STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 61 - Cemburu



🖤🖤🖤


Jatuh hati tak pernah bisa memilih...


Tuhan yang memilihkan...


Kita hanyalah korban...


Kecewa adalah konsekuensi...


Bahagia adalah bonus...


🖤🖤🖤


Di Perpustakaan Kota...


"Angel, kau serius tidak tahu rumus ini? Rumus ini bahkan kita pelajari saat kita masih SMP. Coba lihat ini, aku sudah mengajarimu beberapa kali tapi kau masih belum mengerti juga," kata Ryuu seraya menunjuk-nunjuk kertas milik Angel dengan pulpen yang ia pegang.


Angel mengerucutkan bibirnya sambil menatap Sam yang berada di sampingnya. Ditatap seperti itu, Sam pun pura-pura menulis. Ia tak mau membantu Angel yang sedang diajari pelajaran FISIKA oleh Ryuu. Sam yakin, jika ia bersuara guna membela pacarnya, Ryuu pasti akan ikut mengomelinya.


"Lihatlah jawabanmu ini. Kau bahkan lebih bodoh daripada Al," ujar Ryuu membuat Angel membulatkan matanya.


Angel pun berdecak kesal sambil memukul-mukul pundak Sam. Membuat Sam tidak fokus menulis.


"Sam, Samudra! Kau lihat kan? Pacarmu sedang dimaki-maki oleh sahabatmu. Kenapa kau diam saja?" protes Angel berusaha mengecilkan suaranya. Jika bukan di Perpustakaan, Angel bersumpah akan berteriak di depan kuping Sam.


Sam mengangguk sambil tersenyum kikuk. Ia mengusap-usap kepala Angel guna menenangkan emosi pacarnya itu.


"Jika aku ikut bersuara, yang ada Ryuu makin memarahimu. Kau tenang saja, ya. Walaupun Ryuu bicaranya pedas seperti itu, tapi hatinya sangat lembut," kata Sam takut-takut karena merasa ditatap tajam oleh Ryuu.


Angel melipat tangan di bawah dadanya, ia masih menatap Ryuu dengan tatapan kesal.


"Aku bingung pada Ara. Kenapa dia bisa menyukai orang seperti Ryuu selama 10 tahun lamanya? Apanya yang bagus dari sahabatmu itu?" tanya Angel pada Sam. Membuat Ryuu cukup tertegun mendengar pertanyaan menohok dari Angel.


"Ehm, kalau itu sih..."


"Pertanyaanmu itu, kenapa tak kau tanyakan saja pada Al? Kenapa kau malah bertanya pada Sam?" tanya Ryuu memotong ucapan Sam.


Angel berdecak kesal, "Kau buta atau bagaimana? Kita ada bertiga disini. Tak ada Ara di antara kita. Bagaimana aku bisa bertanya padanya?"


Ryuu mengangguk-anggukan kepalanya, menatap Angel dengan tatapan meledek.


"Wah, tak ku sangka ternyata kau cukup pintar. Jika tak ada Al disini, bagaimana kau bisa bertanya padanya ya?" tanya Ryuu seraya membuka buku biologi yang sangat tebal. Kemudian setelah itu, Ryuu pun membaca buku tersebut.


Angel memilih untuk diam. Sikap santai dan dingin Ryuu benar-benar membuatnya kesal. Angel memang benar-benar tak habis pikir, kenapa gadis secantik dan se-ceria Ara bisa menyukai Ryuu yang dingin dan tak punya hati? Ara yang buta, atau Ryuu yang tak tahu di untung?


"Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa Revina tak datang hari ini? Bukankah dia bilang akan ikut bersama kita belajar di Perpustakaan kota?" tanya Sam mencoba mengubah topik pembicaraan.


Angel yang baru saja akan menulis dan Ryuu yang sedang fokus membaca buku pun segera menatap Sam bersamaan. Yang membuat Sam semakin kaget adalah一Angel dan Ryuu sama-sama memicingkan mata menatapnya.


"K.. Kenapa? Apa aku ada salah bicara?" tanya Sam heran karena ia merasa pertanyaannnya tadi tak ada yang salah.


"Revina sudah berani memberikan Cupcake beracun di hari ulang tahunnya. Selain itu, ia juga membuat Ara menangis di lapangan basket kemarin. Bagaimana bisa aku belajar bersama orang seperti dia?" protes Angel kesal.


Ryuu mengernyitkan dahi sambil menatap Angel heran, "Kau tahu tentang Cupcake itu? Apa Al memberitahukannya padamu?"


"Iya, dia memberitahuku kemarin malam. Katanya, Cupcake yang diberikan padanya beracun. Syukurlah kau yang memakannya."


"A.. Apa? Syukurlah? Hei, lagipula Cupcake itu bukan beracun! Tapi hanya ada obat mabuknya saja!" seru Ryuu tak membenarkan ucapan Angel.


"Hah? Obat mabuk? Tapi Ara bilang kemarin malam一"


"Karena Cupcake itu, aku jadi pusing kepala dan mabuk semalaman," potong Ryuu dengan cepat.


Angel terdiam beberapa saat. Lalu menatap Ryuu penuh kecurigaan.


"Jika dipikir-pikir, kenapa di malam ulang tahun Ara, kau berani memakan Cupcake miliknya? Apa karena itu pemberian Revina? Jadi kau ingin memakannya?" tanya Angel bertubi-tubi seraya menyipitkan matanya.


Sam mengangguk, menanggapi pertanyaan Angel, "Hmm, benar juga pertanyaanmu. Aku juga heran akan hal itu."


Ryuu menelan ludahnya. Situasinya sekarang benar-benar sedang terpojok. Entahlah, ia juga tak tahu harus mencari jawaban seperti apa agar bisa memuaskan rasa penasaran sepasang kekasih tersebut.


"Ryuu, jawab pertanyaan kami!" seru Angel dan Sam bersamaan.


Karena suara mereka berdua terlalu keras, semua pengunjung Perpustakaan Kota pun menatap mereka tajam sambil menempelkan telunjuk ke depan bibir. Wajar saja. Ini adalah Perpustakaan. Tempat orang-orang ingin membaca dan belajar dengan tenang. Kalau suara Angel dan Sam seberisik itu, bukankah akan sangat mengganggu pengunjung lainnya?


"Ini salahmu, tahu! Kalau saja kau menjawab cepat tadi, pasti kami tak akan bicara bersamaan dan membuat suara yang berisik," keluh Angel menyalahkan Ryuu.


Ryuu mengernyitkan dahinya tak terima dengan perkataan Angel. Namun, Sam buru-buru menepuk pundak Ryuu agar Ryuu tak terlalu mengambil hati apa yang Angel katakan padanya.


"Jawablah, kau tak akan mati jika menjawab pertanyaan kita berdua," ucap Sam.


Ryuu lagi-lagi menelan ludahnya. Ia benar-benar malu sekaligus ragu menjawab pertanyaan Angel dan Sam.


"Sebenarnya, saat ku lihat Revina memberikan Cupcake pada Al, aku sudah menaruh perasaan tak enak."


Ryuu menghentikan ucapannya. Menatap Sam dan Angel secara bergantian.


"Lalu? Lalu?"


"Lalu setelah kalian semua pulang, aku berniat memeriksa Cupcake tersebut. Kebetulan Al memang sedang ke kamarnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku pun segera memeriksa Cupcake itu sambil menciumi baunya."


Tatapan Sam dan Angel sama-sama serius menatap Ryuu. Seolah tak ingin ada satupun penjelasan Ryuu yang terlewatkan.


"Lantas, setelah itu?"


"Kalian mungkin melihat bahwa Cupcake itu terlihat lucu dan cantik. Tapi, saat mencium baunya, aku sungguh mencium bau yang aneh. Seperti bau obat. Lalu, setelah itu, aku pun memutuskan untuk memakan Cupcake tersebut."


"Eh? Tunggu, tunggu, tunggu. Jadi dari awal kau sudah tahu bahwa Cupcake itu diberi obat aneh oleh Revina? Lantas, kenapa kau tetap ingin memakannya?" tanya Angel heran.


"Aku.. tak mau Ara yang memakan Cupcake itu."


Sam dan Angel saling berpandangan secara bersamaan. Walau tak mengeluarkan suara, Sam dan Angel sama-sama berpikiran hal yang sama. Mereka berdua pun tersenyum-senyum layaknya orang tak waras.


"K...kenapa kalian tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Ryuu mulai gugup. Ia tahu, Angel dan Sam berpikiran macam-macam sekarang.


"Kenapa kau tak mau Ara yang memakan Cupcake itu? Lagipula, itu adalah Cupcake miliknya. Kau tak berhak memakannya, bukan?" tanya Sam mulai menggoda Ryuu. Ia sudah menemukan celah kelemahan Ryuu sekarang.


"Kita tak akan tahu apa yang terjadi jika Ara yang memakan Cupcake itu!" jawab Ryuu sekenanya.


Angel mengernyitkan dahinya, "Bukankah kau bilang, Cupcake tersebut ada obat mabuknya? Ah! Jadi alasanmu memakan Cupcake itu agar kau saja yang mabuk, begitu?"


Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, "Hei! Bukan begitu! Saat itu, aku tak tahu bahwa bau aneh yang ku cium dari Cupcake itu adalah obat mabuk! Kupikir, itu bau obat sakit perut atau mungkin lebih parah dari yang kubayangkan. Maka dari itu, aku memilih untuk memakannya. Aku tak mau Ara memakan Cupcake itu," jelas Ryuu sambil membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang sedang malu setengah mati.


Sam dan Angel cekikikan bersamaan melihat ekspresi malu Ryuu yang gagal ia sembunyikan.


"Bilang saja, kau ini sebenarnya sayang pada Ara. Kau tak mau ia kenapa-napa karena Cupcake itu kan? Kau lebih memilih dirimu yang kenapa-napa, asalkan Ara baik-baik saja," ujar Sam sambil menepuk pelan pundak Ryuu.


Ryuu melirik kesal Sam dan Angel. Ia memilih tak menghiraukan perkataan Sam dan lebih memilih untuk kembali membaca bukunya yang tadi sempat tertunda.


"Ah, Ryuu. Ku pikir kau sama sekali tak punya hati. Rupanya, kau ini lebih baik dari yang kubayangkan. Hahaha," puji Angel tertawa geli.


Ryuu diam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya, ia merasa dipermalukan oleh sepasang kekasih tersebut. Tapi, dalam diamnya, ia tak sedikitpun mengelak perkataan Sam dan Angel. Malah, hatinya membenarkan ucapan kedua temannya itu.


SKIP


Beberapa menit kemudian...


"Sudah jam berapa ini?" tanya Angel pada Sam.


Sam menoleh ke bawah, ke arah jam tangan yang bertengger di tangannya.


"Jam 15:30. Ehm, bagaimana kalau kita pulang?"


"Ah, kau benar. Cuaca juga sangat mendung, sepertinya sebentar lagi akan hujan," jawab Angel sambil menatap langit ke arah luar jendela.


"Ryuu, bagaimana kalau kita pulang saja?" tanya Sam meminta pendapat Ryuu.


Ryuu mengangguk sambil menutup buku super tebalnya itu. Tanpa bicara apa-apa, ia pun bangkit lalu berjalan duluan. Meninggalkan Sam dan Angel yang masih duduk di tempatnya.


"Hahaha, sepertinya kita membuat seorang Nakajima Ryuu kehilangan harga dirinya," bisik Angel sambil tertawa kecil.


Sam mengangguk ikut tertawa, "Hei, kau belum puas menertawakannya tadi?"


Angel menggelengkan kepala sambil berusaha menghentikan tawanya. Perutnya sudah cukup sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Hei, ucapan Ryuu tadi, sudah ku rekam di ponselku. Kita akan memberikannya pada Ara besok di Sekolah. Bagaimana?" tanya Angel seraya mengeluarkan ponsel dari dalam buku yang ia lipat. Bahkan Sam tak menyangka bahwa di dalam buku itu ada ponsel Angel yang tersembunyi.


"Dengan begini, Ara pasti tak akan murung lagi. Benar kan, Sam?"


Sam mengangguk sambil mengusap pelan kepala pacarnya itu.


"Jika aku jadi Ara, aku pasti akan sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu," puji Sam seraya tersenyum manis.


Angel menghentikan tangan Sam yang sedang mengusap kepalanya.


"Hei, aku ini pacarmu sekarang. Kenapa kau malah membayangkan jadi Ara dan ingin merasakan jadi sahabatku?" protes Angel salah tanggap dengan perkataan Sam.


"Ya sudah, kalau begitu keinginanmu, kita jadi sahabat sa一"


Cup!


Angel membelalakkan matanya kaget. Ia menatap Sam tak percaya karena satu detik yang lalu, Sam berani mengecup bibirnya di tempat umum.


"Hei, kau gila apa? Bagaimana jika tadi ada yang melihat?" Angel lagi-lagi protes. Ia bingung ingin marah atau senang dengan perlakuan Sam tadi.


"Jadi, jika tak ada yang melihat, kau mau一”


"Hei, stupid couple. Bukankah kita akan segera pulang? Kenapa kalian berdua masih disini?" tanya Ryuu yang entah sejak kapan datang kembali menghampiri Sam dan Angel.


"Melihat apa? Oh, melihat perlakuanmu yang tiba-tiba mencium Angel tadi? Tenang saja. Hanya aku yang melihat itu, pengunjung yang lain terlalu sibuk belajar dan membaca. Sialnya, aku melihat itu dengan jelas di depan mata kepalaku sendiri. Cih, menjijikkan," ujar Ryuu dengan dinginnya.


Angel menatap Sam kesal. Ia benar-benar malu pada Ryuu sekarang.


"Hei, bukankah kau juga pernah mencium Ara di depan kami? Saat di Puncak, kau mencium Ara di depanku, Angel, Revina, dan Rangga. Kau lupa, hah?" tanya Sam gelagapan sendiri. Ia berusaha membalikkan keadaan.


Ryuu membalikkan tubuhnya, lalu berjalan perlahan meninggalkan Sam dan Angel kembali.


"Kapan? Aku tak ingat pernah mencium Al di depan kalian semua," kata Ryuu datar sambil terus berjalan menuju pintu keluar Perpustakaan Kota.


Baru saja Sam akan membalas perkataan Ryuu, tiba-tiba Angel menutup mulut Sam lalu menarik tangan pacarnya itu agar ikut jalan bersamanya. Menyusul Ryuu yang tak jauh berjalan di depan mereka.


"Sudahlah, biarkan Ryuu amnesia. Dia bahkan tak ingat bahwa dia pernah mencium Ara di depan teman-temannya. Dasar makhluk aneh," kata Angel lalu diikuti anggukan setuju oleh Sam.


***


Malam harinya, pukul 19:30


Ryuu sedang duduk di bangku Halte Bus, menunggu kedatangan Bus terakhir. Sambil menunggu, Ryuu memakai earphone untuk mendengarkan lagu lewat ponselnya. Rintik-rintik hujan dan sepoi angin malam seakan menyapanya kala ia sendirian di Halte Bus itu.


"Nak, apa kau sedang menunggu Bus terakhir?"


Pertanyaan seorang lelaki paruh baya membuyarkan konsentrasi Ryuu terhadap lagu yang ia dengar. Laki-laki itu berpakaian rapi dengan setelan jas hitam. Dilihat dari penampilannya, sepertinya laki-laki itu adalah pekerja kantoran. Sama seperti ayah Ryuu dan Daddy-nya Ara.


"Iya, Pak. Aku sedang menunggu kedatangan Bus terakhir," jawab Ryuu seraya menggeser posisi duduknya. Memberikan tempat untuk laki-laki paruh baya itu duduk disampingnya.


Meski hanya sekilas, Ryuu bisa melihat name tag laki-laki paruh baya itu yang menempel di jas hitamnya. Namanya adalah Yudha Prasetyo. Nama yang tak asing di mata Ryuu. Entahlah, Ryuu juga tak tahu kenapa nama itu tak asing baginya.


"Kau tak lihat jadwal keberangkatan Bus hari ini, ya? Bus terakhir di daerah Balai Kota sudah lewat, jam 19:00 tadi. Kau terlambat, anak muda," jelas Yudha yang tentu saja mengagetkan Ryuu.


DEG!!!


"Eh? Benarkah, Pak?" Ryuu sangat kaget mendengar hal itu. Dia memang tak melihat jadwal keberangkatan Bus hari ini.


"Bus di daerah Balai Kota memang sedang ada gangguan. Ku dengar, ada kecelakaan. Jadi, Bus terakhir sudah lewat 30 menit yang lalu."


Ryuu pun mengangguk seraya berdiri. Ia berusaha untuk tersenyum ramah pada Yudha. Tapi, pada akhirnya yang terlihat hanya senyuman masam dari wajahnya.


"Terimakasih atas infonya, Pak. Kalau begitu, aku pergi du一"


"Eh, sebentar! Sebentar! Rumahmu dimana, memangnya?" tanya Yudha menghentikan Ryuu yang baru saja akan melangkah.


"Rumahku di Jln.Melati. Perumahan Citra Agung," jawab Ryuu spontan.


"Wah, jauh juga ya. Apa kau akan jalan kaki dari sini menuju rumahmu?"


Ryuu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Yah, mau bagaimana lagi, Pak. Bus sudah tak ada kan? Kalau aku pulang naik taksi, pasti akan sangat mahal."


Yudha terdiam, ia terlihat seperi mengingat-ngingat sesuatu.


"Anak muda, daripada kau pulang ke rumah dengan berjalan kaki, ku sarankan kau untuk pergi ke Halte yang ada di dekat Supermarket G*ant. Setahuku, pemberangkatan terakhir Bus disana sekitar jam 20:00. Tenang, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai kesana," jelas Yudha sambil tersenyum hangat.


Ryuu yang mendengar itu pun tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, Ryuu tersenyum seperti itu pada orang asing di hidupnya. Bahkan, orangtua dan Ara saja tak pernah melihatnya tersenyum selebar itu.


"T.. Terimakasih atas infonya, Pak! Kalau begitu, aku pergi dulu! Bapak juga hati-hati ya pulang ke rumah! Pokoknya, terimakasih banyak!" seru Ryuu membungkukkan badannya berkali-kali begitu gembira. Yudha yang melihat itu pun tersenyum, menyuruh Ryuu agar segera pergi ke Halte yang tak jauh dari sini. Tepatnya di dekat Supermarket G*ant.


***


Di dalam Bus, pukul 20:05


Ryuu bernapas lega saat baru saja duduk di bangku Bus terakhir malam ini. Syukurlah, ia benar-benar bersyukur karena bisa pulang menggunakan Bus一 walaupun ia harus berlari dulu selama 10 menit tadi.


Ryuu membayangkan, andai saja ia tak bertemu dengan Yudha一mungkin sekarang ia sudah pingsan di trotoar jalan karena jarak Halte Bus di Balai Kota sangat jauh. Ia bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Yudha hari ini.


Rasa syukur Ryuu pun kini bertambah kala menyadari bahwa banyak orang yang berdiri di Bus ini. Ah, Ryuu mengerti. Orang yang menaiki Bus ini terlalu banyak hingga tak memungkinkan untuk semuanya bisa duduk. Banyak yang berdiri dan berhimpitan di Bus ini. Dan tentu saja Ryuu bersyukur, karena ia masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa duduk di Bus ini.


Beberapa menit kemudian, satu-persatu penumpang turun di setiap Halte. Bahkan orang yang duduk di samping Ryuu saja sudah turun. Kini, di dalam Bus hanya tersisa beberapa orang saja termasuk Ryuu.


"T.. Tuan, maaf. Aku tak bisa duduk bersama orang asing. Lagipula, di belakang masih ada bangku kosong. Kenapa tak kau tempati saja?" tanya seorang gadis yang duduk di belakang Ryuu dengan suara cukup keras. Namun, meski Ryuu bisa mendengar itu, ia tak mau ikut campur masalah seperti apa yang terjadi di bangku belakang.


"Hei, nona manis. Aku hanya ingin duduk disampingmu saja, kenapa kau terlihat sangat tak nyaman? Memangnya aku akan berbuat apa padamu?"


"Aku memang tak nyaman duduk bersama orang asing sepertimu, Tuan. Jadi ku harap kau bisa mengerti bahwa seorang gadis sepertiku juga punya batasan."


"Ah, aku benci gadis sok cantik sepertimu! Baru didekati lelaki saja sudah jual mahal begitu. Kau pikir dirimu cantik, hah? Wajahmu yang sombong itu terlihat seperti nenek sihir tahu!"


"Pak, gadis secantik dia kau katakan nenek sihir? Kau yakin tak ada yang salah dengan matamu?"


DEG!!!


Gadis itu kaget setengah mati. Saking kagetnya, ia merasa jantungnya akan lepas dari tepatnya. Ya, Ara tak sadar bahwa Ryuu一orang yang ia cintai一ada di dalam Bus yang sama dengannya.


"Sini, kau duduk bersamaku," kata Ryuu sambil menarik tangan Ara dan menuntun gadis itu agar duduk di tempat duduk Ryuu.


Laki-laki yang menganggu Ara pun memelototi Ryuu. Namun, nyatanya tatapan tajam nan menyeramkan dari Ryuu membuat laki-laki itu ciut nyalinya dan memilih untuk turun dari Bus.


"Bukankah matamu yang salah melihat, ya? Masih banyak gadis yang lebih cantik darinya, tahu!" seru laki-laki itu sebelum akhirnya benar-benar turun dari Bus.


Ryuu diam tanpa bicara apa-apa. Lalu setelah itu, ia memutuskan untuk duduk di samping Ara yang kini tengah menatapnya kaget sekaligus heran.


"Aku tak menyangka kita akan satu Bus seperti ini," ujar Ara memulai pembicaraan dengan canggung.


Ryuu melirik Ara sekilas, lalu mulai memainkan ponselnya yang sedari tadi ada ditangannya.


"Kau naik Bus ini di Halte mana?" tanya Ryuu dingin. Matanya kini fokus menatap game yang ia mainkan di ponselnya.


"Aku naik Bus ini di Halte dekat Supermarket G*ant. Kalau kau, dimana?" Ara balik bertanya penasaran.


DEG!!!


Ryuu menghentikan gerakan jarinya di layar ponselnya. Ia cukup terkejut mendengar penuturan Ara.


"Eh? Halte dekat Supermarket G*ant? Berarti, dia naik Bus ini bersamaan denganku? Kenapa aku tak melihatnya di Halte tadi? Apa karena terlalu ramai, ya?"


"Ryuu? Ryuu? Kenapa kau diam saja?"


Ryuu pun terbuyarkan lamunannya karena tangan kecil Ara melambai-lambai dekat sekali dengan wajahnya.


"Kebetulan, aku juga naik Bus ini di Halte yang sama denganmu," jawab Ryuu ragu-ragu. Ia takut Ara tak akan mempercayai hal itu dan malah menertawakannya.


"Eh? Benarkah? Wah, ternyata kita punya hubungan batin yang kuat ya!" seru Ara ceria sambil tersenyum manis, diluar ekspetasi Ryuu.


"Hubungan batin apanya? Aku terpaksa naik Bus terakhir di Halte dekat Supermarket G*ant karena Bus yang ada di Balai Kota sudah berhenti beroperasi di jam 19:00. Ini takdir, bukan hubungan batin, tahu," ujar Ryuu ketus. Namun hal itu nyatanya tak membuat senyuman Ara pudar.


"Lagipula, gadis lemah sepertimu kenapa pulang di jam segini? Kau kemana dulu dengan Rangga?" tanya Ryuu dengan tatapan sinis.


"Ehm, sebenarnya aku sudah pulang dari jam 17:00. Hanya saja, hujan turun sangat deras hingga membuatku terjebak di dalam Cafe dengan Rangga," jelas Ara yang entah kenapa membuat hati Ryuu cukup panas mendengarnya.


"Oh, jadi kalian belajar di dalam Cafe?" Ryuu berusaha bertanya dengan normal dan menyembunyikan rasa yang aneh dalam hatinya sekarang.


Ara mengangguk sambil menutup mulutnya yang menguap.


"Kau mengantuk?" tanya Ryuu sama sekali tak menatap Ara, melainkan menatap layar ponselnya.


Ara menggeleng cepat, "Tidak, lah! Walaupun aku terlihat seperti gadis yang banyak tidur, tapi aku sebenarnya tipe gadis yang sering bergadang!"


Ryuu melirik Ara sekilas sambil tersenyum miring, "Cih, apa bagusnya dengan gadis yang sering bergadang? Kau hanya akan membuat metabolisme tubuhmu sakit, bodoh."


Pandangan Ryuu tetap pada ponselnya. Walaupun mulutnya banyak bicara pada Ara, tapi matanya itu tetap fokus memainkan game di ponselnya. Ya, Ryuu pandai membagi konsentrasi seperti itu.


"Lagipula, Al, kusarankan kau jangan banyak bergadang. Sebentar lagi Ujian Nasional, jangan bergadang demi hal yang sia-sia. Seperti nonton drama dan anime kesukaanmu, misalnya."


"Iya, iya. Kau ini...cerewet...sekali..."


DUGH!


Ryuu tersentak kaget saat merasakan sebuah benda cukup berat menempel di bahu kirinya sekarang. Saat Ryuu menoleh, ternyata itu bukanlah sebuah benda. Melainkan kepala Ara yang menempel cukup kencang di bahunya.


"Gadis yang sering bergadang? Cih, apa-apaan?" gumam Ryuu sambil tertawa kecil melihat Ara yang sudah tertidur pulas begitu cepat.


Ryuu pun menyimpan ponselnya perlahan ke dalam saku celananya. Ia tak mau pergerakannya yang tiba-tiba bisa membuat Ara terbangun dari tidurnya. Setelah itu, Ryuu membenarkan posisi kepala Ara agar tak terlalu turun dari bahunya.


"Jika kau tertidur di Bus ini tanpa ada aku, bagaimana kau bisa pulang? Kau ini tak pernah sehari saja tak merepotkanku ya?" batin Ryuu sambil melirik Ara sekilas lalu menatap keluar jendela Bus yang sedang melaju. Ia membiarkan bahunya dijadikan tempat sandaran sahabatnya itu.



***


Bukan CCM!!! (Padahal iya wkwkwk😹)


Hei, hei, hei!!! Met malam, eperibadeh🥰


🙋 : Kenapa baru update jam segini, thor? Katanya bakalan update jam 20:00?


Gini ya, sayang-sayangku (Readers be like : Huweeekkk😭)


Jadi aku mau kasih apresiasi untuk diri aku sendiri karena FOR THE FIRST TIME IN 4EVER, aku bisa ngetik lebih dari 3.000 kata dalam 1 Chapter! 🤣


Apa ada yang merasa UP yang sekarang panjang banget? Yup, karena UP chapter 61 ini total katanya ada 3.500 kata. Adakah yang ngerasa kebanyakan? Karena biasanya, aku ngetik UP per-chapter itu cuman 1000-2000 kata aja lho😹


Mayan juga sih, keriting jari aku kalo ngetik 1 chapter sampe 3000 kata gini tiap hari wkwkwk. Tapi, karena aku lagi mood nulis dan ngetik, aku bisa berhasil ngetik sebanyak ini dlm hidupku hueeee😭 (Lebay mode on😹)


Udh ah ya, mau bobok dulu. Bye!


note : karena terlalu capek, aku edit ini besok pagi ya. Jadi mohon maaf kalo banyak typo karna aku langsung kirim UP chapter ini tanpa aku baca atau edit lagi.


Big Love, Meow🐾❤