STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 56 - Tamat?



🖤🖤🖤


Aku adalah korban harapan yang kubuat sendiri.


🖤🖤🖤


"Aku tak akan kalah dari orang jenius yang sombong dan tak punya hati sepertimu!"


"Lihat saja, Ryuu. Nilai UN-ku pasti akan lebih besar darimu!" seru Ara seraya bangkit dari duduknya. Berdiri menantang Ryuu yang masih duduk di tempat.


Ryuu mengernyitkan dahinya kala ia mengingat ucapan Ara padanya kemarin malam. Aneh. Ryuu benar-benar tak mengerti. Padahal, niatnya kemarin malam itu baik pada Ara. Yaitu mengajak Ara untuk ikut belajar bersamanya di hari minggu nanti. Tapi, kenapa Ara malah menantangnya dengan amarah yang menggebu-gebu?


Memangnya, apa salah Ryuu hingga Ara terlihat sangat emosi padanya?



"Sudah kuduga, Cupcake dari Revina yang ku makan itu aneh. Buktinya, aku sama sekali tak mengingat apapun yang terjadi di malam ulang tahun Al," batin Ryuu kebingungan.


"Di malam itu, Al juga ikut memakan Cupcake tersebut. Dia menggigit sedikit Cupcake itu dari bibirku. Kalau begitu, apa Al juga tak bisa mengingat apapun, sama sepertiku?"


Ryuu memutar otaknya. Sambil memejamkan mata, ia pun berusaha mengingat sebisa mungkin.



Namun, nihil. Tetap saja, hal terakhir yang bisa diingat Ryuu adalah Ara yang sedang duduk berhadapan dengannya. Setelah itu, entahlah. Ryuu tak tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua.


"Aku yakin, aku pasti melakukan sesuatu yang membuat Al marah padaku di malam itu. K.. Kalau begitu..."


Ryuu membuka matanya perlahan, "Berarti Al ingat semuanya? Ia ingat apa yang ku lakukan padanya di malam itu hingga ia marah padaku?"


Ryuu pun kembali memejamkan matanya. Kali ini, ia menarik napas panjang. Berusaha menenangkan dirinya yang entah kenapa agak panik.


"Ku harap, aku tak melakukan hal aneh padanya di malam itu," batin Ryuu lirih.


***


Esoknya...


Pagi hari, pukul 06:10


Ryuu membuka pagar rumahnya perlahan. Angin pagi yang terasa sangat sejuk tanpa di undang menerpa wajahnya yang putih bersih. Detik selanjutnya, Ryuu pun segera keluar lalu menutup kembali pagar rumahnya.


DEG!!!


Mata hitam Ryuu membulat seketika. Angin pagi yang tadinya terasa sangat sejuk, berubah menjadi hawa yang cukup panas. Bagaimana tidak?


Di samping rumah Ryuu一yaitu rumah Ara, berdiri seorang laki-laki dengan sepedanya, dan perempuan yang sepertinya akan berangkat sekolah. Sama seperti Ryuu.


"Ryuu? Wah, kebetulan sekali, ya," ujar laki-laki tersebut yang tak lain adalah Rangga Kyle.


Ryuu diam, tak berniat menggubris sapaan Rangga padanya. Ya, matanya terlalu fokus menatap tajam perempuan yang berdiri di samping Rangga.


Altheara Ananda Putri. Siapa lagi kalau bukan dia?


"Hari Sabtu ini kau tak membawa sepedamu ke Sekolah? Kenapa?" tanya Rangga mencari topik pembicaraan.


Ryuu masih diam. Ia benar-benar menatap tajam Ara. Sedangkan Ara hanya membuang muka, tak sanggup membalas tatapan tajam dari Ryuu.


Rangga tertawa canggung, "Alasanku pagi ini di depan rumah Ara adalah untuk mengajaknya berangkat bersama ke Sekolah," kata Rangga seolah menjawab pertanyaan yang ada di kepala Ryuu.


"Ah, maaf ya! Aku hampir saja lupa bahwa Ara adalah pacarmu. Aku sungguh minta maaf sudah lancang mengajak pacar orang berangkat sekolah bersama," sambung Rangga dengan nada menyesal yang dibuat-buat.


Ryuu tak membalas ucapan Rangga. Laki-laki itu malah berjalan melewati Rangga dan Ara sambil memakai headphone di telinganya.


"Hei, tak masalah jika aku membonceng Ara ke Sekolah sekarang?" tanya Rangga pada Ryuu yang sudah berjalan agak jauh di depannya.


Ryuu menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang dengan ekspresi dan nada bicara yang sangat dingin.


"Lakukan sesukamu, aku tak peduli," jawab Ryuu lalu kembali berjalan dengan santai menuju Sekolah.


Ara menatap punggung Ryuu yang kian lama kian menjauh. Tadi, ia cukup tersentak kaget saat mendengar jawaban yang menyakitkan dari Ryuu.


"Tak peduli? Ryuu sudah tak peduli lagi padaku? Apa Ryuu serius mengatakan hal itu? Kalau Ryuu sudah tak peduli lagi aku bersama siapa, itu artinya..."


"...hubungan pacaran pura-pura kami sudah tamat hari ini," batin Ara seraya menundukkan kepalanya. Ia merasa hatinya teriris cukup dalam kali ini.


Rangga yang menyadari akan hal itu pun menatap Ara sendu. Ia tahu, Ara pasti tersakiti oleh jawaban Ryuu tadi. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa cukup senang. Karena ternyata, menghancurkan hubungan Ara dan Ryuu tak sesulit yang ia bayangkan.


"Sebentar lagi, Ara pasti akan jatuh ke pelukanku. Yah, ku harap Revina juga bisa mendapatkan hati Ryuu. Semoga saja, hahaha," batin Rangga dalam hati.


***


Istirahat pukul 10:00


Di Kantin Sekolah...


"Ra, besok kau ikut kan belajar di Perpustakaan Kota bersama Ryuu dan Sam?" tanya Angel seraya mengunyah keripik kentang miliknya.


Ara yang sedang fokus menyeruput jus alpukat pun tersedak seketika. Ia cukup kaget mendengar pertanyaan Angel yang tiba-tiba. Ditambah, ia juga bingung akan menjawab dengan jawaban seperti apa pada Angel.


"Aku belajar sendiri saja di Rumah, Ngel. Hehehe," jawab Ara mencoba terlihat normal.


"Hah? Sendiri?"


Ara menganggukkan kepalanya.


"Padahal, Revina juga ikut, tahu. Dia juga diajak oleh Ryuu."


DEG!!!


"Ehm, ngomong-ngomong, Sam kemana Ngel?" tanya Ara mengubah topik pembicaraan.


"Dia sedang latihan Basket bersama anggota ekskul basket lainnya. Turnamen akan dilaksanakan sekitar satu minggu lagi soalnya," jelas Angel seraya bangkit dari duduknya.


"Eh? Kau mau kemana, Ngel?"


"Ayo, kita ke lapangan Basket," ujar Angel tersenyum manis.


"Eh? Mau apa?"


"Mengantarkan minuman untuk Sam. Ayo, kau juga harus ikut! Pacarmu juga kan ada di lapangan basket, Ra."


Ara menundukkan kepalanya kala mendengar kata 'Pacar' dari Angel. Hatinya memang sedang sensitif sekarang. Rasanya sakit mendengar kata 'Pacar' padahal kenyataannya hubungan Ara dan Ryuu hanya pura-pura saja.


"Ayo, Ra. Kau juga harus ikut mengantarkan minum untuk Ryuu. Aku yakin, Ryuu pasti akan sangat senang kalau pacarnya datang untuk menyemangatinya latihan," kata Angel penuh semangat.


Lama Ara berpikir. Ya, jika dipikir-pikir lagi, dia memang tak pernah sekalipun datang ke lapangan basket untuk menyemangati Ryuu latihan selama ini. Tidak ada salahnya kan jika dia mencoba kesana walau hanya sekali?


"Oke, baiklah," kata Ara pada akhirnya sambil tersenyum simpul.


***


Ryuu berlari sambil mendribble bola. Tangan dan kakinya yang gesit membuat para anggota ekskul yang lain kewalahan menandingi kegesitan Sang Kapten tersebut. Ya, kelincahan serta kegesitan Ryuu dalam bermain basket memang sudah setara dengan level dewa.


Ara dan Angel sudah berada di sisi lapangan basket sekarang. Ara tak menyangka, ternyata banyak murid perempuan yang sedang berteriak menyemangati Ryuu. Tak ingin kalah, Angel juga berteriak menyemangati Sam yang berposisi sebagai lawan dari Ryuu. Merasa namanya diteriaki Angel, Sam pun menatap Angel sambil tersenyum lebar. Sebelum akhirnya ia kembali berlari mengejar bola yang dibawa oleh Ryuu.


"Ayolah, Ra. Kau tak boleh kalah dari fans-fans Ryuu. Kau juga harus ikut berteriak menyemangati pacarmu itu, hihihi," suruh Angel terkekeh.


Ara dengan cepat menggeleng, "Aku malu, Ngel."


"Hah? Malu? Malu kenapa?"


"K.. Karena..."


HUP!


Teriakan dari para murid perempuan bergema kala melihat sang Idola, Nakajima Ryuu一berhasil memasukkan bola ke dalam Ring lawan. Semua mata terpana melihat Ryuu, termasuk Ara. Demi apapun, melihat Ryuu yang kelelahan dan terkena panas matahari membuat laki-laki itu 100x lipat lebih tampan di mata Ara.


Permainan selesai. Para anggota ekskul basket saling bersalaman di akhir permainan. Setelah itu, mereka pun istirahat dan duduk di pinggir lapangan. Beberapa diantara mereka ada yang minum ataupun makan snack. Ya, wajar saja. Latihan tadi memang cukup menguras energi.


"Ra? Ara? Ayo cepat, beri Ryuu minuman yang sudah kau beli tadi," perintah Angel membuyarkan lamunan Ara terhadap Ryuu.


"Eh? T.. Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi!" seru Angel seraya mendorong tubuh Ara agar menghampiri Ryuu di depan sana.


Ara menghembuskan napasnya panjang. Ya, tak ada pilihan lain. Ia harus segera memberikan minuman yang sudah ia beli tadi kepada Ryuu. Walaupun sebenarnya ia masih marah pada Ryuu, tapi tak ada salahnya kan jika ia sekedar memberikan minuman pada sahabatnya itu?


Ara menoleh ke belakang. Di belakangnya, Sam sudah bersama Angel. Dan Ara melihat dengan jelas bagaimana Angel memberikan minuman untuk Sam, lalu mengelap keringat di dahi Sam dengan sapu tangan. Ya, seperti itulah hubungan pacaran yang seharusnya. Ara tahu itu.


Merasa ditatap Ara, Angel pun balik menatap sahabatnya itu dengan senyuman lebar.


"Ayo, Ra!" kata Angel hanya dengan gerak bibirnya saja.


Ara mengangguk. Kali ini ia berjalan dengan mantap, berniat menghampiri Ryuu. Namun, langkah kakinya itu terlalu lambat dari fans-fans Ryuu yang berlari begitu cepat menghampiri Ryuu.


Para fans Ryuu berusaha memberikan minuman maupun snack untuk Ryuu yang sedang duduk santai di pinggir lapangan. Namun, bisa Ara lihat, bahwa tak ada satupun minuman atau snack dari para fans Ryuu yang diterima oleh Ryuu.


Tanpa sadar, Ara tersenyum-senyum. Ia pun kembali berjalan menghampiri Ryuu yang sepertinya belum sadar akan kehadirannya. Ada rasa senang dalam hatinya karena tahu bahwa Ryuu tak akan mudah menerima pemberian orang lain, apalagi orang yang tak dekat dengannya.


"Kalau aku yang memberikan minuman ini, pasti Ryuu tak akan bisa menolak, hihihi," gumam Ara masih tersenyum-senyum.


Tiba-tiba...


"Ryuu! Ini untukmu!" seru seseorang di belakang Ara, berlari melewati Ara lalu sampai di hadapan Ryuu.


DEG!!!


Senyuman Ara meredup seketika. Ia membelalakkan matanya kaget ketika melihat Revina memberikan minuman dan snack yang cukup banyak untuk Ryuu. Lebih kagetnya lagi, Ryuu tak menolak semua yang diberikan Revina untuknya! Para fans Ryuu pun segera bubar dari situ dengan wajah yang cukup kecewa.


Bukan hanya para fans Ryuu, tapi Ara juga ikut kecewa dengan perlakuan Ryuu pada Revina yang sangat berbeda.


"Ara? Sedang apa kau disitu?" tanya Revina tiba-tiba.


Ryuu yang mendengar itu pun segera menatap Ara yang berjarak 3 meter darinya. Ya, rupanya, Ryuu memang baru menyadari kehadiran Ara disini.


Ara tersenyum pahit sambil menyembunyikan sebotol minuman yang ia pegang ke belakang punggungnya.


"Aku baru saja selesai menonton Ryuu bermain basket," jawab Ara mencoba terlihat normal. Walau sebenarnya, hatinya terasa tercabik-cabik sekarang.


Ryuu membuang muka sambil meminum minuman yang dibawa Revina. Tak sedikitpun menganggap kehadiran Ara.


"K.. Kalau begitu, aku permisi, ya," ujar Ara seraya membalikkan badan lalu memposisikan minuman yang ia pegang ke depan perutnya.


Ara pun berjalan menjauh dari Revina dan Ryuu. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Dari kejauhan, Angel dan Sam melihat Ara dengan tatapan khawatir. Sedangkan Revina tersenyum licik, bahkan ia sendiri tak menyangka Ryuu akan menerima minuman dan snack darinya.


"Rencanaku berjalan terlalu mudah, sepertinya, hahaha," batin Revina tertawa-tawa.


Disisi lain, Ara terus mengutuki dirinya sendiri sambil terus berjalan.


"Aku memang bodoh. Aku sudah tahu bahwa Ryuu tak akan pernah bisa mencintaiku. Tapi, aku terus saja berharap padanya. Hubungan pura-pura kami juga tamat sampai disini. Esok, aku akan kembali menjadi sahabat Ryuu seperti sedia kala," batin Ara lirih.


"Selamanya, aku akan terjebak dalam zona persahabatan dengan Ryuu," sambung Ara seraya menyeka air matanya yang terus-menerus mengalir.