
Kanaya sedang menikmati liburan semesternya dan sangking hanyutnya dalam suka cita bersama pacarnya yang berjarak lima langkah, Kanaya sampai lupa dengan nasib Proposal Skripsinya. Mungkin juga dia sudah pasrah kalau Proposalnya tidak di ACC dan terpaksa mengulang.
Tetapi nyatanya, hal buruk baru saja dia terima saat sebuah pesan masuk pada What'sup Grup Bimbingan Seminar Proposal dan pengirimannya adalah Ibu Andin.
Kanaya duduk di atas tempat tidur dan membaca chat tersebut.
Bu Andin :
Assalamualaikum, anak-anak bimbinganku.
Apa kabar? Lama tidak ketemu bimbingan. Semoga sehat selalu dan Seminarnya lancar.
Saya mau minta maaf sebelumnya, karena saya sadar kalau saya belum dapat membimbing kalian dengan baik.
Selain itu, saya juga ingin minta maaf karena semester depan saya sudah tidak membimbing skripsi maupun mengajar sebagai dosen mata kuliah. Saya memutuskan resign, demi menjaga anak saya yang baru lahir, sebab kondisi Putri saya tidak cukup baik hingga memerlukan banyak perhatian dan kebutuhan khusus.
Semoga kalian dapat memaklumi kondisi saya dan mohon doanya juga untuk pemulihan Putri saya. Atas perhatian anak-anak sekalian, saya ucapkan terima kasih.
NB :
Penetapan Dosen Pembimbing baru kalian akan diberitahukan saat pembagian KHS.
*) KHS atau Kartu Hasil Studi, adalah rapot mahasiswa yang berisi nilai IP berupa huruf dengan skala tertinggi 'A' berbobot 4,0 dan terendah 'E' berbobot 0.
°
Kanaya lemas setelah membaca pesan Bu Andin tentang pergantian Dosen pembimbing.
"Akh! Bener-bener dah, ngeselin banget!" rancaunya seraya melempar ponsel dan kembali ambruk tengkurap di tempat tidur.
Bahunya tampak bergetar dan sesekali suara sesenggukannya terdengar, Kanaya benar-benar menangis kali ini.
Rasanya ketidak-beruntungan tak ada habis-habisnya menghampiri Kanaya. Seakan tidak cukup dengan Proposal Skripsinya yang diambang kegagalan saat Seminar, kini dia juga harus mengalami pergantian dosen pembimbing. Hal tersebut semakin memperjelas dia harus mengulang dari awal.
Bersamaan dengan itu, ponselnya kembali berdenting berkali-kali. Tampaknya itu dari pesan grup bimbingan lainnya, pasti teman sebimbingannya sedang ngomel-ngomel di sana. Hah~ Kanaya bodo amat, dia punya masalahnya sendiri.
Tak lama, kini ponselnya berganti menjadi dering lama -sebuah panggilan masuk.
Kanaya mengabaikannya, sangat tidak mood untuk bicara. Tetapi tampaknya si penelepon tersebut keras kepala, dia terus melakukan panggilan meskipun sudah Kanaya reject.
"Halo! Kenapa Jan?!" sentak Kanaya saat menjawab panggilan dari teman sebimbingannya sekaligus sahabatnya itu -Anjani.
'Lo ngapa, Nay?' tanya Jani yang sepertinya menyadari suara Kanaya yang berbeda. "Mewek lo?' tuduhnya dan tentu saja bener.
"Hmmm!" respon Kanaya hanya dengan deheman. Sesekali terdengar Kanaya yang menarik nafas yang kencang hingga ingusnya ikut tersedot. Yuck!
'Yaelah Nay, jangan cengeng! Dunia gak kiamat cuman karena Bu Andin mangkir,' ujar Jani menyoba menyemangati.
"Iya, lo gampang ngomong gitu. Soalnya Seminar Proposal lo lancar dan gak ketemu dosen penguji rese," sahut Kanaya ngotot.
'Heh! Nay~ lo kata gue gak stres apa? Gue mikirin kali, nanti gue bakal dapet dosen pembimbing baru kayak gimana? Dia nerima atau gak buat ngelanjutin bimbingan dari dosen lain? Dia sepaham atau gak sama bimbingan dosen sebelumnya? Gue juga takut ngulang dan telat wisuda," ujar Jani panjang.
Panggilan dengan Kanaya masih terhubung, tapi respon gadis itu tak dengar. Mau tak mau, Jani yang kembali ngomong.
'Nay! Lepasin diri lo, jangan terlalu tertekan. Lo gak sendiri Nay, kita ada buat lo dan juga hadapi sama-sama.'
Kanaya kembali tersedu. "Huhu … Jani~ gue gak nyangka lo bisa ngomong manis kayak gini. Gue kira mulut lo cuman buat ngulek cabe," komentar Kanaya tak terduga.
'Lo kata mulut gue cobek?! Si*lan! Gue ngehibur lo, tapi lo malah ngatain gue.'
"Gue sayang lo, Jan! I luv U! Saranghaeyo! Aishiteru!" teriak Kanaya riang.
'Ih … jijik gue dengernya. Dah ah, bye ya!!'
"Jani! Gue masih mau ngomong tau!" sela Kanaya.
"Ngomong aja sono sama Pak Adhi, biar dilulusin Seminar lo! Kalo masih kurang, kedipin aja dia!"
Setelah omongan unfaedah tadi, Jani langsung mengakhiri panggilannya sepihak. Tetapi biarpun begitu, Kanaya cukup merasa lega dan dapat kembali tersenyum.
Memang, kalau ada masalah itu lebih baik lo lepasin. Menangis sesekali, tak apa. Asal jangan terlalu lama dipendam dan ngerasain sakit sendirian, karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk berdampingan agar saling melengkapi sesama.
- - - - - -
Berselang beberapa hari setelah pemberitahuan mundurnya Bu Andin dari jabatan Dosen Pengajar sekaligus Pembimbing, disusul pemberitahuan kalau KHS atau Kartu Hasil Studi sudah keluar dan dapat diambil. Dan artinya itu juga berarti, mereka akan diminta untuk mengisi KRS atau Kartu Rencana Studi untuk semester depan.
*) Semacam formulir untuk memilih mata kuliah yang diambil pada semester selanjutnya.
Jadi hari ini Kanaya pergi ke kampus dan tentunya ditemani oleh Adimas, sang Pacar yang belum go publik.
Sementara Kanaya masuk ke kelasnya, Adimas pergi ke kantin dan menunggunya di sana karena dia memang tak ada jadwal di kampus hari ini, hanya mengantar Kanaya. Uh! So sweet~
"Kanaya!!" teriak seorang gadis ketika dia baru saja bertemu tatap dengan Kanaya dan dia memberikan pelukan.
"Ugh … lepasin ah, Del," pinta Kanaya memaksa.
"Ih~ gue kangen banget sama lo, Nay!" ujar Adel yang tak mendengarkan kesulitan Kanaya akibat pelukan erat itu.
"Gak usah lebay, baru semingguan doang gak ketemu aja!" oceh Jani dan mengambil tempat duduk di pojok.
Lalu Kanaya dan Adel mulai mengekor mengambil bangku di sebelah Jani.
"Ih! Apaan nih yang kelilit di tangan lo, Nay?!" ujar Adel sembari mengangkat tangan kanannya.
"Gelang," jawab Kanaya singkat.
Seketika, tatapan Adel langsung berubah menyelidik. Jani hanya melihatnya sekilas, tidak menaruh perhatian lebih.
"Dari mana?"
"Ya, belilah!" jawab Kanaya agak ngotot.
Adel semakin curiga padanya dan Kanaya menghindari tatapan Adel.
"Eh! Bu Gayatri udah dateng tuh!" seru Kanaya yang sebenarnya mencoba mengalihkan perhatian Adel.
"Lo utang penjelasan sama gue, Nay!" peringat Adel.
Kanaya mencoba bersikap biasa saja, namun di balik ketenangan itu, otaknya sedang bekerja keras memikirkan alasan yang tepat.
••
T
B
C
••
Gimana nasib nilai Kanaya dan status pacarannya yang rahasia itu?
××ו×××
Ganti dosen pembimbing itu sesungguhnya sangat menderita, guys. Biarpun aku gak ngerasain dan cuman denger cerita temen, kesian deh dia. Soalnya harus ganti judul, karena dosen pembimbing barunya gak mau ngelanjutin judul lama.
Dan Dosen pembimbing ku sendiri juga, statusnya saat itu udah gak aktif ngajar mata kuliah karena beliau harus ngurus bayinya. Alhamdulillah, beliau masih mau membimbing kami sampai selesai. Biarpun sebagai gantinya, kita yang harus jemput bola dengan datang bimbingan ke rumah beliau.
Padahal itu, rumah dosen bimbinganku jauh. Aku yang di Jakarta, beliau di daerah Depok ujung -hampir dekat ke Bogor. Terus aku juga harus 3 kali naik kendaraan, mini bus untuk ke stasiun terus kereta api dan nyambung ngojol, karena rumah dosennya di dalam. Kalau dihitung-hitung, habislah sekitar 50 ribu untuk sekali jalan bimbingan.
Dan tau gak kalian, apa yang lebih ngebingungin selain ganti dosen pembimbing? Ketika Dosen Pembimbing Teknik lo ikut campur ngomentarin isi skripsi, terus Dosen Pembimbing Materi lo jadi sewot.
Asli, lo bakal dilema.
Karena di Kampus gue nerapin dua Pembimbing Skripsi. 1) Materi, yang bimbing isi skripsi biar lo gak ngarang-ngidul dan gak jelas juntrungannnya. 2) Teknik, yang tukang komentarin typo dan kerapihan.
Jadi saran gue, kalo Dosen Pembimbing Teknik lo bawel soal isi skripsi. Iyain aja, tapi jangan curhat sama Pembimbing Materi lo. Kecuali mau disinisin mereka, soalnya biarpun mereka saling ngomongin gono-gini di depan kita, tapi di belakang itu mereka temenan dan akrab nggosipin kita.
Hahah~
*) Itu kata temen gue
>>>>>>>>
Dan maaf ya, pendek part ini.
Taukan rempongnya kalo udah mau deket lebaran, harap maklum ya~
Inipun aku nyuri-nyuri waktu setelah sibuk di dapur dan berbenah rumah.
Ku update dikit, dari pada gak sama sekali.
°°°°
🕌🕌🕌
Dan aku mau mengucapkan,
Taqobbalallahu minna waminkum.
Minal aidzin wal faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H
🕌🕌🕌
Makasih sudah mampir membaca, memberikan jempol, komentar atau vote.
See you~