Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 29 – Keputusan]



“Nay!” panggil suara yang dikenalinya, lalu Kanaya menoleh dan menemukan Adimas. “Udah lama nunggu?” tanya Adimas dengan nada canggung.


“Enggak, baru aja,” jawab Kanaya sama canggungnya. “Ini, jaket lo. Makasih,” ucapnya dan mengembalikan jaket milik Adimas.


“Sama-sama.” Adimas menerima jaketnya kembali. “Kita cari tempat,” ajaknya pada Kanaya, namun dia berjalan lebih dulu di depannya tanpa menunggu Kanaya.


Kanaya mengikuti Adimas sampai ke belakang taman, mereka berdiri di balik pohon rimbun.


Beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka, hingga Adimas memulai kembali pembicaraan –namun topik pembahasannya tak kalah membuat situasi semakin canggung. “Gue mau minta maaf, Nay. Soal kejadian ...,” ucap Adimas penuh sesal.


Kanaya menghela nafas, firasatnya benar kalau Adimas akan membahas hal itu. “Gue udah maafin lo, jadi gak usah dibahas lagi,” potong Kanaya dan gestur tubuhnya terlihat tak nyaman.


Adimas tak langsung menjawab, bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. “Br*ngsek!” umpatnya sembari mengusap wajahnya kasar dan berbalik membelakangi Kanaya.


Kanaya memandangi Adimas dengan tatapan terkejut, tak menyangka kata kasar itu dia dengar dari Adimas –seseorang yang dia kenal cukup lama. Namun kata yang selanjutnya tak kalah bagai sambaran petir di siang bolong baginya.


“Kita putus aja, Nay,” ucap Adimas dengan suara rendah.


“Dim!” sentak Kanaya. Dia menarik lengan Adimas untuk membuatnya berbalik dan menatapnya. “Lo kenapa sih?!”


Adimas tersenyum miris. “Gue ini br*ngsek, Nay! Jadi lo gak perlu maksain diri buat maafin gue atau lupain kejadian tempo hari. Jangan jadi cewek gampangan!” hardik Adimas tak ada habisnya.


“Stop Dim!” ucap Kanaya penuh penekanan, berusaha menahan emosinya.


“Lo gak mikir apa, Nay? Kalau kemaren gue sampe kelepasan cium lo,” peringat Adimas lalu melangkah maju mendekati Kanaya. Sementara itu, tubuh Kanaya tanpa sadar melangkah mundur –menjauh. “Lo kira, setelah satu ciuman ... terus selesai sampai disitu?”


“Enggak, lo gak bakal begitu Dim,” sanggah Kanaya, namun sebagian dirinya tak dapat berbohong kalau dia merasa takut dengan Adimas saat ini.


“Jangan percaya sama gue, Nay,” pinta Adimas lirih. “Gue gak jamin bisa jaga lo kalo keadaannya begini, karena gue juga gak percaya sama diri gue sendiri.”


“Dim, plis lah~ Gue suka sama lo udah lama dan masih suka sama lo, lo juga kan?”


“Apa pentingnya, gue masih punya perasaan sama lo atau gak? Gue salah, karena udah minta lo jadi pacar gue. Kita saling suka, tapi gak mesti sejauh ini sampai ngelukain dan ngerusak.”


“Dimas!! Gue gak mau putus sama lo!” sentak Kanaya lirih dan emosional.


“Kita gak bakal putus hubungan, Nay. Kita masih bisa balik jadi teman, kayak dulu lagi,” ucap Dimas mencoba memberi pengertian. “Lagian ... gue denger, katanya ada yang datang buat ngelamar lo.”


Kanaya tidak menduga kalau Adimas tau dan akan bicara hal tersebut padanya. “Bukan ngelamar, itu anaknya temen orang tua gue cuman datang untuk kenalan aja,” ucap Kanaya mencoba menjelaskan, namun sepertinya percuma saja.


“Apa bedanya, Nay? Terus abis kenalan apa?!” seru Adimas. “Terima aja, itu keinginan orang tua lo. InsyaAllah, itu pilihan yang baik untuk lo,” ujarnya pelan dan terdengar lirih.


“Enggak, gue gak mau! Gue gak bisa terima orang lain, disaat gue masih punya perasaan sama lo,” tolak Kanaya. “Apalagi dia itu dosen....” Kanaya tak melanjutkan kalimatnya, dia sadar sudah kelepasan bicara.


“Dosen? Siapa?!” tanya Adimas memojokan Kanaya.


Kanaya sadar dia tak bisa mundur lagi –belakang tubuhnya sudah menyentuh batang pohon, sementara Adimas terus mendesaknya. Tapi nama yang akan dia sebut ini, bisa kembali memancing perdebatan dengan Adimas –seperti sebelumnya. Kanaya bimbang, dia masih bungkam.


“Nay~ siapa? Gue kenal orangnya?” tanya Adimas lagi.


“I ... iya, Pak Adhi,” jawab Kanaya pelan seperti berbisik.


“Jadi orangnya itu, Dosen Pembimbing lo?” tanya Adimas memastikan dan Kanaya mengangguk, mengiyakan. Adimas tersenyum, namun tampak seperti paksaan. “Bagus dong, bukannya lo sendiri yang bilang kalo Dosen Pembimbing lo itu orangnya baik, bertanggung jawab, penuh dedikasi, totalitas tanpa batas,” sebut Adimas tak melupakan setiap pujian yang Kanaya lontarkan pada sang Dosen malam itu.


“Maksud gue bukan gitu, Dim!” Kanaya tak tau harus berkata apalagi untuk membuat Adimas mengerti. “Gue belum mau nikah sekarang dan gue masih mau sama lo, Dim!” ucap Kanaya dengan suaranya yang saat ini terdengar bergetar. “Jadi plis ... bilang ke orang tua gue kalo kita pacaran, biar mereka batalin keputusannya buat nikahin gue. Terus....”


“Nay, Stop! Tenangin diri lo,” ucap Adimas menghentikan ucapan Kanaya, seraya memegang bahu gadis itu. “Gue ngerti kalo lo belum siap, tapi gue bisa apa? Gue gak seberani yang lo kira buat ngambil tanggung jawab atau komitmen sebesar itu. Harus ngomong apa gue ke orang tua lo? Gue gak bisa janjiin apa-apa supaya mereka percaya. Modal perasaan doang, mana cukup! Terus status pacaran kita, emang ngaruh apa?!” sentak Adimas.


“Seenggak kita coba dulu!” seru Kanaya bersikeras.


“Maaf Nay, gue gak bisa bantu. Itu urusan lo sama keluarga lo sendiri, jadi lo yang harus selesaiin. Terus, mending sekarang lo pulang,” ujar Adimas seraya menuntun Kanaya untuk kembali ke rumahnya.


Tsk!


Kanaya menghempaskan pegangan tangan Adimas di lengannya.


“Gue kecewa sama lo, Dim. Udah lama gue mendem perasaan sama lo, tapi setelah kita saling tau perasaan masing-masing ... lo gak ada berjuangnya dan segampang itu nyerah,” ujar Kanaya sebelum dia pergi.


Kanaya berlari keluar dari taman sembari menutupi wajahnya. Dia menyesali dirinya yang cengeng sampai harus bersusah-susah menghindari pengunjung taman, belum lagi ini siang hari. Biarpun begitu, Kanaya masih berlari.


- - -


Kanaya baru kembali ke rumah pada saat hari menjelang senja, dia tidak segera pulang setelah bicara dengan Adimas, tetapi dia pergi menenangkan dirinya terlebih dahulu. Lalu saat ini dia berada di dalam kamarnya, mengurung diri sendirian.


Bahkan ajakan makan malam dari anggota keluarganya tidak dia hiraukan, termasuk Bang Dhika yang bar-bar menggedor dan berteriak dari luar pintu kamarnya.


Pikiran Kanaya terus tertuju pada pembicaraannya dengan Adimas –siang itu di taman, karena rasa kecewa itu terus membayangi dan singgah di hatinya sampai dia merasakan sesak.


Tok ... Tok ... Tok ...


Ketukan pintu lembut mengalihkan perhatian Kanaya.


“Neng, keluar. Ayo makan dulu, nanti kamu sakit,” ajak sang Ibu.


“Enggak Bu, Eneng gak laper,” jawab Kanaya.


“Jangan begitu Neng, Ibu khawatir sama kamu. Kalo ada apa-apa sama Eneng, Ibu juga ikut sedih,” sahut Ibu Nurlela terdengar lemah suaranya. “Kalo Ibu ada salah, maafin Ibu. Tapi ... coba cerita dulu, biar Ibu ngerti.”


Hati Kanaya terenyuh mendengar ucapan rasa bersalah sang Ibu, padahal Ibunya tak tau apa-apa. Jadi mau tak mau, dia membukakan pintu untuk Ibunya. Lalu dia kembali naik ke tempat tidur dan menghadap tembok.


Kanaya mendengar pintu kamarnya tertutup dan sebuah benda berbahan keramik menyentuh permukaan meja. Lalu Kanaya merasakan beban di pinggir tempat tidurnya, kemudian sebuah tangan membelai rambutnya lembut.


“Eneng kenapa? Kalo ada masalah, coba cerita ke Ibu. Siapa tau Ibu bisa bantu.”


Kanaya menggelengkan kepalanya, sementara dirinya masih membelakangi sang Ibu.


“Ya udah, dimakan dulu ini. Keburu dingin lagi nanti nasinya,” ucap Ibu sembari memegang piring.


Kanaya kembali menggeleng.


Ibu Nurlela terdengar menghela nafasnya berat. “Ibu sedih kalo Eneng begini,” ujarnya lemah.


Meski sebelumnya Kanaya bersikeras, tetapi lambat laun dia luluh dengan bujukan dan sikap lembut sang Ibu –selain karena dia tak tega menyakiti perasaan Ibunya. Akhirnya Kanaya mau makan dan cerita pada sang Ibu perihal apa yang terjadi hari ini dan apa perasaan sebenarnya.


“Ya Allah~ Neng, maafin Ibu yang udah maksa-maksa kamu,” ucap Ibu Nurlela sembari memeluk putrinya.


“Udah, sekarang Eneng istirahat aja. Nanti biar Ibu yang ngomong ke Bapak –mu sama Ibu Ranti,” ucap Ibu Nurlela seraya beranjak dari tempat tidur.


Kanaya menahan tangan sang Ibu. “Bu, sebenernya Eneng jadi ragu setelah kejadian hari ini,” aku Kanaya.


Ibu Nurlela kembali duduk di tempat tidur Kanaya dan beliau menghela nafas seraya menggenggam tangan Kanaya. “Neng, sebagai orang tua tentu Ibu mau yang terbaik untuk putrinya. Tapi Ibu juga gak bisa maksa kamu, karena nantinya kamu yang bakal ngejalanin. Jadi sekarang keputusan ada di Eneng, tapi coba dipikirkan dengan bijak.”


“Eneng gak tau, Bu. Keliatannya abu-abu,” ujar Kanaya frustrasi. “Adimas, orang yang Eneng suka –dia nyerah sama perasaannya. Terus Pak Adhi, Eneng tau dia baik –tapi Eneng masih belum yakin bisa sama beliau.”


“Neng, kita emang gak pernah tau bakal berjodoh sama siapa. Tapi jangan sia-siakan pria baik yang datang dengan niat baik, karena kita gak tau apa akan mendapat kesempatan yang sama lagi atau enggak,” nasihat Ibu. “Dan kalo Eneng masih ragu, Eneng minta sama Allah. Sholat Istikharah, minta dipilihkan yang terbaik,” imbuh Ibu Nurlela sebelum beliau meninggalkan kamar putrinya.


Kanaya tertegun mendengarkan nasihat dari Ibunya, lalu dia beranjak keluar dari kamar mengambil air berwudhu untuk menunaikan Sholat Isya dan Istikharah.


Kanaya berdoa, meminta dimantapkan hatinya perihal urusan jodoh.


“Ya Allah, jika dia jodohku maka permudahkanlah jalan dan satukan hati kami. Tetapi kalau dia bukan jodohku, jauhkanlah dia agar hamba tidak terluka dan pasangkan hamba dengan seseorang yang baik menurut –Mu. Sungguh Engkau Yang Maha Mengetahui.”





Pagi ini pikirannya jauh lebih jernih setelah istirahat dan membersihkan diri, dia juga sudah memikirkan semua perkataan orang-orang sekitarnya dengan baik.


Sang Ayah yang mempertimbangkan bagaimana ketaatan dan pemahaman keagamaan Pak Adhi yang nantinya akan diberikan tanggung jawab untuk membimbing dirinya. Lalu Teh Dita, yang membicarakan kesempatan calon suami potensial dan umur. Bang Dhika, dengan sudut pandang seorang pria dan kakak laki-lakinya. Dan ... Ya ampun~ Sofia yang tidak dia duga ternyata mementingkan kesejahteraannya.


Lalu Adimas, pria yang memiliki perasaan sama halnya dengan Kanaya sendiri –tapi lebih memilih merelakan, mengakui kekurangan dirinya dan memberikan kesempatan pada pria lain yang dianggapnya lebih pantas untuk Kanaya.


Dan Kanaya juga memikirkan kembali, sebenarnya apa tujuannya berpacaran? Apakah dia ingin pengakuan dan kejelasan status hubungan? Romantisme? Lalu setelah itu apa?


Sebenarnya tidak banyak yang berubah, kecuali perasaan berbunga-bunga. Tetapi seiring itu juga muncul keposesifan, kecemburuan hingga mereka terkadang saling mencurigai.


Sementara itu, di sisi lain –selama ini mereka baik-baik saja berteman ... atau mungkin lebih baik karena mereka memiliki batasan sebagai teman.


Terakhir, sang Ibu yang membantunya untuk dapat berpikir jernih dan penuh pertimbangan hingga dapat memutuskan pilihannya.


Dugh ... Dugh ... Dugh ...


Gedoran pintu itu tak akan berhenti sebelum dia membalas sahutan.


Abangnya ini memang perusak suasana.


“IYA!!” sahut Kanaya singkat. Lalu dia keluar dari kamarnya untuk membantu membuat sarapan.


Setelah sarapan, Kanaya mengatakan pada keluarganya kalau dia setuju untuk melanjutkan tahap perkenalan tersebut. Tetapi dia tak ingin diburu-buru mengambil keputusan ke tahap serius, lalu terlepas apa hasilnya nanti –dia ingin keluarganya tak mendesaknya.


Tak Kanaya sangka, kalau respon keluarganya akan mendukung dirinya dan sepenuhnya menghargai keputusaanya saat ini. Kanaya bersyukur, karena kekhawatirannya selama ini hanya pikirannya saja. Nyatanya semua bisa diselesaikan dengan baik.


“Alhamdulillah Neng, kalau begitu keputusan kamu –Ibu ikut senang. Yang penting dijalanin aja dulu, InsyaAllah kalau memang jodoh pasti tidak kemana,” ucap Ibu Nurlela.


“Iya Bu,” jawab Kanaya.


“Kalau gitu, kamu coba atur waktu buat ketemu dan bicara sama Nak Adhi,” ucap Pak Haris.


“Iya Pak, hari ini juga Eneng bakal ketemu Pak Adhi. Soalnya masih ada yang mau ditanyain soal skripsi,” jawab Kanaya.


“Bagus kalo gitu, lebih cepat lebih baik,” sahut Bapak senang. “Bu, nanti bekelin Eneng makanan buat dia bawa ke Nak Adhi,” ucap Pak Haris pada istrinya.


“Iya Pak,” jawab Ibu Nurlela tak kalah senang.


Kanaya menghela nafas lega, tanpa sadar –senyumnya ikut mengembang.




T


B


C




Kanaya sudah mendapatkan jawaban atas dilema hatinya. Gimana dengan Pak Adhi?


> > >


Fyuh~ kelar juga part ini. Aku sempat sama galaunya kayak Kanaya.


Berasa dramatis gak sih part ini?


Soalnya aku ngerasa dialog Adimas itu overthinking, tapi aku mau nunjukin kalo dia itu cowok baik yang sedang menyadari kesalahan dan bertobat. Terus Kanaya, sosok terluka dan kecewa yang dia berusaha mengikhlaskan perasaannya di saat lagi sayang-sayangnya.


Pak Adhi? Mari tunggu part selanjutnya.


- - -


Btw, setelah aku ingat-ingat ... ternyata aku pernah denger cerita yang sama dari orang terdekat aku.


Jadi dia naksir sama tetangganya, tapi gak sampe jadian macam Naya sama Dimas. Mereka cuman sadar perasaan satu sama lain, tanpa diungkapkan.


Terus tiba-tiba ada cowok yang datang nemuin keluarganya dan berniat nikahin dia, macam Pak Adhi gitu dah –lebih tua umurnya dari dia. Disitu dia ngerasa bimbang, ada orang dekat yang dia taksir tapi keluarganya lebih setuju kalo dia sama si Pak Adhi yang bahkan gak dia kenal.


Dan ya~ gitu, dia Sholat Istikharah dan doa macam Naya. Terus akhirnya ...??


○ ○ ○


See you~


Makasih sudah membaca dan dukungannya ^^