
🖤🖤🖤
Tolong diingat.
Aku adalah orang yang paling menginginkanmu.
Kemarin, sekarang, dan selamanya.
🖤🖤🖤
Istirahat, pukul 10:08
Di Kantin Sekolah...
"Ra, ada apa sih denganmu? Ku lihat sedari tadi, kau seperti sedang memikirkan sesuatu," tegur Angel yang seketika membuyarkan lamunan Ara.
Ara menggeleng cepat seraya meminum jus jeruk kesukaannya.
"Jangan bohong. Aku tahu pasti ada yang mengganggu pikiranmu, kan?" tanya Angel sambil memicingkan kedua matanya.
Ara menelan salivanya kasar. Memang sih, tak ada gunanya menyembunyikan apapun dari Angel karena sahabatnya itu pasti tahu apa yang sedang Ara tutupi. Namun, Ara bingung. Dia tak mungkin menceritakan pada Angel bahwa Ryuu sedang ada masalah keluarga. Ya, karena itu adalah bagian dari privasi Ryuu. Ara tak boleh membicarakannya pada orang lain, termasuk pada Angel.
"Ra? Ara? Tuh kan, kau melamun lagi!"
"E... Eh? Tidak, kok!"
"Kalau ada sesuatu, jangan dipendam. Kau harus ceritakan padaku apa masalahmu. Mungkin saja aku bisa membantumu. Oke?" tanya Angel sambil tersenyum manis.
Ara pun mengangguk, membalas senyuman sahabatnya itu.
"Aku tak bisa mengatakannya pada Angel. Karena ini bukanlah masalahku, tapi masalah Ryuu."
"Namun, jika dipikir-pikir lagi, sepertinya masalah Ryuu lebih besar dari yang aku tahu. Ya, aku hanya melihat pertengkaran Bunda Yui dan Om Vino saja beberapa hari yang lalu. Aku tak tahu detail masalahnya seperti apa. Yang jelas, semoga ucapan Bunda Yui yang bilang ingin pindah ke Jepang itu tak benar, ya. Semoga saja," batin Ara penuh harap.
***
Sementara itu, di Atap Sekolah...
"Ryuu, apa orangtuamu bertengkar lagi?" tanya Revina sambil berjalan menghampiri Ryuu yang sedang duduk.
Ryuu diam, tak menghiraukan sama sekali kedatangan Revina. Menyadari hal itu, Revina pun segera duduk di samping Ryuu lalu menepuk pelan pundak laki-laki itu.
"Hei, Ryuu!"
Merasa pundaknya ditepuk, Ryuu baru menoleh ke arah Revina.
"Kenapa kau bisa tahu aku ada disini?" tanya Ryuu dingin.
"Ya ampun, kau lupa kita menghabiskan waktu bersama disini dari beberapa hari yang lalu? Tentu saja aku tahu kau ada disini sekarang."
"Menghabiskan waktu? Kau pikir, aku berniat menghabiskan waktu bersamamu? Kalau bukan karena Ayahku dan Mamahmu, aku pasti tak akan mau bicara padamu," kata Ryuu ketus. Membuat Revina bungkam seribu bahasa. Ya, benar juga apa kata Ryuu. Andai saja orangtua mereka tidak berselingkuh, pasti Ryuu tak akan mau dekat apalagi berbicara dengan Revina.
"Hari Minggu nanti, apa aku bisa bertemu dengan Mamahmu?" tanya Ryuu yang membuat Revina tersentak kaget.
"Eh? Bertemu Mamahku?"
"Iya, aku ingin membicarakan hal ini dengan Mamahmu. Karena ku dengar dari Ayahku, masalah ini hanya kesalahpahaman semata dan Mamahmu itu adalah partner kerja Ayahku di Kantor. Aku ingin mendengar kebenarannya dari mulut Mamahmu sendiri," jelas Ryuu.
Revina mengangguk, "Aku akan bertanya terlebih dahulu jadwal Mamahku ke Kantor. Setelah itu, aku akan atur pertemuanmu dengan Mamahku hari Minggu nanti."
"Baiklah. Jika sudah kau atur, beri tahu aku," kata Ryuu lalu dibalas anggukan oleh Revina.
***
Malam harinya...
Ara sedang merebahkan dirinya di kasur. Hatinya gundah, pikirannya gelisah. Dia menunggu kedatangan Ryuu ke rumahnya. Karena sesuai perkataan Ryuu tadi pagi di Sekolah, Ryuu akan menceritakan sesuatu. Entahlah, gadis itu juga tak tahu pasti apa yang akan Ryuu ceritakan padanya.
"Ini sudah jam 9 malam, tapi Ryuu belum kesini juga. Apa dia tidak jadi cerita malam ini, ya?" batin Ara heran.
Tak ingin bertanya-tanya terlalu lama, Ara pun segera bangkit dari kasurnya lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Tanpa berlama-lama dia langsung membuka gorden jendela kamarnya tersebut. Ya, inilah kebiasaan tersembunyi dari seorang Altheara. Gadis itu sering memantau rumah Ryuu dari jendela kamarnya. Wajar saja, rumahnya dan rumah Ryuu bersampingan.
Ditambah, jendela kamar Ryuu dan jendela kamar Ara persis berseberangan. Jadi, tak sulit bagi Ara untuk memantau rumah sahabatnya itu.
"Apa Ryuu akan menceritakan masalah keluarganya, ya?" gumam Ara seraya memperhatikan jendela kamar Ryuu yang tertutup gorden berwarna silver.
"Tapi, sepertinya bukan deh," sambung Ara tak yakin.
Saat sedang intens-intensnya memperhatikan jendela kamar Ryuu, tiba-tiba saja gorden jendela tersebut terbuka. Menampakkan seorang laki-laki berwajah tampan bak malaikat一berdiri menatap Ara yang juga berdiri di sebrangnya.
Ryuu menatap Ara dingin. Membuat Ara malu sekaligus canggung karena dia tertangkap basah sedang memantau kamar Ryuu. Tak bisa berkata-kata, Ara pun cengengesan saja seraya membuka jendela kamarnya.
"Ryuu! Kau tak jadi ke rumahku?" tanya Ara dengan suara cukup keras, agar Ryuu yang berada di sebrang mendengar suaranya.
Ryuu menggeleng seraya ikut membuka jendela kamarnya, "Sepertinya tak perlu. Aku bisa bercerita disini."
"Kalau begitu, kau mau cerita apa?"
Hening. Ryuu tak menjawab pertanyaan Ara sama sekali. Dia terdiam tanpa sebab. Menyadari hal itu, Ara tentu saja kebingungan sendiri.
"Kau bisa ceritakan apapun padaku! Karena bagaimanapun, aku adalah sahabatmu!" seru Ara sambil tersenyum ceria.
Diluar dugaan Ara, ternyata Ryuu membalas senyumannya. Tapi, bukan. Ryuu bukan tersenyum ceria seperti Ara. Melainkan senyuman pahit lengkap dengan tatapannya yang sendu.
"Kau sepertinya nyaman dengan status persahabatan ini, ya?" tanya Ryuu yang sukses membuat Ara menelan salivanya kasar.
"Jadi, kau ingin status kita tak pernah berubah selamanya?"
Kali ini, Ara mengernyitkan dahinya heran. Jantungnya mulai berdegup kencang, dan ujung-ujung jarinya mulai dingin. Entahlah, Ara juga tak mengerti kenapa respon tubuhnya seperti itu saat mendengar pertanyaan Ryuu tadi.
"Hahaha, mau bagaimana lagi? Kau kan tak mencintaiku. Dan kau punya orang yang sudah dijodohkan denganmu di Jepang, Tachibana Aoi. Dia adalah cinta pertamamu, kan?" tanya Ara seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau bukan, bagaimana?"
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget. Hampir saja jantungnya itu lepas dari tempatnya. Otaknya itu dia paksa untuk bekerja lebih keras. Menemukan maksud dari pertanyaan Ryuu padanya.
Karena Ara diam terlalu lama, Ryuu pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajar saja, IQ Ara hanya 100. Jadi, kadang butuh waktu lama baginya untuk mencerna suatu perkataan. Apalagi mencerna perkataan dari Ryuu yang IQ-nya 200 lebih.
"Sudah, sudah. Tak usah kau pikirkan lagi. Aku takut otakmu meledak, hahaha," ledek Ryuu sambil tertawa kecil.
Ara yang tadinya sedang menatap objek lain一langsung menatap Ryuu karena mendengar tawa kecil dari sahabatnya tersebut.
"Kau ini meledekku, ya!" seru Ara sebal sambil memanyunkan bibirnya.
Ryuu menghentikan tawanya. Detik berikutnya, Ara merasakan tatapan Ryuu lebih serius daripada yang sebelumnya. Eh? Ada apa ini? Kenapa suasananya kini begitu serius? Apalagi, ekspresi datar Ryuu juga mendukung situasi ini.
Saat sedang keheranan, Ara tak sengaja melihat ke atas langit. Dia melihat sebuah benda bersinar terang yang lewat begitu saja.
Ya, Bintang Jatuh. Orang-orang menyebutnya begitu.
"Wah! Lihat, Ryuu! Ada bintang jatuh!" tunjuk Ara ke atas langit dengan penuh semangat.
Ryuu refleks mendongakkan kepalanya, melihat ke atas langit seperti apa yang Ara lakukan. Lalu, tak lama setelah itu, Ryuu pun kembali menatap Ara.
"Itu bukan Bintang Jatuh, tahu. Itu adalah Meteor," kata Ryuu ketus karena merasa dirinya dibodohi.
"Eh? Meteor?" tanya Ara polos.
"Meteor adalah asteroid kecil dari luar angkasa yang tertarik oleh gravitasi Bumi, ketika memasuki atmosfer bumi terjadi gesekan udara di lapisan ionosfer menyebabkan meteor panas dan terbakar menimbulkan cahaya terang sehingga disebut Bintang Jatuh," jelas Ryuu tanpa jeda sedikitpun.
Hening. Ara terlihat kembali berpikir dengan otaknya yang tak bisa Ryuu harapkan itu.
"Sudah, sudah. Kau tak akan mengerti apa yang kujelaskan tadi. Jangan memaksakan diri," ujar Ryuu menahan tawanya, lalu dibalas anggukan oleh Ara.
"Hmm, meskipun aku tak mengerti penjelesanmu tadi, ada satu hal yang aku tahu tentang Bintang Jatuh, lho!" seru Ara tak mau kalah.
"Apa?"
"Bintang Jatuh itu bisa mengabulkan permohonan kita!"
"Hah? Permohonan?"
Ara mengangguk sambil tersenyum manis, "Iya. Maka dari itu, kita harus segera mengucapkan permohonan kita dalam hati. Pasti akan terkabul!"
"Al, umurmu berapa sih? Kenapa kau percaya dongeng anak-anak seperti itu?" tanya Ryuu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau kau tak percaya, ya sudah. Biar aku saja yang memohon," kata Ara seraya melipat kedua tangannya yang ia gunakan untuk menumpu dagunya. Ara pun segera memejamkan matanya, membuat permohonan dalam hatinya.
Diam-diam, Ryuu juga mengikuti apa yang Ara lakukan. Kini, mereka berdua sedang membuat permohonan dalam hati masing-masing. Namun, Ara terlalu cepat membuka mata hingga ia bisa melihat bahwa Ryuu juga sedang memejamkan mata一ikut membuat permohonan sepertinya.
"Hei, katamu ini adalah dongeng anak-anak, tapi kenapa kau ikut membuat permohonan terhadap Bintang Jatuh?" tanya Ara yang membuat Ryuu seketika membuka matanya.
"Sepertinya, tak ada salahnya membuat permohonan seperti ini. Mungkin saja, akan terkabulkan, kan?"
Ara tersenyum lebar mendengar ucapan Ryuu. Rupanya, Ryuu beranggapan seperti itu.
"Ryuu, kau mau tahu tidak apa isi permohonanku?"
"Itu privasimu. Kenapa kau ingin memberitahukannya padaku?"
Ara tertawa kecil, "Permohonanku hanya dua. Yang pertama, semoga keluargamu dan keluargaku selalu harmonis tanpa adanya perselisihan ataupun masalah lainnya."
Ryuu memutar bola matanya. Jelas-jelas dia tak bilang ingin mendengar isi permohonan Ara. Tapi, gadis itu malah bersikeras memberitahukan padanya.
"Lalu, kau mau tahu tidak apa isi permohonanku yang kedua?"
"Sudah kubilang, itu privasimu. Aku tidak mau ta一"
"Semoga saja, kau bisa membalas perasaanku," jawab Ara dengan cepat, memotong ucapan Ryuu.
Ryuu membulatkan matanya kaget. Dia tak menyangka Ara bisa sangat santai mengatakan hal itu padanya.
Ingin menyembunyikan rasa kagetnya, Ryuu pun berdehem sambil memutar bola matanya.
"Kalau aku tak bisa membalas perasaanmu, bagaimana?" tanya Ryuu ketus.
"Hmm maka dari itu, aku mau bertanya padamu. Karena sebelumnya, aku tak pernah menanyakan hal ini," kata Ara menatap Ryuu dalam-dalam.
"Apa?"
Ara tersenyum pahit. Entah kenapa, pikirannya tertuju pada saat dia melihat Ryuu memeluk Revina di Atap Sekolah. Oh, tidak. Rasa sakit kembali menggerayangi hatinya.
"Apa tak ada sedikitpun aku di hatimu?" tanya Ara yang tentu saja membuat Ryuu tersentak kaget.