Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 42 - Ketinggalan Berita]



Waktu terus berjalan, dan tak terasa hari terus berganti. Selama itu, Kanaya disibukkan dengan mengerjakan skripsi nya yang harus mengulang. Jejak dirinya, hanya berkutat di Perpustakaan atau Unit Apartemen dan sesekali masuk kelas.


Hal serupa juga terjadi pada dua temannya, Jani dan Adel. Mereka jadi jarang bertemu, selain saat menghadiri kelas, di luar itu hampir tidak pernah. Itupun terkadang mereka berbeda jadwal, karena memilih jam kuliah yang tidak sama. Meski begitu, mereka masih berbalas chatting di What'sup.


Lalu hingga saat ini, Kanaya belum mengetahui dengan pasti perihal Adel -sebab temannya yang satu itu tak pernah menyinggung atau bertanya soal pernikahannya. Dan dia sendiri pun enggan memulai lebih dulu, takut salah.


Sementara itu, Kanaya saat ini sedang rehat dulu sejenak. Dia memainkan ponselnya, mengecek pesan masuk atau melihat Status di What'sup. Dan saat itulah dia menemukan hal yang membuatnya sedikit jengkel, ketika melihat sebuah kiriman status dari salah satu kakaknya -Teh Dita.



Kok bisa-bisanya sih, dia gak dikabarin. Padahal acaranya besok. Lantas Kanaya langsung saja membalas pesan protes pada Teteh nya itu.


Kanaya :


Teh, kok Naya gak dikabarin klo besok Adam Aqiqah??


Mentang-mentang udh gk serumah lg, lupa sama Adeknya


Tetapi nyatanya, protesnya itu tak segera mendapat respon. Jadi Kanaya mengirim pesan serupa pada saudara lainnya, Bang Dhika dan Sofia. Sayangnya lagi, belum ada juga yang membalas pesannya.


Dia lagi diabaiin apa? Jadi berasa Putri yang terbuang, kalau gini. Nyesek!!


Meskipun begitu, Kanaya tak benar-benar marah. Dia malah menjelajah Online Shop dan mencari sesuatu yang kira-kira cocok untuk sang keponakan pertamanya.


Kado untuk bayi, begitu yang dia ketik di laman pencarian. Lalu keluar banyak barang sebagai pilihan untuknya, mulai dari; Kereta Bayi, Pakaian, Set Alat Mandi, Set Alat Makan, Tempat Tidur, Mainan dan lainnya.


Kalau dia punya banyak uang, pengennya ngeborong dan beliin sekalian yang bagus biar awet. Tapi keperluannya juga banyak sekarang … kecuali, ada yang mau diajak patungan buat beli kado.


Kira-kira duit siapa ya, yang bakal dia palak?


Kanaya beranjak dari tidur tengkurapnya ketika mendengar ada seseorang baru saja memasuki apartemen.


Rezeki istri sholehah~ Suaminya pulang!!


Kanaya keluar dari ruang studi dan menghampiri sang suami untuk menyambut kedatangannya, selain karena ada maksud lain.


"Mas mau makan sekarang atau nanti?" tanya Kanaya setelah dia mencium tangan Suaminya dan membawakan barangnya.


"Udah laper sih ini, Neng," jawab Adhi.


"Ya udah, aku langsung siapin makanan."


Adhi mendehem sekaligus mengangguk. "Mas mau mandi aja dulu kalo gitu."


o o o o o o o


Setelah menemani suaminya makan, Kanaya lanjut mengerjakan Skripsi nya dulu -menunggu waktu yang tepat sebelum merealisasikan maksud dan tujuannya. Di tengah itu, ponselnya bergetar dan ada panggilan masuk dari Teh Dita. Akhirnya!!


"Ya halo, Assalamu'alaikum," jawab Kanaya dengan nada malas-malasan.


'Waalaikumsalam, Neng. Apa kabar?' jawab Teh Dita dan berbasa-basi.


"Alhamdulillah, baik Teh. Keluarga di sana apa kabar?" Kanaya menanyakan hal serupa.


"Alhamdulillah, baik juga," jawab Teh Dita sekenanya. "Eh~ besok datang ya, ke aqiqahan Adam. Jangan lupa bawa kado," pintanya tanpa sungkan.


Tetehnya ini gak ngerasa salah apa sama dia? Mana gak tau malu, malah malak.


Kanaya hanya mendehem.


"Nay!" panggil Teh Dita karena tak ada sahutan lainnya. "Gue udah kabarin ke laki lo kemaren," imbuhnya memberitahu. "Emang lo belum dikasih tau?"


"Masa? Mas Adhi gak ada ngomong tuh," jawab Kanaya masih setengah percaya.


"Iya, tanya aja gih sana~ atau barang kali, laki lo lupa."


"Ya udah," ucap Kanaya singkat.


"Perasa benget sih, Nay … baru gitu udah ngambek," komentar Teh Dita.


"Kagak, Eneng kesel aja. Semenjak udah nikah dan gak serumah, berasa gak diperhatiin sama keluarga," keluh Kanaya.


"Ya~ begitulah lah Neng, namanya juga udah rumah tangga … punya urusan masing-masing. Kamu juga pasti sibuk kan? Kita di sini juga sama, apalagi Teteh sama Ibu yang udah punya punya anak -harus diurus kebutuhannya. Jangankan bayi atau anak kecil, model si Dhika aja masih nyusahin," balas Teh Dita. "Nanti kalo udah waktunya, kamu juga bakal ngerasain kok jadi orang tua."


Kanaya masih membalasnya dengan deheman. Dia tak memikirkan kata-kata untuk menjawab, karena saat ini dia sedang berpikir tentang yang Tetehnya omongin -soal punya anak atau jadi orang tua.


"Kalo kamu kangen, kan tinggal main ke rumah -masih satu kota ini. Atau seenggaknya sering-sering telepon," nasihat Teh Dita.


"Iya."


"Ya udah, yang penting besok dateng. Tapi jangan telat, kalo bisa pagian -biar bantuin masak," titah Teh Dita.


"Tadi dimintain kado, sekarang diminta tenaga juga," komentar Kanaya.


"Tenang aja Nay, nanti giliran lo … pasti Teteh bantu kok," jawab Teh Dita. "Dah ya, ini Teteh mau nyusuin Adam dulu. Wassalamu'alaikum," potong Teh Dita.


"Ya, Waalaikumsalam."


Setelahnya Kanaya segera mencari sang suami yang ternyata sedang berada di ruang tamu, bukan sedang menonton, tetapi berkutat dengan laptopnya. Sejenak Kanaya terpaku melihat sosok Suaminya yang tampak berbeda hanya dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya, sang suami makin keliatan pintar.


"Mas ngapain?" tanya Kanaya yang ikut duduk bersila di lantai -disebelah Suaminya- dan melirik ke layar laptop.


Sang suami menoleh, namun tanpa disangkanya … dia malah mendapat tatapan waspada dan penuh selidik. Selain itu, Suaminya juga langsung menutup layar laptopnya.



Dan lantas, itu malah membuat Kanaya balik mencurigai sang Suami. "Mas ngapain?! Kok pake di tutup-tutupin segala?"


"Gak seperti yang kamu pikirin atau yang pernah kamu lakuin sebelumnya," jawab Adhi dan mendorong laptopnya menjauh dari sang Istri ke sisi lain meja. "Mas gak suka nonton drama kebablasan romantis, kayak kamu," imbuhnya.


Kanaya mendengus, dia cukup merasa tersentil. "Terus apaan?" tuntutnya menghendaki jawaban.


"Soal ulangan."


"Ya elah Mas, gak bakal kepake kali sama Eneng. Orang gak ada pelajarannya juga," dalih Kanaya.


"Tetap saja gak boleh, ini rahasia dan privasi … jadi jangan ngeyel," tolak Adhi. "Kamu mau ngapain ke sini? Emang udah selesai revisinya?"


Kanaya langsung memasang wajah cemberut ketika disinggung soal revisi skripsinya. "Belom, nanti aku lanjutin lagi. Tapi aku mau ngomong sesuatu dulu."


"Apa?"


"Mas pake kacamata makin keliatan kayak orang pinter," komentar Kanaya sebagai permulaan.


"Dukun gitu, maksudnya?"


Kanaya mendesis, serangan pertamanya gagal.


"Kamu mau apa? Kalau sudah begini kelakuannya, pasti ada sesuatu," tebak Adhi dan sepenuhnya benar.


"Enggak," elak Kanaya. "Itu … Teh Dita bilang, katanya Mas ditelepon soal Aqiqahan Adam," ujar Kanaya.


"Iya, terus?"


"Emang belum, ya?" Adhi bertanya balik.


Kanaya menggeleng kuat.


"Lah … Mas kira kamu udah tau duluan," jawabnya tak merasa salah. "Nah … sekarang udah tau, terus apa lagi masalahnya?"


"Teh Dita bilang, datangnya lebih awal."


"Iya, bisa. Ada lagi?" tanya Adhi seakan tau kalau ucapan sang Istri masih belum tuntas.


"Kita mau kadoin apa buat Adam?"


"Kita? Kamu aja kali, Mas enggak," jawab Adhi dan mendapat tatapan heran dari Kanaya. "Mas udah beli duluan."


"Masa? Beli apaan?!"


"Kereta Bayi Lipat."


"Terus mana? Eneng mau liat," pinta Kanaya.


"Ada di bagasi mobil."


"Yah~ kok Mas udah beli duluan, sih? Gak nunggu aku, kan Eneng mau nebeng."


Adhi tersenyum. "Ya udah, bareng aja."


"Beneran?" tanya Kanaya senang, lantaran tak harus keluar uang.


"Iya … tapi," jeda Adhi. "Ada syaratnya," sambungnya.


Kanaya paham dah itu, gak ada yang gratis. "Apa?" tanya sedikit was-was, takut permintaan Suaminya nanti aneh-aneh.


"Masakin Soto Ayam kayak pas yang pertama kamu masak di sini," pintanya.


Kanaya bernafas lega. "Ah~ itu mah gampang."


"Oh … itu ke gampangan, ya?" goda Adhi. "Ya udah, ganti deh."


"Eeee~ gak bisa begitu dong, Mas. Kan udah deal," protes Kanaya.


"Kapan?"


"Ya, pokoknya gak boleh ganti-ganti!"


"Gak adil dong buat Mas, kamu bilang kegampangan. Tapi itu Mas nyari kadonya susah, kudu muter-muter dulu," dalih Adhi.


Kanaya mengalah. Biar bagaimanapun, Suaminya sudah keluar uang banyak untuk beli kadonya. "Ya udah, apaan?"


Adhi tersenyum, tetapi lebih seperti memiliki arti lain. "Nanti temenin Mas begadang, setelah ini," ucapnya.


"Emang abis ini, Mas masih ada kerjaan lain?"


"Iya, ada ____ Di kamar."


Ya ampun~ ternyata maksudnya ___!!!


Kanaya tak dapat berkata kasar.


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Mas nya minta apa, Neng?


Btw, nanti dikasih gak?


🙈🙈🙈


O X O X O X O X O


Hi~ mau kasih tau nih!!


Buat kalian yang mau jadi TAMU SPESIAL di ACARA RESEPSI PERNIKAHAN KANAYA & ADHI -yang akan datang. Sekaligus ucapan terima kasih aku, atas dukungan kalian.


Jadi aku mau buat Kartu Undangan, dan nantinya … kalian yang masuk JUMLAH VOTE 10 BESAR, nama kalian akan aku cantumin di sana.


Wkwkwk …


Dasar aku!!


Bisa aja buat permintaan terselubung.


Maafkeun


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


*) event berlangsung sampai dengan informasi selanjutnya.


Jadi semangat ya~~


x x x x x


Makasih udah baca dan dukungannya^^


See you~