
🖤🖤🖤
Dia sangat keras kepala.
Tapi, kenapa aku masih saja menyukainya?
🖤🖤🖤
"Halo? Coach? Bagaimana keadaan Sam, Angel, dan Revina? Apa kau sudah menyusul mereka ke rumah sakit?"
"Sudah. Sekarang mereka bertiga sedang ditangani oleh Dokter. Namun, sepertinya kondisi Sam lebih parah dari yang lainnya karna dia mengalami pendarahan paling banyak."
"B.. Benarkah? Me.. Memangnya, kecelakaan seperti apa yang dialami Sam, Angel, dan Revina, Coach?"
"Sam menabrak mobil yang sedang parkir di samping jalan. Karna laju motornya terlalu kencang, sampai-sampai dirinya dengan yang lainnya terpental cukup jauh dari motor yang dibawa Sam."
"Ya ampun..." Ara menutup mulutnya tak percaya. Matanya itu kini berkaca-kaca, lengkap dengan perasaan panik sekaligus khawatir.
Ryuu yang berada di samping Ara hanya diam sambil memperhatikan gadis itu menelepon Coach Jeremy. Sebenarnya, perasaan Ryuu juga tak kalah khawatirnya dengan Ara. Mendengar teman dekatnya一Sam yang kecelakaan, mana mungkin Ryuu bisa tenang-tenang saja? Apalagi Angel yang juga sahabat Ara ikut terlibat dalam kecelakaan tersebut.
"Ya sudah, ya Ra. Nanti aku akan mengabarimu lagi. Kau sekarang fokus saja lomba Band dengan Ryuu."
"E.. Eh? Maksudmu, Coach? Aku dan Ryuu tetap ikut lomba Band ini? Bukankah itu mustahil? Hanya ada aku sebagai vokalis dan Ryuu sebagai gitaris. I-itu tidak mungkin, Coach."
"Ya, sudah pasti kalian tidak akan menang. Tapi, setidaknya, berikanlah penampilan terbaik kalian di atas panggung, walau kalian hanya berdua saja. Bagaimana, apakah bisa, Ra?"
"Eh.. Ta.. Tapi, Coach!"
Tut!
Telepon dimatikan sepihak oleh Coach Jeremy.
Ara pun terdiam. Dia menundukkan kepalanya sambil menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu, Ryuu mengernyitkan dahinya bingung seraya mengambil ponsel Ara dari tangan si pemilik.
"Coach bilang apa, Al?" tanya Ryuu penasaran.
"Coach bilang, kita harus tetap ikut lomba Band ini walau hanya berdua."
"Hah? Tetap ikut?"
Ara mengangguk sambil kembali menundukkan kepalanya, "Katanya, walau hanya berdua, kita harus menampilkan penampilan terbaik kita, Ryuu."
"Bagaimana caranya? Lagipula, lagu yang akan kita bawakan kan harus ada pemain drum, bass, dan juga keyboard. Kalau hanya ada aku sebagai pemain gitar, mana bisa kita membawakan lagu yang 2 minggu kemarin sudah kita pelajari?"
Ara menghela napasnya, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Ia tak menyangka hari ini akan se-kacau ini. Di tambah, sepertinya Ryuu tak setuju dengan perintah Coach Jeremy agar tetap ikut lomba Band.
"Kita hanya akan memalukan nama sekolah kita saja, Al, jika kita tetap ikut lomba Band. Menurutku, sebaiknya sekarang kita susul saja Sam dan yang lainnya di Rumah Sakit. Ayo," ujar Ryuu seraya membalikkan badan, bersiap untuk berjalan meninggalkan Ara.
"Band kita tak akan menang? Itu tak boleh terjadi! Walau hanya ada aku dan Ryuu saja, kita berdua memang harus menampilkan penampilan terbaik kita," gumam Ara yang masih bisa di dengar oleh Ryuu.
"Hei, kau tetap ingin tampil di atas panggung, hah? Kau gila, apa? Sudah ku bilang kita tak akan bisa membawakan lagu hanya dengan vokalis dan gitaris saja! Lagu yang kita bawakan itu tergolong rumit, tahu!"
Ara melirik Ryuu sekilas, lalu matanya menatap ke arah panggung sana. Dalam hati, ia mengumpulkan tekad untuk tetap tampil di panggung apapun yang terjadi.
"Jika kau tak mau, biar aku saja sendiri!" seru Ara seraya berlari pergi, meninggalkan Ryuu yang diam mematung. Laki-laki itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ara.
"Dasar keras kepala," batin Ryuu kesal.
***
SKIP
Pukul 09:20
Ryuu berlari kesana-kemari mencari dimana keberadaan Ara. Sambil terus berlari, Ryuu mencoba menelepon sahabatnya itu. Namun, nihil. Ara sama sekali tak mengangkat telepon dari Ryuu. Sebenarnya, kemana perginya Ara?
Karena pandangan mata Ryuu terus tertuju pada ponselnya, tiba-tiba saja ia tak sengaja menabrak seseorang di depannya. Betapa kagetnya ia saat melihat ternyata ada teman-teman sekelasnya, yang berdiri tepat di hadapannya. Jika dihitung, mungkin sekitar ada 10 orang temannya. Laki-laki dan perempuan.
"Ryuu, kau tak apa? Kenapa kau terlihat sangat cemas?"
"Iya, sampai-sampai kau menabrakku seperti tadi."
"Ada apa? Apa ada sesuatu hal? Oh iya, dimana anggota Band-mu?"
"Iya, kami semua datang untuk menonton penampilan Band-mu, tahu!"
Baru saja Ryuu akan menjawab, tiba-tiba saja pandangan matanya tertuju pada seorang perempuan berbaju biru muda dan berambut panjang berjalan ke atas panggung. Tak salah lagi, itu adalah Ara!
"Teman-teman, maaf, aku akan kesana dulu!" seru Ryuu seraya kembali melanjutkan larinya. Meninggalkan teman-temannya itu dengan sejuta tanya.
Meski berhimpit-himpitan, Ryuu bersusah payah berjalan menuju jajaran penonton paling depan. Ia berniat untuk meneriaki Ara agar turun dari atas panggung. Lagipula, jika Ara sendiri, memangnya ia bisa membawakan lagu yang 2 minggu lalu sudah mereka pelajari? Itu mustahil, bukan? Dan tentu itu hanya akan membuat Ara dan nama sekolah malu saja!
Ryuu pun menghentikan langkahnya ketika ia berhasil berdiri di jajaran penonton paling depan. Sambil terengah-engah, ia menatap Ara yang kini sudah berdiri di atas panggung. Gadis itu lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan sambil menopang gitar di pahanya.
"Ara! Turun dari atas sana! Kau tak akan bisa membawakan lagu kita!" teriak Ryuu sekencang-kencangnya.
Nihil, suara Ryuu tertutup dengan suara hiruk-pikuk para pengunjung festival. Dan Ara juga sepertinya tak menyadari keberadaan Ryuu meski laki-laki itu berdiri di jajaran penonton paling depan.
Ara terlihat menutup matanya seraya menarik napas panjang. Setelah itu, ia pun membenarkan posisi Microphone yang terpasang di telinganya一agar posisinya pas di depan bibirnya.
"Halo, semuanya! Perkenalkan, namaku Altheara Ananda Putri dari SMA Soetomo! Salam kenal, semuanya!" seru Ara seperti biasa menunjukkan keceriaannya.
"Ara! Kumohon, turun dari atas sana!" teriak Ryuu mencoba mencari perhatian Ara.
Nihil. Nyatanya, suara Ryuu itu semakin tertutup dengan teriakan-teriakan penonton yang meneriaki Ara.
"Wah, cantik sekali ya dia!"
"Iya, cantik sekali! Pasti suaranya bagus!"
"Tapi, ngomong-ngomong, kemana anggota Band dia? Kenapa dia hanya sendiri?"
"Iya, benar! Kenapa dia hanya sendiri saja, ya?"
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya kala ia mendengar bisikan-bisikan dari penonton yang ada di samping dan belakangnya. Gawat, Ryuu sangat panik sekarang. Kalau penampilan Ara jelek, gadis itu benar-benar akan mencoreng nama sekolah mereka. Apa yang harus Ryuu lakukan?
"Sebenarnya, aku datang ke festival ini untuk mengikuti lomba Band bersama 5 anggota Band-ku, termasuk diriku sendiri. Namun, 3 anggota Band-ku yaitu pemain drum, bass, dan keyboard kecelakaan saat perjalanan menuju festival ini. Aku minta doanya pada kalian semua, semoga anggota Band-ku yang kecelakaan tersebut tidak mengalami luka yang parah," sambung Ara menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
Salah satu juri yang tak jauh dari Ryuu bertanya menggunakan microphone. Rupanya, penjelasan dari Ara menarik simpati salah satu juri.
"Saudari Altheara, bukankah yang kecelakaan hanya ada 3 orang saja? Lalu, kemana 1 lagi anggota Band-mu? Kenapa dia tak ikut bersamamu ke atas panggung?"
Ara tertegun mendengar pertanyaan juri. Detik selanjutnya, Ara semakin tertegun lagi kala matanya menangkap pemandangan Ryuu yang berdiri di jajaran penonton paling depan.
"Eh? Ryuu? Ku kira, dia akan ke rumah sakit menyusul Coach Jeremy. Kenapa dia masih disini?" batin Ara kaget.
"Aku sempat bertengkar dengan 1 anggota Band-ku yang tersisa. Dia memilih untuk mundur saja dari perlombaan ini. Tapi, aku tak bisa mundur begitu saja! Aku harus bisa tampil di atas panggung ini apapun yang terjadi!"
Ara tersenyum getir, ia berusaha menahan air matanya yang memberontak di pelupuk matanya. Ia tak boleh menangis!
"Demi semua anggota Band-ku, aku harus tetap tampil di atas panggung ini! Ya, apapun yang terjadi!" seru Ara diikuti riuh tepuk tangan para penonton.
Ryuu menundukkan kepalanya pasrah. Ah, sudahlah. Walau Ara berusaha tetap tampil di atas panggung, Ryuu yakin hal itu tak akan membuat Ara menang dalam perlombaan ini. Karena, ini adalah perlombaan Band, lho! Bukan perlombaan penyanyi solo! Para juri juga sepertinya sudah mencoret nama Ara di buku penilaian lomba. Ya, Ryuu yakin akan hal itu.
"Sebelum aku bernyanyi, aku akan jujur pada semua dewan juri. Bahwa sebenarnya aku ini tak pandai bermain gitar. Dan juga, lagu yang akan ku bawakan melenceng dari tema yaitu Jepang dan Indonesia. Apakah tidak apa-apa?" tanya Ara meminta pendapat dewa juri.
Salah satu juri yang sebelumnya diam kini angkat bicara. Rupanya, ucapan Ara ini memanglah menarik semua dewan juri.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, silahkan tunjukkan penampilan terbaikmu pada kami," kata dewan juri itu sambil tersenyum miring, seperti menantang Ara.
Ara mengangguk seraya membalas senyuman juri itu. Detik berikutnya, Ara pun memetik perlahan senar gitar yang di pangku di pahanya. Ada rasa takut dan ragu dalam hatinya. Apalagi, di depannya ada Ryuu yang memperhatikannya dengan tatapan dingin.
"Aku harus tenang. Aku yakin Angel dan yang lainnya baik-baik saja. Ya, aku yakin itu!" seru Ara dalam hati, berusaha menenangkan pikirannya yang cukup kacau tentang teman-temannya yang kecelakaan.
"Apa kau yakin akan bisa, Al?" gumam Ryuu khawatir sekaligus meragukan Ara.
***
I like your eyes, you look away when you pretend not to care
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
(Aku suka lesung pipi di sudut senyumanmu)
I like you more, the world may know but don't be scared
(Aku sangat menyukaimu, dunia mungkin tahu tapi jangan takut)
Coz I'm falling deeper, baby be prepared
(Karena perasaanku semakin dalam, sayang bersiaplah)
I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell
(Aku suka bajumu, aku suka jarimu, begitu juga aroma tubuhmu)
To be your favorite jacket, just so I could always be near
(Aku ingin jadi jaket favoritmu agar bisa terus dekat denganmu)
I loved you for so long, sometimes it's hard to bear
(Aku sudah lama mencintaimu, terkadang sulit menahannya)
But after all this time, I hope you wait and see
(Tapi setelah sekian lama, aku harap kamu menunggu dan melihatku)
Love you every minute, every second
(Aku mencintaimu setiap menit, setiap detik)
Love you everywhere and any moment
(Aku mencintaimu di mana pun dan kapan pun)
Always and forever I know I can’t quit you
(Selalu dan selamanya, aku sadar tak bisa lepas darimu)
Coz baby you’re the one, I don’t know how
(Karena sayang, kamulah satu-satunya, aku tak tahu kenapa)
I love you til the last of snow disappears
(Aku mencintaimu hingga salju terakhir menghilang)
Love you til a rainy day becomes clear
(Aku mencintaimu dari hujan hingga reda)
Never knew a love like this, now I can't let go
(Aku belum pernah merasakan cinta seperti ini, kini aku tak bisa lepas)
I'm in love with you, and now you know
(Aku jatuh cinta padamu, dan sekarang kamu menyadarinya)
I like the way, you try so hard when you play ball with your friends
(Aku suka perjuanganmu, kamu berusaha keras saat bermain bola bersama teman-temanmu)
I like the way you hit the notes, in every song you're shining
(Aku suka melihatmu saat memainkan alat musik dan menyanyikan sebuah lagu)
I love the little things like when you're unaware
(Aku suka hal-hal kecil tentangmu yang tak kamu sadari)
I catch you steal a glance and smile so perfectly
(Aku memergokimu mencuri pandang padaku dan tersenyum dengan sempurna)
Though sometimes when life brings me down
(Meski kadang hidup membuatku jatuh)
You're the cure my love
(Kamulah penyembuh cintaku)
In a bad rainy day
(Dalam hujan badai yang deras)
You take all the worries away
(Kamu melenyapkan kekhawatiranku)
Love you every minute, every second
(Aku mencintaimu setiap menit, setiap detik)
Love you everywhere and any moment
(Aku mencintaimu di manapun dan kapanpun)
Always and forever I know I can't quit you
(Selalu dan selamanya, aku tak bisa melepaskanmu)
Coz baby you're the one, I don't know how
(Karena sayang, kamulah satu-satunya, aku tak tahu kenapa)
In a world devoid of life, you bring color
(Dalam dunia tanpa kehidupan, kamu membawa warna)
In your eyes I see the light, my future
(Di matamu aku melihat cahaya, masa depanku)
Always and forever I know, I can't let you go
(Selalu dan selamanya, kamu tak akan pernah kulepas)
I'm in love with you, and now you know
(Aku jatuh cinta padamu, dan sekarang kamu menyadarinya)
I'm in love with you, and now you know
(Aku jatuh cinta padamu, dan sekarang kamu menyadarinya)
Gemuruh dan riuhnya tepuk tangan menggema di seluruh penjuru jajaran penonton. Suara lembut Ara dipadu dengan petikan gitarnya yang selaras, membuat penampilannya itu terlihat memukau dan terdengar sangat luar biasa! Ryuu saja sampai dibuat tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Eh? Bahkan, juri saja sampai bertepuk tangan untuk Al?" batin Ryuu kaget dalam hati.
Ara pun turun dari atas panggung. Sebelum benar-benar turun, Ara menatap Ryuu yang ada di bawah panggung. Rupanya, Ara masih kesal pada Ryuu yang menolak untuk ikut tampil di atas panggung bersamanya.
"Siapa sih yang sebenarnya keras kepala? Aku? Atau kau?" tanya Ara dalam hati, lalu kembali melanjutkan jalannya一turun dari atas panggung.