
Hanya karena Kanaya menyampaikan kalau Teh Dita meminta mereka untuk datang pagi, sang Suami langsung mengajaknya berangkat ke rumah orang tuanya setelah sholat subuh. Bener-bener dah!! Dia kan masih ngantuk.
"Mas, acaranya aja mulai setelah Ashar. Kita jalan jam 9 atau 10, masih keburu kok," rajuk Kanaya yang enggan beranjak dari tempat tidur.
"Tapi kata Teteh kamu, potong Kambingnya pagi. Emang kamu gak mau liat?" tanya Adhi sembari memilih baju di depan lemari.
"Enggak, mending tidur aja," jawab Kanaya dan menggulung diri dalam selimut.
"Teteh kamu pasti perlu bantuan, lagian juga kan ... semakin awal mulai kerjanya, lebih cepat selesai juga. Terus setelah itu, kamu bisa istrirahat lagi," nasehat Adhi.
"Yang semalam bikin Eneng kurang tidur, siapa?" omel Kanaya.
Adhi tampak tersenyum di balik pintu lemari yang menghalanginya dari tatapan sang Istri. "Nanti malam Mas kelonin," jawabnya dengan gurau, namun menyimpan arti lain. "Udah Neng, buru siap-siap."
Kanaya mendesis.
Selama perjalanan ke rumah orang tuanya, Kanaya tidur di mobil -lumayan sekitar beberapa menit, terus rasanya gak kalah nyaman kayak tidur di kasur dan bisa peluk guling.
'Guling?' Kanaya bertanya dalam alam bawah sadarnya, terapi rasanya terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Akhirnya dia memaksa matanya untuk terbuka dan melihat kebenarannya, dan ternyata … dia benar-benar tertidur di atas ranjang sembari memeluk guling, lalu saat ini dia ada di kamarnya.
Kanaya segera beranjak dari kasur kecilnya dan berlari keluar kamar, namun baru beberapa langkah -dia harus berhenti sebelum menabrak orang.
"Tuan Putri, sudah bangun?" goda Uwa Entin yang sedang menyiangi bumbu.
"Princess Aurora!!" seru Sofia menambahi.
Kanaya masih tidak mengerti dengan semua ledekan keluarganya, tetapi dia merasakan firasat buruk.
"Wak Entin, kabarnya baik? Kapan dateng?" sapa Kanaya sembari mencium punggung tangan Uwanya.
"Alhamdulillah, baik Neng. Kemaren malam di jemput sama Abang kamu," jawab Uwa Entin. "Kalau kamu, kabar pasti baik banget kan? Penganten baru, mesranya masih anget -sampe digendong-gendong segala."
"Digendong? Aku? Sama siapa?"
"Siapa lagi, laki lo," jawab Teh Dita yang baru datang dan ikut nimbrung sembari menggendong Adam.
Ketimbang fakta yang baru dia dengar, Kanaya lebih tertarik dengan keponakan barunya -lantas dia menghampiri Adam.
"Mau gendong?" tanya Teh Dita.
"Enggak, belom berani, ah~ Takut nanti salah gendong, si Adam sakit badan," jawab Kanaya ragu.
"Ya, belajar~ nanti kalo lo punya anak, udah gak kaku lagi. Jangan takut-takut, coba dulu," ujar Teh Dita sembari mengalihkan anaknya untuk digendong oleh Kanaya.
Kini bukan saja Kanaya bisa melihat bayi mungil itu dari dekat, tetapi merasakan sentuhan lembut Adam dalam dekapannya. Lalu dengan Kanaya sadari, seperti ada letupan kebahagiaan yang menyeruak dalam dirinya.
"Kalo pengen, minta sana sama laki lo," goda Teh Dita.
Kanaya mendengus, namun itu berbeda dari apa yang Teh Dita pikirkan -sebab hanya Kanaya yang tau kelakuan Suaminya. Memangnya karena apa dia sampai ketiduran dan tak sadar sudah berpindah tempat dari mobil ke kasurnya?
"Wak, ini dagingnya udah di bersihin. Taro di mana?" tanya Bang Dhika sembari membawa sebaskom besar yang berisi daging Kambing.
"Taro dapur lah," jawab Wak Entin menitah. "Wah~ banyak juga ya, dagingnya."
"Masih ada lagi nanti, soalnya belom semua dibersihin," jawab Bang Dhika dan melengos ke dapur. "Ihh!! Ngapain lo Nay, gendong-gendong Adam. Kayak bisa aja … hati-hati, nanti patah tulang," komentar Dhika dan langsung kena damprat dari Teh Dita.
"Ngenye aja nih, anak. Ya, harus belajarlah biar bisa!!" omel Teh Dita.
Di belakang itu, ada seorang lagi yang datang dan menyusul Bang Dhika membawa daging Kambing. Adhi, dengan mengenakan kaos setelan Jersey salah satu Club Bola kenamaan asal Negara Ratu Elizabeth. Tapi Kanaya mengetahui sesuatu; Suaminya tidak bawa baju ganti dan Kanaya tahu milik siapa baju itu, Bang Dhika.
"Mas ikut potong Kambing?" tanya Kanaya.
"Enggak, cuman bantu aja," jawab Adhi yang tatapannya terpaku pada dua sosok di hadapannya.
"Eneng cuman nyoba gendong Adam bentar aja," jawab Kanaya yang lagi-lagi tau sesuatu.
Adhi hanya menyunggingkan senyum dengan anggukan kecil, sedikit salah tingkah karena ketahuan memandangi mereka dengan serius. "Mas mau taro ini dulu," ucapnya dan pergi ke dapur.
"Masih ada lagi dagingnya, Nak Adhi?" tanya Ibu Nurlela pada sang menantu.
"Enggak Bu, ini udah semua," jawab Adhi.
"Ya udah, mending abis ini pada bebersih badan," ujar Ibu Nurlela.
"Iya, bau kambing soalnya!!" ceplos Kanaya.
"Neng, kamu siapin lah baju ganti buat Nak Adhi," titah Ibu.
Yah~ padahal Kanaya masih mau gendong Adam. Rungutnya dan menyerah Adam kembali pada Ibunya dengan tidak rela.
Sementara itu di dalam kamar, sembari tidur-tiduran Kanaya menunggu Suaminya selesai membersihkan diri karena dia memiliki pertanyaan untuk diajukan. Dan saat dia melihat pintu terbuka dan Suaminya yang baru selesai mandi muncul, Kanaya langsung menyerbunya.
"Mas tadi gendong aku?"
"Gendong?" tanya Adhi yang belum tanggap lantaran masih sibuk mengeringkan rambutnya. "Oh iya."
"Kenapa gak bangunin aku aja, sih? Kan jadinya aku diledekin."
"Bukannya Mas gak usaha bangunin kamu, tapi kamu aja yang gak bangun-bangun."
"Masa?" Kanaya tidak percaya.
"Ya~ kalo kamu bisa dibangunin, seharusnya pas Mas gendong itu kamu bangun dong. Tapi ini malah makin nempel pas digendong."
Ugh!! Kanaya tak bisa menampiknya, karena dia juga tak sadar kalau digendong. "Emm ... ya udah, kalo gitu." Setelah mengakhiri debat dengan kekalahan, Kanaya segera keluar untuk menyembunyikan rasa malunya.
o
o
Acara Aqiqah selesai di waktu menjelang Magrib, lalu saat ini hanya tersisa anggota dari dua keluarga besar Harisdarma dan Darmawan. Mereka berkumpul bersama dan saling mengobrol hal acak, hingga pasangan yang acap kali disebut sebagai Penganten Baru tersebut menjadi topik perbincangan -lantaran suatu alasan sebelumnya.
"Nak Adhi mau coba gendong?" tanya Ibu Nurlela karena melihat menantunya terus memandangi Bayi dalam gendongan.
Adhi tak menjawab, tapi cukup dari gelagatnya Bu Nurlela sudah tau apa keinginan sang menantu. Jadi Ibu Nurlela langsung saja menyerahkan Adam ke dekapan Adhi.
"Nak Adhi sepertinya udah terbiasa ya, gendong bayi. Gak takut-takut atau kaku," komentar Ibu Nurlela.
"Iya Bu, dulu si Adhi sering saya suruh ngasuh Adeknya -Diandra dan Rendra- terus ponakan juga," jawab Bu Ranti.
"Kalo gitu, udah bisa dong kalo nanti ngasuh anak sendiri, Mas Adhi," sahut Dita.
"Mas Adhi mah … sekelas Baby Sitter, Teh Dita. Jadi gak usah diragukan lagi," jawab Diandra.
"InsyaAllah," timpal Adhi.
"Hmm … kalo diliat dari tampangnya sih, Mas Adhi ini suka sama anak kecil," ujar Dita seakan bisa membaca raut wajah.
"Banget!!" jawab Diandra lagi.
"Wah~ ini mah, si Eneng harusnya udah ngambil ancang-ancang … program hamil. Biar nanti pas lulus langsung isi," ucap Dita dengan keras seperti sengaja agar seseorang bisa mendengarnya.
"Kanaya katanya mau kerja dulu," jawab Adhi dengan nada datar.
Dan setelah itu, orang yang dimaksud langsung datang. "Pada ngomongin Eneng, ya?" selidik Kanaya.
"Nay, kasihanilah Mas ku ini. Sudah harus menunggu lama untuk menikah, tapi masa harus nunggu lagi buat nimang anak. Nanti dia keburu jadi kakek-kakek," ujar Diandra.
"Ya?" Kanaya bingung.
Yang jadi bahan olokan tak mendengarkan, sibuk dengan dunia kecilnya yang bernama Adam.
"Kayaknya sih, mereka ini perlu piknik," ujar Teh Dita sok tau. "Lo pernah ke mana-mana kan, Nay?"
Bisa gak, dia minggat aja dari sini? Mana Suaminya juga cuek bebek dari tadi, Istrinya bukan dibantu.
"Kata Bapak, tunda dulu punya anaknya. Lagian Eneng juga masih sibuk skripsi," dalih Kanaya.
"Mas! Ajak kék Kanaya jalan-jalan," seru Diandra. "Honeymoon sekalian!!"
Adhi tersentak dan segera bangun, dia membuat orang bertanya-tanya dengan tindakan spontan nya itu. Namun setelah dia mengangkat Adam lebih tinggi dalam gendongannya, barulah ketahuan penyebabnya. Baju dan celana basah lantaran dikencingi si Bayi.
"Yah~ Maaf Mas Adhi," ucap Dita dan buru-buru mengambil Adam.
"Gak apa-apa," jawab Adhi santai, lalu pergi untuk membersihkan diri.
Kanaya juga ikut beranjak dari duduknya, selain membantu sang Suami, dia juga tak sanggup jadi bahan omongan Kakak-kakaknya.
"Nay, seenggaknya sering-sering lah sempetin waktu buat kalian have fun dan quality time berdua. Sebelum nantinya punya, soalnya setelah itu … fokus kalian nanti cuman buat anak," saran Diandra sembari menggenggam tangan Kanaya.
"Iya Mbak Diandra, makasih sarannya," jawab Kanaya sekenanya.
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
Mas Adhi, kapan mau ajak Eneng jalan-jalan?
Atau Honeymoon?
x x x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you ~~