
Kanaya yang sudah berpamitan pada Pak Adhi, tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk lebih lama berada di ruang yang sama dengan dosen tersebut. Dia mengambil langkah menuju pintu untuk meninggalkan kelas, namun anehnya dia merasa ada yang kurang -seperti dia ketinggalan sesuatu.
Adimas!
Oh iya, temannya itukan tadi jadi tukang foto. Elah, ngapa bisa lupa sama gebetan.
Kanaya yang sudah menarik gagang pintu, menutupnya kembali dan berbalik. Ditemukannya Adimas masih asik menjalani profesi barunya itu.
Kanaya menghela nafas, lalu menghampiri Adimas untuk mengajaknya pulang. Namun yang terjadi malah, dia diajak foto bersama lagi.
"Ayo Mbak Kanaya, mumpung Mas nya baik, masih mau fotoin kita," ucap Muthia kali ini membujuknya. Padahal sebelumnya dia sudah menolak.
Kanaya menatap Adimas untuk meminta tolong, tetapi temannya itu sama saja. Adimas malah mendorongnya, seraya berkata, "Foto aja lagi Nay, tadi foto lo jelek semua."
Tetapi nyatanya, bukan saja satu atau dua jepretan. Mereka malah ketagihan untuk mencoba pose lainnya, benar-benar memanfaatkan kemurahan hati Adimas.
Sementara Kanaya, dia sudah keluar dari barisan mahasiswi narsis itu dan memilih duduk di bangku yang dia tarik ke dekat Adimas.
'Entah kapan coba dia bisa pulang,' keluh Kanaya dalam benak sembari menenggelamkan kepala dalam kungkungan tangannya yang bersimpuh di atas meja.
Tuk … Tuk …
Kanaya mendongak, karena meja tempatnya membaringkan kepala ada yang mengetuk.
Hah~ rupanya si Dosen Empet!
Pak Adhi yang menyampirkan tas pada sebelah tangannya, sementara tangan lainnya mendekap map berisi dokumen -berdiri di hadapan Kanaya dengan raut wajah menyimpan pertanyaan.
Bisa Kanaya tebak, si Bapak kayaknya mau nanya kenapa dia masih di sini.
"Kamu bukannya sudah pamit sama saya? Sekarang kenapa masih disini? Padahal tadi semangat banget mau pulang."
'Noh! Bener aja tebakan Kanaya. Dasar kepo nih dosen, bukannya pulang aja sih. Hush~ Sono!' dumel Kanaya dalam benaknya. "Nunggu temen, Pak," jawab Kanaya sembari menunjuk dengan dagunya yang mengarah pada Adimas.
Pak Adhi mengikuti arah pandang Kanaya, dia hanya geleng-geleng kepala -sebelum akhirnya dia menghampiri para mahasiswi yang tengah hanyut dalam euphoria narsisme.
"Mbak-mbak! Ini sudah mau Magrib, kelasnya mau dibersihin sama Office Boy dan itu juga pacar orang, ditungguin sama ceweknya," ujar Pak Adhi mengomel seperti Ibu Kost bagi Kanaya -padahal dia gak pernah ngekost.
Tunggu! Siapa yang si Bapak bilang Pacar-Ceweknya?
Sesaat kemudian Kanaya merasakan hujaman tatapan.
"Jadi Mas-nya ini pacarnya Mbak Kanaya?"
Plis, Kanaya mau jawab IYA!
Benak Kanaya frustasi menahan siksaan perasaan sepihak ini, tolong Ya Rabb.
"Iya."
Sebuah suara menjawab. Dan Kanaya dapat pastikan seratus persen, itu bukan dia. Namun yang selanjutnya terjadi adalah rasa haru menyerbu hati Kanaya. Meskipun itu bukan ucapan langsung Adimas padanya, tetapi dia sudah sesenang ini dapat mendengarnya.
"Ih! Mbak Kanaya kok gak bilang-bilang sih. Kitakan jadi gak enak, maaf ya," ucap seorang mahasiswi dan diikuti lainnya.
Kanaya hanya menanggapinya dengan senyuman, seolah itu bukan masalah besar. Namun keberuntungan besar -yang ternyata dia dapat karena Pak Adhi, sungguh tak disangka.
Ngomong-ngomong, kemana Pak Adhi? Dia nanya doang, bukan bener-bener penasaran si Dosen kemana apalagi mau bilang makasih. Enggak!
- - -
Setelah akhirnya terbebas, Kanaya dan Adimas berjalan keluar dari gedung kampus. Namun hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua dia sepanjang jalan yang memang hanya dilalui oleh mereka. Lalu di tengah kesunyian itu, suara azan Magrib berkumandang.
"Yah Nay, maaf ya, jadi ke Magriban," ujar Adimas.
"Gak apa-apa kok, lagian pun emang gak bakal sempet juga. Yang ada malah nanti kita magrib di jalan," jawab Kanaya dengan nada girang yang tak dapat dia sembunyikan.
Hah~ pasti kedengaran aneh deh dia.
Adimas tampak mengangguk menyetujuinya. "Iya, tapikan lo pasti capek dan pengen buru-buru balik."
"Ba.nget!" tekan Kanaya. "Capek batin pula," sambungnya dan diakhiri helaan nafas karena teringat banyak hal yang terjadi hari ini. "Dan gue juga gak tau ini … gue bakal bisa lanjut skripsi atau malah ngulang proposal," keluhnya tersirat nada kepasrahan.
"Kok lo bisa mikir gitu?" tanya Adimas heran sekaligus khawatir pada temannya itu.
"Banyak banget yang kejadian hari ini," jawab Kanaya dengan nada keengganan.
"Bismillah, Nay. Usaha gak akan mengkhianati hasil, jadi setelah ini tinggal lo serahin semuanya sama Allah. Doa dan tetap berbaik sangka," nasihat Adimas. "Nah, kita sholat magrib dulu ini, sekalian jamaah. Baru abis itu pulang atau lo mau jalan kemana sambil cerita juga boleh, gue jabanin apa aja permintaan lo. Pokoknya sampe hari ini berakhir, semua waktu gue ada buat ngehibur lo."
Ah~ rasanya cukup mendengar Adimas berkata begitu, Kanaya sudah sangat terhibur dan merasa lebih baik. Namun dia juga jadi semakin berharap pada temannya itu.
"Makasih," jawab Kanaya singkat dan hampir tak terdengar.
"Eh, enggak! Kita makan dulu. Gue tau, lo pasti laper, soalnya gue juga," ujar Adimas dengan suara jenaka.
Kali ini Kanaya hanya merespon dengan mendehem.
- - - -
Kanaya yang sudah selesai melaksanakan sholat magrib, kini dia tengah duduk menunggu Adimas di bangku panjang yang terletak berhadapan dengan pintu keluar mesjid. Namun saat itu dia melihat seorang pria yang dikenalinya keluar dari mesjid sembari menenteng sepatunya dan pria itu berjalan ke arahnya.
Eh, bukan kan?
"Mbak Kanaya masih di sini?" tanya pria itu lalu duduk di sebelahnya.
Kanaya bergeser dari duduknya yang di tengah menuju ke pinggir bangku, memberi jarak pada pria yang merupakan Dosen Penguji nya hari. Ya, dia Pak Adhi.
Heran, kenapa ini dosen duduk di bangku dia. Padahal masih banyak bangku kosong. Sok kenal. Hmmm~ emang mereka saling kenal sih, tapi kan gak deket.
Apapun itu alasannya, yang gak paling masuk akal adalah -Pak Adhi takut atau gak lagi gabut dan gak mau duduk sendirian.
"Iya, nunggu temen Pak," jawab Kanaya datar.
"Temen rasa pacar, maksud kamu?" sahut Pak Adhi sembari memakai kaos kaki.
Ah~ hilang feeling romantis dan debaran Kanaya karena kelakuan si Dosen, meski ucapannya manis.
"Te.men, Pak!" tekan Kanaya bercampur rasa kesalnya karena Pak Adhi mengarahkan kaki padanya sembari dia memasang kaus kaki yang kedua.
Untung gak kecium bau sikil, tapi tetep aja gak sedep dipandang itu kaki yang udah seharian ke emplep dalam sepatu yang bisa aja berkeringat bahkan jamuran.
"Oh … Friend zone, toh!" jawab Pak Adhi enteng, tapi nyesek buat Kanaya. Dan semakin sakit, karena itu bener.
Inilah yang dinamakan, realita itu kejam dan tak seindah ekspektasi. Dan Pak Adhi adalah pembawa kenyataan terkejam bagi Kanaya, yang lebih sakit dari dia yang lagi mimpi indah terus dipaksa bangun. Soalnya sekarang dia lagi sadar aja, masih dipaksa buat bangun. Dia harus apa coba? Diguyur pake air dingin biar lebih melek.
"Saya kasih tau ya, Mbak. Pria serius dan bertanggung jawab itu mengajak menikah. Tapi yang main-main dan pengecut itu mengajak pacaran. Dan wanita pintar itu, memilih yang pertama," ucap Pak Adhi tiba-tiba dan entah apa maksudnya.
Setelah berkata demikian, Pak Adhi berdiri dengan sepatunya yang telah terpasang.
Ya, iyalah! Masa nyeker.
"Padahal tadi Mbak Kanaya yang pamitan, tapi saya yang pulang duluan. Saya permisi, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Kanaya.
Dan kini Kanaya kembali menunggu Adimas sendiri, hingga beberapa menit sudah berlalu.
Dimas kemana, sih? Wiridnya lama banget. Sebenarnya kalau gitu malah bagus, sih. Tapi masalahnya, sekarang perut Kanaya yang berisik gak bisa diajak kompromi.
"Maaf Nay, lama. Tadi dipanggil dosen dulu."
"Gak apa-apa, Dim. Woles aja."
"Jadi mau kemana kita?" tanya Adimas.
"Makan," jawab Kanaya tanpa ragu.
"Mau makan apa sama dimana?
"Apa aja, asal ngeyangin. Dimana aja, asal deket."
"Laper banget, ya Nay?"
"Gak usah ditanya lagi itu, rasanya kaki gue lemes dan mata gue berkunang-kunang."
"Perlu gue bopong?" tanya Adimas yang malah menanggapi Kanaya dengan serius.
"Ditandu sekalian, Dim!" sahut Kanaya dan Adimas tergelak.
Dan jadilah mereka makan Nasi Padang di seberang kampus, yang dekat dan ngenyangin. Lalu setelah itu mereka berpindah ke kafe yang ada di sebelahnya untuk nongkrong sembari makan es krim dan Kanaya yang curhat soal penderitaannya hari ini.
Adimas hanya merespon dengan permintaan, agar dia sabar dan berkata kalau semua pasti ada hikmahnya juga berdoa, semoga pembimbing Kanaya bisa lebih baik kedepannya. Kanaya meng-Aamiini nya.
Lalu setelah itu, Adimas tampak merogoh sesuatu di dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado dan pita cantik.
"Hadiah buat lo, biar semangat," ucap Adimas dan memberikannya pada Kanaya.
"Ya ampun Dim, repot-repot amat," sahut Kanaya sungkan namun tetap dia terima dengan senang. "Boleh dibuka sekarang?" tanyanya.
Adimas mengangguk.
Kanaya membuka bungkusan dengan perlahan dan hati-hati, seolah tak ingin merusak bungkusan itu sendiri.
"Pertama-tama gue mau bilang, gue gak tau milih barang apa. Entah itu yang cocok atau enggak sama lo, Nay."
Sebuah gelang rantai perak dengan bandul berbentuk hati.
Kanaya terkejut, menatap Adimas tak percaya sekaligus bertanya.
"Kedua, gue gak pinter ngerangkai kata romantis untuk ngungkapin perasaan gue. Bahkan tadinya gue gak ada maksud buat ngasih hadiahnya hari ini, cuman gue ngerasa harus aja. Dengan semua hal berat yang lo alami, gue berharap lo lupain itu dan ganti dengan ingat, kalau gue ada buat lo hari ini dan seterusnya."
Mata Kanaya sudah berkaca-kaca dengan cairan bening yang membendung di kelopaknya, hanya butuh sedikit gerakan untuk air itu tumpah. Bahkan dia sendiri tak tahan menahan isak yang sudah di ujung lidahnya, hingga perlu membekap mulutnya agar suara itu tak keluar.
"Jadi … lo mau nerima gelangnya sama perasaan gue, Nay?"
••
T
B
C
••
Hayo~ Nay, terima gak Adimas?
Atau mikir sarannya Pak Adhi?
×××°×××
Part ini didedikasikan untuk diriku sendiri, yang merasakan lelahnya punya perasaan sepihak.
Jadi ada temen cowok yang aku suka, dia sering main -padahal dia beda blok dengan rumah aku.
Meskipun dia main sama anak cowok lain di blok aku, tapi rasa ge'er itu ada ya~
Sampe aku denger dari adeknya, yang merupakan temen aku -kalo dia juga suka.
Ya Tuhan, rasanya jungkir balik senengnya. Perasaan bersambut ternyata!!
Tapi setelah itu rasanya lebih frustasi, soalnya gw nungguin dan ngarep dia buat jujur. Sayangnya sampe gw pindah, gak ada tuh omongan.
Terus gw denger kabar, dia udah sama yang lain.
Nyesek!!
Hah~ beruntunglah dirimu Kanaya, aku membuatmu bisa dengar kata yang kau dan aku nantikan itu.
It's okay, karena sekarang aku cukup nyaman sama perasaan aku, soalnya pacar 'imajinasi' aku banyak. Cuman kita emang LDR, dia lagi cari nafkah buat modal nikah di Korea sana. #halu
NB :
Mohon perhatian untuk Kpopers yang barang kali lagi gabut, bisa temani aku yang juga.
Let's chat at my group!!
Dan kita halu bersama.
*)Promosi grup terselubung
×××
Like, Comments, Votes and Shares.
Thank you for reading and support me.
See you~