Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 16.1 - Menuju hari yang mendebarkan]



Setelah kekacauan bersama Bang Dhika, akhirnya Kanaya bisa juga jalan sama Adimas. Meskipun harus menguras emosi dulu akibat kelakuan Si Dhikamprett yang minta ikut jalan bareng.


Big No! Ogah banget.


Siapa coba yang mau jalan bareng sama Abang, kalo ada gebetan? S*nting kali!


Mereka memasuki sebuat pusat perbelanjaan alias Mall.


Hmmm~ kayaknya Adimas suka banget ke Mall deh, soalnya tiap diajak jalan sama Adimas, ujung-ujungnya mereka berakhir di Mall.


“Lo ada sesuatu yang mau dibeli, Dim?” tanya Kanaya akhirnya setelah sedari tadi terus mengikuti Adimas.


“Noh!” ujar Adimas seraya menunjuk kearah Games Center.


“Tumben banget, Dim. Biasanya lo tiap menjelang ujian itu ngunci diri di kamar buat belajar, tapi ini malah mainan di Games Center.”


“Gak apa-apa, sesekali doang. Suntuk abisnya gue liat dinding.”


“Tau tuh ya, Dim ... gue jarang main games kayak gini. Jadi mungkin nanti bakal kaku,” dalih Kanaya.


“Tenang aja, nanti gue ajarin dan bantu kok.”


“Oke lah, kalo Dimas maksa,” canda Kanaya. “Jadi main yang mana dulu kita?”


“Street Basketball?”


Kanaya mengangguk, mengiyakan. Meskipun dia tidak terlalu yakin, karena dia merasa tidak terlalu tinggi dan tangannya tidak sepanjang Adimas.


Ronde pertama Adimas yang lebih dulu memainkannya, terlihat mudah –seperti hanya melempar bola dan memasukannya ke dalam ring.


Adimas tampak ahli memainkannya, bahkan cukup menggunakan satu tangan dan tanpa mengubah posisi berdiri.


Ronde dua, kini giliran Kanaya. Dia cukup percaya diri, karena gak sudah melihat Adimas.


Namun kenyataannya, CAPEK BANGET!! Dia sampe harus loncat-loncat dan berlari kecil, tapi itupun gak semua bolanya masuk.


Nafas Kanaya tersenggal, dia sampai duduk berjongkok di lantai.


“Misi Mbak, udah selesai mainnya belum?” tanya seorang pria.


Kanaya mendongak. “Oh, udah kok. Maaf ya,” ucap Kanaya lalu bangkit dan pergi dari permainan bola basket itu.


Asem! Adimas kemana lagi? Gue ditinggalin.


Kanaya berjalan ke bangku panjang dan duduk disana, tanpa berniat mencari Adimas. Biarin aja, Adimas yang muter-muter nyariin dia.


“Astagfirullah!” Kanaya berlonjak kaget karena ada tangan yang menepuk bahunya, namun setelah dia menoleh –itu Adimas. “Ngomong kek elah, Dim! Bikin orang serangan jantung aja,” omel Kanaya.


“Maaf. Ini minum,” jawab Adimas sembari menyodorkan segelas ukuran medium Thai Tea.


Rasa kesal Kanaya seketika langsung hilang, sepertinya sogokannya berhasil.


Glek ... Glek ... Glek ...


Tidak perlu sedotan, kelamaan. Kanaya kepalang haus dan kini hampir menandaskan setengah isi gelas tersebut.


“Pelan-pelan Nay, minumnya,” ujar Adimas.


Terlambat, gelasnya sudah kosong.


Adimas gelang-geleng kepala. “Baca doa gak minumnya, Nay?”


Kanaya bengong sebentar, sebelum berucap “Bismillahir-rahmaanir-rahiim.”


“Nah! Dibantuin setanlah tuh minumnya. Mana belum bilang makasih,” ujar Adimas.


“Jadi lo gak ikhlas ngasih gue minum, Dim?” sahut Kanaya yang tampaknya merasa tersinggung.


“Gak gitu maksudnya, Nay. Ikhlas gak Ikhlas mah, gak usah diomongin. Toh itu bukan kita yang nilai,” jawab Adimas bersahaja.


Kanaya tak mampu mendebat. “Makasih Adimas, udah beliin Kanaya Thai Tea. Boleh nambah lagi gak?” Manis diawal doang, ternyata ada maunya.


Kini Adimas yang tak mampu berkata-kata. “Mau main yang lain?” tanya Adimas bermaksud mengalihkan topik.


Kanaya tampak berpikir, sebelum sebuah seringai muncul dibalik senyumannya.


---


Mata Adimas memandang ngeri kearah mesin permainan yang ada di hadapan mereka saat ini, dia memberikan tatapan tak percaya pada temannya itu.


Teganya Kanaya, menyuruhnya bermain Danz Base. Bukan sekedar dance arcade seperti Dance Dance Revolution yang hanya perlu menginjak tanda panah sesuai petunjuk yang ada di monitor.


Sementara Danz Base ini permainan dance arkade yang mengharuskan player menari sesuai dengan gerakan karakter yang ada di layar monitor. Sensor di atas layarlah yang menangkap gerakan kita kemudian menilai apakah gerakan kita sesuai atau tidak. - catatannyasulung.wordpress.


“Semangat, Dim!” teriak Kanaya.


'Plis, diem Nay!' batin Adimas menjerit malu.


“Woooo!!” Kanaya bersorak saat musik dimulai dan semakin kencang dia bersorak saat Adimas mencapai skor tinggi, tak lupa memberikan tepuk tangan –sebab itu melebihi perkiraannya.


Adimas yang mengikuti gerakannya cukup baik, Kanaya sangat senang –terlebih kalau Adimas mau jadi partner nya.


Tetapi sepertinya itu, MUSTAHIL. Cukup lihat saja wajah Adimas yang hampir semerah tomat dan berjalan sembari menundukan kepala saat menghampiri Kanaya –belum lagi yang dia ucapkan. “Mau pulang, Nay?” tanya Adimas setibanya di depan Kanaya.


Adimas pasti kapok dan menyesal, tetapi bukan Kanaya kalau semudah itu menurut. “Enggak, gue masih mau main,” jawabnya dan menyunggingkan cengiran penuh arti tersembunyi dan Adimas tampak hendak melarikan diri. “Tenang aja, gue gak suruh lo nge-dance lagi. Gantianlah, gue –kan juga mau main.”


Adimas berdiri sembari memperhatikan Kanaya dan juga layar monitor.


Hah~ ini mah si Kanaya udah Pro, hampir semua gerakannya perfect –sampai Adimas penasaran seberapa sering Kanaya mainin game dance itu.


Setelah cukup lama nungguin Kanaya, akhirnya dia selesai juga nge-dance nya.


“Capek Nay?” tanya Adimas meski ragu.


“Enggak, segini mah masih kecil. Biasa gue maen berkali-kali, apalagi kalo sepi,” jawab Kanaya ceria.


“Sering maen ini lo ya?”


“Lumayanlah, tiap pulang kuliah cepet atau pas gak balik bareng lo atau pas main bareng Adel sama Jani,” jawab Kanaya.


Kanaya terkekeh. “Lo masih mau maen yang lain gak?”


“Ada,” jawab Adimas dengan senyum dan mata berbinar.


◦◦◦


Mereka berdiri di depan mesin pencapit boneka dan kini Kanaya tau arti senyuman Adimas sebelumnya. Ah~ manis sekali Adimas.


“Lo mau boneka apa, Nay?” tanya Adimas terdengar serius dan penuh tekad.


Kanaya melihat ke dalam kotak kaca yang berisi berbagai macam boneka itu; Beruang, Kelinci, Anjing, Kucing, Tikus, Bebek dan lainnya. Semua boneka tampak lucu bagi Kanaya, hingga dia bingung harus pilih yang mana.


“Terserah, yang gampang aja,” jawab Kanaya seadanya.


“Yang Kelinci bagus tuh,” ucap Adimas sebelum akhirnya dia mulai menggerakan pointer ke arah boneka Kelinci.


Tap! Hap!


Adimas menekan tombol capit dan pencapit mendapatkan ekor bulat kelinci. Lalu Adimas mulai menaikan pencapit hati-hati.


Pluk!


Akh~ sayang sekali, terlepas.


Tetapi Adimas tidak menyerah secepat itu, dia mencoba lagi dan terus.


Tack!


“Akh!” ringis Adimas lantaran tangannya ditepuk lumayan kencang oleh Kanaya. “Kenapa sih, Nay?” protesnya.


“Udah sih, gak usah batu. Ambil aja yang gampang, elah. Nyusahin diri amat lo, Dim. Lagian itu boneka nantinya bakal buat gue juga, kan?! Tenang aja, gue mah nerima aja.”


Adimas tertawa geli. “Siapa bilang buat lo, Nay? PeDe banget sih. Ya~ buat gue sendiri lah,” sahut Adimas penuh ejek.


Bibir Kanaya mencebik, kesal rasanya dipermainkan dan merasa kege-eran.


“Becanda Kanaya, jangan ngambek ... nanti cantiknya ilang.”


‘God, please save my heart,’ batin Kanaya menjerit.


Seketika, karena Kanaya dia saja –rasanya suasana jadi makin canggung. Adimas juga bingung harus gimana.


“Kalo Bebek gak apa-apa, Nay?” tanya Adimas yang sebenarnya hanya basa-basi.


“Ya udah, keliatannya itu gampang diambilnya. Kepala bebeknya gede dan agak nyembul tuh,” sahut Kanaya sependapat.


“Mirip juga sama lo,” ujar Adimas sekenanya.


“Maksud lo apa, bilang mirip sama gue?” tanya Kanaya sewot.


“Bawel?” jawab Adimas seolah bertanya.


“Si*lan lo, Dim. Ngatain gue,” sahut Kanaya kelepasan dan mendapat deheman keras dari Adimas.


“Kanaya, bahasanya!” tegur Adimas.


“Maaf.”


Jeng ... Jeng ...


Akhirnya dapat juga boneka dari mesin pencapit. Bahagia banget rasanya.


“Nih, buat lo Nay.” Adimas memberikan boneka bebek berwarna kuning tersebut pada Kanaya.


“Yey! Thank you, Dim,” ucap Kanaya kelewat senang hingga memeluk boneka bebek tersebut dengan erat.


Adimas ikut senang melihatnya, rasanya usaha dia tidak sia-sia. Tapi resenya tetap saja tidak ketinggalan. “Makasih doang nih, Nay?”


Kanaya menoleh pada Adimas dan memberikan tatapan waspada, bukan apa-apa, itu karena pikiran Kanaya yang sedang kemana-mana. Ucapan Adimas itu mirip adegan romantis yang sering dia tonton di Drama Korea, yaitu saat si cowok kasih sesuatu dan sebagai gantinya si cewek cium dia.


Hah! Gila kan, ya kali Adimas begitu. Mimpi aja sono, Kanaya.


“Apa? Lo mau apa?”


Adimas tersenyum sumringah. “Traktir makan ya, Nay? Duit gue abis,” ucapnya diakhiri dengan cengiran.


Kanaya, lo ngarep ketinggian!!


°°


T


B


C


°°


Yo~ yang suka main Danz Base, boleh di goyang jempolnya ..


Hohoh .. gw cuman suka nontonin orang main seh .. nemenin temen ..


Mohon maklum .. urat malu masih nyambung ..


Ya, paling bantar main basket .. tapi ya gitu, sama kayak Kanaya ..


Susah klo jadi orang imut, apalagi jarang olahraga ..


...


See you~


besok aja ujian ..


harap tenang, guys ..