Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 15.2]



Sudah beberapa hari terlewati sejak Kanaya mengirim email yang berisi perbaikan Skripsinya pada sang dosen, Ibu Andin. Namun hingga saat ini, dia belum mendapat balasan juga -bahkan kabar sekalipun tidak.


Kanaya sangat was-was, pasalnya sebentar lagi memasuki Minggu Ujian Semester Bersama. Artinya, setelah itu akan ada Seminar Proposal Skripsi.


Dan Seminar Proposal Skripsi ini menjadi awal penilaian atau tes sebelum nantinya Judul Skripsinya diterima dan dapat melanjutkan penelitian di tempat terkait. Yang akhirnya adalah Sidang Skripsi sebagai syarat penentu kelulusan jenjang Strata Satu.


Lalu kalau judulnya belum layak, maka mahasiswa akan diminta untuk mengganti atau memperbaiki Proposal Skripsinya. Dan itu sama saja dengan mengulang satu semester lagi di bangku kuliah, karena SKS (Sistem Kredit Semester) Proposal Skripsi tidak di gabung dengan Sidang Skripsi -atau di semester yang berbeda.


Ting …


Sebuah pesan What'sup masuk dari Ibu Ranti.


Hah~ iya, Kanaya lagi menunggu jemputan, karena hari ini rencananya dia mau ketemu Ibu Ranti.


Bu Ranti (teman Ibu) :


Assalamualaikum.


Kanaya maaf, itu … anak Ibu gak bisa jemput kamu, soalnya dia ada urusan di kampus. Maaf ya, Kanaya~~


Tapi tenang aja, ini Ibu pesenin Oj-Ol kok ..


Tunggu aja ya


Kanaya :


Wa'alaikumsalam …


Gak papa kok Bu ..


Dan sebenarnya gak perlu repot-repot pesenin Oj-Ol, nanti Kanaya bisa minta anterin Bang Dhika aja atau jalan sendiri


Bu Ranti (teman Ibu) :


Hus! Mana ada gitu .. kan Ibu udah minta tolong sama kamu, lagian gak enaklah nanti saya sama Ibumu.


Udah, tunggu aja ya Ojek nya. Bentar lagi Dateng kok .


Kanaya :


Baik Bu, terima kasih.


Kanaya meraih tas selempangnya. Dia yang sudah bersiap dan rapi, keluar dari kamarnya dan memilih menunggu di teras depan.


Lalu berselang beberapa waktu, terdengar bunyi klason dari gerbang luar. Kanaya berlari menghampirinya, driver bike Oj-Ol datang.


"Atas nama Ranti?" tanya sang Abang Oj-Ol.


"I … Iya," jawab Kanaya terdengar ragu.


Sang Abang Oj-Ol memberikan helm pada Kanaya, dia lantas memakainya.


°°°


Malu bertanya, sesat di jalan. Itu kata pepatah, tetapi sekarang sudah ada GPS dan Abang Oj-Ol yang sedia membantu Anda untuk sampai di tujuan.


Meskipun penasaran akan pergi kemana, tatapi Kanaya urung bertanya arah tujuannya. Dia hanya mengamati jalan sembari duduk di jok boncengan.


Namun dia tiba di tempat yang tidak dia duga dari yang dia pikirkan tentang sebuah rumah atau tempat tinggal. Sebab tempat tersebut jauh dari kesan rumah dan sejenisnya.


Pasar. Ya, dia diturunkan oleh Abang Oj-Ol di sebuah pasar tradisional.


"Ini serius, tempat tujuannya Mas?" tanya Kanaya dengan masih menggunakan helm.


"Iya Mbak, nih buktinya di HP saya," ujar si Abang Oj-Ol seraya menunjukkan layar ponselnya. "Mbak gimana toh, kan Mbak yang order. Atau bukan ya?"


"Iya, saya dipesenin Oj-Ol sama …," Kanaya menjeda ucapannya -dia bingung harus menyebutkan apa pada Ibu Ranti. "Ibu." Akhirnya dia menyebutkan kata itu, setelah dia pikir aneh saja kalau dia bilang -temannya sang Ibu.


"Oh! Mbak nya disuruh belanja kali sama Ibunya," sahut sang Abang Oj-Ol.


"Oh … Gak Mbak, ini sudah dibayar sama Ibunya Mbak kok. Pake On-Pay," beritahu sang Oj-Ol.


"Oh begitu … kalo boleh tau, berapa tarifnya?" tanya Kanaya masih ngotot.


"Enam Ribu Rupiah, Mbak. Pake promo soalnya," jawab sang Abang Oj-Ol.


"Kalo tarif aslinya berapa?" tanya Kanaya lagi masih memperdebatkannya.


"Buat apa toh, Mbak? Kan udah dibayar ini sama Ibunya Mbak. Bilang aja makasih sama kasih bintang lima ke Ibunya Mbak, ya." Sang Abang Oj-Ol tersenyum menunjukkan giginya. "Saya permisi, Mbak."


"Makasih, Mas."


Sepeninggal sang Abang Oj-Ol, Kanaya terpaku di pintu masuk Pasar sembari berpikir -nanti dia kasih uang ganti ongkos ke Bu Ranti gimana?


Oh iya, dia harus kabarin Bu Ranti kalau dia sudah sampai -di pasar.


Kanaya :


Assalamualaikum, Bu Ranti.


Bu, Kanaya sudah sampai di Pasar Induk Jaya Raya.


Saya ada di pintu masuk pasar


Ting!


Secepat kilat balasan segera diterima oleh Kanaya.


Bu Ranti (teman Ibu) :


Wa'alaikumsalam.


Iya. Tunggu sebentar ya, Nak


Ibu masih OTW


Dikit lgi juga nyampe nih.


Kanaya :


Iya Bu


Setelah selesai berbalas pesan, Kanaya segera menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Keamanan diri sendiri dan barang bawaan adalah hal utama saat berada di tempat umum.


°


°


°


T


B


C


°


°


°


Tolong dukungannya untuk :


LIKE, setelah membaca.