo hari-hari gini mah emang sepi. Kan hari kerja, tapi bentar lagi juga pada pulang -kan udah sore.”
Adhi baru ingat kalau sekarang hari kerja, karena sangking senangnya dia liburan jadi lupa. “Kalo Bapak ke mana?”
“Bapak sholat di Mesjid.”
Adhi hanya mengangguk-angguk dan setelahnya dia pamit untuk masuk kamar, lalu ikut berbaring di sebelah sang Istri lantaran juga merasa lelah.
Tidur tiga puluh menitan gak masalah kali, ya? Asal jangan kebablasan, soalnya belum sholat Ashar.
Jadi dia memutuskan untuk memasang alarm sebelum tidur.
O O O X O O O
Namun kenyataannya, dia malah bangun sekitar tiga puluh menit sebelum Magrib -begitu pula dengan sang Istri yang masih terlelap saat ini.
Ini karena dia tadi masih ngantuk dan menunda alarmnya 5 menit lagi. Astaghfirullah!
Tapi ini, gak ada orang rumah yang bangunin mereka apa?
Lantas Adhi bergegas bangun dan tak lupa membangunkan sang Istri.
"Neng, bangun! Bentar lagi Magrib, kamu belum Sholat Ashar!" ucap Adhi sembari mengguncangkan tubuh Istri terus-menerus.
Kanaya melenguh dan mengulet. "Emang sekarang jam berapa, Mas?" tanyanya yang masih memejamkan mata.
"Setengah enam. Udah, buru bangun!" Kali ini Adhi menarik lengan sang Istri agar segera bangun.
"Eung! Jangan tarik-tarik Mas, sakit -masih lemes tau!" protes Kanaya.
"Kalau tangan Mas gak dipasang beginian, kamu udah Mas gendong malah."
"Hiy! Ogah. Eneng masih punya kaki kali," tolak Kanaya lantaran merasa malu karena saat ini mereka sedang di rumah orang tuanya, lain kalau di rumah mereka -dia tidak mungkin menolak.
"Makanya buruan bangun, udah mau abis ini waktu Ashar," omel Adhi lagi.
"Sebentar atuh, Mas. Ini Eneng juga udah bangun, cuman masih lemes aja. Mas duluan gih, nanti aku nyusul," kesal Kanaya yang terus diusik Suaminya.
"Apanya yang bangun, kamu masih tiduran gitu di kasur. Yang ada kalau nanti Mas tinggal, kamu malah lanjut tidur lagi."
"Ya ampun, enggak Mas. Ini mata aku udah full Watt, lagian ngantuk aku udah ilang karena Mas bawelin mulu dari tadi," sahut Kanaya.
Adhi tersentak oleh perkataan sang Istri. "Neng, yang namanya perkara ibadah kita gak boleh lalai -kamu tau itukan? Apalagi Mas ini Suami kamu, sudah kewajiban untuk mengingatkan kamu yang Istri Mas."
Kanaya akhirnya bangun, mesti dengan hati dongkol. Tapi dia gak bisa marah juga, soalnya yang dibilang Suaminya itu benar dan dia juga tau demikian. Hanya saja sekarang kepalanya pusing bukan main, lantaran dipaksa bangun secara mendadak.
Adhi menghela nafas, hal ini juga salahnya dari awal -dia yang menunda sholat di saat sudah waktu dan memang harus segera dilakukan. Dia telah terlena, Astaghfirullah!
Sementara itu, Kanaya lebih dulu keluar dan dia berpapasan dengan Ibu yang sedang menyajikan makanan di meja juga Bapak di dapur.
"Udah bangun, Neng?" sapa Ibu Nurlela yang melihat putrinya melintas. "Ibu udah siapin makan nih, kamu panggil Suami kamu gih -ajak makan."
"Sebentar Bu, Eneng mau sholat dulu," jawab Kanaya dengan nada pelan.
"Mau sholat apa kamu?" tanya Bapak menyentaknya.
"A … Ashar, Pak." Suara Kanaya nyaris menghilang saat menjawabnya.
"Astaghfirullah! Kamu ini ya ___," Bapak tak melanjutkan kalimatnya. "Sudah sana cepat sholat!"
"I … Iya, Pak." Nyali Kanaya yang sudah ciut langsung berlari memasuki kamar mandi.
Lalu Kanaya yang saat ini sedang ada di dalam kamar mandi, dia mendengar suara berisik -salah satunya suara sang Suami. Dia yang masih bete karena diomeli oleh Suaminya, hanya bisa mendengus dan mengedumel sendiri saat mendengarkan percakapan di luar.
Padahal Mas juga belum Sholat dan ngomel-ngomel tadi, tapi sekarang malah ngobrol.
Tapi kalo dia pikir-pikir lagi, diomeli sama Suaminya masih gak ada apa-apanya dibanding kemarahan sang Bapak -yang bahkan dengan tatapan matanya saja sudah membuat dia merinding sekaligus membeku tak berkutik. Itu masih mending cuman dipelototi, karena Bapak lebih nyeremin saat sudah mengeluarkan senjatanya.
Ternyata suasana rumahnya masih sama setelah dia tinggal beberapa bulan ini.
o o o o o o o o
Di saat Kanaya sedang memakai mukenanya, sang Suami masuk dengan penampilan basah setelah berwudhu.
"Mau jamaah?" ajak Adhi.
Kanaya mengangguk sebagai jawaban, jadi mereka sholat berjamaah.
Setelah selesai sholat, Kanaya mencium punggung tangan suaminya, tetapi saat dia hendak melepaskan jabat tangan mereka, sang suami masih menggenggam tangannya.
Kanaya mendongak dan memandang wajah suaminya dengan tatapan bertanya sekaligus meminta untuk melepaskan tangannya.
"Mas mau minta maaf, Neng."
"Hah?" Kanaya bingung, Suaminya mau minta maaf soal apa? Perasaan Mas akhir-akhir ini sering banget minta maaf, tapi sekarang dia gak tau apa alasannya.
"Mas tadi udah marah-marah sama kasar ke Eneng," sesal Adhi.
Kanaya ber -Oh ria dalam benaknya, ternyata itu. Ya ampun, kalo marah atau bertindak kasar segitu mah gak ada apa-apanya dibanding Bapaknya. "Mas gak salah kok, jadi gak usah dipikirin -soalnya Eneng juga nganggap begitu."
"Makasih Neng," jawab Adhi dan mencium kening sang Istri. "Kedepannya Mas akan ingatan dengan cara yang lebih lagi," imbuhnya dan menyudahi kontak mereka.
"Eneng juga makasih sama Mas," balas Kanaya dan memeluk Suaminya.
Adhi mengeratkan pelukan mereka dan berlama-lama dalam posisi tersebut, sesekali dia juga mengusap dan mengecup kepala Istrinya.
"Mas, mau sampe kapan kayak begini?" tanya Kanaya yang masih berada dalam dekapan sang Suami. "Tadi Ibu udah manggil lagi loh, nyuruh makan."
"Masa? Mas gak deng__ aww!!" Adhi enggan melepaskan pelukan mereka dan hendak berdalih, tapi pinggangnya malah dicubit oleh Istri.
Namun berkat itu Kanaya dapat lolos dari jerat manis sang Suami. "Mas jangan macam-macam ya, kita lagi di rumah aku. Nanti kalo yang lain mikirnya aneh-aneh kan, malah bikin malu," protesnya.
"Ngapain malu, kan Suami/Istri wajar begitu," balas Adhi.
"Tau ah!" kesal Kanaya dan keluar meninggalkan sang Suami.
O
O
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
O
O
Yang jomblo, dan bosan Sholat sendiri karena lagi Corona. Abis liat kemanisan Adhi/Kanaya -adakah yang mau langsung daftar nikah supaya ada yang diimamin sholatnya? Eheheh~
Bersabar ya, tetap Istiqomah dan jaga kesehatan selama Ramadhan ini. Semoga semua kesukaran ini segera berlalu, Aamin~
o o o X o o o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~