
...🖤🖤🖤...
...Tidak apa-apa kalau dia tak mencintaiku. ...
...Tapi ku harap, dia tak sampai membenciku. ...
...🖤🖤🖤...
Ucapan Ryuu terhenti. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu saling berpandangan lama. Hingga pada akhirnya, Ryuu kembali membuka suara.
"Kau orang yang berharga, Al."
Ryuu kira, Ara akan tersenyum senang mendengar ucapannya. Namun, diluar dugaan, ternyata Ara malah mendorong tubuh Ryuu agar menjauh darinya. Ia memasang wajah sangat kesal pada Ryuu dan menatapnya marah.
"Berharga? Kau bilang, aku berharga?" Ara mengulang ucapan Ryuu dengan nada meledek. Membuat Ryuu mengerjap-ngerjapkan matanya, tak mengerti dengan respon Ara.
"Aku menyukaimu sudah begitu lama, Ryuu. 10 tahun itu tak sebentar, kan? Dan selama ini, kurasa kau hanya mempermainkan aku saja. Kau membuat tantangan agar aku bisa membuatmu menyukaiku. Lalu, kau juga membuat tantangan baru yaitu nilai UN-ku harus lebih besar darimu, atau jika aku kalah, aku tak akan pernah diberi kepastian olehmu. Selain itu, kau sering membuatku sakit hati dan menangis一"
"Lalu, maumu apa sekarang?" Ryuu memotong ucapan Ara sambil menatap sahabatnya itu sangat serius.
"Ya... Intinya... Aku tak percaya dengan ucapanmu! Kalau aku berharga, kau tak akan mungkin menggantung hubungan kita seperti ini!" seru Ara sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
Ryuu memutar bola matanya kesal. Meskipun Ara sedang mengigau, nyatanya sifat kekanakan gadis itu masih melekat juga. Demi apapun, Ryuu baru tahu ada orang yang mengigau se-menyebalkan Ara.
"Kau ini mengigau atau sedang sadar sih? Tapi, kalaupun kau sedang sadar, kenapa matamu masih terlihat sayu dan lesu?" batin Ryuu kebingungan. Matanya fokus menatap kedua mata Ara yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa kau tak percaya bahwa kau itu berharga menurutku?" protes Ryuu.
"Karena sikapmu bertolak belakang dengan ucapanmu, tahu!"
Lagi-lagi Ryuu memutar bola matanya, "Kalau begitu, kau mau aku membuktikannya seperti apa agar kau percaya?"
Ara terdiam sebentar mendengar pertanyaan Ryuu. Ia memainkan ujung jemarinya di bawah dagunya, pertanda ia sedang berpikir keras.
"Kalau begitu, bilang padaku bahwa kau sangat mencintaiku setengah mati!" seru Ara antusias. Sukses membuat Ryuu membelalakkan matanya kaget.
"Hah? Jangan harap," kata Ryuu dingin namun terdengar tegas.
"Tuh, kan? Huh! Kalau begitu, bilang padaku bahwa kau tak pernah mencintai siapapun selain aku! Bilang padaku bahwa di masa depan nanti, kau akan menikahiku!" seru Ara lagi seraya menunjuk ke arah Ryuu dengan tangan kanannya.
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya aneh. Dibanding mengigau, Ara lebih terlihat seperti orang yang sedang mabuk. Ucapannya benar-benar mind blowing sekali. Hingga membuatnya tak mampu berkata apa-apa.
"Aku tak bisa asal bilang seperti itu, Al. Ucapan laki-laki itu harus dipegang dan harus di laksanakan. Aku tak bisa mengucapkan hal itu seenaknya," ujar Ryuu mencoba menjelaskan agar Ara mengerti.
Mendengar itu, Ara memanyunkan bibirnya sambil menundukkan pandangannya. Terlihat bahwa ia sedang sedih dan merajuk.
"Ya sudah. Kau boleh meminta apa saja padaku. Asal jangan ucapan yang aneh-aneh lagi," sambung Ryuu merasa bersalah melihat ekspresi wajah Ara yang berubah tadi.
Senyuman Ara pun tiba-tiba merekah mendengar ucapan Ryuu yang sangat menyenangkan hatinya. Tanpa pikir panjang, ia segera berjalan mendekati Ryuu tanpa pudar senyumannya.
"Kalau begitu, cium aku dengan penuh cinta!" seru Ara penuh keceriaan.
DEG!!!
"Hah?" Ryuu mengernyitkan dahinya aneh, tak percaya dengan apa yang Ara ucapkan dengan begitu santainya. Eh? Apa Ryuu tak salah dengar? Ara minta cium?
"Tuh kan? Kau masih saja tak mau! Itu berarti aku benar-benar tak berharga untukmu. Menciumku saja kau tak mau!" protes Ara sebal sambil membalikkan badan, membelakangi Ryuu.
"Bukan begitu.. Hanya saja, aku kaget. Ini pertama kalinya kau meminta hal seperti ini padaku," gumam Ryuu pelan tanpa bisa Ara dengar.
"Oh, mungkin karena Ara sedang mengigau. Jadi level percaya dirinya sedang sangat tinggi. Andai saja ia sedang sadar saat ini, pasti ia tak akan berani meminta hal seperti ini padaku," sambung Ryuu dalam hati. Mengerti dan peka akan keadaan Ara saat ini.
"Aku mau pulang saja!" seru Ara dengan nada kesal, berniat melangkahkan kakinya.
Namun, secepat kilat, Ryuu menarik tubuh Ara hingga gadis itu berbalik menghadapnya sekarang. Pergerakan Ryuu benar-benar cepat hingga tak ada waktu untuk Ara mengelak.
Dan kini, posisi Ryuu seperti sedang setengah mendekap tubuh Ara.
"Aku bisa saja melakukan ini, Al. Tapi ingat, sepertinya aku melakukan ini tanpa perasaan. Tanpa adanya perasaan untukmu," kata Ryuu menegaskan. Lalu dibalas anggukan mengerti oleh Ara. Sepertinya, Ara yang sedang mengigau itu tak perduli Ryuu akan benar-benar menciumnya atau tidak.
Perlahan tapi pasti, Ryuu memajukan wajahnya. Mendekat dan memperminim jarak antara wajahnya dengan wajah Ara. Sedangkan Ara sudah menutup matanya duluan, bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau mungkin tak akan ingat dengan ciuman ini saat esok hari, Al. Tapi jika kau ingat, kau harus memberitahuku besok di sekolah," ujar Ryuu setengah berbisik.
Refleks, Ara membuka matanya. Ia tak mengerti dengan apa Ryuu ucapkan dan menatap Ryuu bingung. Namun, bukannya memperjelas ucapannya, Ryuu dengan cepat menempelkan bibirnya di bibir Ara. Kedua mata sepasang sahabat itu menutup sempurna, menahan gejolak dan debaran jantung yang begitu kencang.
Jujur saja, mungkin karena ini adalah permintaan Ara, rasanya Ryuu benar-benar canggung dan aneh saat mencium gadis itu. Ya, aneh. Padahal, ini bukan pertama kalinya mereka berciuman. Tapi terasa ada yang berbeda di ciuman kali ini. Rasanya...
...ini seperti ciuman yang terakhir kalinya.
***
Sore ini kelas sedang diadakan Bimbel, tepatnya pelajaran Matematika. Namun, dari awal Bimbel dimulai, Ara tak sedikitpun mendengarkan penjelasan dari Guru. Ia malah mengetuk-ngetuk pulpen hitam miliknya ke meja sambil melamun. Ya, pikirannya melamun ke kejadian tadi malam.
"Hal yang terakhir aku ingat kemarin malam, aku ditarik oleh Ryuu ke dalam rumahnya karena pintu rumahku terkunci. Lalu... Setelah itu..."
Ara mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia berusaha mengingat dengan sekuat tenaga hal kemarin malam. Namun, nihil. Yang bisa ia ingat hanyalah ingatan yang remang-remang saja.
"Saat aku benar-benar sadar, aku sudah berada di dalam kamarku. Lengkap dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Aneh. Apa itu artinya aku dibawa pulang oleh Ryuu ke rumahku?"
Tiba-tiba, sebuah kertas yang digulung kecil mendarat tepat di atas meja Ara.
"Eh? Kertas?"
Ara pun refleks menoleh ke arah kanan-kirinya, mencoba mencari siapa yang melempar kertas tersebut padanya. Tak lama, pandangan Ara terhenti pada laki-laki yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Laki-laki itu tersenyum manis pada Ara sambil memberi kode agar Ara membuka kertas tersebut.
"Kenapa Rangga melempar kertas padaku? Jika ingin bilang sesuatu, kan bisa dibicarakan nanti pulang bimbel," batin Ara heran seraya membuka kertas tersebut lalu membaca isinya.
...Kau baik-baik saja? Kenapa kau terlihat tak bersemangat hari ini?...
Ara menatap Rangga yang kini juga sedang menatapnya. Setelah itu, Ara pun tersenyum ceria一menandakan pada Rangga bahwa dirinya baik-baik saja. Mengerti akan maksud Ara, akhirnya Rangga kembali fokus mendengarkan penjelasan guru bimbel yang sedang mengajar Matematika.
"Bahkan Rangga saja tahu bahwa kini aku sedang tak bersemangat. Tapi, sepertinya Ryuu terlihat biasa saja. Padahal dialah pemicu dari kegelisahanku selama ini," batin Ara seraya melirik sekilas ke arah Ryuu yang duduk di sebrangnya.
Mata Ara membulat sempurna tatkala menyadari bahwa ternyata一sedari tadi Ryuu sedang menatapnya.
"A.. Ada apa, Ryuu?" tanya Ara hanya menggunakan gerak bibirnya saja tanpa bersuara.
Bukannya menjawab, Ryuu malah berhenti menatap Ara lalu kembali menulis materi yang ada di papan tulis sana. Tak menghiraukan Ara yang kini sedang kebingungan.
"Oh, iya ya. Aku lupa bahwa Ryuu tak mau berbicara denganku," batin Ara sambil menghela napas sedih.
Ara pun menempelkan kepalanya di atad meja一menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan. Ia menatap Ryuu sendu meski tahu bahwa Ryuu pasti tak akan balik menatapnya lagi. Dalam hati, Ara benar-benar ingin berbaikan dengan Ryuu. Apalagi saat ini Ryuu sedang ditimpa masalah. Pasti ini adalah masa-masa tersulit Ryuu.
Dan tentu saja, Ara ingin berada di sisi Ryuu disaat-saat seperti ini. Namun, mengingat ucapan Ryuu beberapa hari yang lalu, membuat nyali Ara ciut dan memilih untuk pasrah saja.
***
Jam bimbel sudah selesai. Kini, semua anak kelas 12 pulang dan berhamburan keluar kelas. Tapi berbeda dengan yang lain, Ara dan Angel masih berada di kelas. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di meja Ara.
"Ra, kau masih belum berbaikan dengan Ryuu?" tanya Angel menyadari tentang hal tersebut.
"Iya." Ara menundukkan pandangannya sambil menghela napas, "Aku bingung harus bilang apa padanya, Ngel."
Angel terdiam lama. Ia terlihat sedang berpikir keras. Juga berusaha mengingat sesuatu yang tersimpan di otaknya itu. Karena diam terlalu lama, Ara pun menatap Angel sungguh-sungguh一menunggu Angel mengucapkan sesuatu.
"Menurutku sih, selama Ryuu masih belum mendekatimu, kau jangan mendekatinya duluan, Ra. Jika kau tetap nekat mendekatinya, aku takut Ryuu malah semakin tak mau dekat denganmu atau mungkin, ia bisa saja jadi membencimu," jelas Angel pelan-pelan agar Ara mengerti.
Ara memanyunkan bibirnya sedih, "Membenciku?"
"Ehm, bukan. Maksudku bukan begitu, Ra. Ini kan takutnya saja dia一"
"Tidak apa-apa kalau dia memang tak mencintaiku. Tapi, kuharap, dia tak sampai membenciku," kata Ara dengan suara lirih.
Merasa membangkitkan rasa pesimis Ara, Angel pun merasa bersalah. Akhirnya, tanpa pikir panjang ia merangkul Ara dari samping sambil tersenyum. Mencoba menyemangati sahabatnya itu.
"Hei, bagaimana kalau begini? Sekarang, kau fokus saja belajar untuk UN nanti. Intinya kau harus benar-benar belajar agar nilai UN-mu memuaskan! Nah, saat hasil nilai UN keluar dan ternyata nilaimu lebih besar dari Ryuu, kau harus mendekati Ryuu saat itu juga. Kau masih ingat kan perjanjian antara kau dan Ryuu bagaimana?" tanya Angel mengingatkan.
Mata Ara seketika berbinar mendengar perkataan Angel.
"Nah, iya! Kau benar, Ngel. Nilai UN yang besar bisa jadi senjata untukku mendekati Ryuu. Jika nilaiku lebih besar, itu artinya aku menang. Kata Ryuu kan, jika aku menang, aku bebas dekat dengan siapa saja dan berpacaran dengan siapapun. Termasuk dengan dirinya, kan? Hehehe," timpal Ara ceria yang rasa optimisnya keluar kembali. Membuat Angel semakin mempererat rangkulannya.
"Nah, kan kalau begini bagus. Aku tak bisa melihatmu terus-menerus sedih dan pesimis, Ra. Kau ini kan dari dulu selalu optimis dan ceria! Jadi kau jangan berubah, ya! Harus selalu seperti ini!" seru Angel mencoba membakar kembali semangat Ara.
Ara pun mengangguk sambil tersenyum penuh rasa optimis. Lalu membalas rangkulan Angel dengan erat.
"Terimakasih ya, Ngel. Berkatmu aku jadi bisa berpikiran terbuka, hahaha. Aku sayang padamuuu!"
Angel mengangguk一menatap Ara dengan tatapan penuh pengertian. Senyuman masih terhias diwajahnya yang terlihat galak, tapi sebenarnya hatinya itu sangat lembut.
"Hei, seminggu setelah selesai UN nanti kan, ku dengar akan ada acara pensi untuk anak kelas 12. Dan band kita akan mengadakan performa kata Coach Jeremy. Kau ingat kan?" tanya Angel mengubah topik pembicaraan.
"Eh? Ya ampun, kau benar! Aku lupa tentang hal itu!"
"Hahaha. Kalau begitu, selesai UN nanti, kita harus segera latihan dengan yang lainnya. Bagaimana?"
"Siap! Mungkin selain tampil sebagai vocalis band kita, aku akan tampil solo. Ya, aku akan bernyanyi untuk Ryuu hehehe."
"Nah, benar. Kau harus menyentuh hati Ryuu dengan lagumu, oke?"
"Oke!" seru Ara antusias dan penuh semangat sambil tersenyum lebar.