STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 44 - Latihan



🖤🖤🖤


Dia tidak menolak, bukan berarti dia suka.


Dia hanya takut kamu terluka.


🖤🖤🖤


"Coach! Bagaimana keadaan Sam, Angel, dan Revina?" tanya Ara sesampainya ia di Rumah Sakit.


Coach Jeremy yang sedang duduk di Ruang Tunggu menatap Ara一menyiratkan aura kesedihan dalam matanya. Menyadari akan hal itu, Ara balik menatap Coach Jeremy bingung. Apa sesuatu yang parah terjadi pada ke-3 temannya itu? Kenapa Coach Jeremy terlihat begitu sedih?


"Ryuu kemana? Kau tak bersama dengan Ryuu?" tanya Coach Jeremy mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Coach. Tapi, sepertinya Ryuu sedang menuju kesini," jawab Ara cepat.


"Coach, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana keadaan Sam dan yang lainnya?" sambung Ara mengulang kembali pertanyaannya.


Coach Jeremy diam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Gerak-gerik seperti itu...


Bukankah itu artinya...


"T-tidak mungkin, Coach!!!" teriak Ara histeris. Tubuhnya seketika lemas, jantungnya berdetak cepat, seiring dengan pandangannya yang mulai memburam.


BRUKKK!!!


Gelap.


Namun, hal terakhir yang bisa dilihat Ara adalah Ryuu一 yang baru saja datang menghampiri dirinya dan Coach Jeremy.


***


"Al? Al? Apa kau sudah sadar?"


Suara lembut Ryuu menyapa Ara kala gadis itu baru saja membuka matanya. Eh? Dimana ini? Kenapa ruangan ini terlihat sangat familiar di mata Ara? Dan kenapa ada Ryuu yang duduk di sampingnya sekarang?


Ara yang awalnya berada dalam posisi tidur pun一 mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap perlahan sekeliling ruangan. Sambil mengernyitkan dahinya, Ara kini menatap Ryuu penuh tanda tanya.


"Ryuu? Kenapa sekarang aku ada di kamarku? Bukankah tadi, aku ada di rumah sakit?" tanya Ara kaget.


Ryuu membuang muka sambil melipat tangan di depan dadanya, "Aku yang membawamu pulang kesini."


"Iya, kenapa? Aku kan ingin melihat keadaan Sam, Angel, dan Revina! Mereka..."


DEG!!!


Ara membulatkan matanya kaget seraya berteriak histeris tatkala ia mengingat kembali sesuatu yang tadi sempat ia lupakan. Detik selanjutnya, Ara menangis tersedu-sedu hingga membuat Ryuu kebingungan sendiri.


"Hei, kau kenapa, Al?" tanya Ryuu heran.


"Apakah mereka semua baik-baik saja? Ku dengar dari Coach Jeremy, mereka一 "


"Mereka baik-baik saja kok. Tapi, keadaan Sam cukup parah di banding dengan yang lainnya. Dia mengalami koma karena pendarahan di otaknya," jelas Ryuu dengan raut wajah sedih.


Ara tertegun mendengar penjelasan Ryuu. Tentu saja, ia tak kalah sedih dari Ryuu karena Sam juga adalah teman dekatnya. Sekaligus pacar dari sahabatnya, Angel.


"Kenapa kau malah membawaku pulang ke rumah, Ryuu? Niatku itu ingin melihat keadaan mereka semua, tahu!"


"Coach Jeremy yang menyuruhku membawamu pulang. Jika bukan karena suruhannya, aku tak akan mau melakukan ini."


"Tapi kan一"


Sebuah panggilang berdering di ponsel Ara. Tanpa pikir panjang, Ara langsung meraih ponselnya yang ada di dalam tas selempangnya. Betapa terkejutnya Ara saat melihat nama orang yang menelponnya.


Tut!


Ara menekan tombol terima panggilan. Lalu menekan tombol speaker agar Ryuu juga bisa mendengar suara si pemanggil.


"Halo? Angel? Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu! Kau tidak terluka parah, kan? Kau tidak pendarahan kan?"


"Hahaha, Ra. Tenanglah. Kau bertanya apa mengintrogasiku, sih? Hahaha..."


"Aku kan mengkhawatirkanmu dan yang lainnya, tahu!"


Ara kembali menangis. Membuat Ryuu yang berada disampingnya menatap Ara iba. Laki-laki itu pun berniat mengusap kepala Ara, tapi ia terpaksa mengurungkan niat karena Ara meliriknya sekilas.


"Lukaku dan Revina tidak begitu parah kok, Ra. Beda dengan Sam yang kini sedang koma."


"Apa Sam kondisinya separah itu? Ya tuhan, semoga dia lekas siuman dari koma-nya, ya!"


"Iya, ku harap juga begitu. Terimakasih ya Ra, atas doanya."


"Oh iya ngomong-ngomong, kalian harus tetap jadi ya kencan besok! Awas saja kalau besok kalian tidak jadi kencan hanya gara-gara aku dan Sam tidak bisa ikut!"


"Eh? Maksudmu? Aku kan besok ingin menjengukmu一"


"T-tapi.. Angel!"


Tut!


Telepon dimatikan sepihak oleh Angel.


"Ada apa sih dengan Angel? Kenapa kita harus tetap kencan? Harus ada bukti berupa foto kencan juga?" gumam Ara tak mengerti.


Ryuu menghela napas, "Mungkin, Angel pikir, besok adalah kencan kita untuk yang pertama kalinya. Dan kencan pertama itu tidak sebaiknya ditunda-tunda."


"Ya, tapi kan Ryuu一"


Ryuu berdiri dari posisi duduknya. Ia kemudian berjalan meninggalkan Ara yang masih berada di kasur. Tak ingin Ryuu pergi begitu saja, Ara pun berlari mengikuti Ryuu yang sudah keluar dari kamarnya.


"Ryuu!" panggil Ara sambil berjalan cepat menuruni anak tangga.


Ryuu tak sedikitpun menoleh ke belakang. Ia tetap berjalan sambil menatap lurus ke depan.


"Ara? Kau sudah sadar? Mommy khawatir melihatmu pingsan dan dibawa kesini oleh Ryuu. Kau tidak apa-apa kan?" tanya Santia, sang Mommy yang berada di ruang tamu.


"Iya, Mom. S.. Sebentar dulu ya!" jawab Ara dengan cepat sambil terus mengejar Ryuu yang kini berada di luar rumahnya.


"Ryuu!"


Ryuu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


"Apa?"


"Kau mau kemana?"


"Ya pulang. Lagipula kau sudah sadar juga kan dari pingsanmu?"


Ara mengangguk, "Jadi, besok bagaimana? Apa kita akan tetap kencan?"


"Kalau bukan keinginan Angel, aku tak akan mau kencan denganmu. Apalagi harus berfoto saat kencan," jawab Ryuu ketus.


"Tapi kan一"


"Ya, mau bagaimana lagi. Kita harus tetap berkencan dan memperlihatkan bukti foto kencan kita pada Angel, sepulang dari kencan kita," kata Ryuu dingin.


"Kalau besok tak kencan, aku mungkin bisa belajar di rumah dengan tenang untuk persiapan Ujian nanti," sambung Ryuu sambil memutar bola matanya malas.


Ara memanyunkan bibirnya melihat Ryuu yang terlihat tak niat kencan bersamanya. Ya, benar juga sih. Hubungan mereka kan hanya sebatas pura-pura saja. Untuk apa Ara berharap lebih? Ryuu saja terlihat malas seperti itu.


"Kalau kau memang tidak ingin berkencan denganku, tak apa kok. Aku bisa jelaskan pada Angel besok di Rumah Sakit," ucap Ara sambil menunduk.


Ryuu menatap Ara tajam lengkap dengan ekspresinya yang dingin.


"Kau melanggar persyaratan hubungan kita yang ke-3."


"Eh?" Ara membulatkan matanya kaget, menatap Ryuu tak mengerti.


"Tidak boleh bawa perasaan di dalam hubungan pura-pura ini. Kau lupa persyaratan itu, hah?"


Ara tertegun mendengar ucapan Ryuu, "M-maaf," katanya lalu kembali menundukkan kepalanya.


Ryuu menghela napas panjang seraya menghampiri Ara yang berdiri tak jauh darinya. Sesampainya di hadapan Ara, Ryuu tanpa permisi menggenggam tangan gadis itu.


DEG!!!



"Eh? Ryuu?"


Jantung Ara berdetak kencang menyadari perlakuan Ryuu yang tiba-tiba. Tentu saja, Ara langsung salah tingkah di saat itu juga. Eh? Ada apa sebenarnya dengan Ryuu? Kenapa tiba-tiba dia menggenggam tangan Ara?


"Dasar payah. Aku itu hanya latihan menggenggam tanganmu saja, tahu. Agar nanti-nanti jika aku menggenggam tanganmu seperti ini, kau tak akan salah tingkah," jelas Ryuu seraya tersenyum miring, detik selanjutnya ia melepaskan genggaman tangannya pada Ara.


"Latihan?"


"Iya, latihan. Kau mau teman-teman kita di sekolah menyadari bahwa hubungan kita hanya pura-pura saja jika kau selalu salah tingkah seperti tadi?"


Ara menggeleng dengan cepat. Ia benar-benar tak mau itu terjadi.


"Kau harus latihan untuk terlihat biasa dan normal jika aku memperlakukanmu manis. Mengerti?" tanya Ryuu lalu diikuti anggukan oleh Ara.


"S-siap!" seru Ara mengerti.


Ryuu pun tersenyum miring lalu memutar balik tubuhnya membelakangi Ara. Ia bersiap pergi dari depan rumah sahabatnya itu. Namun, sebelum benar-benar pergi, Ryuu bergumam kecil.


"Mungkin, latihannya bisa lebih dari yang tadi," gumamnya tapi tak bisa di dengar Ara sedikitpun.