STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 39 - Aturan



🖤🖤🖤


Suatu hari, kau akan menjadi "hal terbaik" bagi seseorang.


🖤🖤🖤


Teng!


Teng!


Teng!


Sepulang sekolah, di ruang Band...


"Selamat siang menjelang sore, anak-anak! Yang baru saja liburan ke Puncak, kenapa wajah kalian datar begitu?" sapa Coach Jeremy sesampainya ia di ruang musik.


Coach Jeremy duduk sambil menatap satu persatu murid didiknya. Memang benar, wajah para murid didiknya itu datar-datar saja. Ketimbang dibilang datar, lebih tepatnya ekspresi mereka seperti tak ada gairah hidup. Entahlah, Coach Jeremy juga tak tahu apa yang terjadi diantara mereka semua.


"Ryuu, kau sudah sembuh, ya? Hahaha, aku kaget mendengarmu masuk rumah sakit cuma karena greentea saja. Apalagi, yang memberimu greentea adalah sahabatmu sendiri, Ara," ujar Coach Jeremy mencoba mencairkan suasana.


"Ehm, Coach..."


"Ada apa, Angel?"


Angel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia malah menatap Sam, memberi kode agar Sam yang harus melanjutkan ucapannya.


"I.. Itu, Coach. Sebenarnya, Ara bukan sahabat Ryuu lagi. Melainkan pacarnya sekarang," sambung Sam sambil tersenyum canggung.


Ryuu dan Angel tersenyum. Sedangkan Revina terlihat tak suka dengan ucapan Sam. Beda dengan yang lainnya, Ara malah salah tingkah sendiri saat mendengar kata 'pacar'. Walau hanya pura-pura, entah kenapa Ara merasa Ryuu tak bersikap pura-pura padanya. Apalagi ketika melihat ekspresi Ryuu yang tak lagi dingin dari pagi hingga kini. Buktinya saja, sekarang Ryuu sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Oh, jadi Ara sekarang pacarnya Ryuu, ya," kata Coach Jeremy sambil tertawa.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


"EH? PACAR?!" sambung Coach Jeremy kaget seraya membelalakkan matanya.


***


Beberapa jam kemudian...


"Kalian tahu, kan? Festival musik tinggal 1 minggu lagi. Jadi, aku harap, kalian bisa bersungguh-sungguh berlatih untuk acara festival nanti," ujar Coach Jeremy setelah mendengarkan lagu yang dibawakan band Ara.


"Oh iya, Ara, suaramu di bagian reff harus lebih ditekankan lagi. Jangan sampai seperti tadi ya untuk ke depannya," sambung Coach Jeremy.


Ara menganggukkan kepalanya dengan cepat, "Maafkan aku, Coach! Maafkan aku, teman-teman!"


"Hahaha, tenang saja, kok Ra. Kau tidak perlu meminta maaf pada kami," kata Angel lalu diikuti oleh anggukan Sam yang ikut tertawa.


Berbeda dengan Sam dan Angel, Revina terlihat diam dan tak peduli dengan ucapan Coach Jeremy tentang Ara. Ah, tentu saja, Ara tak akan mempermasalahkan itu. Ia hanya ingin tahu reaksi dari Sam, Angel, dan Ryuu saja.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ryuu yang baru sadar bahwa Ara menatapnya sedari tadi.


"Tidak, hanya saja, aku ingat sesuatu."


"Sesuatu? Sesuatu apa?" sahut Sam penasaran.


"Festival musik tinggal 1 minggu lagi, kan? Itu artinya, Ryuu ada di band kita hanya tinggal 1 minggu lagi," ujar Revina mendahului ucapan Ara.


Ara mengangguk mengiyakan ucapan Revina, "Ya, kau benar. Tak ku sangka kau ingat, Rev."


Revina tersenyum penuh bangga sambil mengibaskan rambutnya, "Aku memang pengingat yang baik."


"Eh? Memangnya Ryuu pernah bilang mau keluar, ya?" tanya Angel kaget.


Ara dan Revina sama-sama mengangguk.


"Ryuu bilang, setelah festival musik selesai, ia akan keluar dari band kita dan fokus terhadap ekskul basketnya," jawab Ara dengan nada sedih.


"Oh, iya, iya. Ryuu juga pernah bilang begitu padaku!" seru Sam yang sepertinya baru ingat.


Coach Jeremy yang mendengar itu pun mengernyitkan dahinya sambil menatap Ryuu, "Aku juga pernah mendengarnya yang bilang akan keluar dari band jika festival musik selesai. Ku kira, itu hanya lelucon saja. Apakah kau serius dengan ucapanmu, itu, Ryuu?" tanya Coach Jeremy.


Ryuu diam. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, beberapa detik berikutnya, ia pun tersenyum miring sambil menatap Ara lekat-lekat. Di tatap seperti itu, bukan tak mungkin Ara pasti akan salah tingkah.


***


Sepulang dari Band...


"Eh? Ryuu? Kenapa kau malah ikut masuk ke dalam rumahku?"


Ara menghentikan langkahnya tepat di ruang tamu rumahnya. Gadis itu menatap Ryuu kaget yang entah sejak kapan berada di belakangnya sedari tadi. Eh? Ada urusan apa Ryuu ke rumahnya? Dan kenapa ia tak langsung pulang saja? Toh, jika ada urusan pun, kenapa Ryuu tak menyuruh Ara saja yang ke rumahnya?


Bukannya menjawab, Ryuu malah menarik tangan Ara agar Ara menghadap padanya. Sambil tersenyum miring, Ryuu menjentikkan tangannya tepat di dahi Ara.


FLICK!


"A-awww!!!" jerit kecil Ara sambil mengusap-usap dahinya.


"Ryuu, kau kenapa, sih?" sambung Ara tak mengerti dengan perlakuan Ryuu yang tiba-tiba.


"Aku hanya kesal saja padamu."


"Kesal? Kesal kenapa?"


"Pagi ini, kau membuatku harus mengaku pada semua teman kelas kita perihal hubungan 'pacaran' kita."


"Eh? Aku kan tak memaksamu untuk mengaku pada seisi kelas. Lagipula, kau sendiri yang menginginkan pacaran pura-pura ini agar aku tak didekati Rangga lagi, kan?"


Ryuu memutar bola matanya, "Kau berlebihan. Aku hanya membantumu agar kau bisa terbebas dari Rangga. Itu bukanlah keinginanku sendiri."


"Oh, iya juga, ya," ujar Ara sambil tersenyum malu.


"Ah, dasar bodoh."


Ara hanya tertawa kecil mendengar gerutuan Ryuu.


"Tapi, Ryuu, sebenarnya aku agak keberatan dengan sikapmu tadi pagi padaku di depan semua teman kelas. Aku一"


"Kau pikir aku tak keberatan? Dibandingkan denganmu, aku jauh lebih keberatan dengan hubungan pura-pura ini," kata Ryuu memotong ucapan Ara.


Ara terdiam seketika. Ia menatap ke bawah, menatap lantai putih ruang tamu rumahnya. Ada sedikit rasa sesak saat mendengar kata 'keberatan' dari Ryuu tentang hubungan pura-pura mereka. Apalagi, Ryuu terlihat sangat serius mengatakan hal itu tadi.


"Sepertinya banyak yang tak percaya juga dengan hubungan kita. Termasuk Rangga dan Revina. Kalau begini terus, kita bisa ketahuan bahwa pacaran kita ini hanya pura-pura saja," kata Ryuu yang membuat Ara mengangkat kepalanya, menatap Ryuu dengan seksama.


"Kita harus memiliki aturan di hubungan ini," sambung Ryuu.


"Eh? Aturan?"


"Iya, aturan yang harus dipatuhi kau maupun aku."



"Pertama, selalu bersikap layaknya sepasang kekasih yang penuh cinta. Kedua, tidak memberi tahukan hubungan pura-pura ini kepada siapapun. Ketiga, tidak boleh bawa perasaan di dalam hubungan pura-pura ini. Keempat, yang bisa mengakhiri hubungan pura-pura ini hanya aku saja, bagaimana? Kau setuju?" tanya Ryuu meminta pendapat Ara.


"Eh? Kenapa aturan keempat harus kau sendiri yang mengakhiri hubungan pura-pura ini?" Ara balik bertanya tak mengerti.


"Jika kau yang mengatur aturan keempat, aku yakin kau pasti tak akan pernah mengakhiri hubungan pura-pura ini, kan?"


Pipi Ara memerah menahan malu. Ya, apa yang dikatakan Ryuu tadi memang benar. Bagaimana tidak? Ryuu sudah 10 tahun mengenal Ara dan sangat mengetahui sifat sahabatnya itu seperti apa.


"Ryuu, kau tahu kan aku sangat menyukaimu dari dulu?" tanya Ara mengalihkan topik pembicaraan.


Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau ini blak-blakan sekali, ya," kritiknya dingin sambil membuang muka, "Ya, aku tahu itu. Kenapa? Apa sekarang kau sudah tak menyukaiku lagi?"


Ara memanyunkan bibirnya sambil menggelengkan kepala dengan cepat.


"Maksudku, bukankah kau memberiku tantangan untuk bisa membuatmu menyukaiku, ya? Batas waktunya sampai kita kelulusan, bukan?"


Ryuu menatap Ara tajam, "Ya terus?"



"Ku harap, dengan pacaran pura-pura ini kau akan menyukaiku, ya! Hehehe, karena aku tak mau hubungan ini hanya sebatas pura-pura saja," jawab Ara sambil tersenyum manis.


"Jangan berharap lebih, bodoh," ucap Ryuu dingin sambil tersenyum miring.


Ara tak menanggapi ucapan dingin Ryuu. Ia malah asyik tersenyum sambil memandangi sahabatnya yang tampan bak malaikat itu. Berbeda dengan Ryuu yang menatapnya dingin.


"Eh, Ara? Ryuu? Kalian sudah pulang?" tanya Santia, Mommy-nya Ara yang baru saja keluar dari dapur.