
“Eungh ...,” Kanaya melenguh saat dia tersadar dari pingsannya. Dia memegangi kepalanya lantaran masih merasakan pusing.
"Akhirnya sadar juga lo, Nay. Gue dah takut aja kalo lo gak bangun-bangun," ujar Jani sembari menyerahkan segelas Teh Manis yang kini sudah tak berkepul asap. "Diminum duku, Nay. Ya … biarpun udah gak anget lagi sih Teh nya. Lo sih, kelamaan bangunnya, jadi keburu dingin."
Heran, tadi si Jani khawatir. Sekarang dia malah ngomel.
"Iya, makasih." Kanaya menerima gelas tersebut dan meminumnya beberapa teguk hingga tersisa setengah isinya.
"Abisin, Nay!" titah Jani. "Nih … makan juga." Jani menyodorkan sebuah bungkusan plastik hitam pada Kanaya.
"Apaan tuh, Jan?" tanya Kanaya sembari menggapai si kantong kresek hitam.
"Oncom!" jawab Jani asal. "Ya, buka aja sendiri, kan punya mata, bisa liat," ujar Jani nge -gas.
Galak banget punya temen, orang lagi sakit malah diomelin. Dasar Jani, ngomong gak bisa woles.
"Si Adel mana?" tanya Kanaya.
"Yang gak ada ditanyai, yang jelas-jelas depan mata malah dianggurin," jawab Jani kecut. "Si Adel balik kelas," imbuhnya.
"Jangan baper, Jan. Gue bukan DIA yang diam-diam pergi bersama yang lain kok," jawab Kanaya.
Oke, jadi Jani ini belum bisa melupakan kisah tragis nan kelamnya bersama sang mantan pacar dan temannya dulu. Bukan karena gagal move on, tapi dia sangking gondoknya sama mereka.
Gil* aja!! Dia ditikung temen dan dizolimi pacar.
"Jan, lo gak salah beliin gue ini?" tanya Kanaya setelah membuka isi bungkusannya.
Orang macam apa yang ngasih makan KERUPUK REBUS ke orang sakit?! Rada-rada nih Jani.
"Itu … tadi kan gue beli lo Teh Manis di Warkop. Nah, di sana gak jual makanan selain Ind*mie. Eh … terus, di deket Warkop nya ada Abang yang jual seblak. Gue beli aja deh," jelas Jani.
Kanaya menghela nafas, tak ayal dia juga menelan ludah lantaran melihat penampakan si Seblak yang menggoda dengan kuah merah meroh-nyoy di tambah selonjor ceker.
Jadi sayang untuk ditolak godaannya.
Begitu juga dengan Jani yang ikut nimbrung makan Seblak.
Mereka makan bersama, ganti-gantian sendok tepatnya. Tak jarang terdengar deru nafas mereka lantaran sensasi pedas dari Seblak, bahkan peluh sudah membasahi seluruh wajah mereka -hingga sisa Teh manis dan air minum di botol Tamparware Kanaya pun tandas setelah Seblak nya juga ludes disantap.
"Ceban!" ujar Jani sembari tangannya menadah di depan Kanaya.
Uhuk … Uhuk …
Kanaya terbatuk. Entah itu karena si Seblak yang pedas atau kaget diminta duit.
"Buat apaan?" tanya Kanaya.
"Bayar Seblak nya," jawab Jani.
"Lah … bukannya lo beliin gue, Jan??" tanya Kanaya heran.
"Kagak juga sih, itu karena gue kepengen," sahut Jani ragu-ragu.
Kanaya ingin berkata kasar rasanya. "Jan, masa orang sakit lo palakin sih? Mana makan sama minumnya juga lo ikutan ngabisin."
"Ya udah, goceng aja dah. Buat nanti gue makan siang, beli gorengan aja," tawar Jani. "Lo kan mau pulang ini, Nay."
"Yah … kan, gue juga pulang ngojek -gak bareng Dimas," dalih Kanaya yang tampaknya masih tak rela dipalak.
"Bayar di rumah kan bisa." Jani tak mau kalah.
Dan dengan berat hati, Kanaya menyerahkan 5000 berharganya.
"Makasih Nay," ucap Jani menerimanya dengan senang. "Ya udah, sana gih lo pulang. Gue mau balik kelas lagi," ujar Jani tampak seperti mengusir Kanaya.
"Kayaknya gue udah enakan deh, gak jadi pulang aja apa?" ucap Kanaya.
"Udah, pulang aja. Lagian lo juga udah ijin," saran Jani.
"Iya kali ya, pulang aja?" Kanaya balik bertanya lantaran plin-plan nya dia. "Eh! b.t.w ngapa gue bisa di sini dah?"
"Lo kan pingsan, Nay. Lupa?"
"Mungkin kalo lo juga nanya DIMANA, gue bakal ngira lo amnesia," timpal Jani.
Hahah … lucu memang kalo inget sinetron yang korbannya tiba-tiba hilang ingatan setelah bangun. Terus nanya; saya di mana? Kenapa saya bisa di sini? Atau … saya siapa?
Rasanya Kanaya pengen bantu jawab.
"Kagak, maksud gue itu kok gue bisa ada di ruang kesehatan. Gimana caranya? Lo berdua yang bawa gue ke sini?"
"Bukan," jawab Jani singkat dan buat Kanaya geregetan.
"Terus?"
"Itu Dosen yang bawa lo kemari," jawab Jani.
"Kok bisa?!"
"Ya~ bisa ajalah ... Dia gendong lo kemari."
“Di gendong?!”
Ya Tuhan! Gak tahu diri banget si dia, sampe ngerepotin Dosen buat gendong dia.
"Si … siapa yang gendong gue kesini?" tanya Kanaya yang mulai was-was.
"Pak Adhi," jawab Jani enteng.
"PAK ADHI??!!" ucap Kanaya setengah teriak sangking kagetnya.
"Iya, Dosen kelas sebelah gebetannya si Adel," ujar Jani lagi.
M*mpus gue!! Mau ditaro di mana muka gue?? Udah dua kali dia digendong sama tuh dosen.
"Ya udah, gue pulang ya Jan. Dah," ucap Kanaya buru-buru pamit.
"Eh! Mau gue anter gak?" tawar Jani.
"Hah?"
"Tapi ongkosin ya," ujar Jani.
"Gue sendiri aja deh," jawab Kanaya.
"Ya udah, seenggaknya gue anterin lo sampe dateng Abang Ojeknya. Berabe kalo nanti tiba-tiba pingsan lagi."
"Gak dipalakin duit lagi kan gue?" sindir Kanaya.
"Kagak!! Takut amat lo Nay," sahut Jani.
"Makasih Jani."
"Iya."
••
T
B
C
••
Terus dukung aku menulis, LIKE COMMENTS and VOTE.
×
×
×
Thank you for reading.