
Kanaya menurut dan kembali duduk. "Soal apa, Mas?"
"Soal masa depan dan keutuhan hubungan kita," jawab Adhi dan menggenggam tangan sang Istri.
Kanaya was-was.
Waduh!! Berat nih omongannya.
"Eneng tau kan, soal janji saya ke Bapak kamu?" tanya Adhi mengawali pembicaraan dan Kanaya mengangguk. "Awalnya saya kira, gak akan ada masalah dan saya bisa nepatin janji itu. Soalnya saya pikir, kita akan mulai dengan saling mengenal secara perlahan. Tapi sekarang … setelah beberapa hari kita menikah, nyatanya hubungan kita banyak berubah -terutama setelah malam itu."
Kanaya juga berpikir hal yang sama dengan sang Dosen/Suami, dia juga tak menyangka mereka bisa langsung dekat seperti ini hanya dalam beberapa hari. Padahal cukup banyak pertentangan saat awal pernikahan, tapi semua itu selesai setiap kali mereka bicara bersama -sepertinya keterbukaan dan saling menerima juga memahami jadi faktor pendorong hubungan mereka.
"Jadi sekarang saya cukup khawatir, kalau saya kelepasan dan bikin kamu hamil," aku Adhi malu-malu.
Kanaya yang mendengarnya ikut merasa malu, tapi dia juga sama takutnya -makanya dia sampai beli obat seperti yang Teh Dita sarankan.
Lalu karena sedang membahas hal yang sama, Kanaya langsung saya menunjukan obat tersebut kepada sang Suami.
"Ini apa, Neng?"
"Obat yang katanya buat mencegah kehamilan."
"Dari mana kamu dapat ini?" tanya Adhi menyelidik.
"Beli di apotek pas pulang tadi, di toko-toko yang berjejer pinggir jalan deket sini kok," jawab Kanaya apa adanya.
"Belum kamu minum, kan?" Kali ada ada nada khawatir dari pertanyaan Adhi.
"Belum Mas."
"Ya Allah~ Neng, jangan suka sembarangan minum obat. Apalagi kamu gak tau ini obat kandungannya apa dan efek sampingnya. Kalau kamu sampai kenapa-napa, gimana? "
"Maaf Mas," sesal Kanaya.
"Ya udah, nanti kita pergi ke dokter untuk konsultasi, ya?"
"Iya Mas."
Lega, itu yang Kanaya dan Adhi rasakan saat ini setelah semua beban pikiran dan kecemasan dapat mereka utarakan -akhirnya terselesaikan.
Lalu setelah itu mereka kembali ke kegiatan yang sempat tertunda, membuat cemilan untuk nanti dibawa ke acara jumpa tetangga. Kanaya sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat Roti Tawar Isi Goreng Aneka Rasa dan dia buat buat dua variasi, Asin dan Manis.
1. Isi Sayur (Wortel/Kentang) dan Ayam,
2. Isi Sosis dan Keju Mozarella
3. Isi Pisang dan Coklat
4. Isi Strawberry Coklat
Cara membuatnya cukup mudah, asal ada bahan dan kemauan -pasti jadi. Dan karena itu, Kanaya meminta sang Dosen/Suami ikut membantunya -padahal sebelumnya nolak. Katanya, nanti aja bantuinnya pas udah matang alias bantu makan dan ngabisin.
Enak aja! Mau dipentung kepalanya.
Oke, jadi pertama : pipihkan Roti Tawar, bisa pakai gilingan atau peralatan lainnya -kalau Adhi pake gelas.
Setelah itu, tambahkan isinya -sesuai selera.
Ini bagian Kanaya, soalnya kalau sang Dosen/Suami yang ngerjain ... jadinya belepotan dan nafsu ngasih isiannya banyak.
Lalu tutup dan rapatkan atau digulung hingga seluruh isian tertutupi dan tidak keluar-keluar.
Selanjutnya, lumuri pada kocokan telur dan tepung panir.
Kata Adhi, dia ngerjain sambil merem juga bisa. Tapi dia diomelin Kanaya, jangan macam-macam ya, Mas.
Terakhir, goreng sampai matang atau berwarna coklat keemasan dan setelah itu, tiriskan.
Kanaya ngomel lagi, gara-gara Adhi makanin pas dia lagi goreng. Jadi Kanaya nyuruh Suaminya itu buat berbenah.
This is it~ jadi deh!!
Sudah selesai, lalu mereka bersiap untuk pergi ke saungan.
"Neng, ayo~ katanya udah pada datang," panggil Adhi yang ada di ruang tamu sembari memainkan ponselnya.
"Sebentar Mas," jawab Kanaya yang ada di kamar, dia sedang berdandan.
Penasaran karena sang istri tak kunjung keluar, akhirnya Adhi menghampirinya. "Gak usah dandan, kamu juga udah cantik kok, Neng," ucap Adhi.
Antara kaget karena kedatangan Sang Dosen/Suami, atau mendengar pujiannya. Kanaya hampir memasukan Lip Balm nya ke dalam mulutnya yang menganga lebar.
"Mas, bisa gak … gak ngagetin? Ini saya hampir ketelen alat make up," gerutu Kanaya.
"Suami muji, kok malah dimarahin," sahut Adhi.
Kanaya tidak menanggapinya. "Ya udah, ayo berangkat Mas," ajak Kanaya sekarang.
"Sebentar, soalnya ada yang harus diganti sebelum pergi?" tahan Adhi.
"Apa?"
"Ganti manggilnya, jangan saya-sayaan. Masa udah nikah, masih aja kaku."
"Terserah Mas, saya ikut aja," jawab Kanaya.
"Nah … kan," peringat Adhi.
"Pake Aku, gitu?" tanya Kanaya.
"Senyaman kamu aja," jawab Adhi.
Kanaya mendesis.
o o o o o
Benar saja, saat mereka sampai sudah ada cukup banyak orang yang datang, bahkan anak-anak juga ada yang ikut.
"Assalamualaikum, selamat sore," sapa Adhi dan Kanaya setelahnya.
"Wa'alaikumsalam. Eh~ sudah datang penganten barunya. Ayo, duduk-duduk," ucap seorang wanita paruh baya berkacamata, Ibu Endang yang merupakan ketua perkumpulan.
"Jadi ini istrinya Mas Adhi? Masih muda, ya~ siapa namanya?" komentar penuh penasaran seorang wanita dengan dandanan layaknya Ibu Muda Sosialita. Belum lagi tatapan matanya yang tampak menilai.
"Iya, saya Kanaya," jawabnya sembari memperkenalkan diri dan menjabat tangan.
"Berapa umurnya? Di mana kerjanya?" tanyanya lagi, si Ibu Muda Sosialita.
"Istri saya belum bekerja, Mbak Santi. Kanaya masih kuliah, tapi sebentar lagi dia lulus," jawab Adhi kali ini. "Oh iya, ini kami buat makanan kecil, silakan dicicipi," tawar Adhi dan menyodorkan Snack nya.
"Mas Adhi sama Mbak Kanaya segala repot-repot, kita bisa ngumpul aja udah syukur," jawab Pak Galih -Suami Ibu Endang. "Ngomong-ngomong, ini gorengan apa? Risol?"
"Ya~ sejenis itu Pak, tapi karena buat adonan kulit Risolnya agak makan waktu -jadi pake Roti Tawar yang dipipihin aja," jawab Kanaya.
"Wah!! Mbak Kanaya kreatif, ya~ kalo kapan-kapan saya minta ajarin atau buatin, bisa gak?" tanya Ibu Ratna tertarik. "Kayaknya anak saya doyan nih."
"Enggak juga, Bu Ratna. Itu saya coba-coba resep aja di internet," jelas Kanaya. "Iya Bu, insyaAllah. Kalau saya bisa, saya bantu."
"Tapi ini enak loh, Mbak Kanaya -bisa juga dibuat usaha Frozen Food, terus jual online," saran Ibu Endang.
"Iya … Mbak Kanaya, dicoba aja jualan. Liat noh anak saya, tau udah makan berapa biji. Pasti banyak yang mau, nanti saya bantu buat promosiin deh," ucap Ibu Ratna ikut mendukung.
"Terima kasih Bu, akan saya pikirin dulu," jawab Kanaya apa adanya.
"Kalo kelamaan mikir, nanti keburu dicaplok orang Mbak Kanaya. Lagian kan, Mbak Kanaya gak ada kerjaan juga belum punya anak -bisalah itu. Itung-itung bantu Mas Adhi atau buat biaya anak nanti," ucap Santi ikut menyarankan. Tetapi entah kenapa terdengar sinis di telinga Kanaya dan bagai pukulan yang sengaja diarahkan padanya.
Kanaya hanya dapat tersenyum dan mengiyakannya, juga berterima kasih atas masukannya.
Lalu setelah itu, obrolan terus berlanjut hingga menjelang waktu Magrib dan satu persatu mulai beranjak pulang ke unit masing-masing.
Namun tiba-tiba Kanaya dihampiri oleh Ibu Santi dan tanpa alasan yang jelas, dia langsung menyerang Kanaya dengan kata-kata penuh sirat muslihat.
"Mbak Kanaya, kenapa mutusin buat nikah muda? Bukan karena …," Santi tak melanjutkan ucapannya, tetapi matanya menatap kearah perut Kanaya. "Ah~ enggak. Ya udah, saya duluan ya," pamitnya.
Kanaya mendengus. Sumpah! Kanaya gak mau ketemu orang macam gitu lagi, bikin dia dosa gara-gara pengen berkata kasar.
Tetapi nyatanya, perasaan kesal itu terus terbawa hingga ke rumah bahkan sampai menjelang dia akan tidur.
"Kenapa sih, Neng~ dari tadi kayaknya setelah balik dari saung mukanya cemberut?" tanya Adhi yang baru saja kembali dari toilet setelah mencuci tangan, kaki, wajah dan menggosok gigi.
"Itu tuh Mas, yang namanya Santi. Sumpah! Nyebelin banget orangnya," gerutu Kanaya langsung ke topik permasalahan.
"Oh … Mbak Santi? Dia mah orangnya emang begitu," jawab Adhi santai. "Gak usah diladenin, Neng -nanti kamu yang capek hati."
"Enggak Mas, si Santi tuh … dia nyinyir, tapi tuh sepotong-sepotong. Berasa nyuruh kita buat nyimpulin sendiri apa yang mau dia ucapin!!" Emosi Kanaya. "Tadi itu, si Santi nanya … Mbak Kanaya, kenapa mutusin buat nikah muda? Bukan karena ___. Terus matanya ngeliatin kearah perut!! Apa coba maksudnya?! Melendung duluan?!!"
"Udah Neng, jangan dilanjutin -mending kita tidur aja," ajak Adhi seraya membaringkan Kanaya. "Eh … Neng, kamu gak daftar bimbingan?" tanya Adhi.
"Mas mulai buka bimbingan lagi?"
"Iya, itu sudah saya share infonya di grup. Kamu belum liat?"
Kanaya menggeleng, namun segera memeriksa ponselnya. Benar saja, sudah banyak yang mendaftar untuk bimbingan di hari pertama masuk semester baru.
"Dua belas orang?" tanya Kanaya saat melihat jumlah orang yang bisa ikut bimbingan lusa depan.
"Iya, kan sudah lama bimbingan saya ditunda. Kalau saya batasi jumlahnya seperti biasa, kasihan nanti yang gak kebagian harus nunggu lagi."
Ya ampun~ Dosen/Suaminya ini ternyata perhatian juga. Tapi tunggu, kayaknya ada yang janggal deh.
"Mas, katanya jangan ngomong pake saya-sayaan lagi!" protes Kanaya.
"Masa?" elak Adhi, namun pada akhirnya dia mengakui kesalahannya juga karena sudah melanggar kesepakatan baru mereka. Tetapi dia tak lantas menyerah begitu saja, tentu saja dia punya cara untuk membalik keadaan. "Terus kamu mau cium Sa.Ya?" godanya dan dengan sengaja menekankan kata saya agar terdengar jelas oleh Kanaya.
"Ngapain? Enak sama untung di Mas, tapi rugi di say ___." Ups! Hampir saja Kanaya juga keceplosan.
Adhi tertawa. Nyatanya dia juga sama sulit membiasakan diri dengan hal baru.
"Jadi kamu gak daftar bimbingan, Neng?" tanyanya lagi.
"Enggak dulu, Mas -masih belum selesai. Tapi emangnya aku gak bisa bimbingan di rumah aja?" pinta Kanaya.
"Bimbingan plus-plus, mau?" balas Adhi menggoda.
Kanaya memasang wajah datar menahan kesalnya. "Katanya mau nepatin janji ke Bapak, tapi malah Mas nya sendiri yang main api."
"Becanda Neng, kaku banget sih kamu," dalih Adhi sembari mencolek dagu Kanaya.
"Tangan, Mas!" peringat Kanaya.
"Oke~ kita tidur sekarang," pasrah Adhi dan mematikan lampu.
"Neng, itu temen kamu kayaknya belum daftar bimbingan, deh -tumben banget," ucap Adhi memberitahu setelah dia mengecek chat masuk di ponselnya. "Keburu abis nanti antriannya."
Kanaya mengecek lagi daftar nama peserta bimbingan dan benar, gak ada nama si Adel. Kenapa coba nih anak? Biasanya garcep.
Kanaya :
Del, lo gak daftar bimbingan buat lusa?
P
P
P
P
P
P
Lama-lama Kanaya telepon juga nih anak. Kenapa sih?
Adel :
Enggak dulu, Nay
Tuh kan, aneh nih anak
Kanaya :
Lo kenapa sih, Del?
Klo ada masalah, cerita ke gw
Perasaan lo penelitian udh lama, tp sekarang kok giliran bimbing malah mandet
Adel :
Nanti aja gw cerita pas masuk kuliah
Eh ... Gimana penelitian lo, Nay? Lancar?
Kanaya :
Alhamdulillah~ Del, udah mau selesai .. tinggal satu tahap lg
Adel :
Alhamdulillah klo gitu, Nay ..
Ya udh, gw mau tidur ya
Bye sayangku Kanaya
Bener-bener deh, si Adel kenapa? Gak biasanya Melo gini .. padahal hari-harinya dia bakal bekoak-koak kayak Ayam abis bertelor ributnya.
Lalu Kanaya mengirim pesan pada Jani.
Kanaya :
Jan ... Jan .. Jani ..
Lo masih melek gak?
Eh~ si Adel ngapa dah dia??
Melo bgt
Ngeri ngapa-ngapa deh gw
Jani :
Gak tau
Si Perkedel gak ada cerita
Oyyy .. gimana penelitian lo?
Jalan Tol?
Kanaya :
Beres Jan~ lancar jaya tanpa hambatan ..
Ya udh lah, klo lo gak tau ..
Kirain si Adel ada cerita ke lo, Jan
Jani :
Lo sendiri aja gak dikasih tau sama Adel
Apalah gw yg cuma remahan rengginang
Kadang gw juga dianggepnya kayak Upil yg bulet-buletin sebelum disentilnya
Kanaya :
Apaan sih lo, Jan
Lebay!!
Wkwkwk
Jani :
Ya~ gitu deh
Dah ya, Nay ..
gw ngantuk , mau ngorok
Kanaya :
Good Night, Jan~
Kanaya nyimpan ponselnya dan kembali berbaring.
"Udah Neng?"
Kanaya mendehem.
"Terus kenapa temen kamu gak ikut bimbingan?"
"Gak tau, si Adel belum mau cerita."
"Ya sudahlah, mungkin memang belum bisa cerita. Tapi nanti kamu saranin aja, buat datang dan konsultasi sama saya."
"Iya Mas."
"Neng?"
"Hmm?"
"Lusa udah masuk kuliah lagi, itu kamu sudah cerita belum ke temen kamu soal kamu sudah nikah?"
"Belum Mas."
"Loh, kenapa?"
"Gak tau harus gimana bilangnya."
"Jadi temen kamu belum ada yang tau?"
"Cuman Dimas doang, itu pun karena dia tetangga."
"Sebaiknya kamu segera kasih tau, seenggaknya ke temen terdekat kamu. Dari pada nanti mereka malah denger dari orang lain, takutnya malah ada yang ditambah-tambahin."
"Tenang aja kok, Mas. Dimas gak ember orangnya."
Adhi diam, tak bertanya lagi -gantian dengan Kanaya.
"Kalo Mas?"
"Sama."
"Bagus! Kalo gitu Mas jangan bilang-bilang, ya. Aku belom siap jadi objek perhatian publik."
"Kalau itu, gak tau ya~ Gak bisa janji."
"Ihhh~ Mas!" gerutu Kanaya Kanaya karena permintaannya tak langsung dituruti.
Lalu Adhi balas dengan memeluk Kanaya.
"Tangan Mas."
"Kenapa?" tanya Adhi seakan tak ada yang salah.
"Ngapain segala meluk-meluk? Gak bebas, tau," protes Kanaya.
"Biar tangan gak terasa hampa," balas Adhi.
"Peluk aja guling!"
"Ngapain peluk guling, kalau ada istri disamping?" Adhi semakin mengeratkan pelukannya.
"MAS!!"
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Kita tak bisa membungkam satu persatu mulut yang berkata jahat, tapi kita punya dua tangan yang bisa bantu menutup telinga kita dan tak perlu mendengar omongan orang lain yang menyakitkan -karena itu semua untuk kebahagiaan kita sendiri.
x x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~