STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 46 - Catatan?



🖤🖤🖤


Kita memang mengikat dalam hubungan.


Tapi, kita tak punya makna dalam ikatan.


🖤🖤🖤


Sudah hampir 3 jam Ryuu dan Ara berada di Wahana Main Bola. Sebenarnya, Ara tak mau kencan pertamanya dengan Ryuu di tempat seperti ini. Namun, melihat ekspresi wajah Ryuu yang terlihat sangat senang, Ara pun ikut senang melihatnya. Ryuu tak henti-hentinya bermain, berlari, dan melempari bola layaknya anak kecil. Sesekali一entah sengaja atau tidak, Ryuu melempari Ara dengan bola sambil tertawa kecil.


"Ryuu, sudahlah! Jangan melempariku dengan bola terus, huh!" seru Ara pura-pura sebal. Padahal, dalam hatinya, Ara sangat senang jika Ryuu menjahilinya.


Bukannya berhenti, Ryuu malah semakin melempari Ara dengan bola sambil terus tertawa. Tak ingin diam saja, Ara juga kini ikut membalas lemparan bola dari Ryuu. Tapi, nihil. Ryuu berhasil mengelak dari semua lemparan bola Ara.


"Hahaha, dasar payah!" ejek Ryuu tak berhenti melempari Ara dengan bola.


Ara menyerah. Ia berhenti membalas lemparan bola dari Ryuu. Matanya itu malah fokus menatap wajah Ryuu yang terlihat sangat senang. Eh? Kenapa jantungnya kini berdebar kencang? Apa mungkin ia terpana dengan wajah tampan Ryuu? Bukan, bukan itu. Hanya saja, Ara merasa ekspresi senang dari wajah Ryuu adalah hal terindah yang jarang sekali dilihat oleh matanya.


Karena biasanya, Ryuu hanya menampilkan ekspresi dingin, datar, dan cuek saja setiap harinya. Dan bisa melihat ekspresi 'lain' dari wajah Ryuu, bukankah itu sesuatu yang menakjubkan untuk Ara?


BRUKKK!!!


Karena Ara melamun dan tak fokus, lemparan bola dari Ryuu yang paling terakhir sukses mengenai dahinya cukup kencang. Membuat tubuh kecil Ara terpental ke belakang seketika. Melihat itu, Ryuu membelalakkan matanya kaget seraya berlari menghampiri Ara, berniat membantu sahabatnya itu untuk kembali berdiri.


Namun, Tuhan berkata lain. Satu langkah lagi menuju Ara, entah kenapa Ryuu tersungkur ke arah depan hingga kini tubuhnya itu berada di atas Ara. Untung saja, tangan Ryuu berhasil menopang tubuhnya sendiri hingga tak benar-benar menindih Ara.


DEG!!!



Ryuu dan Ara sama-sama membelalakkan matanya kaget. Namun, detik berikutnya Ryuu mencoba menatap Ara dingin, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari.


"M.. Maaf," kata Ryuu seraya mengubah posisinya menjadi duduk. Ara yang ada di sampingnya juga ikut mengubah posisinya.


"Ehm, t-tidak apa-apa, kok," ujar Ara berusaha tenang meski debaran jantungnya terasa seperti akan meledak.


"Untung saja aku berhasil menahan tubuhku, karena kalau tidak..."


"Kalau tidak, kenapa?" potong Ara penasaran.


"Karena kalau tidak, mungkin saja kan aku tak sengaja menciummu?"


Ara membulatkan matanya kaget, "Eh?"


"Ya aku tak mungkin melakukannya. Apalagi, ini adalah tempat umum," jawab Ryuu ketus sebelum akhirnya ia berdiri, bangkit dari duduknya.


Ara menengadahkan kepalanya menatap Ryuu bingung. Ia masih tetap pada posisi duduk.


"Jadi, kalau bukan tempat umum, kau akan menciumku, begitu?" tanya Ara dengan polosnya hingga membuat Ryuu menelan ludahnya seketika.


Ryuu memutar bola matanya, "Kau lapar, kan? Bagaimana kalau kita cari makan?" tanya Ryuu mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ara mengangguk penuh semangat.


"Iya, aku lapar sekali! Kalau begitu, ayo kita pergi makan!" seru Ara sambil tersenyum ceria. Rupanya, Ara memang mudah lupa akan suatu topik pembicaraan. Dan sebagai sahabatnya dari kecil, Ryuu tahu akan kelemahan Ara yang seperti itu.


"Tapi, sebelum itu, bukankah kita harusnya berfoto dulu?" sambung Ara bertanya.


"Eh? Iya juga, ya. Habis pulang dari Mall ini kan kita harus ke Rumah Sakit dan menunjukkan foto kencan kita pada Angel," ujar Ryuu yang hampir lupa akan hal itu.


Ryuu memutar bola matanya lalu membuang mukanya, "Kenapa dia terlihat senang sekali karena akan foto bersamaku? Memangnya se-menyenangkan itu, ya?" batin Ryuu heran.


"Ryuu, ayo lihat ke kamera!" seru Ara yang entah sejak kapan sudah siap dengan kamera di ponselnya. Ryuu pun menuruti ucapan Ara dengan arah kamera.


CKREKKK!!!



"Ryuu! Kau harus tersenyum! Bukan menunjukkan ekspresi datarmu itu, tahu!" seru Ara cekikikan setelah melihat hasil jepretan fotonya bersama Ryuu tadi.


"Eh? Kenapa aku harus tersenyum? Sepenting itukah?" tanya Ryuu ketus.


Ara mencubit pipi Ryuu gemas. Namun, itu tak berlangsung lama karena Ryuu menepis tangan Ara dari pipinya.


"Angel kan tidak tahu bahwa hubungan kita ini hanya pura-pura. Jadi, bukankah aneh kalau di foto kencan pertama kita, ekspresimu terlihat datar begitu? Cobalah tersenyum sedikit, tunjukkan kebahagiaanmu di kencan pertama kita ini!" jelas Ara lalu diikuti anggukan Ryuu tanda mengerti.


"Oke, sekali lagi, ya! 1...2...3..."


CKREKKK!!!



Ara tertawa terbahak-bahak setelah melihat hasil jepretan fotonya dengan Ryuu untuk yang ke-2 kalinya. Merasa di tertawakan, Ryuu pun menjentik dahi Ara pelan. Membuat gadis itu menghentikan tawanya yang menggelegar.


"Awww!" ringis Ara sambil menggosok-gosok dahinya dengan tangan kanannya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Ryuu sebal.


"Habisnya, ku bilang kan kau harus senyum! Tapi, tetap saja ekspresimu datar seperti foto pertama! Ekspresimu jadi terlihat sangat kaku, tahu!" ucap Ara tersenyum-senyum, ia berusaha menahan tawanya agar Ryuu tak tersinggung.


Ryuu menatap Ara tajam, "Tadi itu aku sudah tersenyum. Kau tak lihat, apa?" elak Ryuu tak terima dengan ucapan Ara.


"Hahahaha, iya, iya. Aku mengerti. Wajahmu dari sananya sudah begini."


Ryuu berdecak sambil membuang mukanya.


"Karena tempat kencan sudah ku putuskan. Bagaimana kali ini kau yang menentukan tempat makan kita?" tanya Ryuu yang membuat mata Ara kini berbinar.


"Eh? Serius? Sekarang aku yang boleh memutuskan?" tanya Ara tak percaya.


Ryuu mengangguk.


"Jadi, kita akan makan dimana?"


"Ehm, dimana ya..." ujar Ara berpikir keras. Tanpa sadar, kakinya itu berjalan sedikit demi sedikit一keluar dari Wahana Main Bola. Meninggalkan Ryuu yang tertinggal di belakang.


Baru saja Ryuu akan melangkahkan kakinya menyusul Ara, mata coklatnya menangkap sesuatu yang mencolok berada di atas bola.


Eh? Secarik kertas yang terlipat? Kenapa bisa ada disini?


Sambil mengernyitkan dahinya, ia pun mengambil kertas tersebut.


"Kertas apa ini? Apakah ini milik Ara yang terjatuh dari tasnya?" batin Ryuu penasaran sambil membuka lipatan kertas itu perlahan. Betapa terkejutnya Ryuu saat membaca isi kertas tersebut.


"Apa-apaan ini?" gumam Ryuu terkejut setengah mati.