Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
Part 25 - First Storm



Setelah makan siang mewah dadakan bersama keluarganya, kali ini Kanaya akan pergi dengan Adimas. Dia berpakaian rapi dan berdandan cantik sebelum itu, saat dirasa semuanya siap –Kanaya baru pamit dan pergi.


Kanaya menemukan Adimas yang sudah menunggunya ketika dia keluar gerbang rumah, Adimas tengah duduk di jok motornya sembari memainkan ponsel. Kanaya menutup pintu gerbang hati-hati dan berjalan mengendap-endap, dia bermaksud untuk mengagetkan pacarnya itu. Namun sayang seribu sayang, tampaknya Adimas sudah mengetahui keberadaannya itu.


“Udah siap, Nay?” tanya Adimas dan menaruh ponselnya ke dalam saku jaket yang dia kenakan.


Kanaya cemberut, karena niatnya tidak kesampaian. Tetapi ekspresinya kembali berubah biasa dengan cepat. “Kita mau kemana, Dim?”


“Rahasia,” jawab Dimas dan tersenyum, lalu dia memasangkan helm pada sang pacar. “Yang pasti, nanti lo bakal suka,” imbuh Adimas.


“Iya, gue percaya deh sama pilihan lo,” timpal Kanaya dan naik untuk duduk di jok belakang motor Adimas.


Ya~ sejauh ini memang dia tak pernah kecewa dengan tempat-tempat yang direkomendasikan Adimas saat mereka pergi, karena Kanaya tahu kalau Adimas pasti telah melakukan survei dengan menyelusuri lewat internet.


“Kita jalan sekarang?”


“Go!” jawab Kanaya semangat sembari mengangkat sebelah tangannya.


“Pegangan,” titah Dimas sebelum dia meng-gas motornya.


Kanaya sigap dan segera melingkarkan tangannya di pinggang Adimas. Lalu saat mereka sudah berkendara lumayan jauh dari rumah, Kanaya tanpa sadar sudah menyadarkan kepalanya di punggung Adimas. Belum lagi sepoi angin yang membelai wajahnya, rasanya begitu nyaman hingga dia hampir saja tertidur. Dan tentu saja Adimas menyadari hal tersebut, karena merasa bebannya bertambah.


“Nay, apa kita balik aja?” tanya Adimas setelah menepikan motor dan berhenti.


“Hmm?” respon Kanaya masih setengah sadar. “Maaf Dim, tadi gue kebawa suasana,” dalihnya.


Adimas tersenyum nyaris terkekeh mendengar alasan sang pacar yang tak mau mengakui kalau dirinya mengantuk tadi. “Gak ngiler –kan, Nay?” goda Adimas.


Biarpun Adimas tidak serius bertanya, nyatanya Kanaya terpancing untuk memeriksa –apakah ada jejak pulau di jaket Adimas. “Basah dikit, Dim. Maaf ya~ nanti gue cuciin deh,” jawab Kanaya sembari mengusap-ngusap bagian tersebut.


“Ya ampun! Serius?” sahut Adimas setengah kaget.


“Maaf~ namanya juga gak sadar, Dim. Salah lo sendiri sih, punya punggung cocok banget jadi sandaran,” komentar Kanaya mengguyon.


“Hmmm ... jadi ini lanjut atau pulang aja?” tanya Adimas yang mulai ragu.


“Lanjut dong! Nanggung, udah jauh gini masa pulang. Gue janji dah, gak tidur lagi,” jawab Kanaya.


“Okey.”


Beruntung Kanaya tidak meminta pulang, karena hanya beberapa menit dari tempat menepi mereka sebelumnya hingga sampai ke tempat tujuan. Meskipun begitu, dia harus menahan kantuknya mati-matian. Maklum saja, dia sering lembur kan’ akhir-akhir ini.


Tetapi saat mereka sampai di tempat tujuan, rasa kantuknya terbayar sudah dan berubah menjadi semangat suka cita.


“Kok bisa sih, Dim?” tanya Kanaya masih tak percaya di mana kakinya berpijak.


“Gue gak sengaja liat posternya, terus inget lo,” jawab Adimas.


“Uuuu~ so sweet banget sih pacar gue,” sahut Kanaya. “Tapi ya Dim, gue tuh emang pengen banget ke sini. Cuman karena sibuk skripsian, mikirnya udah gak sempet aja karena ini hari terakhir juga.”


“Alhamdulillah, kalo lo suka. Ya udah, kita masuk,” ajak Adimas.


“Suka banget lah, Dim. Makasih ya.”


"Sama-sama," jawab Adimas namun malah ditinggal lebih dulu oleh Kanaya yang sedang bersemangat itu. "Eh~ bentar dulu," cegah Adimas dengan menarik tas ransel kecil Kanaya.


"Ih~ apaan sih Dim, kok narik-narik?" sungut Kanaya tak suka.


"Katanya lo janji mau cuciin jaket gue yang kena iler lo," ujar Adimas.


"Duh! Ampun deh ya Dim, harus banget sekarang apa?"


Adimas hanya tersenyum, lalu memberikan jaketnya pada Kanaya. "Takut lo lupa sama janjinya," sahut Adimas bergurau.


° ° ° °


Kanaya senang bukan main, akhirnya dapat menghadiri event tersebut –Korean Culture Festival. Meskipun ini siang hari dan lumayan panas, ditambah juga ramai berdesakan, nyatanya itu tidak menyurutkan semangatnya. Dia perpindah dari satu booth ke booth lainnya; mulai dari merchandise, make up, pakaian, makanan dan masih banyak lagi –hingga mengorbankan tabungan kesayangannya untuk membeli barang dan bahan yang sebenarnya tak penting.


Bahkan saat hari mulai beranjak gelap, Kanaya masih betah untuk berada di sana. Adimas sampai perlu menariknya untuk pulang, benar-benar merajuk seperti anak kecil –apalagi ditambah dengan tampang cemberutnya saat ini.


Merasa bersalah lantaran melihat tampang kecewa sang pacar, Adimas mencari cara untuk mencairkan suasana. “Kapan mulai penelitian ke sekolahnya, Nay?”


“Gak tau,” jawab Kanaya singkat.


“Yah, padahal gue niatnya mau nemenin lo,” ujar Adimas mencoba memancing perhatian sang pacar.


“Serius lo Dim, mau nemenin gue?” tanya Kanaya dan itu awal pertanda baik.


“Iya, nanti lo kabarin gue ya,” pinta Adimas.


“Okay.”


Responnya sudah positif, tapi setelah itu kembali hening. Adimas sampai pusing, bagaimana cara mengembalikan mood Kanaya –sementara mereka masih berjalan menuju tempat parkir.


“Nay! Gue gak nyangka loh, kalo lo bakal secepet ini ACC buat penelitian. Bukannya lo terakhir bilang kalo Dosen Pembimbing lo yang baru ini rese dan nyebelin?”


“Bisa dibilang baik,” jawabnya dan berpikir kembali. “Tanggung jawab, penuh dedikasi, totalitas tanpa batas,” imbuhnya lalu menertawakan jawaban yang keluar dari mulutnya karena tak percaya dia berkomentar seperti itu pada Dosen yang sebelumnya dia anggap sebagai jelmaan Raja Iblis yang menyeremin dan galak.


Lalu cerita tentang Pak Adhi tidak hanya berhenti sampai di situ, bahkan sang Dosen yang menolongnya saat dia pingsan karena kelaparan dan mengantarnya pulang –hingga dia datang ke rumah Adimas membawa es krim yang hanya sebagai alasan untuk mengelabui sang Dosen. Kemudian saat dia pingsan karena nyeri datang bulan dan mimisan gara-gara kepentok pintu.


Ya ampun! Kok bisa-bisanya sesering itu nyusahan Pak Adhi dan malu-maluin diri sendiri. Gak ngerti dah dia.


Terlalu larut dalam bercerita tentang sang Dosen, Kanaya sampai tak sadar dengan tampang bete dari laki-laki di sebelahnya.


“Jadi sekarang lo suka sama itu Dosen, gitu?” tanya Adimas dengan nada yang tersirat keengganan.


Sementara Kanaya yang merasa akan nada bicara sang pacar yang berubah, dia segera menoleh. “Hahah ... ya, gak gitu juga Dim. Bukan suka terus gue jadi pengagum kayak Adel, tapi lebih nyaman aja pas berinteraksi sama Pak Adhi sekarang –dari pada sebelumnya yang gondok mulu bawaannya,” jawab Kanaya mencoba menjelaskan.


“Sampe nyaman sebatas apa, sama itu Dosen?” tanya Adimas terdengar sinis.


Bukan saja sadar karena pemilihan katanya yang salah, tetapi Kanaya juga sadar kalau ada yang salah dengan Adimas. “Ya ampun~ Dim! Jangan bilang kalo lo lagi cemburu,” goda Kanaya sembari menangkup wajah Adimas dengan kakinya yang perlu berjinjit untuk menggapai Adimas yang lebih tinggi darinya.


Terlalu dekat, baik Kanaya dan Adimas terkejut dengan jarak mereka saat ini.


Bruk!


Kanaya tanpa sadar menjatuhkan kantung-kantung belanjaannya, sementara itu jantungnya terus berdegup bak ditalu –tetapi dia tak urung untuk menjauh setelah itu.


Mereka masih terpaku saling menatap langsung ke manik mata masing-masing, meresapi tiap momen kedekatan mereka saat ini –di tengah kerumunan yang sibuk lalu-lalang dan cahaya redup di malam hari.


Lalu entah sejak kapan, tangan Adimas yang tadinya menggantung di sisi tubuhnya –kini telah berada di wajah Kanaya. Sementara tangan Kanaya sendiri mulai merosot ke bahu Adimas dan kakinya telah berpijak sepenuhnya –tidak lagi berjinjit. Namun justru tubuh Adimas yang mulai mengarah condong pada Kanaya.


Kanaya benar-benar tidak mengerti, pada gejolak yang muncul dalam dirinya seiring mengikisnya jarak diantara mereka. Bahkan saat melihat bibir merekah milik Adimas yang sebentar lagi akan menggapainya, ada rasa geli bagai kerumuman kupu-kupu menggelitik perutnya. Lalu saat deru nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing, otak Kanaya seperti mendidih.


Namun saat puncak hidung Adimas menekan lembut pipinya, Kanaya merasa seperti baru saja disiram air dingin dan dia tersadar.


“Berhenti, Dim!” sentaknya seraya mendorong tubuh Adimas dan menjauh.


Sementara Adimas yang masih hanyut dalam perasaan mendambanya juga kecewa atas penolakan, dia butuh waktu untuk tersadar sebelum berucap, “Astagfirullah, maaf Nay,” sesalnya seraya berbalik badan dan menjauh lalu menghilang diantara keramaian.


Kanaya meskipun dia sadar lebih dulu dengan apa yang akan menimpanya, tetapi nyatanya dia belum bisa menguasai dirinya sendiri dan terpaku. Lalu saat pikirannya kembali berfungsi, dia mencari-cari keberadaan Adimas. Terlalu sulit menemukannya, Kanaya melakukan panggilan.


“Dim! Dimana?” tanyanya tepat setelah panggilannya diangkat. “Gue pulang sama lo atau sendiri?” imbuhnya bicara dengan tegas.


Kanaya mengakhiri panggilan dan menunggu di tempat sesuai jawaban Adimas. Namun sebenarnya saat ini, dia sangat ingin pergi sendiri.


- - - - -


Mereka berkendara pulang dalam keheningan, begitu pula saat mereka berpisah di depan pintu gerbang rumah Kanaya.


Setelah mengembalikan helm, Kanaya segera masuk dan menutup pintu gerbang tanpa menunggu Adimas berbalik arah ke rumahnya dahulu. Dan Adimas diam penuh sesal sembari memeluk helm yang Kanaya kembalikan, matanya menatap nanar pintu yang tertutup itu –sebelum dia kembali ke rumahnya.


Namun ternyata di balik pagar rumahnya, Kanaya masih disana. Dan saat deru motor Adimas perlahan menghilang, Kanaya menghela nafas dan merosot duduk berjongkok. Kanaya melamun dan memikirkan kejadian nyaris tersebut.


Dia menduga-duga, bagaimana jadinya kalau dia tidak menolak dan Adimas sampai menciumnya? Lalu akan jadi apa hubungan mereka nantinya? Akankah lebih baik atau sebaliknya?


Namun otaknya tak dapat menemukan jawaban, hanya saja kata hatinya berbisik dan kembali mempertanyakan -sebenarnya apa gunanya pacaran? Untuk memperjelas status? Lalu setelah itu apa? Boleh melanggar batas norma dan etika -bahkan melecehkan?


Kanaya terenyuh, nyatanya perasaan dia selama ini hanya kebahagiaan fana sesaat yang dapat sirna dengan mudah.


Kanaya beristighfar, merasa beruntung karena dirinya masih diingatkan dan dilindungi. Setelahnya Kanaya beranjak masuk ke rumahnya dan berniat membersihkan juga mengintrospeksi diri.



T


B


C



Bisa tebak kelanjutan hubungan Kanaya sama Adimas?


× × × × ×


*) Part ini dibuat atas dasar pengalaman dan cerita orang-orang di sekitar aku, tidak bermaksud menyalahkan atau menghakimi karena itu keputusan masing-masing pribadi.


Mari ambil sisi baiknya dan tetap menjaga diri.


> > > >


Maaf ya baru update dan membuat kalian menunggu, karena aku waktunya belum sempat untuk menulis dan kondisi juga kurang fit.


Terima kasih atas kesabarannya.


#jagakesehatan


See you later~