
Sore hari, Kanaya tengah duduk santai berselonjor di depan televisi yang saat itu kebetulan sedang menayangkan Selebriti Hot Gosip –sembari mengupas Kuaci yang sengaja dia kumpulkan terlebih dahulu isinya, untuk nanti dia makan sekaligus. Dia tengah menikmati quality time nya setelah mengerjakan skripsi.
“Ck!” tiba-tiba gadis itu berdecak kesal pada tontonannya. “Apaan sih, tv isinya itu mulu. Kehabisan berita apa?” dumelnya dan mengganti channel lain.
“Kenapa Neng? Kok ngomel sendiri?” tanya Adhi yang baru muncul sehabis mandi dengan penampilan segarnya dan dia ikut duduk di lantai –di samping sang Istri.
“Acara TV nya gak ada yang seru, Mas,” adu Kanaya dengan wajah cemberut.
“Tumben banget kamu nonton TV, biasanya nonton Drama Korea.”
“Belum tayang episode barunya.”
Adhi mengambil alih remot tv dari Istrinya dan mencari channel favoritnya -berita.
“Yah ... Mas, udah itu aja,” pinta Kanaya untuk berhenti pada channel kartun.
“Kamu kayak anak kecil aja,” komentar Adhi.
Kanaya mendesis sembari menatap tajam suaminya. Lalu akhirnya dia baru melihat dengan jelas, kalau rambut Suaminya masih basah. “Mas!!” bentaknya sembari menepak bahu sang Suami.
“APA?!” Adhi balas berteriak karena kaget.
“Kebiasaan –kan ... Eneng bilang, abis keramas itu rambutnya langsung dikeringin. Nanti kalo udah sakit, ngeluhnya ke siapa? Aku. Yang repot? Aku juga. Tapi Mas kalo dibilangin gak pernah dengerin,” omel Kanaya.
“Iya Neng, tadi Mas lupa mau ambil handuknya,” jawabnya enteng. “Mau ke mana, Neng?” tanyanya saat sang Istri beranjak pergi.
Tak lama Kanaya kembali dengan membawa handuk kecil yang biasa digunakan untuk mengeringkan rambut. “Majuan Mas, duduknya,” titahnya agar bisa duduk di meja untuk mengeringkan rambut Suaminya.
Adhi menurut dan bergeser sedikit dari meja yang tadi disendarinya.
“Mas, Kuaci aku mana?” tanya Kanaya kehilangan Kuaci yang telah dia kupas –di atas meja.
Tak ada sahutan.
“Mas?!” panggil Kanaya lagi.
Adhi menoleh pada sang Istri dan menampilkan senyum kikuknya. “Udah masuk ke perut. Mas kupasin lagi, deh.” Dia mengambil bungkus Kuaci dan mengeluarkan isinya –yang ternyata hanya tersisa beberapa biji.
“Itu bungkus terakhir,” beritahu Kanaya dengan nada kesal. “Gak mau tau, pokoknya aku mau makan Kuacinya sekarang.”
“Iya, Mas beliin kok. Tapi tadi bukannya kamu mau ngeringin rambutnya Mas?”
Kanaya hanya mendehem, lalu mulai mengosokkan handuk ke kepala sang Suami.
“Aduuuhhh~ Neng, pelan-pelan,” pintanya. “Kamu ngeringin rambut atau ngejambak, sih? Sakit kulit kepala Mas, sampe pusing rasanya.”
“Biar cepet kering.”
Adhi langsung saja beranjak dari duduknya dan melarikan diri dari korban kekesalan sang Istri.
“Mau ke mana? Belum kering rambutnya, Mas. Duduk lagi,” paksa Kanaya.
“Udah aja, nanti keburu malam mau beli Kuacinya,” jawab Adhi dan kabur.
Kanaya ngengir mendengar jawaban sang Suami, merasa menang.
- o - o – o – o -
Sepeninggalan sang Suami yang pergi membeli Kuacinya, Kanaya termenung sendiri dengan ponselnya sembari menatap room chat What’sup seorang temannya, Adel.
Dia mengela nafas kasar.
Sebelumnya, Kanaya memang mengatakan ingin segera menyelesaikan persoalannya dengan Adel. Tetapi pada kenyatannya, dia belum melakukannya ... atau mungkin tidak bisa. Dia diguncang dilema berat dan takut persahabatan mereka berdua renggang, jadi dia sempat menunda-nunda untuk mengatakannya pada Adel.
Tap!!
Kanaya menaruh ponselnya yang sedari tadi hanya dia pegangi di meja.
Ceklis satu, pesan Whatsup yang dengan susah dia rangkai kata-katanya bahkan tak terkirim.
Ahh~ Adel tak dapat dihubungi. Whatsup grup pun dia tak pernah muncul dan membacanya, lalu dia juga tidak masuk kelas.
“Assalamualaikum. Neng~ nih Kuacinya!!” seru Adhi.
Suara sang Suami, membuyarkan lamunannya. “Waalaikumsalam.”
Adhi menaruh kantung belanjaan besarnya di depan sang Istri, sengaja memperlihatkannya. “Mas beliin jajanan yang lain juga.”
“Makasih Mas,” jawab Kanaya datar, begitu juga ekspresinya.
“Kenapa lagi, Neng? Ini kan udah Mas beliin Kuaci sama jajanan, kok masih cemberut aja?”
“Enggak Mas,” jawab Kanaya yang enggan mengatakan pikirannya.
“Kalau kamu lagi ada masalah, ngomong aja Neng. Jangan dipendem sendiri, siapa tau Mas bisa bantu atau seenggaknya kamu lebih lega setelah cerita.”
Kanaya dia sejenak untuk menarik nafas. “Masih soal Adel, Mas.”
“Kenapa? Sekarang dia marah sama kamu?”
“Enggak tau juga, pesan aku aja belum diterima dan Adel gak ada kabar –terus dia sama sekali gak bisa dihubungi.”
“Coba telepon ke nomor lain, ke orang tua atau saudaranya?”
“Telepon rumahnya gak ada yang angkat, terus kalo nomor yang lain gak punya.”
“Emmmm ... mungkin aja dia lagi ada urusan lain, Neng. Tunggu aja dulu, jangan langsung ambil kesimpulan negatif.”
“Begitu ya, Mas?” tanya Kanaya tak bersemangat.
“Ya ampun ... udah Neng, jangan terlalu dipikirin. Sama kayak kamu yang perlu waktu buat terus-terang, teman kamu mungkin juga perlu waktu buat nerima itu,” ucap Adhi menenangkan sang Istri sembari menangkup wajah gadis itu. “Mikirnya positif aja, emang kamu gak capek mikir terus? Udah pusing sama skripsi, masih aja nambah beban pikiran.”
“Skripsi aku udah selesai kok, Mas.”
“Masa?”
“Iya, baru aja.”
“Yakin? Kalau udah rapi, Mas periksa sini.”
“Kalo itu, belum aku rapihin.” Kanaya nyegir. “Ya udah, aku rapihin sekarang –biar bisa langsung Mas tanda tangan,” ucapnya dan hendak beranjak, namun bokongnya kembali mendarat di tempat semula.
Adhi menarik lengan Istrinya. “Duduk dulu, skripsinya masih bisa nanti.”
Kanaya menautkan keningnya, heran. Tumben, biasanya dia sampe diteriakin biar cepet selesai skripsinya. Ada apa gerangan?
“Ada yang mau Mas omongin.”
“Apa?”
“Besok kan libur, jalan-jalan yuk?”
“Iya, kita refreshing. Kamu kan udah selesai skripisinya dan Mas udah lepas gips.”
Kanaya memikirkannya, dia mulai tertarik dan bertanya. “Emang mau ke mana?”
“Yang deket-deket aja, masih daerah Jakarta –jadi bisa bawa mobil sendiri.”
“Kegiatannya mau ngapain?”
“Soal itu, Mas belum kepikiran –tergantung tempatnya. Kalau kita nginep di hotel, gimana?”
“Ah~ ngapain? Apartemen kita juga udah rasa hotel kok, lagian di hotel juga ujung-ujungnya buat tidur doang,” jawab Kanaya demikian –karena fasilitas apatemen mereka tak kalah bagus dari hotel baginya.
“Ya, buat ganti suasana Neng. Dan di hotel gak melulu soal tidur, kan banyak aktivitas yang bisa dilakuin sebelum tidur kok,” tawar Adhi lagi.
“Mas mikir apa, heh? Aktivitas apa yang mau dilakuin sebelum tidur?” tuduh Kanaya tanya tajam pada sang Suami.
“Eh ... itu Eneng kali yang mikirnya ke sana,” elak Adhi.
“Emang aku mikir apa, huh?” Kanaya balas menantang sembari memeloti Suaminya.
Adhi menghindari tatapan penghakiman sang Istri. “Ya~ kan bisa jalan-jalan sambil liat pemandangan sekitar hotel. Terus nanti kamu gak perlu repot-repot masak, tinggal pesan layanan kamar,” dalihnya mengganti topik pembicaraan. “Neng, ini Mas ngajak senang-senang loh ... bukan susah-susah. Jadi jangan terlalu dipikirin, oke?”
“Terserah Mas aja, deh,” pasrah Kanaya.
“Nah, begitu. Sekarang kita tinggal cari hotel sekalian tempat wisatanya yang deket,” ucap Adhi lalu mengeluarkan ponselnya. “Kesinian dong Neng, jangan jauh-jauh. Biar bisa cari bareng-bareng, kan Mas juga butuh pendapat Eneng,” ucapnya menarik lengan sang Istri agar lebih merapat padanya.
Mau tak mau Kanaya menurut dan bergeser. Adhi tersenyum, lalu dia melingkarkan sebelah tangannya memeluk sang Istri dan mengecup puncak kepalanya singkat.
“Mas cari-cari kesempatan, ya?” tanya Kanaya curiga –karena Suaminya kalau sudah bertingkah manis begini, pasti diakhir ada maksud tersembunyi.
“Ya ampun ... Neng, suuzon aja sama Mas,” komentarnya berlebihan. “Lagian kan gak salah kalau suami istri, malah ibadah.”
“Iya, tapi aku nya capek kalo Mas minta keseringan,” balas Kanaya menahan emosi.
“Hahah ... iya juga, ya.”
“Iihh! Jawaban apaan begitu? Nyebelin!”
“Ugh!!” Adhi meng –aduh karena pinggangnya baru saja di cubit.
Sementara Kanaya, sang pelaku langsung kabur. “Pokoknya malam ini Mas tidur sendiri!!” Dia berlari ke kamar dan menguncinya.
Adhi hanya terkekeh dengan tingkah sang Istri yang ketakutan kalau akan digempur olehnya –dia selalu menikmati saat menggoda Istrinya itu dan tentu saja itu tak akan berakhir dengan mudah. Dia beranjak dan menghampiri sang Istri di kamar.
“Neng, buka pintunya.”
“Gak akan!” jawabnya berteriak.
“Nanti Mas dobrak pintunya, loh.”
“Bodo amat!!” Kali ini suaranya terdengar lebih dekat.
Sementara itu, saat ini Kanaya berdiri di balik pintu –dia penasaran karena Suaminya tak terdengar ngotot lagi untuk menerobos. Namun tiba-tiba dia mulai panik, saat mendengar suara.
Ceklek!!
Pintu telah terbuka, wajah sang Suami yang tersenyum penuh kemenangan terpampang nyata di hadapannya. Ahhh~ dia lupa, kan ada kunci cadangan –dalam hati dia ingin menangis. “Ampun Mas,” mohonnya.
“Astaga. Emangnya Mas bakal berbuat jahat sama kamu?” tanya Adhi dan terkekeh –masih menikmati menggoda sang Istri.
Kanaya memberanikan diri menatap Suaminya. “Beneran?” tanyanya masih tak percaya.
“Enggak.”
“Janji?” Kanaya mengangkat jari kelingkingnya.
“Janji.” Balas Adhi menautkan jari kelingking mereka dan juga ... bibir –tak ketinggalan.
“Mas!”
“Masa gak ada bonus, kan Mas udah janji nurutin kemauan Eneng.”
“Awas aja kalo macam-macam nanti malam,” peringat Kanaya dan mengacungkan telunjuknya.
“Galak banget sih, Neng. Tapi nanti tidurnya Mas dipeluk kan, heum?”
“Minta peluk aja sama guling.”
“Dipeluk guling gak anget, Neng?”
Kanaya menghela nafas. Suaminya mulai lagi, dia cuma bisa sabar –dari pada ujungnya janji yang tadi batal.
O
O
O
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
O
O
O
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~