
“Mas, kita kapan pulang?” tanya Kanaya yang saat itu baru selesai mandi sembari menghampiri Suaminya yang tengah duduk di tempat tidur sembari membaca berita lewat ponselnya.
Adhi menaruh ponselnya. “Bukannya besok kamu gak ada kelas?”
“Iya, terus?” tanya Kanaya menaruh curiga.
“Gimana kalau kita di sini sehari lagi, toh Mas juga gak ngajar," jawab Adhi sembari menggerakkan lengan kanannya sebagai alasan ijinnya.
Kanaya mendengus. “Baru kemaren dibilang, Mas –kalau Istrinya ini juga mahasiswa dan aku gak enak sama temen bimbingan yang lain. Gak baik Mas, bersenang-senang di atas kesulitan orang lain. Ingat Mas, kalau kita memudahkan uran orang lain –InsyaAllah, urusan kita juga akan dipermudah,” nasihatnya.
“Iya Bu Ustadzah.” Adhi tak bisa beralasan lagi kali ini.
“Aamiin!” seru Kanaya. “Jadi kapan kita pulang?” tanyanya lagi.
“Kamu segitunya kangen rumah, Neng?”
“Bukan kangen rumah juga sih, Mas. Lebih tepatnya kangen Ibu sama Bapak, terus sama temen-temen juga. Karena kayaknya setelah nikah, aku jarang sosialisasi sama yang lain.”
“Jadi Eneng bosen sama Mas mulu?” tanya Adhi yang terdengar seperti anak kecil merajuk.
“Ya ampun~ Mas ngambek ini ceritanya?” goda Kanaya.
“Enggak mungkinlah, Emang Mas anak kecil –kan bukan,” elak Adhi.
“Terus jangan malam-malam ya pulangnya, Mas."
“Emang kenapa?"
“Soalnya kalo bisa, aku mau langsung mampir ke Ibu dulu,” pinta Kanaya.
“Ya udah, kita pulang paling enggak setelah Zuhur supaya keburu,” jawab Adhi dan jeda sejenak. “Tapi gak ada acara mampir ke tetangga ya,” peringatnya.
“Hah?” Kanaya bingung, namun akhirnya dia paham maksud Suaminya. Tapi biarpun begitu, dia tak lantas mengiyakannya begitu saja. Dia tak menyia-yiakan kesempatan untuk menggoda sang Suami. “Maksud Mas, ke rumah Dimas?” tanyanya dengan nada manis sembari menahan suara tawanya.
“Iya lah, siapa lagi tetangga kamu yang statusnya mantan pacar?” tanya Adhi tak repot-repot menyembunyikan ketidak sukaannya.
Ya ampun~ rasanya Kanaya mau cubit pipi Suaminya. Gak tau kenapa, muka si Mas pas lagi kesel gini malah gemesin buat dia.
“Mas gak ijinin Eneng ketemu mantan kamu, ya.”
“Yah Mas, kalo gitu namanya mutusin tali silahturahmi dong,” balas Kanaya.
Adhi terdiam sejenak.
“Lagian aku bakal ngapain sih sama Dimas? Mas gak percaya sama Eneng?” tanya Kanaya dengan nada terluka *yang dibuat-buat.
Helaan nafas terdengar panjang dari Adhi. “Mas bukan gak percaya sama Eneng, tapi sama tetanggamu,” jawab Adhi sejujurnya. “Kalo gitu, pas Eneng mau ketemu sama tetangga –kamu harus bilang dulu dan Mas juga ikut sama kamu,” pintanya.
Kanaya terkekeh dan Adhi menatap sang Istri bingung sekaligus tak suka.
“Neng~ Mas ngomong serius ya,” peringat Adhi lagi.
“Ma ... maaf Mas, Eneng gak maksud ngetawain Mas,” jawab Kanaya mencoba berhenti tertawa, lalu dia berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya. “Mas tau gak, ternyata kita sama aja,” ucapnya dengan lembut.
“Sama? Apanya?”
“Sama-sama gak suka dan takut pas tau kalo pasangan kita mau ketemu Mantannya,” jawab Kanaya sembari teringat dengan perasaan sakitnya beberapa waktu lalu.
Deg!!
Perasaan Adhi bagai dipukul kuat sampai dadanya terasa nyeri, lalu dia kembali berpikir, mungkin sesakit ini perasaan Istrinya yang dia lukai karena keputusan egoisnya –atau lebih sakit karena harus menyaksikan langsung dirinya dengan sang Mantan.
“Mas minta maaf, Neng,” ucap Adhi penuh sesal, hanya saja kali ini bukan sekedar permintaan maaf kosong –karena dia telah menyadari betul kesalahannya.
Kanaya terkejut karena permintaan maaf Suaminya yang tak terduga, dia tak berpikir akan mendengar lagi kata tersebut kali ini –karena dia sama sekali tidak bermaksud menyinggung kembali perasaan bersalah sang Suami. Bagaimanapun, hubungan mereka sudah lebih baik –tetapi bukan berarti dia tak menerima sesal sang Suami yang terlambat menyadari. “Iya Mas, Eneng maafin,” jawab Kanaya dan memeluk sang Suaminya.
“Makasih Neng,” ucap Adhi dan balas memeluk sang Istri.
O
O
O
Ternyata mereka tidak perlu menunggu sampai waktu zuhur untuk pulang, lantaran sudah mendapat tiket. Hanya saja, perlu ada cekcok di antara pasangan tersebut sebelum akhirnya salah satu dari mereka ada yang mengalah.
Bagaimana tidak ribut, sang Suami malah memesan tiket pesawat yang harganya sampai tiga kali lipat dari kereta api. Kanaya kesal bukan main, terutama mengingat posisinya sebagai Mahasiswi Tingkat Akhir yang sedang menjalani Skripsi, belum lagi biaya untuk wisudanya nanti. Dia sangat menyayangkan uang segitu banyak hilang dengan mudah, padahal masih ada alternatif yang lebih murah.
Tetapi Adhi berdalih, sang Istri tak perlu khawatir karena sekarang yang akan membiayai kuliah gadis itu adalah dia. Bagaimanapun dia sebagai Suaminya dan kepala keluarga, uangnya adalah uang sang Istri juga atau bersama. Lalu dikatakannya lagi, uang bisa dicari dan dia akan bekerja lebih keras.
Meskipun begitu Adhi kembali berdalih, kali ini menggunakan alasan kenyamanan dan juga kondisi lengannya yang sedang mengalami cedera –tentu sangat tidak nyaman baginya kalau naik kereta api yang menempuh perjalanan panjang dan harus duduk berjam-jam.
Terdengar helaan nafas dari Kanaya disertai jawaban persetujuan lemah, dia tak bisa membantah lagi lantaran merasa bersalah juga kasihan dengan suaminya –ditambah yang bayar tiket juga bukan dari uangnya.
**O O X O O**
Kalau dihitung-hitung, waktu tempuh pulang dengan pesawat memang dua kali lebih cepat dari kereta api. Sekitar satu jam setengah dari rumah Eyang ke Bandara keberangkatan, lalu mereka terbang butuh waktu sekitar satu jam –jadi sebelum Ashar mereka sudah tiba di Bandara tujuan.
“Hoooaamm ....” Kanaya menguap panjang saat menunggu untuk mengambil bagasi mereka, untung saja dia tidak lupa menutup mulutnya.
“Ngantuk banget kayaknya, Neng,” komentar Adhi.
Kanaya hanya menjawabnya dengan deheman sembari menganggukan kepalanya lantaran malah ngomong, sangking ngantuknya.
“Aturan tadi di mobil pas mau berangkat ke bandara kamu tidur aja, tapi malah asik ngobrol di belakang.”
Kanaya mendelik dalam hati, bagaimana mau tidur, orang dia diampit oleh dua sesepuh yang –Eyang dan Bude Ratna yang mengajaknya mengobrol sepanjang perjalanan. Ya kali, dia molor –bisa kena toyor nanti.
“Ya udah, nanti dilanjut lagi tidurnya di Taksi. Terus cuci muka dulu gih sana, biar seger.”
“Eneng gak tau toiletnya,” dalih Kanaya yang sedang malas gerak.
“Itu!” ucap Adhi menunjukkan arahnya.
“Ya udah, nanti aja bareng sama Mas.”
Adhi menghela nafas melihat tingkah sang Istri, tapi kesian juga, soalnya yang banyak membawa bawaan mereka itu Kanaya. “Mau makan dulu?” tawarnya.
“Enggak ah, Mas –Eneng mending tidur dari pada makan. Tapi kalo Mas lapar, Mas aja yang makan,” tolak Kanaya halus.
“Mas juga gak lapar sih, cuman nawarin kamu aja.”
“Makasih Mas. Iiiihhh~ jadi enak ada yang perhatian.”
“Mas kan emang selalu perhatian sama Eneng,” balas Adhi.
“Iya dah, Mas mah emang Suami paling perhatian sedunia,” ucap Kanaya namun setengah hati.
“Kamu muji, tapi kalau ngomongnya gitu –Mas malah ngerasa disindir.”
“Maaf Mas, tapi asli ini ngantuk banget.” Kanaya kembali menguap.
“Ya ampun, kamu kalo lapar –bawaannya emosi kayak mau makan orang. Tapi kalo giliran ngantuk malasnya kebangetan, sampe ngabaiin orang,” keluh Adhi dan geleng-geleng kepala.
O
O
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
O
O
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~