
Di kediaman Harisdarma, keluarga itu tengah bersantai bersama menikmati Es Sirup dan buah potong di ruang makan sembari menunggu kedatangan tamu mereka.
Semua anggota keluarga yang saat ini berkumpul merupakan satu persekongkolan, termasuk Sofia –anggota termuda yang baru bergabung saat sarapan pagi tadi karena ikut mendengar percakapan anggota keluarganya dan tentu saja minus Kanaya saat itu.
“Kanaya kapan balik, Bu?” tanya Pak Haris sekembalinya sang Istri yang baru saja menghubungi putri ke tiganya.
“Tadi temannya yang angkat, tapi udah disampein biar cepet pulang,”jawab Ibu dan ikut bergabung duduk bersama menikmani kudapan segar.
“Bu, emang Teh Naya beneran mau dinikahin? Kan masih kuliah,” tanya Sofia sembari memakan Melon dengan garpu.
“InsyaAllah, kalo emang udah jodohnya,” jawab Ibu.
“Iya, terus abis itu kamu,” sahut Dhika menimpali.
“Ish~ Abang nih, Sofi kan masih kecil. Aturankan Abang duluan, malah harusnya sebelum Teh Naya juga,” balas Sofia.
“Nanti kamu kangen Abang lagi,” jawab Dhika.
“Euwh~ Ogah!! Never ya,” sanggah Sofia telak.
“Hah~ Teteh pun pengennya si Dhika duluan yang minggat dari rumah, Dek,” ucap Teh Dita.
“Gak pada seneng banget sama gue. Udahlah, mending gue cabut aja,” ujar Dhika layaknya orang mengambek dan beranjak dari kursinya.
“Mau kemana, Dhik?” tanya Teh Dita.
“Minggat!” jawab Dhika.
“Bagus~ gak usah balik sekalian, kecuali bawa Bubur Ayam,” ledek Teh Dita.
“Teh, kalo gitu berarti lo nyuruh gue gak pulang sampe besok pagi. Udah siang gini mana ada Bubur Ayam, yang bener aja!” sahut Dhika.
“Terserah,” jawab Teh Dita seakan tak mau tau.
Di tengah perseteruan Kakak beradik itu, suara bel mengintrupsi mereka.
“Buka pintu gih sana,” titah Teh Dita.
“Ish!!” desis Dhika namun dia tetap pergi untuk membuka pintu.
Dhika berjalan keluar untuk membuka pintu gerbang. “Siapa?” tanya Dhika pada seorang pria.
“Apa benar ini rumahnya Pak Harisdarma?” tanya pria itu.
“Iya,” jawab Dhika. “Maaf ada perlu apa ya?” tanyanya.
“Saya Adhiandra, anaknya Ibu Ranti,” jawab pria bernama Adhi itu.
Dhika memperhatikan tamu pria di hadapannya dari atas sampai ke bawah. ‘Tua banget calonnya si Nay, udah kayak Bang Rio,’ gumam Dhika sebelum mempersilahkan masuk.
○ ○ ○
Adhi menghentikan mobilnya di depan rumah yang alamatnya sesuai dengan yang tertera pada layar GPS nya dan rumah ini benar-benar persis di sebelah rumah dari mahasiswi bimbingannya, kalau diingat-ingat sepertinya ini rumah yang sama saat dia mengantar Ibunya pergi arisan.
‘Ch! Jadi sejak saat itu semua perihal perjodohan ini dimulai,’ gumam Adhi.
Dia keluar dari mobil, namun malah menyambangi rumah sebelah –yang diduganya sebagai rumah dari mahasiswi bimbingannya– dan melirik sebentar sebelum kembali lalu membunyikan bel.
Tak lama pintu dibuka, seorang pria yang keluar dan bertanya padanya, “Siapa?”
“Apa benar ini rumahnya Pak Harisdarma?” tanya Adhi memastikan apa tujuannya sudah benar.
“Iya,” jawab pria itu. “Maaf ada perlu apa ya?” tanyanya.
“Saya Adhiandra, anaknya Ibu Ranti,” jawab Adhi memperkenal dirinya.
Adhi menautkan alisnya, menatap tak nyaman pada pria yang memperhatikannya dari atas hingga ke bawah. Belum lagi dengan gumaman tak jelas pria itu yang rasanya seperti dia diolok, gak sopan!
“Silakan masuk, Mas,” ucap pria itu mempersilakannya memasuki rumah.
“Ya, terima kasih,” ucap Adhi.
Adhi diminta menunggu dan duduk di ruang tamu, sementara pria tadi kembali masuk –tampaknya hendak memanggil orang tuanya. Tak lama pria dan wanita paruh baya keluar, lalu menyambutnya. Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
“Jadi ini putra sulungnya Pak Efendi? Kok datang sendiri aja?” tanya Pak Haris.
Okay, introgasi dimulai.
Umur berapa? Kerja apa? Tinggal dimana? ___???
Pertanyaan demi pertanyaan tidak henti dilontarkan oleh Pak Haris pada Adhi, hingga sang istri datang sembari membawa minum dan kudapan.
“Pak, udah atuh,” ucap Ibu Nurlela pada sang suami. “Nak Adhi, ini diminum sama makan dulu,” tawar Ibu Nurlela.
“Terima kasih, Bu,” ucap Adhi dan meminum Es Sirup untuk melonggarkan tenggorokannya yang kering.
“Jadi di umur segini Nak Adhi masih melajang? Belum pernah sama sekali menikah?” tanya Ibu Nurlela kali ini.
Masih belum selesai pemirsa, lanjut sesi dua.
“Iya, Bu. Tapi bukan juga saya belum pernah sama sekali menikah, saya pernah akan menikah –tapi gagal saat itu,” jawab Adhi namun nada suara dan raut wajahnya terdengar tak nyaman saat membahasnya.
Bu Nurlela yang menyadarinya, beliau tidak membahas kembali topik itu. “Kalau begitu silakan dilanjutkan pembicaraannya dengan nyaman, Ibu mau ke belakang lagi. Permisi,”ucap Ibu Nurlela pamit.
Ibu Nurlela memasuki kamarnya dan mengambil ponsel, lalu beliau menghubungi putri ke tiganya.
“Waalaikumsalam, kamu dimana Neng?” tanyanya setelah panggilannya diangkat. “Kalo gitu buruan ya, udah datang soalnya tamunya,” imbuhnya. “Ya, hati-hati.”
Tak lama setelah itu Pak Haris masuk. “Bu, tolong siapain baju buat ngajar,” ucap sang suami.
“Loh, ini masih jam berapa? Bapak udah mau berangkat aja. Itu Nak Adhi -nya gimana? Masa ditinggal sendirian,” ujar Ibu.
“Ya~ dia ikut juga,” jawab Pak Haris enteng.
“Mau diapain Pak? Jangan macem-macem ya,” peringat Bu Nurlela pada suaminya.
“Emang Bapak ngapain, Bu?” tanya Pak Haris merasa tak punya salah.
“Eee~ si Bapak, jangan pura-pura gak inget. Waktu Rio pertama kali datang, dia hampir aja gagal nikahin Dita gara-gara dikerjain Bapak,” ucap Ibu Nurlela mengingatkan suaminya.
“Ya~ harus Bapak teslah, biar anak kita gak salah pilih pasangan,” jawab Pak Haris membela.
“Ya sudah, terserah Bapaklah. Ini,” jawab Ibu Nurlela pasrah dan memberikan baju ganti untuk suaminya.
“Bapak jalan dulu ya, Salamualaikum,” pamit Pak Haris.
“Waalaikumsalam,” jawab Bu Nurlela dan mencium tangan suaminya.
◦
◦
◦
Kanaya segera pulang karena dia ditelepon Ibunya saat masih di kosan Jani, kini dia sedang dalam perjalanan ke rumah dengan Oj-Ol.
Siapa sih yang dateng? Orang sepenting apa sampe semua keluarganya harus ngumpul? Apa Nenek sama Kakeknya yang dateng? Tapi masa iya, sampe maen rahasia-rahasiaan sama dia.
Di saat dirinya sibuk memikirkan dan menebak-nebak siapa gerangan tamu yang datang, ponselnya berdering dan itu panggilan dari Ibunya lagi.
“Halo Assalamualaikum, ada apa Bu?” tanya Kanaya. “Ini lagi di jalan pulang kok,” jawabnya. “Iya Bu.”
Kanaya menaruh kembali ponselnya dalam tas. “Bang, bisa tolong agak cepetan? Soalnya saya lagi ditunggu,” pinta Kanaya pada pengendara Oj-Ol.
“Iya Mbak, siap!” jawan si Abang Oj-Ol dan mengaskan motornya.
Kanaya akhirnya sampai dalam beberapa menit kemudian, selain karena titiknya saat itu sudah tak terlalu jauh dari rumah.
“Terima kasih, Mbak,” ucap sang Abang Oj-Ol ketika menerima uang ongkos.
“Ya, sama-sama Bang,” jawab Kanaya dan dia masuk ke rumahnya.
Kanaya hampir saja menabrak mobil yang terparkir dekat pintu gerbang, jika dia tak hati-hati sangking tergesa-gesanya dia masuk untuk segera melihat orang yang bertamu ke rumahnya.
“Mobil siapa si nih? Parkir mepet banget sama pintu,” gerutu Kanaya sembari memperhatikan mobil berwarna hitam itu. Lalu dia seperti menyadari sesuatu, “Perasaan kayak pernah liat deh, mobil ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Tetapi Kanaya tak berlama-lama di sana, dia menutup kembali pintu gerbang dan berjalan masuk ke rumahnya. Namun saat dia melewati mobil tersebut, Kanaya melihat sang Ayah.
“Pak mau kemana?” tanya Kanaya dan mencium punggung tangan sang Ayah.
“Mesjid, abis itu ngajar,” jawab Pak Haris.
“Jam segini? Getol amat Pak,” ledek Kanaya.
“Haruslah, guru kan jadi contoh ke muridnya,” jawab Bapak.
“Iya dah~ Pak Gur ...,” ucapan Kanaya terpotong ketika melihat sosok di belakang sang Ayah, dia terkejut –begitu juga dengan orang tersebut. “Loh? Kok Bapak ___.” Kanaya berpikir keras untuk bicara, tapi rasanya nama yang hendak dia sebut dan sudah ada di ujung lidahnya tak dapat keluar.
“Ini Adhiandra, anaknya Ibu Ranti dan Pak Efendi. Kamu kenalkan dengan orang tuanya?” tanya Pak Haris. Kanaya hanya dapat mengangguk sebagai jawaban, lidahnya terlalu kelu untuk bicara –sementara di depannya ada sang Dosen yang masih belum dia tau apa tujuannya datang ke rumahnya. “Nak Adhi, ini putri ke tiga saya –Kanaya,” imbuh Pak Haris kali ini memperkenalkan putrinya.
“Ah iya, Pak,” jawab Pak Adhi singkat. Dia sama sedang berpikirnya, apa yang terjadi saat ini.
“Kalian bisa kenalan lagi nanti, sekarang Bapak sama Nak Adhi mau jalan dulu. Dah ya Neng, siap-siap sana,” ucap Pak Haris dan pergi –diikuti Pak Adhi di belakang.
Kanaya masih terpaku sepeninggalan Ayah dan Dosennya, dia masih mencerna apa yang baru saja dia alami. Namun dia segera berlari masuk. “Ibu!!” teriaknya memanggil sembari mencari-cari keberadaan Ibunya.
“Ya, Ibu di dapur,” sahut Ibu Nurlela.
Kanaya segera berlari ke dapur. “Bu!” panggilnya lagi saat menghampiri Ibunya.
“Ih~ ini kenapa lari-lari teriakan gini?” tanya Ibu Nurlela.
“Bu, kasih tau Eneng. Ini sebenernya ada apa? Kok ada itu orang ___,” ucap Kanaya terburu-buru meminta penjelasan.
“Sabar, duduk dulu,” potong Ibu Nurlela menenangkan putrinya yang baru datang. “Ini minum,” tawarnya memberikan segelas air dingin dan Kanaya segera meminumnya.
Dugh!
Kanaya meletakan gelas di meja cukup keras setelah menandaskan isinya. “Bu, jelasin ke Eneng. Itu siapa? Kenapa ada disini?”
Ibu Nurlela tersenyum kikuk sebelum mulai bicara. “Jadi kamu udah ketemu sama Nak Adhi?” tanya Ibu.
“A ... Adhi?” ulang Kanaya menyebutkan nama yang sempat tak dapat disebutnya karena sebelumnya dia tak percaya dengan penglihatannya.
“Iya, jadi itu anaknya Ibu Ranti sama Pak Efendi yang pernah main ke sini,” jelas Ibu sama seperti apa yang dikatakan Ayahnya. Namun tampaknya tadi Kanaya tak benar-benar mendengarnya, karena tak dapat menguasai diri.
“Siapa namanya tadi?” tanya Kanaya memastikan.
“Adhi,” jawab Ibu.
“Bukan, nama panjangnya,” pinta Kanaya lagi.
“Adhiandra Putra Darmawan,” jawab Ibu perlahan.
‘Oh My God, ini cuman kebetulan orang sama namanya aja –kan yang mirip?’ batin Kanaya masih menyangkal.
“Kerjaannya apa, Bu?” tanya Kanaya lagi.
“Dia Dosen. Dan ternyata dia ngajar di kampus kamu, Neng,” jawab Ibu sumringah.
“Terus Pak Adhi mau ngapain ke sini?” tanya Kanaya kembali serius.
“Ya~ buat kenalan,” jawab Ibu masih tak mau blak-blakan.
“Udah?” pancing Kanaya.
“Ya~ kalo cocok mungkin aja bisa lebih serius.”
“Siapa yang mau dijodohin?” tanya Kanaya langsung to the point.
“Ya~ ya, kamu.”
“Kok bisa aku sih, Bu? Kan Eneng masih kuliah. Kenapa gak Bang Dhika aja?” protes Kanaya.
“Ya, karena Nak Adhi kan laki-laki. Masa dipasangin sama Abang kamu sih,” sahut Ibu yang tak paham dengan pertanyaan putrinya.
“Bukan, kenapa Eneng duluan gitu. Kan kali aja, buat Adek atau saudaranya Pak Adhi,” sungut Kanaya.
“Saudaranya ada satu yang belum nikah, tapi itu juga cowok –Adek bungsunya,” beritahu Ibu Nurlela.
“Ya udah, sama Sofi aja. Pas kan tuh, sama-sama bontot.”
“Hush! Ngaco kamu, Neng. Sofi masih SMP, budak kencur mau dinikahin sama lalaki seumuran kamu,” omel Ibu.
“Terus Eneng apa? Dinikahin sama cowok yang seumuran sama suaminya Teh Dita, nikah sama Om-Om?” ujar Kanaya meluap-luap. “Enggak! Pokoknya Eneng gak mau dinikahin atau dijodoh-jodohin, apalagi tiba-tiba kayak gini.”
“Kenalan dulu, Neng,” ucap Ibu menenangkan.
“Enggak, Eneng gak percaya. Lagian kenapa buru-buru amat sih? Kenapa juga harus sama Pak Adhi? Dia itu dosen Eneng, Bu.” Kanaya masih bersikeras. “Bapak gak bangkrut, kan? Terus punya utang sampe jual Eneng buat ngelunasinnya,” tuduh Kanaya seperti yang sering dia baca atau nonton dalam cerita juga drama.
“Astagfirullah, enggak Neng. Gak sampe kayak gitu,” jawab Ibu sedikit kaget.
“Terus kenapa, Bu? Janji? Wasiat?” lanjut Kanaya.
“Enggak ada yang kayak begitu-begitu juga, itu murni tanpa ada maksud tertentu dan tiba-tiba aja.”
“Maksud Ibu?”
“Jadi ___,” Ibu Nurlela ragu-ragu untuk bicara. “Kamu tau kan, Bu Ranti?” tanya Ibu dan Kanaya mengangguk. “Jadi Bu Ranti ada ngomong sama Ibu, awalnya dia nanya –ada anak gadis gak yang buat dikenalin ke anaknya. Terus ya Ibu jawab, kalau Ibu ada tiga putri tapi yang pertama udah nikah, yang ke dua masih kuliah dan yang bungsu SMP. Abis itu kalian mulai nyapa Bu Ranti kan pas acara Arisan Pengajian itu, dan yang terakhir ketemu dan cerita sama Bu Ranti itu kamu,” jelas Bu Nurlela dan Kanaya masih menyimak.
“Terus?”
“Nah, kalian cerita soal masakan-masakan. Mungkin aja pas itu Bu Ranti mulai tertarik sama Eneng dan jadinya ngajak Eneng buat masak di rumah anaknya,” imbuh Ibu
Dan kali ini Kanaya mulai paham akar permasalahannya.
Jadi biang keroknya itu, ya, ulah dia sendiri gitu?
Karena Bu Ranti suka masakannya terus dibagiin ke keluarganya dan cocok, terus dia mau dijadiin koki resmi keluarganya.
Kanaya menghela nafas.
Selama ini dia gak sadar dengan tingkah Ibu Ranti yang mendekatinya dan kelakuan aneh keluarganya akhir-akhir ini, karena dia sibuk dengan Pak Adhi sendiri dengan alasan skripsi. Namun ternyata ujung-ujungnya malah begini.
“Neng, mending sekarang Eneng bersih-bersih terus sholat. Udah masuk waktu Ashar ini,” saran Ibu.
Kanaya terhenyak dari lamunannya yang dalam karena teguran Ibu, selain juga karena kumandang azan saat ini.
Tunggu! Kayak kenal deh ini suara. Jangan bilang yang lagi azan sekarang ... Pak Adhi!!
◦ ◦ ◦
Sepertinya dia memang butuh penyegaran dan ketenangan, rasanya lebih baik setelah dia mandi, sholat dan berdzikir. Saat ini Kanaya sedang berbaring di tempat tidur sembari menatap langit-langit, lalu entah dorongan dari mana –dia ingin menggapainya. Dan saat itu dia melihat benda yang melingkar di lengannya, gelang pemberian Adimas.
Kanaya tersenyum nanar menatapnya.
Gak habis pikir rasanya, dia yang bertahun-tahun naksir sama tetangga sebelah rumahnya –terus jadian dan marahan. Tapi ini malah dijodohin sama Dosen kelas sebelah, yang sekarang merangkap jadi Dosen Pembimbingnya.
“Neng, lagi ngapain? Bisa keluar sekarang?” panggil Ibu disertai ketukan pintu lembut.
“Iya Bu,” jawab Kanaya dan beranjak bangun, lalu keluar.
“Ayo, itu tamunya sudah balik sama Bapakmu,” ucap Ibu memberitahu.
Namun tanpa diberitahu Kanaya bisa mengetahuinya dari keributan di depan yang terdengar sampai ke kamarnya ini. Tampaknya Pak Adhi bisa ngerebut hati Bapaknya dan mendapat lampu hijau, tetapi buat Kanaya artinya lampu kuning –dia harus waspada.
Kanaya mendatangi ruang tamu, tempat sang Ayah dan Dosennya mengobrol akrab.
“Eee~ Neng, disiapin dulu makan sama minumannya. Dah sore ini, barang kali Nak Adhi sudah lapar,” ucap Pak Haris.
“Ehhh ... gak usah repot-repot Pak,” jawab Pak Adhi sungkan.
“Iya Pak,” jawab Kanaya patuh dan kembali ke belakang sesuai permintaan Ayahnya dan memberitahu Ibunya.
Dibantu Teh Dita dan Sofi, Kanaya menyiapkan makanan bersama. Mereka menghangatkan kembali lauk dan menghidangkannya di meja.
“Panggil Bapak sama Nak Adhi –nya, Neng,” titah Ibu yang tampaknya sudah selesai menata meja.
Nasi Liwet Ikan Asin, Ayam Ungkeg Goreng, Sayur Daun Singkong, Lalapan, Gorengan, sambal dan terakhir adalah makanan favorit Bapak –Tumis Jengkol.
‘Hmmm~ kayaknya dia dapat ide deh,’ gumam Kanaya dan tersenyum jahil.
“Pak, makanannya udah siap,” beritahu Kanaya.
“Ayo, Nak Adhi ... kita makan dulu,” ajak Pak Haris.
Kini mereka semua sudah duduk di meja makan.
“Neng, disendokin atuh nasi buat Nak Adhi,” titah Bapak.
Kanaya melotot karena terkejut, namun dia tetap melakukan permintaan Bapaknya itu. Kanaya mengisi piring untuk Pak Adhi dengan lauk komplit, termasuk senjatanya –Jengkol. “Silakan dimakan, Pak Adhi. Nanti kalau mau nambah, bilang aja,” ucap Kanaya.
“Iya, terima kasih Mbak Kanaya,” jawab Pak Adhi.
Mereka makan dengan tenang, meski sesekali sang Ayah mengoceh. Namun dibalik itu, Kanaya tetap memperhatikan gerak-gerik Pak Adhi –salah satunya Jengkol yang sama sekali belum tersentuh dan tampak dipinggirkan.
“Pak Adhi, Jengkolnya mau nambah? Ini masakan kesukaan Bapak saya loh,” ujar Kanaya sembari menambahkan Jengkol ke piringnya sendiri dan makan dengan lahap.
“Iya, makasih Mbak Kanaya. Ini juga masih ada,” dalih Pak Adhi.
Namun sedetik kemudian dia mendapat tatapan dari keluarga tersebut. Merasakan betul hujaman di sekelilingnya, mau tak mau –dia terpaksa memakan daging lunak itu. Yang bisa dibilang pengalaman yang kembali dia rasakan setelah sekian lama. ‘Bismillah,’ ucapnya dalam hati.
Kanaya memperhatikan dengan seksama, Pak Adhi yang baru saja memasukan sepotong Jengkol dalam mulutnya. Butuh beberapa saat sebelum Pak Adhi mengunyah, lalu beliau tampak terdiam lagi dan kembali makan termasuk menyendok Jengkol untuk ke dua kalinya.
Huh~ salahkan masakan Ibunya gak bisa ditolak dah.
Rencananya gagal!
◦ ◦ ◦
Setelahnya acara bincang-bincang kembali berlanjut, bahkan Teh Dita dan Bang Dhika ikut nimbrung. Sementara Kanaya cuman diam menyimak, seperti Sofi. Dan baru setelah sholat Isya, Pak Adhi pamit pulang. Lalu Kanaya diminta untuk mengantar, ya ampun! Udahlah ini, lampu merah buat Kanaya.
“Terima kasih, saya sudah dijamu dengan baik,” ucap Pak Adhi. “Terutama pas saya dipaksa makan Jengkol sama kamu, membekas sekali loh sampai sekarang,” imbuh Pak Adhi lalu menghembuskan nafasnya dan ditahan dengan telapak tangan didepan mulutnya. “Ini pertama kali loh, saya makan Jengkol gak bau-bau amat dan nambah,” akunya. “Mungkin nanti Mbak Kanaya bisa masakin buat saya dan bawa pas bimbingan,” godanya dan mendapat pelototan dari sang mahasiswi.
“Sama-sama Pak,” jawab Kanaya seadanya.
“Kamu gak sabar banget pengen saya cepet pulang, ya?” tanya Pak Adhi yang peka ini.
Atau mungkin tampak Kanaya yang kayak Ibu kontrakan ngusir penghuni nunggak uang sewa.
“Silakan dipikirkan matang-matang, Mbak Kanaya,” ucap Pak Adhi tiba-tiba dengan nada bicara yang terdengar bijak. “Begitu juga dengan saya. Meskipun orang tua kita sudah setuju, tetapi yang akan menjalankannya adalah kita.” imbuhnya.
“Iya Pak,” jawab Kanaya namun sebenarnya dia hanya basa-basi, karena jawabannya sudah mutlak dan bulat –TIDAK!
“Dan ... lusa jangan canggung saat ketemu dengan saya, apalagi menghindar dan absen bimbingan. Lakukan biasa saja, seperti sebelumnya. Pisahkan kehidupan pribadi dan sosial kamu,” ujar Pak Adhi mewanti-wantinya.
“Iya Pak,” jawab Kanaya masih belum berubah.
“Penurut banget kamu ya, kata Ibu saya –itu calon idaman banget,” ujar Pak Adhi dan tersenyum.
“Enggak Pak!!” tolak Kanaya cepat.
“Ya ampun~ rasanya saya kayak baru aja denger jawaban penolakan kamu, deh,” sahut Pak Adhi berlaga layaknya orang patah hati. “Baik, kalau begitu saya pamit. Sampai jumpa lagi, Assalamualaikum,” pamitnya dan memasuki mobil.
“Waalaikumsalam,” jawab Kanaya dan baru setelah itu Pak Adhi menutup pintu mobilnya.
Kanaya menunggu Pak Adhi pergi karena dia harus menutip pintu gerbang.
Tin ... Tin ...
Kanaya berlonjak kaget karena suara klakson, namun karena itu Pak Adhi mendapatkan perhatian mahasiswinya kembali.
“Tidur yang nyeyak, jangan dipikirin,” ujarnya. “Dah ya, saya pergi,” ucap Pak Adhi dan melambaikan tangan sebelum menutup kaca mobilnya dan pergi.
Sementara Kanaya, tanpa sadar tangannya masih melambai ke arah mobil Pak Adhi yang perlahan mulai menjauh.
“Ugh! Apaan banget dah gue, alay!” gerutu pada diri sendiri sebelum masuk dan menutup pintu gerbang.
●
T
B
C
●
Gimana ya, kira-kira keputusan Kanaya dan Pak Adhi plus Dimas?
>>>
Dipart ini jadi titik balik kayak yg di deskripsi awal kan .. alias alasan yang melatarbelakangi perubahan tiba-tiba status Kanaya sebagai istri dosen.
×××
Btw, aku mau minta maaf mewakili Jani yang iseng di part sebelumnya.
Mohon maaf atas segala kerusakan Jantung atau ponsel yang hampir hancur lebur juga gangguan tidur ..
Kali ini aku ganti dengan kirim pic yang enak, siapa tahu ketagihan macam Pak Adhi yang kepincut Jengkol Tumis Kanjeng Mami Nurlela.
😋😋😋
•••
Makasih sudah membaca dan dukungannya.
Like, Vote and comments.
See You~