STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 78 - Kau Tak Percaya?



🖤🖤🖤


Perempuan bisa diam karena terlalu marah.


Laki-laki bisa marah karena terlalu sayang.


🖤🖤🖤


CKLEK!!!


"Mom, shampoo-ku habis. Nanti aku ikut ke Supermarket, ya. Hehehe."


Hening. Tak ada suara apapun yang terdengar di telinga Ara. Padahal jelas-jelas tadi ia mendengar pintu kamarnya sudah terbuka. Dengan perasaan terheran-heran, ia pun membalikkan tubuhnya dan menatap lurus一seseorang yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


DEG!!!


"M-mau apa kau kesini?" tanya Ara terkejut setengah mati.


Di ambang pintu kamar Ara, berdiri seorang lelaki yang memakai seragam sekolah. Tatapan dan auranya benar-benar menakutkan di mata Ara. Perlahan tapi pasti, laki-laki tersebut berjalan mendekat ke arah dimana Ara berdiri.


Merasa tak nyaman, Ara pun memundurkan langkahnya seiring dengan langkah kaki lelaki tersebut yang terus mendekat padanya.


"J-jika kau mau berbicara padaku, tunggu aku selesai pakai baju dulu," kata Ara takut-takut seraya menutupi tubuhnya menggunakan handuk yang ia gunakan di kepalanya. Itu karena handuk yang ia gunakan di tubuhnya cukup minim dan paha putihnya sangat jelas terlihat.


Lelaki tersebut tak menjawab apa-apa selain menatap Ara tajam. Membuat perasaan takut sekaligus heran Ara semakin bertambah.


BRUKKK!!!


Ara menghentikan langkah kakinya karena punggungnya merasakan sesuatu yang keras dibelakangnya. Oh, tidak. Punggungnya menubruk dinding kamarnya sendiri.


Ara pun berniat untuk berlari pergi, namun niatnya itu digagalkan oleh lelaki yang sedari tadi menatapnya tajam. Lelaki itu mendorong tubuh Ara hingga punggung Ara kembali menubruk dinding kamar. Cukup keras hingga membuat Ara meringis sakit.


"R-ryuu, kau kenapa sih? Ada apa denganmu?" protes Ara kesal.


Nihil. Daritadi Ara sudah banyak berbicara, tapi Ryuu sama sekali belum mengucapkan sepatah katapun. Tentu saja hal itu membuat Ara kesal dan geram, bukan? Apalagi, situasi sekarang benar-benar tak bisa ia pahami sama sekali. Ryuu terlihat sangat marah padanya. Padahal, ia rasa, ia tak melakukan apapun yang membuat Ryuu marah hari ini.


Kalau begitu, ada apa dengan Ryuu?


Tanpa bicara apa-apa, Ryuu menarik dagu Ara lalu segera mencium bibir gadis itu secepat kilat. Saking cepatnya, Ara sampai tak ada waktu untuk mengelak ataupun menolak ciuman tersebut.


Ara pun memukul-mukul dada bidang Ryuu tatkala merasakan ciuman Ryuu kali ini terasa sangat kasar dan menuntut. Namun, rupanya Ryuu tak memperdulikan itu. Ia terus saja mencium bibir Ara hingga sahabatnya itu cukup sesak karena kehabisan napas.


Dengan sekuat tenaga, akhirnya Ara bisa melepaskan bibirnya dari tautan bibir Ryuu. Matanya tak berkedip menatap Ryuu kaget sekaligus heran.


"Kau menolak ciumanku, hah?" tanya Ryuu dingin. Namun terdengar sangat emosional di telinga Ara.


"B-bukan begitu. Hanya saja一"


"Kau bilang kau mencintaiku. Tapi kau berani menolak ciumanku. Lalu, kenapa kau tak bisa menolak ciuman lelaki lain padamu?"


DEG!!!


Ara tersentak mendengar pertanyaan Ryuu yang sungguh terdengar aneh. Sungguh aneh hingga ia sendiri tak mengerti apa maksud dari ucapan Ryuu.


"Jangan berpura-pura lugu. Kau berciuman dengan Rangga, kan?" Ryuu bertanya ketus sambil menggebrak kedua tangannya di dinding. Mengunci Ara agar tak bisa kemana-mana.



"Diam tandanya benar. Berarti ucapanku benar, kan? Kau berciuman dengan Rangga."


Ara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berusaha meyakinkan Ryuu.


"Aku tak pernah berciuman dengan siapapun kecuali denganmu, Ryuu," elak Ara tak terima dengan ucapan Ryuu terhadapnya.


"Apa buktimu jika kau memang tak pernah berciuman dengan Rangga?" tanya Ryuu semakin menyudutkan Ara.


"Tentu saja aku tak punya bukti! Lagipula bukti seperti apa sih yang kau mau? Aku berani bersumpah bahwa aku tak pernah berciuman dengan siapapun kecuali denganmu!" seru Ara mulai tersulut emosi.


Ryuu tersenyum miring, terlihat tak mempercayai ucapan Ara dan terkesan merendahkan. Membuat gadis itu sekarang benar-benar kesal juga heran pada Ryuu. Bisa-bisanya Ryuu menuduhnya seperti itu dengan seenaknya.


"Coba, lihat lehermu," ujar Ryuu seraya memiringkan kepalanya, menatap lurus leher putih Ara.


Di leher Ara, terlihat jelas bekas ruam kemerahan yang tertangkap di mata Ryuu. Membuat emosi Ryuu semakin memuncak. Kali ini, ia tak lagi menatap tajam Ara. Namun tatapannya berubah menjadi tatapan penuh rasa jijik.


"Sudah kuduga. Rangga mencium lehermu dan kau menerimanya begitu saja," ujar Ryuu membuang mukanya. Enggan menatap Ara lagi.


Ara membelalakkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.


"Kenapa kau menuduhku seperti itu? Aku bukan perempuan murahan yang mau dicium oleh siapa saja, Ryuu!" teriak Ara benar-benar emosi pada tuduhan Ryuu yang membuatnya muak.


Ryuu tertawa kecil. Terdengar sangat merendahkan Ara, "Lalu, kenapa kulit lehermu banyak ruam merah? Kau yakin Rangga tak memberikan kiss mark dilehermu?"


Ara menarik napas panjang sambil menutup matanya. Detik berikutnya, ia kembali menatap Ryuu lekat-lekat.


"Kau mungkin tak tahu hal ini, Ryuu. Aku sebenarnya menderita alergi panas. Jika aku kepanasan atau gerah, kulitku akan merah-merah termasuk pada bagian leherku juga," jelas Ara sungguh-sungguh.


Ryuu lagi-lagi tertawa kecil. Setelah itu ia melirik Ara lalu kembali menatap objek lain.


"Oh, berarti kita sangat serasi sekali ya. Kau alergi panas, sedangkan aku alergi angin malam yang dingin. Benar-benar tak terduga," tanggapan Ryuu yang membuat Ara sangat geram karena sahabatnya itu terlihat tak mempercayai ucapan Ara.


"Aku jadi meragukan apakah kau benar-benar mencintaiku atau tidak, Al. Jika kau mencintaiku, kau tidak mungkin kencan bersama Rangga dan melakukan hal itu dengannya," sambung Ryuu yang seketika membuat Ara tersentak kaget. Kaget karena Ryuu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku kencan dengan Rangga agar bisa membuatmu cemburu!"


Ryuu memutar bola matanya sambil membuang mukanya.


"Kau tidak mempercayaiku, Ryuu?" lirih Ara sakit hati dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ryuu diam. Enggan membuka suara untuk menjawab pertanyaan Ara.


"Ryuu, kau tak percaya padaku?!" Kali ini nada bicara Ara meninggi. Tetes demi tetes air mata turun ke pipinya.


"Ryuu! Jawab aku! Kau tidak per一"


"Ya. Aku tidak percaya padamu lagi," kata Ryuu dingin. Membuat air mata Ara semakin mengalir deras.


Setelah itu, Ryuu pun berjalan pergi menuju pintu kamar Ara. Sebelum keluar, ia memegang knop pintu lalu menghentikan langkahnya.


"Jangan pernah berbicara apapun padaku. Aku tak mau melihat wajahmu lagi," kata Ryuu sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu kamar Ara.


Ara ambruk dan terduduk di lantai kamarnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia tak menyangka, Ryuu tega mengatakan hal yang sangat menyakitkan padanya. Ditambah, rencana kencan kemarin ternyata membuahkan hasil seperti ini. Hatinya benar-benar hancur karena Ryuu tak bisa mempercayai ucapannya.


Sambil terus menangis sesegukan, Ara meraih ponselnya yang ada di atas ranjangnya. Ia dengan cepat mengirim pesan kepada Rangga untuk meminta bertemu dan meluruskan kesalahpahaman ini. Ia yakin, Ryuu sudah termakan ucapan Rangga yang mengada-ada. Ini tak boleh dibiarkan!