
Kanaya kira, Suaminya tidak peduli atau tak dengar karena terlalu fokus dengan Adam saat mereka jadi bahan pembicaraan Mbak Dian dan Teh Dita. Tapi ternyata, sepulangnya mereka dari rumah orang tuanya, sang Suami langsung menanyakannya.
"Kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Adhi sembari dia menyetir.
"Oh~ jadi Mas pura-pura budeg? Tega banget sih, ngebiarin Eneng menghadapi dua Biang Bacot sendirian," kesal Kanaya.
"Ya~ abis gimana? Kalau mau ikut ngejawab pun, kayaknya bakal kalah juga sama mereka berdua," dalih Adhi. "Jadi kamu mau jalan-jalan ke mana, Neng?" tanyanya lagi.
Sejenak Kanaya tampak berpikir, namun setelahnya dia menjawab, "Nanti-nanti aja lah, Mas. Lagian kita lagi sama-sama sibuk."
"Begitu?" tanya Adhi yang meragukan penolakan sang istri.
o
o
o
Lalu akhirnya, satu minggu kemudian … diputuskan mereka akan pergi ke Karanganyar -yang merupakan kampung halaman Adhi. Tentunya hal tersebut terealisasi setelah perbincangan panjang, mulai dari tanggal keberangkatan sampai transportasi, sebab awalnya Kanaya tidak setuju.
Selain karena alasan pertama, yang menurut Kanaya, waktunya terlalu mepet dan mereka sama-sama sibuk. Lalu Adhi menyarankan untuk menggunakan pesawat agar lebih cepat perjalanannya, tetapi itu juga ditolak Kanaya karena ongkosnya yang mahal.
Adhi menghela nafas panjang.
Dia tak mengerti dengan pola pikir perempuan yang membuatnya jadi serba salah.
Tapi syukurnya, mereka jadi pergi juga. Mereka berangkat di hari Jumat, tepatnya setelah Magrib dengan Kereta Api. Lalu perjalanan kereta api sekitar lima sampai enam jam dan lanjut dengan mobil menuju lokasi, rumah Eyang Putri yang terletak di kawasan Perkebunan Teh Kemuning.
Ketika mereka sampai, udara dingin langsung menyambut mereka, belum lagi saat itu mereka tiba sekitar pukul dua malam -dalam keadaan mengantuk dan juga lelah. Kanaya jadi merasa bersalah, karena sudah memaksakan kehendaknya yang kurang tepat. Jadi mereka bertamu disaat penghuni rumah tengah tidur dan harus terbangun, untuk menyambut dan menyiapkan keperluan mereka.
Sembari minum Teh hangat dan membungkus diri dengan selimut, Adhi mengenalkan keluarganya pada sang Istri.
"Akhire kowe kawin, Dhi!! Bojomu uga ayu, pinter kowe milih bojo," ucap Eyang Putri terlihat senang.
*) Akhirnya kamu menikah, Dhi. Istrimu juga cantik, pintar kamu pilih istri.
"Ya pastilah, Eyang," jawab Adhi dengan bangga.
Diam-diam Kanaya tersenyum di balik cangkir Teh yang sedang dia sesap. Meski tak bisa bahasa Jawa, setidaknya Kanaya tau arti beberapa kata -termasuk pujian dari Nenek sang Suami yang mengatakan dia cantik dan Suaminya yang menyetujuinya.
"Ora Eyang, ibune sing milih," timpal Bude.
*) Enggak Eyang, itu Ibunya yang pilih.
"Ora apa-apa, sing penting kawin. Tinimbang dheweke kelingan wanita kasebut," sahut Eyang lagi.
*) Gak apa-apa, yang penting sudah dia sudah nikah. Ketimbang dia teringat wanita itu.
"Enggak Eyang, aku sudah melupakannya," jawab Adhi sembari menggenggam tangan sang Istri. "Kanaya sudah lebih dari cukup untuk menghapus luka masa lalu kala itu, dan aku bahagia bersamanya."
Ya Rabbi~ Kanaya tidak tau harus berkata apa, yang pasti dia terharu dengan perkataan Suaminya itu -yang tidak dia sangka. Selain karena sang Suami tidak pernah mengatakan hal tersebut dan dia juga yang tidak cukup peka untuk menyadari, tetapi sekarang setelah dia pikir-pikir, dia tak lagi merasa menyesal telah menikah dengan Dosennya.
"Ya Eyang ndonga, muga-muga kekawin sampeyan bisa awet," ucap Eyang Putri dan mereka meng -Aamiini nya. "Wis, saiki kowe turu. Eyang ngantuk tenan," ujar Eyang mengakhiri obrolan dan beranjak dari sofa sembari dipapah oleh Bude.
*) Ya, Eyang doakan, semoga pernikahan kalian bisa langgeng.
**) Sudah, sekarang kalian tidur. Eyang juga sudah ngantuk banget.
"Ayo Neng, kita tidur sekarang," ajak Adhi dan menuntun Kanaya menuju kamar yang sudah disiapkan untuk mereka.
Saat Kanaya memasuki kamar tersebut, bukan saja rumahnya yang masih bernuansa tradisional, tetapi sampai ke kamar dan perabotannya juga. Tempat tidur berkaki tinggi dengan ukiran di setiap sisinya dan terpasang kelambu, lalu seprainya yang bermotif batik.
"Neng, rencananya Mas mau keliling kebun. Kalau kamu mau, kita jalan setelah Subuh," tawar Adhi.
"Abis Subuh? Sebentar lagi dong! Kalo tidur, nanggung banget."
"Ya~ kalau kamu gak mau, gak apa-apa. Mas cuman nanya aja," jawab Adhi namun lain di hati.
Kanaya berdecak. "Boong banget sih! Eneng tau, kalo Mas nada bicaranya gitu, pasti dalam hati ngegerutu," tebak Kanaya.
"Nah! Kalo udah tau begitu, harusnya kamu mau dong temenin Mas," jawab Adhi langsung.
"Ya~ kalo gitu juga, aturan Mas dari awal gak usah pake basa-basi dong," balas Kanaya.
"Jadi kamu maunya dipaksa?"
"Gak gitu juga, Mas," cibir Kanaya. "Udah lah, debat mulu … nanti tau-tau udah Subuh." Kanaya langsung membaringkan tubuhnya dan menyelimuti dengan selimut.
"Kalau kedinginan bilang ya, Neng."
"Enggak kok, ini selimutnya udah tebel," jawab Kanaya.
"Bukan, nanti biar Mas peluk," imbuh Adhi.
Bugh!!
Kanaya bangun kembali dan melempar keras guling ke arah sang Suami. "Peluk aja tuh guling!!"
o o o o o o o
Fajar di Sabtu pagi sebentar lagi terbit, begitu juga pasangan suami/istri yang telah bersiap untuk pergi menuju Kebun Teh. Adhi muncul dari pintu samping rumah sembari mengayuh sepeda ontel dan menghampiri Kanaya.
"Naik sepeda?" tanya Kanaya.
"Iya, masa mau didorong doang," sahut Adhi.
"Ada lagi gak sepedanya?"
"Enggak ada, ini juga minjem sama tetangga. Kenapa?"
"Kalo ada, Eneng mau naik sepeda sendiri aja. Malas naik sama Mas, lelet pasti deh nanti. Terus goyang-goyang," dalih Kanaya.
"Mas yang ngayuh ini, kamu tinggal duduk aja kok repot. Udah, buru naik!"
Di tengah cekcok kecil Suami/Istri itu, sebuah motor berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria paruh baya turun dan melepaskan helmnya.
"Kirain siapa, taunya Pakde," ucap Adhi dan mencium punggung tangan Pakde nya, lalu dibalas dengan pelukan. "Apa kabar Pakde? Abis ronda?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik juga, Pakde. Semalam sampai, kira-kira jam dua malam," jawab Adhi. "Oh iya Pakde, ini istriku -Kanaya," Adhi menuntun Kanaya untuk memperkenalkannya pada sang Pakde.
"Kalian mau ke mana? Pagi-pagi udah di luar sambil nenteng sepeda," tanya Pakde lagi setelah kesekian pertanyaan yang dia lontarkan pada pasangan tersebut sebelumnya.
"Mau ajak Istri keliling, sekalian liat matahari hari terbit," jawab Adhi.
"Oh~ kalo gitu, pake aja nih motor -biar cepet," tawar Pakde.
Kanaya tersenyum ketika mendengar tawaran tersebut.
"Gak usah Pakde, sengaja mau naik sepeda biar bisa pelan-pelan jalannya sambil liat pemandangan," tolak Adhi dan Kanaya cemberut.
"Yakin gak mau? Atau kamu yang belum lancar naik motor, Dhi?" tuduh Pakde.
Adhi hanya menjawab dengan senyumannya, namun itu cukup mewakili sebagai jawaban.
"Kalo gitu, biar Eneng aja yang pake motornya," pinta Kanaya namun diabaikan oleh sang suami.
"Ya udah Pakde, kita berangkat dulu ya," pamit Adhi sembari menarik lengan Kanaya.
o o o
Karena sang Suaminya beneran lelet mengayuh sepedanya, belum lagi sempat mereka beberapa kali oleng. Akhirnya Kanaya memutuskan turun dari sepeda dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, begitu juga dengan Adhi yang mengikuti di belakang sang Istri sembari mendorong sepeda.
"Coba tadi kita naik motor, gak bakal capek gini," keluh Kanaya lantaran kakinya sudah pegal akibat medan yang naik turun.
"Bahaya Neng, naik sepeda aja hampir jatuh mulu."
"Aku yang bawa maksudnya."
"Tetap gak Mas ijinin."
Hah~ kalau sudah begini, jangankan lihat matahari terbit. Bisa-bisa mereka keburu kehabisan nafas sebelum sampai di tempat tujuan.
"Balik aja dah, Mas," pinta Kanaya.
"Yah, masa gitu aja udah nyerah Neng."
"Iya."
"Ya udah, kamu naik sepeda dah -biar nanti Mas sambil dorong."
"Beneran? Yakin kuat kalo aku duduk di sepeda terus Mas dorong?" tanya Kanaya meragukan saran sang Suami. "Kalo aku mah, mending aku kayuh sendiri sepedanya."
"Kamu mau boncengin Mas, gitu?"
"Enggak, bukan! Jadi … aku naik sepeda, Mas jalan," jawab Kanaya dan tergelak.
"Tega banget, Neng."
"Ya~ kalo gak mau, gak apa-apa. Aku balik kalo gitu," balas Kanaya.
Adhi tak bisa membantah, selain mengalah. Tapi yang penting, mereka bisa melanjutkan perjalanannya.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Akhirnya, jadi juga mereka jalan-jalan.
Garcep juga Pak Adhi, meski pura-pura budeg dulu …
Bakal gimana dan ke mana aja, ya, liburan singkat mereka?
o o o O o o o
Btw, kalo ada yang salah sama percakapan bahasa Jawa nya, maaf ya~
Kalo boleh, tolong dikoreksi.
Soalnya aku pake g**gle translate
Wkwkwk
Oh ya … nanti ada kejutan loh, selama mereka liburan ini
x x x x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~