Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 36.1 - Panggilan Sayang]



Sekarang Kanaya merasa lebih segar setelah membersihkan diri, lalu dia bergabung dengan yang lain di ruang tengah dan ternyata dia sana ada ... Uhuk! Suaminya.


Hah~ setelah acara selesai, mereka tak banyak bicara satu sama lain –lantaran melayani para kerabat. Entah itu foto bersama atau mengobrol, terutama dengan sepupu-sepupunya yang sudah lama tidak dia temui. Kini sebagian besar dari mereka sudah pulang, termasuk keluarga dari suaminya –kecuali Uwa Entin.


“Akhirnya yang ditungguin keluar juga,” ucap Uwa Entin sembari menghampiri Kanaya.


“Loh~ Uwa mau pulang? Kirain nginep.”


“Pengennya sih, gitu. Tapi takut ganggu penganten baru,” goda Uwa Entin sembari mencolek dagu Kanaya.


Kanaya bingung harus merespon apa, dia terlalu malu untuk membahasnya.


“Ya udah, Uwa pamit ya~ biar kamu sama suami bisa cepet main di kamar.”


“Uwa ... Ihhh!!” rajuk Kanaya.


Sementara Adhi, meski tidak menunjukan ekspresinya –dia juga tak kalah diliputi rasa canggung dalam dirinya.


“Terus ... nanti manggil suamimu jangan ‘Bapak’ lagi. Bisa-bisa nanti Bapakmu sendiri malah masuk kamar. Udah Sah kok, masih Bapa-Bapaaan. Gantilah ... jadi Sayang, Hubby atau gak ... bisa panggil Mas, Abang, Aa, Akang ___.”


“Wa, katanya mau pulang –nanti keburu malam gak ada angkot loh,” potong Kanaya cepat.


“Uwa gak naek angkot kok, diantar sama Abangmu,” balas Uwa Entin. Lalu tiba-tiba ekspresi berubah –jahil. “Eyyy~ udah gak sabar ya, Neng.”


Kanaya melirik Abangnya, lalu dengan cepat mengambil tas ukuran lumayan besar yang sedang ditenteng oleh Uwa Entin dan memberikannya dengan paksa pada sang Abang. “Bang, udah buruan anter Uwa. Kesian nanti kemalaman.”


“Dih! Dah kayak kebelet aja loh, Nay. Jangan terlalu agresif lah jadi cewek, nanti laki lo ilfeel, ” goda Dhika kali ini.


“Apaan sih loh, DHIKAMP ___!!” Kanaya segera sadar dan menoleh, hampir saja dia lupa kalau Dosen yang juga suaminya itu masih ada di sebelahnya. Entah mau ditaruh di mana nanti mukanya kalau sampai kelepasan mengumpat kata kasar. Hah~ sepertinya dia harus hati-hati bicara dan membiasakan menahan diri.


“Tapi tenang aja Nay, malam lo kali ini bakal damai sentosa –soalnya gue nginep di tempat temen. Dan lo gak perlu berterima kasih atas kemurahan hati gue, cukup tau aja –kalo Abang lo ini mengerti kebutuhan lo untuk menjadi lebih dewasa,” lanjut Dhika.


Kanaya paham arah pembicaraan sang Abang, pasti gak jauh dari hal-hal ngeres. Dikata orang yang baru nikah, pasti bakal kesono-sono apa?! Rasanya Kanaya pengen muntah aja –di depan muka si Dhika.


“Berisik! Udah, buru sana anter Uwa Entin,” titah Kanaya dan mendorong sang Abang.


“Ya udah, Uwa pamit dulu ya~ Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Demikianlah tamu terakhir tersebut pulang dan keluarga dari Harisdarma masuk ke kamar masing-masing, termasuk Kanaya juga Dosen/Suaminya. Di kamar mereka yang penuh bunga juga renda, kini tempat tidur pun sudah tidak single lagi –tapi double karena ditambah tempat tidur milik sang Abang dan karena itu juga alasan si Dhika ngungsi.


Kanaya masih berdiri tak jauh dari pintu kamarnya, sementara sang Dosen/Suami sudah duduk di pinggiran tempat tidur –sama terlihat bingungnya. Tapi mau sampai kapan mereka begitu?


Adhi yang tampaknya sudah tak tahan melihat kelakuan sang Mahasiswi/Istrinya, akhirnya dia menarik lengan Kanaya dan mendudukannya di tepi tempat tidur. “Kamu kalau gak saya tarik, bakal terus berdiri di situ kali ya? Mau jadi mandor?”


“Hah? Enggak kok Pak,” jawab Kanaya kikuk sembari bergeser –menjaga jarak.


"Kenapa kamu ngejauh? Tenang aja, saya gak bakal gigit kamu," guraunya bermaksud memecah kecanggungan -sembari menahan gadis tersebut.


Namun ternyata, Kanaya semakin memasang tampang waspada. "Beneran Bapak gak bakal apa-apain saya malam ini?" tanyanya dengan polosnya.


Adhi sempat terhenyak sejenak, merasa aneh dengan topik pembicaraan Mahasiswi/Istrinya itu yang tiba-tiba. Namun dia juga merasa lucu dengan nada bicaranya yang membuat dia ingin menjahilinya. "Ngapa-ngapain kamu, gimana maksudnya? Coba diperjelas," tanyanya balik -bertingkah seolah sama polosnya.


Dan benar saja, Kanaya kalang-kabut hendak menanggapi pertanyaan tersebut. Dia hanya dapat memalingkan wajah malu bersemu merah.


"Kamu yang mancing saya duluan ya~ padahal saya gak inget atau mikirin hal itu sebelumnya," ujar Adhi seraya mendekat dan memangkas jarak mereka.


Sedikit demi sedikit Kanaya bergeser hingga dia tersudut ke sisi ujung tempat tidur yang menempel pada tembok, dia dalam keadaan terdesak dan terkurung. Kanaya terlalu gugup sampai tak berani mengangkat pandangan, bahkan dia memejamkan matanya. "Jangan Pak … SAYA LAGI HALANGAN!! GAK BOLemph___!!" teriaknya dengan suara semakin meninggi sembari menyilangkan kedua tangannya di dada -namun tak tuntas.


Spontan. Adhi segera membekap mulut Kanaya, takut-takut terjadi kegemparan di malam hari dan kesalah pahaman pada keluarga tersebut. "Sttttt … diem-diem!" ucapnya dengan berbisik.


Namun Kanaya masih memandang sang Dosen/Suaminya itu takut dan memelas layaknya korban yang meminta belas kasihan agar dilepaskan.


"Oh! Maaf … maaf," ucap Adhi saat sadar dan segera melepas bekapan tangannya di mulut Kanaya. "Maaf, saya gak maksud nakutin kamu," imbuhnya lagi dengan sesal.


Kanaya masih diam, tak bereaksi dan Adhi jadi bingung juga serba salah.


"Beneran!!" ujarnya sembari mengangkat jari Telunjuk dan Tengahnya bersamaan membentuk huruf 'V' -mencoba meyakinkan.


"Saya gak bakal ngapa-ngapain kamu. Janji!!" ujar Adhi menegaskan kesungguhannya. "Kita tidur aja malam ini … atau, kalau kamu mau tempat tidur kita dipisah," ucapnya seraya turun dari tempat tidur dan menarik salah satu sisi. "Ah! Saya bisa tidur di bawah, gak masalah."


Ya ampun~ lama-lama Kanaya jadi gak enak sama Dosen/Suaminya. "Enggak perlu Pak, gak apa-apa kok Bapak tidur di kasur," jawab Kanaya pelan dan terbata.


Adhi mematung di tempatnya. "Beneran kamu gak apa-apa?" tanyanya lagi.


Kanaya mengangguk samar dan jawaban itu, tanpa sadar membuat Adhi tersenyum -seolah dia merasa diterima kembali kehadirannya. Lalu Adhi beringsut naik ke tempat tidur dan merebahkan diri.


Biarpun masih ada jarak diantara mereka, tapi ini masih lebih baik dari pada pisah ranjang di malam pertama. Adhi sendiri sadar, mungkin mereka butuh waktu untuk lebih dekat dan tentu saja usaha untuk mewujudkannya. Jadi mungkin sedikit sedikit berbincang sebelum tidur atau pillow talk, bisa membantu hubungan mereka.


"Kamu mau sampai kapan, manggil saya Bapak?" tanyanya memulai pembicaraan.


"Bapak juga sampe kapan manggil saya, kamu-kamu? Saya kan punya nama," balas Kanaya.


"Masa? Emang saya manggil kamu, pake kamu?"


"Noh! Itu," ujar Kanaya menunjukkan kalau kesalahannya baru saja dilakukan.


"Okay, emang paling baik menggunakan nama panggilan. Terus kamu mau manggil saya apa?"


"Bapak duluan."


"Saya? Saya ikutin keluarga kamu aja, manggil kamu -Eneng. Gimana?"


Kanaya tampak berpikir, dia tengah membayangkan sang Dosen/Suami memanggilnya dengan sebutan demikian. Hmmm~ mungkin gak masalah, dia jadi lebih terbiasa. Kanaya mengangguk setuju.


"Terus Eneng Kanaya mau manggil saya apa?" tanya Adhi mencoba langsung menerapkan nama panggilan yang telah disetujui itu.


Ugh! Ternyata kalau diucapkan sama orang baru, kedengarannya aneh. Kanaya bergidik, tetapi dia segera mengesampingkan perasaan tersebut.


Apa dia coba manggil pake panggilan di keluarganya juga, ya?


Mas Adhi, Kanaya mencoba memanggilnya dalam pikirannya sendiri.


'Gak! Gak bisa! Dia gak bisa,' rancaunya bergulat dalam pikiran. Lalu Kanaya mencoba panggilan lainnya, Abang? Bola matanya naik ke sudut kanan. "Bang Adhi?" ucapnya pelan dan malu-malu.


"Emmm … kayaknya itu agak ___." Adhi tampak menimbang. "Gak cocok! Kuping saya gatel," lanjutnya.


Kanaya menghembus nafasnya kasar. "Udah lah Pak, nanti aja itu," tandasnya seraya menarik selimut.


Akhirnya pembicaraan gak jelas mereka berakhir.


o


o


T


B


C


o


o


Kira-kira nanti Kanaya bakal manggil apa ya?


wkwkwk ... Tjie~ penganten baru yang baru mulai PDKT ..


Semangat!!


> > >


Terima kasih sudah baca dan dukungannya ^^


See you~