Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 16 - Menuju Hari yang mendebarkan]



Meskipun Abang Ojek sudah mengantarnya selamat sampai tempat tujuan, tepat di depan rumahnya. Nyatanya Kanaya bukan segera masuk ke dalam rumahnya sendiri, dia malah mampir ke rumah tetangga –bahkan masih menenteng rantang isi Soto.


Si Abang Ojek yang masih parkir dan sibuk beresin helm, sampai heran. “Mbak rumahnya bukan yang ini?” tanya si Abang Oj-Ol kepo.


“Oh ... enggak kok, betul itu rumah saya. Ini saya mau ke rumah temen aja, Mas,” jawab Kanaya.


Namun belum sampai Kanaya di pintu pagar rumah teman tetangganya itu, orang yang dicari sudah menampakan batang hidungnya serta senyuman cerahnya.


“Dimas?!” ujar Kanaya sembari menghampiri Adimas.


Ternyata Adimas sudah melihat Kanaya yang lewat, kerena dia memang menunggu Kanaya di halaman rumahnya.


“Mau ketemu pacarnya toh, Mbak?” tanya si Abang Oj-Ol yang melewati Kanaya ketika dia hendak putar balik. Ternyata si Abang Ojek masih di situ rupanya.


Kanaya terpaku lantaran mendapatkan pertanyaan tersebut, itu pertanyaan yang cukup sulit dan mematikan hingga dia tak tahu harus menjawab apa.


Kanaya saat ini teman Adimas, tetapi apa masih bisa dibilang teman kalau dia memiliki perasaan? Namun itu tidak juga tak akan berubah menjadi hubungan yang dia inginkan terhadap mereka berdua, karena belum ada pernyataan yang mengarah pada hubungan tersebut.


“Teman aja kok, Mas,” jawab Kanaya dengan tersenyum, namun ekspresi wajahnya jelas tak menunjukan demikian –ada rasa ragu juga asa yang menggantung.


Tanpa Kanaya sadari, Adimas yang hanya tinggal beberapa langkah darinya itu –mendengar percakapannya juga sang Abang Oj-Ol. Dan ekspresi wajahnya berubah kaku dan senyumannya hilang.


“Semangat ya, Mbak,” ucap si Abang Oj-Ol sebelum tancap gas, namun berhenti kembali saat bersebelahan dengan Adimas hingga membuat Adimas bingung. “Mas, jangan kelamaan, nanti keburu ada ngambil loh. Tenang aja, gak usah takut ditolak,” ucap si Abang Oj-Ol dan menepuk pundak Adimas lalu pergi setelah itu.


Adimas menoleh, menatap kepergian si Abang Oj-Ol dengan pertanyaan yang mengganggu benaknya.


“Kenapa Dim?” tanya Kanaya yang tiba-tiba saja sudah ada di depannya.


“Eh? Enggak,” jawab Adimas cepat. “Lo abis dari mana, Nay? Piknik?” tanyanya dengan mata yang memandangi rantang yang dibawa Kanaya.


“Oh ini,” Kanaya mengangkat rantangnya. “Tadi abis dari rumah teman Ibu, buat ngajarin masak.” Adimas meresponnya dengan senyuman geli. “Heh! Beneran tau, gue ngajaran masak,” ujarnya ngotot.


“Iya, percaya deh.”


Kanaya menyipitkan matanya, memandang dengan selidik pada Adimas. “Gue gak percaya lo!”


Adimas terkekeh. “Ya~ terserah sih. Tapi apa gak kebalik, Nay? Kan yang butuh pengakuan itu lo.”


Kanaya diam, dia tengah berpikir dan beberapa saat kemudian dia menarik Adimas ke rumahnya.


“Eh ... mau ngapain ke rumah lo?”


“Ngebuktiin kalo gue gak boong, biar lo denger sendiri dari Ibu gue.”


Adimas berhenti tiba-tiba, hingga Kanaya tersentak. “Kayaknya gak bisa sekarang deh, Nay. Ibu, Bapak sama Sofi lagi pergi ke kondangan.”


“Ya, udah tunggu aja. Paling bentar lagi balik,” dalih Kanaya.


“Gue ragu, soalnya perginya bareng sama keluarga gue juga.”


“Jadi di rumah gue gak ada orang?”


“Tau tuh,” jawab Adimas sembari menggedikan bahunya.


Kanaya melepaskan tangan Adimas dan memasuki rumahnya lebih dulu sendiri, sementara Adimas menunggu di teras.


Beberapa saat kemudian, pintu rumah Kanaya di buka dari dalam oleh seorang pria –Bang Dhika.


Kenapa harus dia sih? Gak guna banget. Baru liat mukanya aja, Kanaya udah kesel.


“Dah balik lo, Nay?” tanyanya sembari menguap.


Ugh! Bau Jigong. Kanaya memalingkan wajahnya. “Baru bangun lo, Bang? Parah banget lo! Udah lewat Zuhur ini.”


“Sembarangan, gue baru tidur siang dua jam ini,” jawab Bang Dhika dan melewati Kanaya untuk berjalan ke luar. Lalu menemukan pemandangan yang menurutnya menarik, rantang makanan yang teronggok di meja teras. “Apaan nih, Nay?” tanyanya sembari mengangkat rantang tersebut.


“Bukan buat elo!” jawab Kanaya cepat dan hendak merampas rantang makanannya kembali, namun Bang Dhika sudah mengangkatnya tinggi-tinggi.


“Pelit amat lo, Dek!”


Ch! Si Dhika kalo ada maunya baru manggil Kanaya dengan sebutan Adek.


Bang Dhika berputar untuk melarikan diri, namun di depannya ternyata ada Adimas. “Eh, ada Adimas toh?” ujarnya terlambat menyadari. “Dari kapan di situ? Udah makan belum? Pasti belum, kan? Mau makan bareng gak?” tanyanya dengan suara yang melembut.


Pasti ada mau nya itu si Dhika, manfaatin Adimas.


Kanaya menghela nafas, dia mengalah. Bang –nya ini banyak banget akal busuknya.


“Nay! Nih, siapin piringnya ya,” titah Bang Dhika seraya mengembalikan rantang makanannya.


Si*lan si Dhika!


Ngapa dia jadi malah ngempanin dia makan?


°°


T


B


C


°°


Thank for reading~~