STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 93 - Sekali Seumur Hidup



...🖤🖤🖤...


Dengarkan aku. Karena aku hanya akan bilang ini padamu sekali seumur hidupku.


...🖤🖤🖤...


Ara masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan Angel. Membuat Angel merelakan dengan ikhlas baju bagian pundaknya yang basah akibat air mata Ara. Angel mengeratkan pelukannya, mendengarkan setiap lirihan tangis Ara yang menyayat hatinya.


"Kau gadis hebat, Ra. Kau harus merelakan Ryuu. Aku yakin kau kuat, kau adalah gadis ceria yang sangat kuat dan tegar," kata Angel menepuk-nepuk pelan punggung Ara yang didekapnya.


Ara mengangguk sambil terus menangis.


"A.. Ara, ada panggilan dari Ryuu untukmu," kata Sam membuat lirihan tangisan Ara terhenti. Namun, air matanya tetap mengalir dengan sendirinya.


Angel pun melepaskan pelukannya pada Ara dan membiarkan sahabatnya itu meraih ponsel yang di sodorkan oleh sang pemilik ponsel一yaitu Sam.


Dengan tangan gemetar, Ara menempelkan ponsel Sam ke telinganya.


"Al?"


Sebuah suara Ryuu di telepon membuat hati Ara sakit untuk ke sekian kalinya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan tangisan sekuat tenaga.


"Ryuu, k.. Kenapa? Kenapa kau memutuskan pergi ke Jepang? Kau bilang, kau akan masuk universitas yang sama denganku! Kau bilang, hari ini kau akan mengajakku berkencan! Dan juga beberapa bulan lalu, kita sudah buat kesepakatan! Aku diberi waktu olehmu untuk membuatmu menyukaiku hingga waktu kelulusan SMA kita tiba! Tapi, kenapa Ryuu? Kenapa sekarang kau malah pergi?"


Ara bertanya bertubi-tubi tanpa jeda. Air matanya lagi-lagi mengalir deras tanpa bisa ia tahan.


"Al..."


"Aku paham, kau pergi ke jepang karena Bundamu disana sedang dalam kondisi mengkhawatirkan. Tapi, kenapa? Kenapa kau baru jelaskan padaku sekarang? Kenapa tak dari kemarin-kemarin? Kenapa cara berpamitanmu seperti ini, Ryuu? Kenapa?!"


Ara tak peduli teriakannya itu di dengar oleh banyak orang di sekitarnya yang berlalu lalang di bandara. Ia tak bisa mengendalikan seluruh emosi yang tercampur aduk dalam hatinya.


"Al..."


Ryuu hanya bisa memanggil nama 'Al'. Ia sendiri tak tahu harus bicara apa.


"Aku mencintaimu, Ryuu! Aku sangat mencintaimu! Aku tak masalah dengan hubungan jarak jauh denganmu. Tapi, kumohon, jangan pergi untuk selamanya! Kau harus pulang ke Indonesia untuk menemuiku, menemui Ayahmu, dan teman-teman yang lain. Kami semua disini tak bisa kehilanganmu!"


"Kau tidak tahu, bahwa ayahku sudah pindah dari perusahaan yang sama dengan Daddy-mu seminggu yang lalu. Ayahku sudah pergi entah kemana meninggalkan uang cukup banyak dan rumah. Tapi, aku lebih memutuskan untuk menyusul Bunda di Jepang karena kondisi Bunda sedang tidak baik-baik saja."


"Lalu, bagaimana nasib rumahmu yang ada di samping rumahku?"


"Aku menitipkannya pada Mommy-mu. Aku yakin, ayahku pasti akan kembali ke rumah itu cepat atau lambat."


Ara mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Setelah mendengarkan penjelasan Ryuu, ia paham. Namun, hal itu tak membuat suasana hatinya membaik.


"Berarti, kita tak akan bertemu lagi sampai kapanpun itu, Ryuu? Kau tega meninggalkanku disini? Kumohon, aku harap kau mau menemuiku ke Indonesia lagi. Setahun sekalipun tak apa! Asalkan aku bisa bertemu denganmu!"


"Aku tak bisa, Al. Kau kan tahu sendiri, aku sudah dijodohkan di Jepang oleh Nenekku. Jika aku ketahuan ke Indonesia untuk menemui seorang gadis, itu sama saja membuat aib untuk keluargaku disini."


Ara memejamkan matanya. Membiarkan rasa sakit menghujam hatinya entah untuk yang ke sekian kalinya. Ia tak bisa bicara apa-apa lagi selain menangis tersedu-sedu.


"Al, dengarkan aku. Karena aku hanya akan bilang ini padamu sekali seumur hidupku. Aku..."


Sebuah suara pengumuman di dalam pesawat yang Ryuu dan Aoi tumpangi menyebutkan peraturan untuk segera mematikan ponsel atau mengubah mode ponsel menjadi mode pesawat. Hal itu tentu saja membuat ucapan Ryuu terhenti.


"Aku apa, Ryuu?"


Ara sudah pasrah. Tak peduli jika Ryuu mau bicara atau menyakiti hatinya lagi dengan kenyataan dan penjelasannya. Demi apapun, Ara sudah sangat pasrah.


"Aku mencintaimu, Altheara Ananda Putri."


Tut!


Telepon dimatikan sepihak oleh Ryuu.


Detak jantung Ara terasa berhenti mendengar kalimat yang baru saja ia dengar dari mulut Ryuu. Matanya membulat sempurna. Rasanya, ada ribuan tombak menghujam tepat di hati dan jantungnya secara bersamaan. Begitu sakit, begitu perih.


Lalu pada detik selanjutnya, Matanya kembali terasa panas, bulir-bulir bening juga kembali jatuh ke pipinya.


Lagi dan lagi. Ara menangis tersedu-sedu. Namun kali ini, tangisannya lebih keras dari sebelumnya. Hatinya begitu sakit mendengar pengakuan cinta dari Ryuu yang tak pernah ia sangka. Ucapan cinta Ryuu yang harusnya membuat ia senang, malah menjadi hal yang sangat menyedihkan dan menyakitkan di telinga dan hatinya.


"Ara, Ryuu bilang apa padamu?" tanya Angel menyadari tangisan Ara berbeda dari sebelumnya.


"Ryuu bilang padaku, dia cinta padaku, Ngel! Dia bilang dia cinta padaku! Dia cinta padaku..." Ara sudah tak sanggup berkata-kata. Tangisannya begitu keras namun sangat lirih dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Angel pun memeluk Ara lagi. Berusaha menenangkan sahabatnya tersebut. Namun, nihil. Tangisan Ara semakin menjadi-jadi. Ya, hati gadis itu sudah hancur tak berbentuk. Ia meluapkan segala emosi yang bergejolak dalam tangisan tersebut. Tubuhnya melemas seiring dengan tangisannya. Hingga pada akhirnya, ia pun merasa sesak dan sulit untuk bernapas. Dan...


BRUGGGH!


Ia jatuh tak sadarkan diri.


***


Satu minggu kemudian...


Hari ini adalah hari dimana acara pensi diselenggarakan oleh SMA Soetomo khusus untuk anak kelas 12 saja. Meski hanya anak kelas 12 yang tampil, adik-adik kelas maupun umum juga diperbolehkan menonton acara pensi tersebut.


Acara pensi itu diselenggarakan dalam rangka melepas kelas 12 yang akan lulus. Dilaksanakan sebelum wisuda, acara pensi tersebut memang sudah menjadi budaya di SMA Soetomo. Jadi, tak heran jika banyak orang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan acara pensi tersebut.


Ada yang tampil berkelompok menampilkan theater, berpuisi, main alat musik seperti piano atau biola, dan bernyanyi. Ya, termasuk Ara. Gadis itu niatnya akan menampilkan nyanyian yang sudah ia persiapkan dari minggu lalu.


Dengan gaun hitam dan rambutnya yang dikuncir gulung rapi dibelakang, Ara berjalan penuh percaya diri ke atas panggung Aula. Ya, sekarang adalah gilirannya untuk tampil setelah cukup lama ia menunggu sesuai nomor urut.


Gemuruh riuh tepuk tangan menggema di seluruh penjuru ruangan aula SMA Soetomo. Menyambut Ara yang sudah siap memegang mic dan siap untuk bernyanyi. Bisa Ara lihat, di jajaran tengah penonton berdiri Sam, Rangga, dan Angga sedang tersenyum melihatnya. Sedangkan Revina terlihat tak berekspresi.


Sambil menarik napas, Ara pun menoleh ke arah samping. Tepatnya ke arah Angel duduk di hadapan piano yang akan dimainkannya一yang nanti akan mengiringi lagu yang Ara nyanyikan.


Angel mengangguk mantap tanda sudah siap. Membuat Ara tersenyum manis lalu pandangannya kembali teralih pada para penonton.


...Lewis Capaldi - Before You Go...


I fell by the wayside like everyone else


Aku pun gagal seperti orang lain


I hate you, I hate you, I hate you but I was just kidding myself


Aku membencimu, aku membencimu, tapi aku hanya membohongi diriku sendiri


Our every moment, I start to replace


Setiap momen kita, mulai ku gantikan


'Cause now that they're gone, all I hear are the words that I needed to say


Karena itu semua tlah tiada, yang kudengar adalah kata-kata yang perlu kukatakan


When you hurt under the surface


Saat kau terluka dari dalam


Like troubled water running cold


Bagaikan air keruh yang mengalir deras


Well, time can heal but this won't


Ya, waktu bisa memulihkan namun yang ini tidak bisa


Alunan piano yang dimainkan Angel menyatu dengan suara indah nan lembut milik Ara. Membuat para penonton mengagumi penampilan dua sahabat tersebut.


So, before you go


Jadi, sebelum kau pergi


Was there something I could've said


To make your heart beat better?


Untuk membuat jantungmu berdetak lebih baik?


If only I'd've known you had a storm to weather


Andai saja aku tahu, bahwa kau bertahan dalam badai


So, before you go


Jadi, sebelum kau pergi


Was there something I could've said


To make it all stop hurting?


Untuk membuat semuanya tak terasa sakit?


It kills me how your mind can make you feel so worthless


Itu membuatku tak berguna karena membiarkan pikiranmu membuatmu merasa begitu tak berharga


So, before you go


Jadi, sebelum kau pergi


Ara mengakhiri nyanyiannya lalu membungkuk bersamaan dengan Angel yang masih berdiri di dekat piano. Mereka berdua saling berpandangan puas karena tepuk tangan penonton benar-benar menggema一mengapresiasi penampilan mereka tadi.


Mata Ara menatap semua penonton secara dari kanan ke kiri. Meskipun ia merasa senang bahwa penampilannya tadi di apresiasi oleh para penonton, tetap saja ia merasa hatinya hampa. Ia merasa masih ada yang kurang. Ya, ini perihal tentang Ryuu. Padahal ia ingin sekali penampilannya itu ditonton oleh Ryuu.



Sebelum Ara turun dari panggung, ia mencoba untuk tersenyum meski terlihat getir. Detik selanjutnya, ia pun berjalan bersama Angel yang entah sejak kapan berada di sampingnya. Mereka berdua turun dari panggung dan membiarkan peserta pensi lain naik ke atas panggung.


***


Acara pensi sudah selesai pukul empat sore. Semua panitia yang berpartisipasi terlihat sedang membersihkan aula bekas perform tadi. Sedangkan para peserta dan para pengunjung/penonton tentu saja memutuskan untuk pulang. Sama halnya seperti Ara dan yang lainnya.


"Kau tidak apa-apa pulang sendiri, Ra? Kenapa kau tak terima saja tawaran Kak Angga yang tadi ingin mengantarmu pulang?" tanya Angel menghentikan langkahnya di depan gerbang.


Ara tersenyum simpul, "Tak apa, Ngel. Aku kan terbiasa pulang sendiri."


"Tidak, kau kan biasanya pulang bersama Ryuu," ujar Sam tiba-tiba datang dengan sepeda motornya. Membuat suasana menjadi hening seketika.


Angel melotot pada Sam sembari menjitak kepala pacarnya itu, "Bodoh! Kenapa kau berani menyebut nama Ryuu, hah?"


"M-maaf, Ra. Aku tak sengaja," kata Sam yang baru saja peka. Ia merasa sangat bersalah pada Ara.


Ara menggeleng sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, kok."


"Maaf, ya Ra. Si bodoh ini memang sering mengatakan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu," tambah Angel membuat Ara tertawa kecil.


"Ya sudah, kalau begitu, kami berdua pulang dulu ya Ra. Dadah!" seru Angel seraya naik ke atas motor Sam. Duduk di belakang pacarnya tersebut.


Motor Sam pun melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan Ara yang berdiri sendirian di depan gerbang SMA Soetomo. Baru saja ia akan melangkahkan kaki untuk pulang, tiba-tiba seorang gadis memanggilnya dari belakang.


"Ara!"


Ara refleks menoleh ke sumber suara. Tak jauh di hadapannya, berdiri seorang gadis berambut panjang tergerai. Siapa lagi kalau bukan Revina?


"Ada apa?" Ara bertanya tanpa basa-basi.


Revina diam. Ia berjalan perlahan一memperminim jarak antara dirinya dengan Ara. Ekspresinya begitu aneh hingga bisa Ara tebak一sepertinya Revina akan mengajaknya berdebat atau bertengkar.


"Aku minta maaf padamu. Aku juga akan meminta maaf atas kelakuan Rangga padamu," kata Revina yang tentu saja mengagetkan Ara.


Ara membulatkan matanya kaget, "Eh? Minta maaf?"


"Ya ampun, kau ini polos sekali. Kau tak ingat, apa? Saat hari dimana Ryuu akan pergi ke jepang, Rangga itu sengaja menelfonmu dengan mempergunakan nama Kak Angga agar kau pergi ke rumah sakit. Kau ingat, kan?"


Ara mengangguk. Mengingat apa yang dikatakan Revina.


"Tapi, Kak Angga bilang saat itu, Kak Angga tidak memintaku untuk bertemu dengannya一"


"Nah, itu! Rangga sengaja membuatmu ke rumah sakit agar kau tak bisa bertemu dengan Ryuu di Bandara. Kau pasti ingat kan saat itu Rangga dan aku pergi meninggalkanmu di kamar rumah sakit sendirian untuk menunggu Kak Angga. Ya, Rangga sengaja membuat kesalahpahaman antara dirimu dengan Kak Angga, Ra."


Ara menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha mencerna apa yang Revina katakan.


"Tunggu, tunggu. Kenapa Rangga bisa tahu bahwa hari itu Ryuu akan pindah ke jepang?"


"Aku yang memberitahu Rangga."


Ara mengernyitkan dahinya bingung sekaligus kaget, "Kenapa kau bisa tahu? Bahkan aku, Angel, dan Sam saja tidak tahu apa-apa."


"Ceritanya panjang. Intinya, Ryuu sendiri yang cerita padaku. Ia bilang akan pergi ke jepang menyusul Bundanya yang sakit-sakitan," jelas Revina sukses membuat Ara menundukkan kepalanya sedih.


Sadar akan hal itu, Revina pun mengusap pelan pundak Ara. Membuat Ara kembali menatapnya lurus.


"Hei, kau jangan sedih. Ryuu bilang padaku, dia akan menceritakan semuanya padamu. Perihal keluarga kami yang hancur karena perselingkuhan orangtua kami, perihal kepergiannya ke jepang, Ryuu berniat memberi tahu semua itu padamu. Dia bahkan mengancamku."


"M-mengancam apa?"


"Iya, dia mengancamku untuk tak memberitahu hal ini padamu. Karena, dia ingin dia sendiri-lah yang menceritakan dan menjelaskan semuanya padamu," jelas Revina seraya melepaskan tangannya dari atas pundak Ara.


"Pokoknya, aku benar-benar minta maaf ya," sambung Revina lirih.


Ara tersenyum, senyuman yang sangat ikhlas.


"Sudahlah, lupakan saja. Aku sudah memaafkanmu dan Rangga, kok," ucap Ara membuat Revina ikut tersenyum.


"Oh iya, ada satu hal yang mau aku beritahu padamu," Revina mengubah topik pembicaraan.


"Apa?"


"Aku harap, kau jangan meladeni Rangga lagi ya. Soalnya, dia itu orangnya agak psycho. Berbeda dengan Kak Angga yang baik hati bak malaikat. Pokoknya, aku lebih mendukungmu untuk bersama Kak Angga dibanding Rangga," ujar Revina kembali tersenyum manis.


***


Ara berada di dalam kamarnya. Malam ini, entah kenapa ia tak bisa tidur. Ia sudah berguling kesana-kemari, berusaha untuk tidur. Namun, nihil. Matanya tetap terasa fresh seperti pada pagi hari.


Saat sedang berguling-guling seperti itu, Ara mendengar suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Secepat kilat, ia memanjangkan tangannya一menggapai ponsel yang ada di meja samping kasurnya.


"Eh? Ada dua pesan dari Sam? Dan kenapa satu pesannya lagi adalah pesan video?" batin Ara merasa heran dan aneh.


Ya, benar. Ada apa Sam mengirimnya pesan malam-malam?


Dari : Samudra


Ara, kau masih ingat tidak? Ryuu pernah bilang padamu dalam surat yang kau terima di Bandara, bahwa ia sudah mengirimkan video padaku untuk ku kirim ulang padamu. Hari itu, sebenarnya aku ingin mengirimnya langsung ke ponselmu. Tapi melihatmu menangisi kepergian Ryuu di bandara hingga sesak dan pingsan. Aku jadi tak tega. Makanya, aku mencari momen yang pas untuk mengirim video Ryuu padamu. Dan kupikir, inilah momen yang pas. Jadi selamat mendengarkan! Maaf aku menonton video ini duluan karena penasaran video apa sih yang Ryuu kirim padamu. Maaf ya hehehe. Oh iya, btw Ryuu benar-benar memiliki suara yang bagus lho! Kau saja kalah bagus, hahaha. Becanda ya Ara...


Ara tersenyum getir membaca pesan dari Sam. Entah kenapa, setiap kali mendengar atau membaca nama Ryuu, sakit di hatinya terasa terkoreh kembali.


Perlahan tapi pasti, Ara membuka video tersebut.