
Sementara itu di luar, ada tiga mobil yang terparkir di depan rumah Kanaya –tampaknya rombongan tersebut cukup banyak dan mobil yang paling depan dinaiki oleh keluarga Pak Efendi.
Adhi, dengan kemeja bermotif batik warna biru –dia keluar dari pintu penumpang depan.
Bersama dengan rombongan, Adhi melangkah mantap memasuki kediaman Harisdarma dan di dekapannya dia membawa bingkisan untuk seserahan lamaran.
Di depan pintu mereka sudah ditunggu dan disambut dengan ramah, lalu dipersilahkan masuk –sembari dihidangkan kudapan dan minuman. Setelahnya keluarga Adhi tak lupa menyerahkan seserahan.
“Terima kasih, banyak sekali ini bawaannya,” ucap Pak Haris dan menerima seserahan dari keluarga Adhi. “Ayo, silahkan duduk dan dinikmati kudapannya,” tawarnya. “Bu, panggil si Eneng,” bisik Pak Haris pada istrinya.
Ibu Nurlela mengangguk patuh dan hendak masuk untuk memanggil sang putri, namun sudah dicegat oleh Kakak Iparnya.
“Biar Teteh yang panggil, kamu temenin tamu aja,” ucap Uwa Entin.
“Makasih Teh,” bisik Ibu Nurlela.
Uwa Entin mengangguk dan berjalan masuk menuju kamar Kanaya.
“Buru! Udah dateng itu calon besannya,” ujar Uwa Entin memberitahu. “Terus dirapihin lagi make-up si Naya,” titahnya dan kembali menghilang.
Jantung Kanaya berdegup bukan main, bahkan keringatnya mulai timbul hingga perlu lebih lama membetulkan make-up nya. Lalu Uwa Entin kembali masuk untuk membawa Kanaya keluar.
“Mana? Udah belom?” tanya Uwa Entin.
“Belom Wa’, ini si Tetehnya keringetan mulu,” jawab Sofia.
Uwa Entin mendekati Kanaya dan melihatnya. “Udahlah, ini gak apa-apa. Wajar, dia gugup,” ucapnya. “Neng, tenang aja ... kamu nanti Uwa pegangin terus –gak bakal dibawa sekarang kok,” ledek Uwa Entin.
Kanaya terkekeh. “Iya Wa,” jawabnya dan ikut keluar menemui keluarga Pak Adhi.
Di ruang depan, sudah banyak orang yang duduk. Lalu ada Bang Dhika sebagai MC sedang membaca susunan acara, kemudian sang Ayah yang mengambil alih menanyakan maksud kedatangan dari keluarga Pak Adhi. Sementara Kanaya duduk menunduk dalam diam sembari mendengarkan jawaban.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bismillhi rahmanir rahim. Perkenalkan, saya Adhiandra Putra Darmawan –putra sulung dari Bapak Efendi dan Ibu Ranti. Jadi maksud kedatangan kami kesini, khususnya saya ... adalah saya ingin melamar Putri ke tiga dari Bapak Haris dan Ibu Nurlela yang bernama Kanaya Cempaka untuk menjadi istri saya. Bersediakah kiranya Bapak/Ibu menyerahkan tanggung jawab lahir batin untuk membimbing dan menjaga putri kalian kepada saya?”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih atas niat baik Nak Adhi pada putri kami. Untuk jawabannya, akan kami tanyakan langsung pada putri kami,” jawab Pak Haris lalu kini beralih pada Kanaya. “Anakku tersayang, Kanaya –Bapak ingin tau ... apakah Eneng bersedia ikhlas menerima lamarannnya untuk menjadikan Nak Adhi sebagai suami dan membimbing Eneng nantinya?”
Kanaya berdiri dari duduknya dan menjawab, “Bismillahi rahmanir rahim dengan memohon ridho Allah Subhanahu wa ta’ala dan restu dari Bapak/Ibu, Eneng bersedia dan ikhlas menerima lamaran Pak___,” jeda Kanaya karena dicolek dan dibisikan oleh sang Ibu. Sementara hadirin tampak tersenyum menahan tawa saat ini. “Mas Adhiandra Putra Darmawan –putra pertama dari Bapak Efendi dan Ibu Ranti, sebagai suami saya nantinya,” lanjutnya.
Kanaya menghela nafas setelah menyelesaikan kalimatnya, lalu hadirin tampak bertepuk tangan dan mengucap Hamdallah.
Selanjutnya Pak Adhi dan Kanaya maju bersama, mereka berdiri saling berhadapan.
Pak Adhi mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya, cincin tunangan yang mereka pilih bersama untuk Kanaya, kini tersemat kembali di jari manis Kanaya –dipasangkan oleh Pak Adhi.
Dan hadirin tak melewatkan diri untuk mengabadikan momen bersatunya dua insan tersebut dengan kamera maupun ponsel mereka, lalu juga ikut foto bersama.
Setelahnya keluarga masing-masing saling memperkenalkan diri dan bercerita sembari menikmati kudapan yang ada. Sementara itu Kanaya tampak meninggalkan ruang depan dan berjalan menuju kamar mandi, lantaran sedari tadi menahan kebelet kencing. Setelahnya dia pergi ke dapur untuk mencari makan, dia lapar.
“Hee~ dicariin, taunya malah makan disini. Ayo!” ajak Uwa Entin.
“Makan dulu Wa, laper,” jawab Kanaya dan mencomot kue basah.
“Ya udah, kita maken bareng di depan.”
“Malu ah~ Wa, banyak orang,” dalih Kanaya.
“Ih ... masa gitu, orang mereka juga nanti bakal jadi keluarga kita.”
Kanaya masih enggan dan dia menggeleng, akhirnya Uwa Entin berbaik hati menunggunya.
“Neng!” panggil Uwa Entin dan Kanaya mendehem. “Mentang-mentang calon suaminya Dosen sendiri, manggilnya Bapak,” goda Uwa Entin pada Kanaya. “Biasain ya, manggilnya dari sekarang jangan Bapak lagi,” peringatnya.
“Hee ... si Uwa, kan Naya juga masih mahasiswinya Pak Adhi. Nanti kalo di kampus keceplosan, gimana?” bantah Kanaya.
“Ya~ biarin aja. Emang kenapa? Toh dia calon dan bakal jadi suamimu. Kalo gak gitu, kapan romantisnya coba? Emang dia Bapakmu!” pungkas Uwa Entin.
Kanaya mengerucutkan bibirnya. “Dibilangin, malah manyun! Uwa tarik nih bibirnya,” omel Uwa Entin.
“Yah ... jangan dong Wa, nanti lipstiknya ilang,” elak Kanaya.
“Nak Naya, Ibu cariin dari tadi. Ayo Nak, ada yang mau diomongin,” ajak Ibu Ranti.
“Iya Bu,” jawab Kanaya.
Setiba di ruang depan, Kanaya melihat orang-orang disana tampak sedang bicara serius. Kanaya duduk dan mendengarkan, sembari mencoba menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung.
“Kalau saya sendiri belum tau -juga memutuskan kapan waktunya, tapi saya berpikir ... lebih baik secepatnya dan tidak ditunda,” jawab Pak Adhi yang masih tidak Kanaya ketahui apa pembahasannya.
“Bapak juga berpikir demikian Nak Adhi, tapi itu juga tergatung kesiapan kita bersama –terutama dari kalian berdua,” jawab Pak Haris menambahi.
“Nah, ini Nak Naya sudah disini. Coba ditanya, dia maunya gimana?” ucap Pak Efendi.
“Ya?” tanya Kanaya yang masih belum nyambung.
“Kalo Eneng, kapan siapnya nikah sama Nak Adhi?” tanya Ibu Nurlela.
“Apa?!” respon Kanaya kaget.
Ibu Ranti tampak terkekeh, begitu juga dengan sang Putra –meski berusaha menyembunyikannya. “Iya Nak Naya, kapan mau dihalalin sama jadi mantu Ibu?” tanya Bu Ranti.
Oh~ jadi bahas tanggal nikah. Kalau dia sendiri sih, pengennya nanti-nanti aja. Mungkin setelah wisuda atau juga pas udah dapet kerja dan punya uang sendiri. Tapi apa boleh gitu? Tadi aja pada bilangnya –secepatnya. Bakal secepat apa coba?
“Emmm ... kalo Eneng mikirnya, karena ini masih ada tugas nyusun skripsi dan Pak Adhi juga ngajar terus bimbingan –jadi mungkin bisa nanti aja. Tapi terserah sih, Eneng ikut aja bagaimana baiknya,” jawab Kanaya berusaha netral dan tak memaksa diri.
“Jadi Nak Naya gak masalah ya, sama waktunya? Hanya terkendala sama tugas nyusun skripsi,” tanya Pak Efendi dan Kanaya mengangguk. “Nah Dhi, kamu gimana? Masih bisa gak kalau harus ngajar-bimbingan terus dibarengi dengan ngurus pernikahan?”
Kanaya pasang telinga untuk mendengar jawaban sang Dosen, tapi kok rasanya dia was-was?
“Bisa Pak, ngurus nikah sekarang lebih mudah dan cepat –asal ada waktu dan berkas yang disiapkan sudah lengkap pas pengajuan,” jawab Pak Adhi. “Lagian sekarang juga lagi libur semester, jadi gak ngajar. Terus kalau bimbingan, bisa dilanjut nanti pas awal sementer –toh mahasiswa bimbingan saya sekarang juga lagi sibuk ngolah data penelitian,” imbuhnya.
Kanaya mendengus dalam benaknya.
“Emang kapan mulai masuk kuliah lagi?” tanya Pak Haris.
“Awal bulan, Pak. Itu pun biasanya, gak langsung mulai perkuliahan atau mengajar,” jawab Pak Adhi.
“Kalo gitu, kurang dari tiga minggu lagi ya?” ujar Ibu Nurlela.
Duh! Orang tuanya kok jadi semangat gitu sih?
“Iya, dan saya udah cari info kalau untuk pengajuan nikah itu kurang lebih 10 hari sebelum akad nikah. Bisa juga kurang ... tapi perlu urus Surat Dispensasi Nikah ke Kecamatan,” jelas Pak Adhi.
“Emang cukup waktunya kalau cuman beberapa minggu doang nyiapin pernikahan?” tanya Ibu Ranti yang tampaknya kurang setuju dengan pernikahan yang dadakan.
“Cukup Bu, menikah itu mudah. Selama ada mempelai pria-wanita, wali nikah –khususnya untuk wanita, dua orang saksi dan Ijab-Qobul. Asal rukun dan syaratnya dipenuhi, insyaAllah SAH,” jawab Adhi.
“Iya Bu, betul kata Adhi. Malah yang buat repot itu, ya~ pesta-pestanya,” ucap Pak Efendi menambahkan.
“Jadi kalian nikah gak pake resepsi? Emang kalian gak mau dirayain?” tanya Bu Ranti lagi.
“Bukan aku gak mau dirayain, Bu. Aku ngerti maksud Ibu, resepsi juga penting untuk menghindari fitnah di lingkungan –biar gak dikira kumpul kebo sama tetangga. Tapi tujuan menikah itu, selain untuk ibadah dan menyempurnakan sebagian agama –juga untuk menjalin hubungan yang diridhoi Allah dan menjaga diri agar terhindari dari zina,” jawab Adhi.
“Menikah itu untuk yang siap, Bu. Dan anak kita sudah siap, jadi jangan dipersulit dengan hajatan yang butuh persiapan banyak sampai menunda menikah. Kalau seperti itu pola pikirnya, gimana nasib pasangan yang belum mampu atau bisa menggelar hajatan? Jangan sampe nungguin bisa hajatan, hal yang gak diinginkan malah kejadian. Naudzubillah min dzalik,” tambah Pak Afendi.
Bu Ranti diam, tampaknya sudah paham.
“Pak Haris, jadi kapan kiranya pihak Bapak siap?” tanya Adhi setelah perkara dalam keluarganya selesai dibahas.
“Kami gak ada masalah kalo menggelar pernikahannya dalam waktu dekat,” jawab Pak Haris.
“Pak!” panggil Ibu Nurlela. “Dita kan bentar lagi mau ngelahirin,” beritahunya.
“Kalau boleh tau, kira-kira kapan waktu persalinan Mbak Dita nya? Nanti bisa diatur sebelum atau sesudah persalinannya saja,” tanya Adhi.
“Perkiraannya sih sekitar awal bulan depan,” jawab Teh Dita.
“Kalau begitu masih bisa dikejar sampe akhir bulan ini,” ucap Adhi. “Bagaimana Mbak Kanaya, ada yang mau diomongin lagi? Keliatannya diam aja dari tadi,” tanyanya.
“Hah?” sahut Kanaya linglung. “Oh! Enggak Pak, jelas kok,” jawabnya.
Pembahasan kembali berlanjut perihal tempat, mahar dan lainnya. Hingga tak terasa hari mulai senja dan Keluarga Pak Adhi pamit untuk pulang.
“Terima kasih untuk kehadiran dan waktunya, maaf kalau jamuan kami kurang layak,” ucap Pak Haris. “Lalu ini ada sedikit, mohon diterima.”
Saat ini gantian keluarga dari pihak Kanaya yang memberikan seserahan pada pihak Pak Adhi.
“Terima kasih kembali, Pak Haris. Ini kami terima,” ucap Pak Efendi dan menerima seserahannya. “Dan kami mohon maaf juga kalau ada sikap yang kurang berkenan,” imbuhnya.
Setelahnya satu persatu rombongan keluarga Pak Efendi meninggalkan kediaman Pak Haris, hingga tersisa Adhi yang sedang bersama Kanaya.
“Mbak Kanaya, jaga kesehatan. Jangan kebanyakan ngelamun dan tidur nyenyak,” ujar Pak Adhi.
“Iya, Pak,” jawab Kanaya singkat.
“Saya pamit, sampai jumpa lagi ya. Assalamualikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Kanaya sembari membalas lambaian tangan sang Dosen.
Lalu setelah Pak Adhi sudah tak terlihat, dia kembali masuk ke rumahnya. Tanpa disangka, dia sambut ucapan riuh oleh Adiknya.
“Cieeee~ Teh Naya yang bentar lagi nikah, gak rela pisah sama calon suaminnya.Abis Miss You – Miss you –an ya?” goda Sofia.
“Berisik! Bocah gak usah sotoy deh,” sahut Kanaya sewot dan langsung masuk ke kamarnya.
Tetapi suara riuh itu terus terdengar dari dalam kamarnya, tampaknya dia akan sulit tidur nyenya –seperti kata Pak Adhi.
●
●
●
T
B
C
●
●
●
Tjiee~ Mbak Kanaya yang jari manisnya sudah terisi kembali.
Di tunggu juga ya, Pak Adhi!!
Btw, keren gak Dosen kita nih??
○ ○ ○
Part ini aku banyak riset tentang lamaran dan persiapan nikah ..
Sampe nanya ke temen dan bikin mereka salah paham, juga ribet ngejelasin kalo aku nanya bukan mau nikah ..
Ampun dah ~~
°
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you ~