
Kanaya menaruh kembali handuknya padahal sebelumnya dia berniat untuk mandi, tetapi dia urungkan karena ternyata dia datang bulan. Huh! Pantas perutnya nyeri luar biasa, bukan saja karena lapar belum makan -tetapi juga sakit mau datang bulan.
Mungkin sangking mikirin skripsi, dia jadi tak ingat jadwal bulannya itu.
Kanaya mengambil ponselnya melihat kalender, namun pesan What’sup yang masuk atas nama Adimas menarik perhatiannya untuk segera membuka pesan tersebut.
Adimas :
Besok ada acara?
Kalau Kanaya tidak salah baca maksud pertanyaan Dimas, itu artinya mungkin Dimas ngajak jalan dia. Dan tentu saja Kanaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Kanaya :
Enggak, knp?
Kanaya membalas pesan Dimas seolah-olah dia tak tahu rencana temannya itu.
Adimas :
Maen kuy
Refreshing
Mumet ngerjain skripsi mulu
Kanaya :
Kemana?
Adimas :
Belom tau sih
Liat aja besok
Kanaya :
Oke .. jam berapa?
Adimas :
Jam 10?
Biar gak terlalu panas
Kanaya :
Noted
Adimas :
👍🏻
Good night, Nay
Kanaya :
Ya ... Night too
Kanaya mengakhiri chatting -an nya dengan hati riang gembira.
Asik ... Besok jalan sama gebetan.
Pake baju apa ya?
Kanaya berjalan ke arah lemarinya untuk mencari baju sembari berdiri di depan cermin dan mencocokkan pakaian atas maupun bawahannya.
Beberapa belas menit berlalu dan dia belum menemukan baju yang sesuai. Lelah, Kanaya duduk begitu saja di lantai -sebelum akhirnya dia menyadari celananya lembab. Oh iya, dia sedang datang bulan -ingatnya lalu mendesis.
Kanaya bangun kembali, untung tidak sampai tembus ke lantai -tetapi biarpun begitu lantainya perlu di pel agar tidak najis.
Kanaya kembali menghampiri lemarinya, kali ini dia mencari pembalut. Tetapi stok nya sudah habis -Kanaya mendengus.
Dia keluar kamar dan menghampiri kamar Teh Dita.
“Teh ... Teh Dita~ Teh...,” panggil Kanaya sembari mengetuk pintu kamar kakak sulungnya.
Pintu kamar terbuka, sosok perempuan dengan rambut tergerai berantakan jelas seperti orang dipaksa untuk bangun itu menatap garang pada Kanaya. “Apa?!!” tanyanya membentak.
“Punya pembalut gak, Teh?”
Teh Dita menggeram meski pelan. “Kamu gak liat perut Teteh buncit melendung gini? Orang hamil mana haid, sih Nay!!” ujarnya emosi. “Udah, Teteh ngantuk.”
Brak ...
Pintu di tutup dengan kencang, hampir saja jantung Kanaya loncat sangking kagetnya.
Belum mendapatkan kebutuhan tergentingnya, kali ini Kanaya mengetuk kamar sang Ibu -karena tak mungkin mengetuk kamar Sofi. Lah~ adek bungsunya itu masih Bocah Kencur, mana mungkin punya pembalut.
Apalagi si Dhika -Abang resenya, kelainan dia kalau sampai punya pembalut. Astaga! Merinding Kanaya.
“Ibu ... Ibu ....” suara Kanaya sampai bernada saat memanggil Ibunya.
“Iya, ada apa Nay?” Emang suara Ibunya sama Adzan bedug Magrib yang indah kedengarannya di telinga Kanaya.
“Punya pembalut gak, Bu?”
Bu Nurlela tertawa sejenak, Kanaya menatap bingung pada Ibunya.
“Ibu mana pake pembalut lagi, Nay. Udah menopause.”
“Yah~ Kanaya mana tau Bu. Abis tadi nanya Teh Dita, gak ada. Sofi mana pake. Ya udah, Naya coba tanya Ibu.”
“Gak ada, Nay.”
“Stok Naya abis, mau beli di luar -udah malam. Ngeri bocor kemana-mana juga.”
“Ya udah, sama Abangmu sana minta ----.”
“Hah?! Minta pembalut sama Abang?! Ibu yang bener ---.”
“Hush! Sembarangan. Makanya orang tua ngomong jangan dipotong. Maksud Ibu, minta Abangmu buat beli pembalutnya.”
“Oh~ ya ... Abis Ibu, ngomongnya gitu.”
Ibu mencubit Kanaya gemas.
“Tapi Bu, Ibu yang bilang ya ke Abang -Kanaya ogah.”
“Kenapa lagi?”
“Ya Ibu taulah Abang, pasti dia udah nolak duluan kalo Naya yang minta.”
“Kamu ngomong dulu sendiri, nanti kalo Abangmu gak mau -baru Ibu yang ngomong.”
Kanaya menghampiri kamar Abangnya harap sedikitpun, udah jelas -ditolak.
Sumpah! Sebenernya dia males ngadepin Abangnya, soalnya yang ada malah ujung-ujungnya jadi ribut. Kalo gak kepepet kayak gini, ogah!
“Bang ... Abang ... Abang~ Bang ... Bang ... Bang!!” panggil Kanaya jelas dia yang duluan ngajak ribut.
“Berisik!!” jawab Dhika berteriak dari dalam kamarnya tanpa membuka pintu.
“Bang!! Bang Dhika!! Bangun woy ... Kebo!!”
Tak tahan terus diganggu, akhirnya Randhika keluar. Tampangnya gak nyantai.
“APA?!!”
“Beliin pembalut buat Ibu.”
“Buat siapa?” ulang Dhika bertanya seakan mencari pembenaran dari ucapan sang Adik.
“Beliin Ibu pembalut yang wings.”
“Enyah lo muka demek,” ujar Dhika dan mendorong Kanaya dengan tangan di wajahnya.
Suwe~ dia dikata muka demek. Tapi emang iya sih, dia rada demek -orang tadi abis kehujanan terus belum salin baju.
“Bu~ Abangnya gak mau nolongin tuh, Bu,” adu Kanaya.
Randhika yang sudah hampir masuk kamar, kembali menghampiri Kanaya dan menoyor kepala sang Adik.
“Aduh! Songong!!”
“Elo tuh, tukang ngibul!!” balas Dhika. “Emang gue gak tau apa, kalo tuh pembalut buat eloh.”
Ck! Ketahuan ternyata.
“Ogah gila, gue beliin pembalut buat Lo. Bisa jatoh harga diri gue.”
“Apa sih? Kok jadi ribut.” Ibu Nurlela datang.
“Abangnya gak mau tuh, Bu.” Kanaya mengadu.
“Ya, jelas enggaklah,” tolak Dhika bersikukuh.
“Tolongin lah, Bang -adeknya,” pinta Ibu.
“Masa aku yang beli, malulah Bu,” dalih Dhika.
“Kalo gak, kamu anterin Naya aja ke warung,” saran Ibu.
“Yah~ Bu, nanti kalo Naya bocor kemana-mana gimana?” tanya Kanaya khawatir.
“Ya enggaklah Dodol!! Emang Lo keguguran -darah sampe bercucuran. Orang keguguran juga gak sampe segitunya, sinetron tv aja lebay,” timpal Dhika.
“Gak ngomong sama elo!”
“Kalo gak mau di temenin, ya udah~ sana jalan sendiri -gue mau tidur. Bye!”
“Ibu ....” Kanaya memanggil nama Ibunya.
Akhirnya sang Abang mau menemani Kanaya ke warung, tetapi jalannya gak nyantai banget. Kanaya ditinggal di belakang.
Dasar! Gak tau apa, kalau jalan aja dia risih ..
Namun belum sampai warung Abangnya sudah berhenti di tengah jalan, terlihat dia sedang berbicara dengan seseorang -Kanaya mendekat. Ternyata orang yang sedang di ajak bicara itu Dimas.
“Hi! Nay,” Sapa Dimas ketika melihat Kanaya.
“Eh! Dimas toh. Ngapain Dim, keluar malem-malem?” tanya Kanaya.
“Iya, lagi bocor dia -mau beli pembalut yang ada sayapnya,” potong Bang Dhika.
“Ihhh!” Kanaya mencubit pinggang Abang. “Ember loh!!”
“Oh ... datang bulan, Nay? Ini juga abis beliin buat Abel,” beri tahu Dimas. Abel adalah adik perempuan Dimas. “Mau satu, Nay?”
“Gak usah Dim, gue beli aja. Warungnya kan tinggal deket lagi.”
“Oh gitu, ya udah ... gue balik duluan ya. Jumpa besok, Nay.”
“Ya, hati-hati,” ucap Kanaya.
“Gue tembus pandang apa? Songong si Dimas, kagak pamit sama gue,” ujar Bang Dhika.
“Gak usah baper,” sahut Kanaya dan kembali berjalan.
“Tapi Lo berdua apa banget dah. Tiap hari ketemu, masih ngomong jumpa besok. Mau jalan ya, Lo sama Dimas?”
“It’s not your business. Mau ngapain ke gue sama Dimas, ya terserah kita.”
•••
Paginya setelah azan Subuh, Kanaya langsung siap-siap -sampai membuat orang serumah bingung melihatnya yang sudah rapi dan wangi di pagi hari padahal hari libur.
Karena Kanaya biasanya habis Subuh tidur lagi dan baru bangun kalau mencium bau masakan sang Ibu, dan setelah itu baru beraktivitas.
“Mau kemana, Teh Nay?” tanya Sofia yang baru menghampiri meja makan.
“Kepo!” sahut Kanaya. “Anak kecil gak usah mau tau.”
“Mau jalan sama Dimas dia. Semalam dah janjian,” timpal Bang Dhika dan ikut duduk untuk sarapan.
“Bacot Bang Dhika!”
“Jalan jam berapa emang kamu?” kali ini Teh Dita yang bertanya.
Segitu anehnya apa dia udah cantik pagi gini pas libur?
“Jam sepuluhan.”
“Masih lama Nay, kok kamu udah rapi aja?” tanya sang Ibu.
“Gak papa Bu, biar gak keburu-buru aja nanti.”
“Keburu bau ketek lagi dah, nanti yang ada Dimas males jalan bareng loh,” ledek Bang Dhika.
“Idih, ketek gue mah bersih-wangi. Gak buluan sama burket kaya loh Bang,” balas Kanaya tak mau kalah.
“Nih! Rasain ketek gue!” Randhika membekap Kanaya dengan tangannya yang sudah dia tempelkan di keteknya tadi.
“Eung!! Lepas kampret!! Bau!! Najis dah!!” umpat Kanaya. “Uwek!” Kanaya buru-buru bangkit dan berlari ke kamar mandi.
“Arg!! T*i ledik loh Bang! Bau bangs*t!!” Tak sudah-sudah Kanaya mengumpat.
“Enak kan? Mau lagi?” Randhika tak ada habis-habisnya meledek Kanaya.
“Mandi sono loh, Bang!!”
“Gak, sayang sabun,” sahut Randhika. “Aaaaaa!!” jeritnya kali ini karena rambut jambangnya di tarik oleh Teh Dita.
“Mandi!!! Kalo gak, gak sudah makan.” Teh Dita menarik Bang Dhika ke kamar mandi. “Amit-amit gue punya anak kayak Lo, Dhika," imbuhnya sembari mengelus perut buncitnya.
Sofia tertawa dan Kanaya menikmatinya dalam diam.
Keluarga Bapak Haris baru saja menyelesaikan sarapannya dan sedang bersantai di ruang tengah. Sementara itu, Bang Dhika dan Ibu tampak berjalan keluar rumah -menimbulkan tanda tanya bagi ke dua anak gadisnya Bapak Haris.
“Mau kemana, Bu?” tanya Kanaya.
“Shopping,” sahut Bang Dhika.
“Ih!! Iya?” tanya Sofia antusias. “Sofi mau donk ikut.”
“Gih~ sana ganti bantu,” ujar Bang Dhika. “Lo gak mau ikut, Nay? Sembari nunggu si Dimas,” ajak Bang Dhika pada Kanaya.
Kanaya rada curiga nih sama si Dhika, tampang ngibul. Tapi Ibu diem aja, kayaknya beneran pergi ke mall.
Sementara itu, tanpa Kanaya ketahui -Abangnya sudah mengkode Ibunya agar diam sebelumnya, dengan berkedip dan menaruh telunjuknya di mulut pada sang Ibu.
“Ikut deh gue,” jawab Kanaya masuk perangkap Randhika. Ngehehehe ...
Kanaya, Sofia dan Ibu menunggu di halaman depan sementara Bang Dhika mengeluarkan mobil dari garasi. Di lain tempat -tepatnya di sebelah rumah Kanaya- terdengar suara pancuran air. Kanaya berjalan ke pagar di sisi rumahnya dan melihat melalui lubang-lubang, tampak Dimas sedang mencuci motor matic kesayangannya.
Kanaya naik ke pagar sedikit untuk memunculkan kepalanya. “Tumben nyuci motor, Dim.”
Dimas cepat menoleh ke sumber suara Kanaya. “Iya, kan mau jalan nanti,” jawab Dimas tak sadar sudah membuat hati Kanaya berdebar.
“Asik ... Ajak Sofi ya, Mas Dimas. keliling-keliling sini juga gak papa," ucap Sofia yang tiba-tiba muncul di sebelah Kanaya dan ikut memanjat pagar.
“Anak kecil gak usah ikut-ikutan deh,” potong Kanaya.
“Apaan sih Teh Naya! Mas Dimas aja, gak ngomong apa-apa, berarti boleh donk,” balas Sofia.
“Woy! Jadi ikut kagak?!” seru Bang Dhika dari dalam mobil memanggil ke dua Adik nya.
“Iya!!” sahut Kanaya dan Sofia berbarengan.
“Eh ... Dim, jam sepuluh kan? Gue ikut Ibu dulu ya -shopping.”
“Iya, selow aja Nay.”
•••
Kanaya dan Sofia duduk dengan riang selama perjalanan di bangku belakang. Mereka tak tahu saja, kalau dikerjai Abangnya. Lagi pula, Mall mana yang buka pukul delapan pagi.
Dan raut kekecewaan mereka terlihat saat sampai di pintu Selamat Datang di Pasar Tradisional. Apalagi Kanaya yang sudah dandan rapi-wangi, eh ... malah dibawa panas-panasan.
Bangke! Randhika sialan.
“Kalo kamu gak mau ikut masuk, tunggu aja di mobil, Nay. Ini Ibu mau belanja buat arisan besok,” ucap sang Ibu.
“Gak Bu, gak papa, Kanaya ikut aja. Lagian bete juga di mobil sendirian,” ujarnya.
Kanaya ikut berkeliling pasar, membantu membawa belanjaan sang Ibu yang lumayan banyak. Dan lama kelamaan, dia cape juga keliling sambil nenteng belanjaan. Belum lagi nyeri datang bulannya yang tak pandang tempat dan waktu, wajah Kanaya pucat dan dia berkeringat.
Sofia adalah yang pertama kali menyadarinya. “Teteh sakit?” tanya sang adik.
Abang dan Ibunya menoleh.
“Maafin Ibu ya, Neng. Aturan Ibu gak usah ajak kamu, padahal lagi datang bulan juga mau pergi sama Dimas. Abang sih, pake ngerjain adeknya segala,” ucap Ibu lalu melempar pada anak keduanya.
“Yah ... Bu, abis kalo gak ngibulin itu anak dua, repot juga kita bawa belanjaan,” dalih Bang Dhika.
“Kan bisa minta bawain kuli panggul, Bang. Udah, kamu pulang aja Neng.”
“Enggak Bu, masih kuat kok Kanaya.”
“Yeh~ nanti kamu pingsan, repot lagi. Atau gak, nunggu di mobil aja gih. Sofi, anter Teteh kamu ke mobil -terus nanti beliin minuman pereda nyeri haid,” ucap Ibu.
Dituntun oleh sang Adik, Kanaya pergi ke mobil mereka. Dan memilih rebahan di jok belakang, sementara Sofia keluar cari minuman pereda nyeri haid seperti yang dibilang Ibu
•
Tak lama Bang Dhika dan Ibu kembali berbelanja, setelahnya mereka langsung pulang.
Kanaya berpindah rebahan di kasurnya segera saat dia tiba di rumah. Lalu rencana jalannya dengan Adimas, sepertinya dia tidak bisa.
Kanaya meraih ponselnya yang dia letakkan di sisi lain bantal dan mulai mengetik kata demi kata.
Kanaya :
Dim, maaf~ kayaknya gue gak bisa hari ini. Lagi ‘dapet', sakit banget hari pertama!!
Baru persekian detik What’sup itu terkirim, Kanaya sudah mendapat balasannya.
Wah!! Jangan-jangan Dimas udah nungguin dia. Makin ngerasa gak enak dah.
Adimas :
Iya, gak papa Nay. Selow aja. Btw lekas sembuh ya ..
Kanaya :
Beneran gak papa?
Gak marah?
Kalo gak, besok aja dah ..
Tapi gak tau juga sih, masih sakit atau gak ..
Pokoknya gue mau jalan minggu ini
Sumpek, sumpah!!
Adimas :
Iya Kanaya anaknya Abah Haris ..
Terserah eloooooo ..
Kanaya mengakhiri chatting-annya dengan Dimas seiring dengan suara ketukan pintu. Itu Ibu nya, datang dengan baskom dan handuk kecil. Kanaya sudah tahu apa maksudnya, perutnya akan di kompres dengan air hangat. Itu sudah jadi kebiasaannya, dan terkadang juga Ibu yang memijatnya.
Uh! Ibunya emang paling perhatian-pengertian dan penuh kasih sayang. Apa jadinya dia kalo gak sama Ibu.
I Love you, Mam~
Ya, Itu mungkin adalah kata yang tidak terucap oleh setiap anak. Tetapi selalu terpatri di benak.
°°°°°°°
T B C
°°°°°°°
2000++ words
>>>>>
Thank you for reading.
Leave Like and comments~