
Akhirnya mereka sampai di rumah Kanaya dengan selamat, meskipun harus Magrib dulu di jalan.
“Mbak Kanaya, kalo gak masuk ... saya gak pulang-pulang ini,” ujar Pak Adhi. “Atau jangan-jangan Mbak Kanaya mau lari lagi ke rumah sebelah,” ledeknya.
Adhi menepati janjinya pada sang Ibu, dia mengantar Kanaya aman sampai rumahnya –bahkan menunggu untuk memastikan gadis itu masuk ke rumah. Namun sepertinya Kanaya masih memiliki urusan dengannya.
“Enggak Pak, saya udah gak perlu lari kesana lagi,” jawab Kanaya.
“Kenapa? Karena udah ketauan sama saya?”
“Ya~ itu salah satu alasannya sih,” jawab Kanaya dan terkekeh, namun dia tampak kembali fokus. “Pak Adhi,” panggilnya dan sang Dosen meresponnya dengan deheman. “Saya mau tanya sama Bapak, sebenernya gimana perasaan Bapak dan kenapa Bapak mau terima dijodohin sama saya?”
Pak Adhi tampak tersenyum. “Akhirnya kamu nanya juga, saya kira kamu gak penasaran. Tapi saya gak bakal kasih tau, sebelum kamu jawab pertanyaan saya,” ucap Pak Adhi dan membalik keadaan.
“Loh, kok gitu? Kan saya yang duluan nanya ke Bapak, curang nih!” protes Kanaya tak terima.
“Saya sih terserah, kalo kamu gak mau juga gak apa-apa. Sana masuk rumah, biar saya bisa pulang,” jawab Pak Adhi.
Kanaya mendengus. “Ya udah, Bapak mau nanya apa," pasrahnya.
“Apa perasaan kamu dan kenapa mau terima dijodohin sama saya?” balas Pak Adhi bertanya hal serupa.
Kanaya menekuk wajahnya. “Bapak bener-bener gak kreatif ya,” ujar Kanaya kesal, namun dia tetap menjawabnya setelah itu. “Kalau mau jujur, sebenernya saya sebel banget sama Bapak. Apalagi setelah Seminar Proposal Skripsi, rasanya ngedenger nama Bapak aja udah emosi duluan,” ujarnya sembari memperhatikan wajah sang Dosen takut-takut, namun setelah dirasa aman –Kanaya lanjut bicara. “Tapi setelah ikut bimbingan, saya ngerti setiap tindakan Bapak untuk kebaikan kami juga.”
“Terus?” tanya Pak Adhi terdengar bersemangat.
“Emmm ... apa ya? Mungkin saya jadi lebih nyaman interaksi sama Bapak ...,” lanjut Kanaya. Namun segera dipotong oleh sang Dosen.
“Oh~ jadi saat itu kamu mulai suka sama saya? Makanya pas tau kalo yang dijodohin ke kamu itu saya, langsung kamu terima?” tuduh Pak Adhi.
“Eh ... enggak! Enak aja,” bantah Kanaya telak. “Maksud saya bukan nyaman karena suka atau punya perasaan khusus ke Bapak, ENGGAK! Tapi karena cara bimbing Bapak itu enak dan gampang dicerna. Asal Bapak tau aja, pas itu saya punya pacar,” jelasnya berapi-api hingga tak sadar dengan apa yang telah diucapkannya.
“Jadi kamu punya pacar? Terus berarti seka ...,” ucap Pak Adhi menduga-duga. Namun sekarang gantian Kanaya yang menyanggahnya.
“Pas itu memang iya, saya punya pacar. Tapi sekarang enggak, saya sudah putus,” jawab Kanaya dan diakhiri senyuman tipis yang tampak memaksakan diri.
“Bukan karena saya kan, kamu putus?”
“Enggak, tenang aja ... Bapak bukan P.H.O kok,” jawab Kanaya.
Pak Adhi mengkerutkan keningnya lantaran merasa asing dengan kata yang didengarnya. “P.H.O? Provisional Hand Over? Apa hubungannya?” tanyanya bingung.
Task!
Kayaknya salah satu saraf di otak Kanaya baru aja ada putus deh, dia merasa kehilangan akal, pikiran dan arah –mendadak gak bisa nyambung dan paham dengan omongan sang Dosen. “Hah?” bengongnya. Ngomong apaan sih Dosennya?
“Apa?” balas Pak Adhi sama kosletnya.
“Sebentar Pak, biar saya mikir dulu dimana salahnya,” tahan Kanaya seraya menunjukan telapak tangannya. “Jadi ... P.H.O yang saya maksud itu bukan Hand Over bla-bla-bla, tapi Perusak Hubungan Orang,” jelas Kanaya.
“Perusak Hubungan Orang? Saya?!” tanya Pak Adhi yang tampaknya terkejut dengan istilah yang baru dia dengar itu.
“Kan, tadi saya bilang bukan!” balas Kanaya. Ampun dah, Bapak ini merhatiin dia ngomong gak sih? Atau bolot? Emosi jadinya. “Mungkin hampir kali ya,” gumam Kanaya memikirkannya lagi.
“Apa?” tanya Pak Adhi merasa terganggu dengan kalimat terakhir yang tak terdengar jelas.
“Ah! Udah, gak usah dibahas,” potong Kanaya cepat. “Sekarang giliran Bapak yang jawab,” tuntut Kanaya.
“Ya~ enggak dong, kamu aja belum selesai jawab semua pertanyaan saya,” balas Pak Adhi sengit.
“Hee—masa? Perasaan udah semua,” elak Kanaya.
“Jangan suka bawa perasaan, nanti BAPER,” sahut Pak Adhi.
Kanaya mendengus. Tau juga nih Dosennya soal BAPER, sering ngalamin apa? Sampe inget istilahnya.
“Ayo dijawab, apa perlu saya tambahin pertanyaannya? Kenapa kamu putus sama pacar kamu? Saya ngerasa ada sesuatu dan itu berhubungan sama saya,” ucap Pak Adhi dengan tingkat kepekaannya yang luar biasa, dia menyudutkan Kanaya.
“Bapak nih, mau tau aja privasi orang. Nanti kalo saya tanya balik, emang enak disuruh nyeritain MANTAN?!” balas Kanaya.
Adhi tampak tersentak dan terdiam sesaat, namun sepertinya sang mahasiswi tak menyadarinya dan kembali melanjutkan bicaranya.
“Saya juga awalnya mikir bakal langsung nolak, karena gak terima dijodohin tiba-tiba. Terus juga karena status Bapak sebagai Dosen saya, nanti saya dikira punya hubungan terlarang lagi sama Bapak,” beritahu Kanaya. “Tapi keluarga saya terus ngebujuk saya buat nerima Bapak, semua keluarga saya termasuk si Sofi –setuju sama Bapak. Karena itu saya sempat ragu, mulai menimbang –apa sebaiknya saya terima aja?”
Kanaya menjeda ucapannya dan Pak Adhi tampak menunggu dengan seksama.
“Kata Ibu, serahin semuanya sama Allah –Sholat Istikharah dan minta ditunjukan. Jadi saya ikutin kata Ibu, dan esoknya saya semacam dapat keyakinan ... kalau Bapak orang yang sangat bisa saya percaya untuk mendampingi saya,” imbuhnya.
Setelah mendengar perkataan gadis tersebut, Adhi menatapnya dan tersenyum –tulus. Hatinya terasa penuh oleh perasaan hangat yang meluap, tampak kali ini dia telah sama yakin dengan Kanaya juga mensyukurinya.
Sekarang gantian Adhi yang jujur dengan perasaannya. “Selama ini saya hanya datang menemui perempuan, karena permintaan Ibu saya –belum ada niat untuk serius menjalin hubungan dan segera menikah. Dan mungkin lambat laun, Ibu saya mulai kesal –jadi beliau mulai memainkan melo drama juga mengancam,” ujarnya lalu terkekeh mengingat pertengkarannya dengan sang Ibu.
“Tapi saya yang juga sudah capek terus didesak, lalu mencoba memberi pengertian pada diri saya –kalau saya tidak bisa berlama-lama menahan sakit sendiri,” tuturnya tampak seperti menerawang.
Hanya perasaan Kanaya saja, atau memang suara Pak Adhi semakin mengecil dan terdengar pilu? Lalu apa itu hanya pantulan cahaya lampu atau dia melihat air di pelupuk mata sang Dosen –setelah dia menerjapkan mata.
“Jadi saya menantang diri saya, untuk menerima siapapun perempuan yang akan saya temui,” lanjut Pak Adhi. “Hanya saja ... skenario –Nya tidak pernah ada yang tau, saya kembali bimbang saat tau perempuan itu Mbak Kanaya yang statusnya mahasiswi saya sendiri. Saya juga memiliki khawatiran yang sama dengan kamu, tapi setelah melihat dan memperhatikan setiap tingkah laku kamu –saya mulai tertarik dan penasaran sama kamu dan ingin mencoba mengenal lebih jauh.”
“Hey! Maksud saya bukan tertarik yang berarti perasaan suka,” ucap Pak Adhi cepat-cepat memberi klarifikasi.
Kanaya tertawa melihat ekspresi panik dari sang Dosen yang takut dirinya salah paham dengan perasaannya. “Iya Pak, saya tau kok. Saya juga mikirnya gimana gitu, kalau sekarang Bapak punya perasaan lain mengarah kesana sama saya. Ngeri!!” candanya.
“Kalau saya bilang, Iya. Kamu bakal lari masuk ke dalam rumah sekarang?” balas Pak Adhi menggoda Kanaya dengan memberikan tatapan langsung juga senyuman maut.
Heup!
Rasanya nafas Kanaya tertahan di pangkal tenggorokannya, hingga dia cegukan. Sementara Pak Adhi, dia terkekeh melihat kegugupan gadis di hadapannya itu.
“Saya masuk dulu ya, Pak. Makasih udah dianter, Assalamualaikum,” pamit Kanaya buru-buru dan mengambil langkah seribu.
Adhi geleng-geleng kepala dan tak dapat melepaskan senyumannya menatap kepergian Kanaya –bahkan setelah mahasiswinya itu menghilang dari pandangannya. Namun saat dirinya berhasil berhenti menarik sudut bibirnya, Adhi menyadari sesuatu –rasanya dia sudah lama tidak senyaman dan selepas ini saat berinteraksi dengan perempuan.
Selain itu, menggoda sang mahasiswi menjadi hal baru yang menyenangkan baginya -terutama saat melihat berbagai macam ekspresi yang gadis itu tujukan.
Semoga saja hubungannya kali ini berjalan baik. –Harapnya sebelum meninggalkan tempat tinggal Kanaya.
●
T
B
C
●
Nah ... udah ketahuan kan, perasaan dua calon sejoli ini~
Akhirnya saling ngaku ... enak toh, jadi plong hatinya.
Dan ada yang iseng-iseng ... tapi malah kesem-sem. Preekitiew!!
Kira-kira nanti bakal gimana ya, rajutan kisah Kanaya dan Pak Adhi??
○
See you~
×
°
×
°
×
Hi~ Numpang lewat bentar ya ...
Pembacaku tersayang, terima kasih udah dukung aku selama ini. #muah
Emm ... aku cuma mau curhat dikit, actually I am sad. Hiks ...
Jadi sehari setelah aku update part 31.1 ... aku liat kalo rating SIBWOL itu turun (4,9).
Sedih aku tuh ... mikirin, apa yang salah/kurang??
Tapi kan ya, namanya manusia gak bisa nilai diri sendiri.
Jadi aku mau minta tolong sama kalian, kalau ada kekurangan atau salah dalam cerita aku nie ... tolong berikan saran/masukan supaya aku bisa perbaiki kedepannya.
Terus maaf juga ... aku lama updatenya.
Abis mau gimana ya, aku kan juga punya kerjaan laen di luar nulis buat ngisi perut sama pulsa.
Berangkat pagi, pulang capek –pengennya mah tidur. Tapi kan masih kudu update ..
Kecuali ada malaikat baik hati yang mau ngasih segepok duit, baru damai dah aku nulis .. lancar jaya ..
Lah~ ini mah, aku jomblo ... belom ada yang nafkahin ...
Jadi selain minta kalian buat sabar, doain juga aku ... biar ketemu laki baik, mapan sama ganteng kayak Pak Adhi.
#uhuk
Duh! kayaknya aku jadi demen sama karakter buatan aku sendiri deh ...
Dah, gitu aja ... maaf lagi, kalo kepanjangan curhatnya. Harap maklum ya~
–IFAngel