STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 24 - Rahasia



🖤🖤🖤


Ketika aku memutuskan untuk jatuh cinta padamu...


Maka aku akan jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya...


🖤🖤🖤


"Aku mau mencari aksesoris untuk kamarku," jawab Ara mencoba tersenyum ceria.


Revina tertawa, "Wah! Aku juga sedang mencari aksesoris untuk kamarku lho, Ra! Bagaimana kalau kita mencarinya bersama-sama?"


Ara tak menjawab pertanyaan Revina. Tatapan matanya tak lepas dari Ryuu yang juga ikut menatapnya. Mereka bertatapan cukup lama. Hingga pada akhirnya, Revina menepuk pundak Ryuu pelan agar cowok itu mengalihkan pandangan untuknya.


"Ryuu, ayo kita ke sebelah sana," kata Revina tersenyum sambil menunjuk ke arah sebelah pojok kanan toko.


Ryuu mengangguk. Namun, baru saja mereka akan berjalan, Ara menarik duluan tangan Ryuu agar tetap berdiri di tempatnya.


"Revina, apa kau menyukai Ryuu?"


DEG!!!


Revina membulatkan matanya seketika. Terkejut dengan pertanyaan Ara yang sangat frontal dan tiba-tiba itu.


"Kenapa kau bertanya begitu?" Revina malah bertanya balik.


Ara terdiam, memikirkan sesuatu dalam otaknya, "Mumpung ada Ryuu juga disini. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


Revina terlihat agak terkejut karna pertanyaan Ara kini berubah. Sedangkan Ryuu yang ada di samping Revina hanya diam melihat dua gadis di hadapannya itu berbicara. Namun, dibalik diamnya Ryuu, sebenarnya dia cukup takut dengan apa yang akan ditanyakan Ara pada Revina.


"Ku dengar, kau tahu rahasia Ryuu. Bagaimana caranya kau bisa tahu? Aku saja sebagai sahabatnya, tidak tahu apapun tentang rahasianya," kata Ara dengan tenang.


"Waktu itu, sekitar 2 minggu yang lalu, aku bertubrukan dengan Ryuu di parkiran sekolah. Karna disitu aku sedang membawa banyak barang, jadi aku dengan asal memasukkan semua barangku ke tas jinjing. Setibanya di rumah, aku kaget karna ponsel Ryuu dan sebuah kotak kecil ikut masuk ke dalam tas jinjingku. Karna penasaran, aku membuka ponsel milik Ryuu yang tidak ada kata sandinya, dan disitulah aku tahu rahasianya," jelas Revina panjang lebar.


"Kotak kecil?"


"Iya, itu adalah kalung yang kau pakai," jawab Revina sambil menunjuk kalung bulan sabit yang memang sedang Ara pakai dilehernya.


Ara tersenyum, "Lalu, apa rahasia yang kau tahu?"


"Waktu itu aku kan sudah pernah memanggilmu ke atap sekolah, kenapa kau tak datang?" Revina balik bertanya dengan wajah cukup kesal.


Ara cukup tertegun mendengar pertanyaan Revina. Pikirannya langsung melayang pada Ryuu yang menahannya untuk tidak bertemu dengan Revina waktu itu. Apalagi kalau bukan ciuman beberapa hari yang lalu?


"Aku yang melarangnya bertemu denganmu," kata Ryuu tiba-tiba.


Revina menatap Ryuu kaget, "Eh? Kenapa?"


"Sesuai perjanjian kita, kau akan merahasiakan rahasiaku dari siapapun termasuk Al kan? Dengan imbalan, aku harus mengajarimu les setiap hari di rumahmu."


"Sekarang kau sudah tak mengajar les lagi, berarti aku boleh membocorkannya pada Ara kan?" tanya Revina sambil tersenyum miring.


"Memangnya apa sih rahasia Ryuu?" Ara menatap Revina dengan tatapan sangat penasaran.


"Oke, jadi begini," kata Revina seraya menatap Ryuu sekilas, mencoba memastikan bagaimana ekspresi Ryuu sekarang terhadapnya. Ah, datar dan dingin. Seperti biasanya.


"Kau yakin akan kuat mendengar ini?" tanya Revina terdengar meragukan Ara.


Ara mengangguk antusias, "Katakan saja, apar rahasia dia."


"Sebenarnya, Ryuu itu一"


"Al, ayo kita pulang. Biar aku yang menjelaskan rahasiaku padamu," ucap Ryuu seraya menggenggam tangan Ara, lalu berjalan keluar dari toko tersebut. Meninggalkan Revina yang diam membeku.


"R-ryuu? S-sakit, lepaskan!" seru Ara seraya berusaha melepaskan tangan Ryuu dari tangannya.


"Kita langsung pulang," kata Ryuu dingin sambil melepaskan genggaman tangannya pada Ara, lalu berjalan menuju sepeda yang ia parkir.


"Eh? T-tapi aku kan mau beli kado一"


"Cepat, naik sepedamu. Ku tunggu kau di rumahku,"


Setelah berucap seperti itu, Ryuu mengayuh sepedanya lalu pergi meninggalkan Ara. Ara yang diam mematung tentu saja merasa aneh pada Ryuu. Padahal, tinggal sedikit lagi ia tahu apa rahasia Ryuu yang diketahui Revina. Tapi, lagi-lagi Ryuu menahan Revina untuk tidak cerita padanya.


***


"Ini, dia adalah rahasiaku,"


Ara yang baru saja datang ke kamar Ryuu一cukup terkejut karna Ryuu tanpa basa- basi menyodorkan ponselnya pada Ara.


"Eh?"


Rasa terkejutnya itu bertambah tatkala melihat sebuah foto anak perempuan dan anak laki-laki yang ada di dalam ponsel Ryuu. Bukan, itu bukanlah foto masa kecil mereka. Melainkan Ryuu yang bersama anak perempuan lain. Dilihat dari latar foto, sepertinya foto tersebut diambil ketika Ryuu masih tinggal di Jepang.


"I-ini siapa?" tanya Ara penasaran.



Ryuu tersenyum miring, "Iya, dia adalah rahasiaku."


"Apakah dia temanmu di Jepang?"


"Hmm, Revina waktu itu juga bertanya padaku. Apakah foto ini foto temanku di Jepang, atau foto kau dan aku. Akhirnya ku jawab saja bahwa foto ini adalah rahasiaku. Dia adalah perempuan rahasiaku," jelas Ryuu.


Ara semakin bingung dan penasaran, "Maksudmu?"


"Aku menyukai gadis di dalam foto itu," jawab Ryuu sambil memutar bola matanya kesal karna Ara masih belum mengerti juga.


Diluar dugaan, Ara ternyata tidak terlihat terkejut atau apapun mendengar ucapan Ryuu tadi. Malah, gadis itu tersenyum seolah tak ada apa-apa dengannya. Melihat hal itu, tentu saja Ryuu cukup tertegun. Ia kira, Ara akan terkejut mendengar ucapannya. Tapi nyatanya tidak.


"Kau tidak terkejut?" tanya Ryuu.


"Tidak, hehe," jawab Ara sambil tersenyum manis.


"Nama dia adalah Tachibana Aoi. Sebenarnya dahulu, saat aku berumur 5 tahun, aku di jodohkan dengannya oleh nenekku sendiri. Bahkan orangtuaku saja tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Karna pada saat itu aku masih belia, jadi sebelum aku pindah ke Indonesia, Nenek bilang padaku agar jangan sampai lupa dengan perjodohan ini. Kelak jika aku sudah lulus sekolah, aku harus ke Jepang lagi untuk di jodohkan dengannya," jelas Ryuu panjang lebar. Selama 10 tahun bersahabat, baru kali ini Ara mendengar Ryuu bicara sepanjang itu.


Ryuu tersenyum miring, "Bagaimana? Apa kau mau menyerah sekarang terhadapku?"


"Eh? Menyerah? Tidak kok. Aku tidak akan pernah menyerah kalau itu tentangmu," jawab Ara cengengesan seperti biasanya.


DEG!!!


Ryuu membuang wajahnya. Ia mencoba menutupi rasa terkejutnya pada Ara. Aneh. Ini benar-benar aneh. Kenapa Ara bisa begitu tenang mendengar rahasia Ryuu? Mati-matian ia menjaga rahasia itu dari Ara, karna takut Ara akan sedih mendengar dirinya akan pulang lagi ke Jepang jika sudah lulus nanti. Tapi, kenapa nyatanya Ara tidak terlihat terkejut ataupun shock sedikitpun?


"Kau habis makan apa sih?" gumam Ryuu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh? Apa?" tanya Ara yang kurang jelas mendengar gumaman Ryuu.


"Intinya, jika kau benar-benar menyukaiku dan kau bisa membuatku menyukaimu, maka aku tidak akan pernah pulang ke Jepang."


"Hehehe, siap Bos!!!" seru Ara tersenyum antusias.


Ryuu sekali lagi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi, kesempatanmu itu hanya 0,1% saja, Al," kata Ryuu dingin yang sukses membuat senyuman Ara meredup.


"Eh? 0,1%?"


"Iya, tidak mudah kan? Apalagi selama ini aku hanya menyukai Aoi saja. Dia adalah gadis pertama yang kusuka sekaligus sahabatku disana," ucap Ryuu mencoba membuat Ara terkejut. Nihil, nyatanya Ara terlihat tenang-tenang saja.


"Dia ada di Jepang, bukan? Bagaimanapun, yang dekat denganmu dan menjadi sahabatmu sekarang ini adalah aku. Jadi aku merasa percaya diri bisa membuatmu jatuh cinta padaku, hehe," kata Ara yang sukses membuat Ryuu terkejut entah untuk yang keberapa kalinya.


"Ada yang salah dengan otak Al hari ini. Dia terlihat baik-baik saja mendengar ucapanku tentang rahasiaku. Ada apa sih sebenarnya dengan dia?" batin Ryuu sambil memperhatikan Ara yang sedang tersenyum-senyum.


"Sudah kan? Hanya itu saja rahasiamu?"


"Iya, hanya itu rahasiaku."


"Hmph! Jika hanya itu rahasiamu, kenapa kau tutup-tutupi dariku sebegitunya! Bahkan kau mati-matian menutupi rahasiamu yang akan dibocorkan Revina padaku. Sampai-sampai, kau menciumku segala一"


"Diam, jangan membicarakan hal itu. Sekarang, kau boleh pulang," ujar Ryuu seraya membukakan pintu kamarnya.


"Baiklah, dadah Ryuu! Sampai ketemu nanti, hihihi," ucap Ara tertawa kecil sambil keluar dari kamar Ryuu lalu menutup pintu kamarnya.


"Dia benar-benar berubah, bukan seperti Al yang biasanya," batin Ryuu setelah Ara pergi.