STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 28 - On The Way!



🖤🖤🖤


Karena, luka tercipta dari orang yang kita anggap istimewa.


🖤🖤🖤


Ryuu, Ara, Sam, Angel, Revina, dan Rangga sudah berada di halte Bus pagi-pagi buta ini. Mereka semua sedang menunggu Bus yang menuju ke Puncak, tepatnya di Villa yang sudah Bundanya Ryuu sewa disana. Namun, sudah hampir 30 menit, Bus tidak ada satupun yang lewat.


"Bagaimana ini? Bagaimana kalau Bus-nya tak ada yang beroperasi di hari ini?" tanya Ara sambil berbisik pada Ryuu yang ada disampingnya.


Ryuu melirik Ara sinis, "Jika Busnya tidak beroperasi hari ini, baguslah. Lagipula aku malas ke Puncak, buang-buang waktu."


"Hmm, ini 'kan demi merayakan ulang tahunmu yang ke-18 tahun!"


"Tapi aku merasa tak ada gunanya merayakan ulang tahunku. Lagipula, ulang tahunku sudah lewat beberapa hari yang lalu, untuk apa di rayakan?"


Ara memanyunkan bibirnya sebal, "Itu artinya kau orang spesial, Bundamu saja sampai repot-repot menyewa Villa untuk kita disana. Belum lagi一"


"Diamlah, aku ingin mendengarkan musik," potong Ryuu seraya menanggalkan earphone ke telinganya, lalu membuang muka. Menatap ke sembarang arah.


Ara menganggukkan kepalanya dan memilih untuk tak bicara apa-apa lagi. Namun, di samping itu, ternyata Rangga menyadari kekhawatiran Ara terhadap Bus yang masih juga belum lewat. Berniat menenangkan Ara, Rangga pun mendekati gadis tersebut.


"Putri, kau kenapa?" tanya Rangga memulai pembicaraan.


"Ah, tidak. Aku tidak kenapa-napa, kok," jawab Ara sambil tersenyum tipis.


"Bus di hari Sabtu memang agak lama datangnya. Kita tunggu saja, ya. Sebentar lagi juga pasti lewat kok." Rangga tersenyum manis sambil mengelus pelan rambut hitam Ara, "Jangan khawatir, oke?"


Senyuman Ara yang tadinya tipis berubah menjadi lebar seketika. Entah kenapa, suara lembut dan senyuman Rangga berhasil membuat kekhawatirannya mereda. Sangat berbeda dengan ucapan Ryuu yang malah semakin membuatnya khawatir tadi.


"Duh, Busnya lama sekali ya! Aku jadi capek menunggu seperti ini!" seru Revina sambil melipat tangan dibawah dada.


"Kau pikir keluhanmu itu bisa membuat Bus langsung datang di depan mata kita? Ck, dasar bodoh," cibir Angel seraya menatap ke sembarang arah.


"Apa kau bilang? Bodoh?" tanya Revina kesal.


Sam berdehem canggung, "Rev, jangan di masukan ke hati ucapan Angel ya. Dia memang sedang PMS dari kemarin," ujar Sam mencoba melerai.


"Apa? PMS?!" tanya Angel seraya melotot pada Sam.


"Hehehe, jangan marah-marah terus, sayang. Nanti cantikmu hilang."


"Hmph! Gombalanmu itu sudah tidak mempan lagi, ya!"


"Tapi kau senang 'kan mendengarnya? Jarang-jarang lho, aku menyebutmu cantik, hahaha.."


"Orang bodoh jadi bertambah dua ya setelah Revina?!"


Revina membelalakkan matanya kesal, "Hei! Jaga ucapanmu!"


Ara dan Rangga yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran tiga temannya itu langsung tertawa terbahak-bahak. Sungguh lucu sekali. Apalagi ekspresi Angel dan Revina yang saling kesal satu sama lain.


"Ngel, sudah dong, jangan marah-marah," ledek Ara yang masih tertawa terbahak-bahak.


Angel menutup mulutnya. Ia memasang mata berkaca-kaca sambil menghampiri Ara. Setelah sampai di hadapan sahabatnya itu, Angel pun memeluk Ara erat.


"Hei, kau kenapa?" tanya Ara cukup tertegun karena dipeluk tiba-tiba.


"Ra, tolong marahi Sam! Dari kemarin, dia membuatku kesal terus! Apalagi perempuan berambut pendek itu, dia membuatku murka!" seru Angel seraya menunjuk Sam dan Revina.


Merasa ditunjuk, Revina melotot pada Angel, "Memangnya salahku apa? Selama ini kau yang selalu mencibirku jika aku berbicara. Apalagi setiap latihan Band, kau tak pernah bosan membuatku kesal, Angel!"


"Kau tak sadar kesalahanmu apa?"


"Sorry ya, aku tak ada waktu untuk berbuat kesalahan apalagi berbuat kesalahan padamu!"


"Cih, sudah berbuat salah, tidak sadar pula kesalahanmu apa! Dasar tidak tahu malu!"


"Teman-teman, tenanglah. Ini masih pagi buta lho, " ujar Ara berusaha melerai. Detik selanjutnya, Ara menatap Sam一memohon agar Sam ikut membantunya untuk melerai Angel dan Revina.


Tapi, yang ditatap Ara malah menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya Sam juga sudah menyerah untuk melerai pertengkaran pacarnya dengan Revina.


Rangga yang sedari tadi diam berniat untuk membantu Ara melerai pertengkaran dua gadis itu. Apalagi, Revina adalah sepupunya sendiri. Namun, baru saja akan berbicara, sebuah suara mengagetkan semua yang ada disitu.


"Busnya sudah datang lho, tidak mau naik?" tanya Ryuu datar seraya masuk duluan ke dalam Bus.


Melihat itu, pertengkaran Angel dan Revina terhenti. Semuanya masuk ke dalam Bus dengan terburu-buru. Tak lama setelah itu, Bus pun melaju dengan kecepatan sedang.


***


Ara terjebak duduk di Bus bersama Rangga. Tadinya, ia berniat duduk dengan Ryuu. Namun, baru saja duduk di samping sahabatnya itu, Ryuu langsung mengusir Ara secara halus namun sukses membuat Ara mati kutu.


"Ah, tempat dudukku jadi sempit. Aku ingin tempat yang lebih lega, Al," ucap Ryuu sembari tersenyum dipaksakan.


Kini, Ara mengedarkan pandangannya. Ia menatap Sam dan Angel yang tertidur di sebrang tempat duduknya. Oh, melihat dua sejoli itu tertidur pulas sambil menempelkan kepala masing-masing, membuat Ara sedikit iri.


"Mereka sering bertengkar, tapi mereka tetap terlihat saling mencintai," batin Ara dalam hati sambil tersenyum-senyum.


"Mungkin saja Revina juga di usir oleh Ryuu, sama sepertiku, hihihi," gumam Ara pelan.


Ara pun menoleh ke arah Rangga yang sedari tadi sudah tertidur pulas. Sama seperti Sam dan Angel. Menyadari suasana di sekitar Bus benar-benar hening, Ara bangkit dari tempat duduknya.


Benar saja, semua orang di dalam Bus termasuk ke-5 temannya itu sedang tertidur, termasuk Revina dan Ryuu. Merasa ini adalah kesempatan emas, Ara dengan santai berjalan menghampiri Ryuu dan duduk di samping sahabatnya itu.


"Hehehe, aku akan duduk disampingnya sampai ia terbangun dari tidurnya lalu mengusirku lagi," batin Ara sambil memperhatikan wajah Ryuu yang tertidur sambil memakai earphone.


"Duh, tidak baik lho tidur sambil mendengarkan musik, Ryuu," sambungnya seraya melepaskan earphone dari telinga Ryuu, lalu menyimpan earphone tersebut di kantong jaket miliknya.


TUK!


Ara tertegun dan membulatkan matanya seketika. Sesuatu yang keras menyentuh pundaknya sekarang. Tidak salah lagi, ini adalah kepala Ryuu! Ryuu menempelkan kepalanya di pundak Ara sekarang. Hal itu tentu saja sukses membuat Ara diam tak bergerak menahan rasa senang.


"R..Ryuu?"


Suara dengkuran halus khas milik Ryuu terdengar di telinga Ara. Ah, Ara pikir, Ryuu sengaja menempelkan kepalanya dipundaknya. Ternyata laki-laki itu masih tertidur, toh. Agak aneh juga sih kalau Ryuu menempelkan kepalanya di pundak Ara dalam keadaan sadar.


"Duh, aku harus bagaimana ini? Antara gugup dan senang, aku sampai tidak bisa bergerak sama sekali."


DEG! DEG! DEG!


Jantung Ara semakin lama semakin berdebar kencang. Ujung-ujung jari kaki dan tangannya juga terasa begitu dingin. Demi apapun, ini memang adalah pengalaman pertama Ryuu sedekat ini dengannya. Tapi, mengingat Ryuu sudah pernah mencium Ara tiga kali, gadis itu mulai menenangkan dirinya sendiri.


"Kenapa jantungku lebih berdebar sekarang dibanding saat Ryuu menciumku dulu? Ada apa denganku?"


Tiba-tiba, Ryuu menggeliatkan tubuhnya. Yang malah semakin membuat kepalanya itu semakin menempel di pundak Ara. Saking dekatnya Ryuu dengannya, bahkan ia bisa mencium wangi shampo di rambut Ryuu.


"Kenapa dia bisa sewangi ini? Aku saja sebagai perempuan tidak sewangi dia, hihihi."


"Aoi... Tachibana Aoi..."


DEG!!!


"Eh? Aoi?"


Ara membelalakkan matanya kaget mendengar Ryuu mengigau seperti itu. Apalagi, Ryuu menyebutkan nama perempuan yang akan dijodohkan dengannya di Jepang, siapa lagi kalau bukan Aoi? Tentu saja, hal itu sukses membuat debaran di jantung Ara berubah menjadi rasa menusuk di hatinya.


"Rupanya kau masih memikirkan dia yang disana, ya," gumam Ara pelan.


"Aku menyukaimu..."


"Eh? Ryuu?"


"... Aoi," sambung Ryuu yang membuat Ara diam seribu bahasa.


Ara pun memejamkan matanya. Mencoba untuk menetralisir rasa sesak dan sakit di hatinya. Baru saja Ara akan menggenggam tangan Ryuu, tiba-tiba ia memilih untuk mengurungkan niatnya karena lagi-lagi, Ryuu mengigau一menyebutkan nama Aoi entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Ryuu, jadi kau benar-benar menyukai dia ya?" tanya Ara lirih sambil tersenyum simpul.


***


"Nak, Bus sudah sampai di Terminal Bogor. Silahkan turun, ya. Penumpang lain juga sudah turun."


Ryuu membuka matanya perlahan tapi pasti. Setelah Sang Supir Bus berucap seperti itu, ia pun pergi meninggalkan Ryuu sendiri di Bus. Eh, tapi tunggu. Ryuu ternyata tidak sendiri di dalam Bus, melainkan bersama Ara! Ya, Ara sedang tertidur pulas tepat disampingnya.


"Al? Kenapa kau ada di tempat dudukku?" tanya Ryuu bingung sambil mengedarkan pandangannya.


"Yang lain kemana? Apa mereka sudah turun duluan?" sambung Ryuu semakin bingung.


Ryuu pun bangkit dari duduknya seraya merapikan rambutnya. Sebelum berjalan turun dari Bus, Ryuu berniat membangunkan Ara terlebih dahulu. Walaupun sikap dan ucapannya itu menunjukkan bahwa dia tak menyukai Ara, tapi tetap saja. Ara adalah sahabatnya, dia tak akan tega meninggalkan Ara sendirian di Bus ini.


"Al, bangun. Kita harus segera turun dari Bus ini," ujar Ryuu sambil mengguncang-guncangkan pundak Ara.


"Hmm, aku masih ngantuk.." jawab Ara mengigau.


Ryuu berdecak kesal seraya memutar bola matanya, "Bangun atau kutinggalkan kau disini. Kau pilih mana?"


"Aku lebih memilih jadi orang yang disukaimu, hihihi," jawab Ara yang masih tertutup matanya.


"Ya ampun, dia tipe orang yang tetap menjawab pertanyaan meskipun sedang tertidur pulas. Benar-benar aneh," batin Ryuu sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayolah, Al. Bangun!"


Tangan Ryuu yang tadinya berniat mengguncang pundak Ara lagi, tiba-tiba beralih posisi menuju pipi gadis itu. Ya, hal itu tentu saja bukan karena keinginan Ryuu. Melainkan tangan Ara sendiri yang menuntun tangan Ryuu agar menyentuh pipi dia.


"Tanganmu hangat, hehehe,"


Ryuu cukup tertegun dan menatap Ara kaget. Wajar saja, ini pertama kalinya dia menyentuh pipi sahabatnya itu. Dia tak memungkiri, bahwa pipi Ara terasa sangat nyaman saat disentuh oleh tangannya. Apalagi wajah tertidur Ara yang damai, sungguh membuat dia cukup terlena melihat itu.



"Al, ternyata kau memang benar-benar berniat menghancurkan persahabatan kita, ya."