
"Assalamu'alaikum," ucap seorang wanita paruh baya di depan pintu gerbang sebuah rumah. Sementara itu ada mobil hitam uang juga parkir di sana.
"Wa'alaikumsalam," jawab seorang pemuda dari dalam rumah sembari menghampiri pintu gerbang untuk melihat siapa yang datang. "Iya, Ibu cari siapa ya?" tanya pada wanita paruh baya itu.
"Saya Ranti. Ini benar rumah Ibu Nurlela?" tanya sang wanita paruh baya yang bernama Ranti itu.
"Iya betul. Oh ... Ibu teman pengajiannya Ibu saya yang mau arisan hari ini ya?"
"Iya."
"Masuk Bu, silakan masuk."
"Iya, terima kasih," jawab Ibu Ranti. Dan sebelum ia masuk, Ibu Ranti lebih dulu menoleh ke arah mobil hitam, tepatnya pada seseorang yang duduk di kursi kemudi -seraya menitah agar ikut masuk.
"Kenapa Bu? Ada yang di tunggu lagi?"
"Oh .. enggak, itu anak saya masih di dalam mobil."
"Di ajak masuk aja, Bu."
"Iya. Kalau gitu tunggu sebentar ya, Nak. Ibu panggil anaknya dulu." Ibu Ranti permisi dan menghampiri mobil.
Sementara sang pemuda yang membukakan pintu untuk Ibu Ranti tadi, dia berlalu masuk ke dalam rumahnya sembari berteriak sampai terdengar oleh sang tamu dan membuatnya terkejut.
"Dhi! Kenapa malah matung di situ? Ikut Ibu masuk!" ucap Ibu Ranti pada anak sulungnya.
"Ibu duluan aja, aku mau parkir mobil dulu," jawab Adhi.
"Halah ... alasan lagi kan kamu, Dhi. Nanti malah kabur," terka sang Ibu.
Dan sebenarnya memang begitu maksud si Adhi, kabur kalau ada kesempatan. Tetapi Ibunya lebih cerdik membaca siasat anaknya.
Ibu Ranti berputar ke sisi lain pintu mobil dan membukanya, berniat untuk masuk -namun seseorang lebih dahulu memanggilnya. Jadi gagal deh ngebuntutin anaknya.
"Ibu Ranti? Kok udah datang jam segini?" ucap suara milik perempuan yang sebaya dengannya.
"Iya Bu Nurlela, saya sengaja datang awal. Maksudnya biar bisa bantu, abis gak enak saya -kan aturan acaranya di rumah saya," jawab Ibu Ranti.
Dan beberapa saat kemudian terdengar suara deru mesin mobil.
Brremmm ...
Benar saja, anak sulung Ibu Ranti itu langsung tancap gas dan banting setir untuk putar balik.
"Dasar itu anak ya!! Ampun dah," rutuk Bu Ranti karena kelakuan anaknya.
"Kenapa Bu Ranti?" tanya Bu Nurlela.
"Ah .. gak apa-apa kok."
"Ayo, silakan masuk Bu Ranti."
- - -
Sementara itu Adhi yang berhasil melarikan diri, dia mulai mengemudi santai. Karena tidak mungkin kan, kalau Ibunya segitu niat buat ngejar dia.
Sembari mengemudi, dia melihat sekitar lingkungan, sekalian hapalin jalan -siapa tahu nanti Ibunya juga minta jemput. Soalnya tadi dia pakai GPS buat cari rumah teman sang Ibu, belum lagi kena oceh. Jadi dia gak terlalu merhatiin jalan yang ternyata dia rasa familiar dan kayaknya pernah dia lewatin, tapi kapan ya? Dan ngapain?
Tak perlu lama berpikir untuk mengingatnya, pikiran Adhi ini langsung menangkap sosok mahasiswi yang pingsan dan dia antar pulang.
Itu rumah teman Ibunya, ternyata sebelahan sama rumah si Mbak yang pingsan.
Tapi tadi dia juga sempat melihat ada laki-laki yang lagi duduk di atas jok motor dan parkir di halaman rumah si Mbak yang pingsan.
Adhi langsung menebak-nebak, mungkin itu saudara si Mbak yang pingsan atau mungkin juga pacarnya lagi nunggu.
Hah~ bodo amat lah. Bukan urusan dia.
°
°
°
Sementara itu, di rumah Kanaya -yang sang Ibu kedatangan tamu. Ibu Nurlela mulai memperkenalkan satu persatu anaknya.
"Ini anak sulung saya, Anindita."
Teh Dita yang lagi duduk di balik meja makan, dia bangun untuk menghampiri tamu sang Ibu.
"Eh ... lagi hamil toh? Padahal baru mau Ibu minta jadi mantu," ujar Ibu Ranti dan buru-buru menyuruh Teh Dita duduk kembali. "Sudah berapa bukan, Nak?"
"Tujuh bulan, Bu," jawab Teh Dita halus bak sutra.
"Wah ... dua bulan lagi udah mau masuk bulan lahirannya, ya. Semoga sehat dan lancar pas lahirnya."
"Aamiin~"
"Bu Nurlela, gimana kalo sekalian aja diadain pengajian sama doa bersama untuk anaknya," saran Bu Ranti.
"Boleh, kalo gak ngerepotin mah," jawab Ibu Nurlela.
"Ya, gak ngerepotin lah Bu Nurlela. Masa begitu aja repot ... lebih repotan Ibu yang saya minta gantiin tempat arisannya dadakan gini. Maaf ya, sebelumnya."
"Ih ... Ibu Ranti gak usah sungkan gitu. Lagian anak saya kan banyak dan mumpung lagi hari libur ini. Kita mah saling tolong aja, kalo masih bisa mah."
Sementara Ibu Nurlela dan Ibu Ranti mengobrol, orang yang tadi membukakan pintu Bu Ranti lewat, tetapi keburu disuruh balik lagi sama Teh Dita buat ambil minum.
Tak lama pemuda tadi kembali dengan membawa segelas minuman yang tampak segar.
"Silakan diminum, Bu," tawar sang pemuda.
Bu Ranti menoleh dan mengenali sosok pemuda tersebut -yang membuatnya kaget.
"Ini anak ke dua saya, Randhika."
Bang Dhika menyalimi punggu tangan Bu Ranti, sebelum akhirnya undur diri.
"Emmm ... seger dan pas rasanya. Es apa ini, Bu?" tanya Bu Ranti penasaran.
"Itu ... karena saya kelupaan buat belanja bahan untuk di bikin minuman, jadi anak saya coba cari resep di Internet. Nyonteknya sih dari resep Es Bali, cuman dia campur aja sama bahan yang ada aja," jelas Ibu Nurlela.
"Emang apaan aja bahannya, Bu?" tanya Bu Ranti lagi.
"Tadi sih itu pake Timun yang harusnya buat lalapan, terus biji selasih, sirup, nata de Coco sama ...," ujar Bu Nurlela kemudian lupa apalagi bahannya. "Itu anak saya sih yang buat, kurang tau juga."
"Anak yang mana, Bu?" tanya Ibu Ranti jauh lebih antusias. Mungkin saja kalian tahu maksud -terselubung- nya.
"Sebentar, saya panggilin dulu ya. Tadi sih lagi di kamar sama temennya."
Ibu Nurlela mencari anak ke tiga nya di kamar, namun yang ada di sana adalah teman dan putri bungsunya.
"Teh Naya, mana?" tanya Ibu Nurlela pada Sofia. Sementara di sebelah anak perempuan itu ada Adel yang lagi tidur.
"Gak tau," jawab Sofia.
"Cari gih Teteh kamu, terus bilangin, suruh ke depan nanti," ucap Ibu Nurlela lalu pergi.
-
"Bu~ Teh Naya nya lagi mandi," beritahu Sofia lalu bergegas pergi.
"Eh ... tunggu, sini dulu Sofi. Salim dulu sama tamu Ibu."
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Sofia sembari mencium punggung tangan Ibu Ranti.
"Uuuhh ... manisnya. Kelas berapa, Nak?"
"Kelas 7, Bu," jawab Sofia.
"Tujuh?" Ibu Ranti bingung.
"Kelas 1 SMP, maksudnya," sahut Ibu Nurlela.
"Bu, Sofi ke dalam lagi ya," ijinnya.
"Iya. Terus sekalian panggil Teh Naya juga, ya," pinta Ibu Nurlela.
-
"Ada apa, Bu?" tanya Kanaya akhirnya muncul juga. Dan kini penampilan sudah lebih segar dan wangi setelah mandi dua kali.
Maklum mau jalan sama gebetan, mandi lagi biar gak ketara bau Mbok-mbok yang masih dari dapur.
"Sini duduk dulu. Ada yang mau Ibu Ranti tanyain ke kamu," ucap sang Ibu.
"Assalamu'alaikum, Bu. Kabarnya sehat?" sapa Kanaya sekaligus bertanya layaknya sudah pernah bertemu saja, padahal belum pernah. Dan dia menyalimi punggung tangan Ibu Ranti.
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah saya sehat. Kabar kamu baik juga, Nak?" balas Bu Ranti bertanya.
"Alhamdulillah, baik Bu. Eumm ... jadi, apa ya yang tadi mau Ibu tanyakan ke saya?"
"Kamu udah punya calon, belum?" tanya Bu Ranti bercanda namun sebenarnya ada maksud.
Kedua wanita paruh baya itu terkekeh sejenak.
"Maaf, yang tadi cuman pertanyaan alternatif aja," sahut Ibu Ranti. "Itu ... saya mau tanya, cara buat Es ini gimana?" akhirnya pertanyaannya kembali masuk ke topik awal lagi.
"Oh itu, dari resep Es Kuwut Bali. Cuman beberapa bahan ada yang ganti sama bahan yang ada juga eko.no.mis."
"Boleh Ibu minta resepnya?" pinta Ibu Ranti.
"Iya. Saya tulisin aja ya Bu, resepnya."
Kanaya permisi ke belakang untuk mengambil kertas dan pulpen.
•------------------------•
Es Kuwut Bali ala Naya
BAHAN :
Kelapa muda, serut
Melon, serut
Selasih, rendam air hangat, tiriskan
Jeruk nipis, peras airnya
Air kelapa muda
Gula pasir - larutkan dalam air panas
PELENGKAP :
Irisan Nipis jeruk
Es batu
VARIASI :
*Beberapa bahan boleh di ganti
Nata De Coco
Timun
Sirup Melon atau yang lain
Soda (Spr!t)
Lemon
•------------------------•
Kanaya menyerahkan resep yang sudah di catatannya kepada Ibu Ranti.
"Terima kasih, Nak," ucap Ibu Ranti seraya menerimanya. "Kalau bisa, kapan-kapan main ke rumah Ibu. Sekalian praktek langsung cara buatnya."
"Boleh Bu, bisa di atur," jawab Kanaya.
"Okelah, kalau begitu," balas Bu Ranti puas. "Ngomong-ngomong, kamu suka masak gak?"
"Kalo di bilang suka sih, gak terlalu. Lebih suka makannya," jawab Kanaya dengan canda. "Tapi bisa, biarpun masih dibantu Ibu atau liat resep di internet."
"Terus sekarang lagi sibuk apa?"
"Kuliah, lagi nyusun skripsi."
"Oh ... bentar lagi lulus dong?"
"Aamiin~ tapi kira-kira masih setahun kurang lagi. Soalnya masih Bab awal."
"Biar lancar dan tetap semangat ya, Nak. Terus kamu kuliahnya dimana, emang?"
"Di Universitas Pertiwi, Bu."
"Oh ya?! Wah~ anak Ibu juga di sana. Dia ...,"
🎶🎶🎶🎶
📲
Pembicaraan mereka terpotong oleh dering ponsel milik Kanaya.
"Maaf," ucap Kanaya sungkan.
"Gak apa-apa Nak, di angkat aja," ujar Bu Ranti.
"Kalau begitu, saya permisi sebentar ya, Bu," ijin Kanaya.
Kanaya pergi ke belakang untuk angkat telepon masuk yang berasal dari Adimas.
Setelah itu, beberapa menit kemudian dia kembali. Dan Kanaya menghampiri Ibunya dan membisikkan sesuatu.
"Ya udah sana jalan," jawab sang Ibu.
Kanaya pamit pada sang Ibu juga Ibu Ranti.
"Maaf Bu, saya tinggal. Soalnya ada janji sama temen dan dia udah datang," beritahu Kanaya pada Ibu Ranti.
"Oh iya, gak apa-apa, silakan. Anak muda mah biasa main keluar pas libur," jawab Ibu Ranti.
"Enggak, Kanaya mah jarang main keluar. Ini ... dia mau cari buku," jawab sang Ibu memberi tahukan apa yang di bisikkan oleh Kanaya sebelumnya.
'Duh! Ibunya jadi ikutan ngibul deh. Tapi gak sepenuhnya bohong sih, dia juga mau cari buku,' batin Kanaya.
Kanaya kembali berbisik pada sang Ibu, mengingatkan tentang hal lain. "Bu, nanti kalo si Adel udah bangun, langsung suruh pulang aja. Jangan lupa di tagih bon makannya."
"Dasar! Kamu ini." Ibu Nurlela mencubit pinggang Kanaya.
"Aww! Ibu nih." Kanaya terkekeh. "Dah ... ah~ Kanaya pamit ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab dua wanita paruh baya itu.
•
•
•
T
B
C
•
•
•
Fyuh~ kelar juga part ini.
Aku begadang dong, guys!!
Aji mumpung, soalnya wangsit lagi ngalir semalam. Bela-belain ngantuk, takut juga kalau di tunda-tunda keburu lupa.
1600++ words
Nyempil juga resep Es Contekan ala keluarga aku tiap kali ada acara.
Biar hemat, ganti bahan yang harganya ekonomis dikit, tapi tetap segeuurrr~~
Barang kali ada yang mau coba.
Boleh juga buat ala kalian sendiri.
>>>>
Thank you for reading.
and support me.
Like
Vote
Comment
Favorite
Share.
See you~