STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 87 - Terjebak



...🖤🖤🖤...


...Aku mencintai orang yang tak mencintaiku. Dan aku dicintai oleh orang yang tak aku cintai....


...Kenapa cinta serumit ini?...


...🖤🖤🖤...


Ryuu dan Ara sudah sampai di depan studio Band milik kakaknya Rangga. Sesampainya disana, mereka berdua pun segera masuk ke dalam studio一mencari keberadaan teman-temannya.


Di dalam, Ryuu dan Ara di sambut senyuman lebar oleh seorang laki-laki berkaos hitam, terlihat berumur berkisar antara 20-25, memakai celana selutut, berambut gondrong, dan tentunya berwajah tampan seperti Rangga.


Ya, siapa lagi kalau bukan kakaknya Rangga?


"Ryuu? Ara?" tanya kakaknya Rangga memastikan.


Ara dan Ryuu yang sedang melihat sekeliling isi studio Band cukup tersentak kaget menyadari kehadiran mereka disambut oleh orang yang tak mereka kenal.


"Halooo? Kenapa kalian berdua diam saja?" Kakaknya Rangga cekikikan sendiri.


Ara dan Ryuu pun saling berpandangan. Lalu detik selanjutnya, Ryuu membuka suara. Mewakili apa yang ada di pikiran Ara.


"Ehm, maaf. Apakah kau kakaknya Rangga?"


"Ah, iya. Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku adalah Angga, kakaknya Rangga. Salam kenal ya, Ryuu, Ara," ujar Angga seraya menjulurkan tangannya pada dua sepasang sahabat itu. Tanpa pikir panjang, Ryuu dan Ara berjabat tangan dengan Angga saling bergantian.


"Kenapa kau bisa tahu nama kami berdua, Om?" tanya Ara agak heran.


Angga tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Ara.


"Om? Memangnya aku terlihat setua itu, ya?"


Ara menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, merasa tak enak karena membuat Angga tersindir.


"Bukan begitu maksudku一"


"Hahaha, tidak apa-apa. Panggil saja aku Kak Angga ya," potong Angga seraya mengusap-usap pucuk kepala Ara.


Ara tertegun sebentar lalu tersenyum canggung. Ia tak sadar bahwa Ryuu yang berdiri disampingnya menatap tak suka apa yang dilakukan Angga terhadap Ara.


"Kak Angga, yang lain kemana?" tanya Ryuu mencoba mengalihkan pandangan Angga agar beralih padanya.


Angga pun berhenti mengusap pucuk kepala Ara, "Oh iya, kalian tinggal jalan saja lurus kesana. Nanti ada ruangan Band nomor 6412, kalian masuk saja ke dalam. Disana Rangga dan yang lainnya sudah menunggu kalian."


Ara dan Ryuu mengangguk tanda mengerti. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka berdua pun segera berjalan lurus一semakin dalam memasuki ruangan studio Band.


Namun, baru saja beberapa langkah Ara melangkahkan kakinya, ia mendengar suara batuk-batuk yang begitu menggema di belakangnya. Refleks, ia menoleh ke arah belakang一tepat dimana Angga berdiri.


"Kak Angga, kau tidak apa-apa?" tanya Ara khawatir seraya kembali berjalan menghampiri Angga.


"Uhuk, uhuk. T-tidak, aku tidak apa-apa kok. Kau susul saja Ryuu sana, dia sudah berjalan jauh tuh meninggalkanmu," kata Angga seraya tersenyum simpul.


"Yakin kau tidak apa-apa, Kak? Wajahmu terlihat pucat."


Ara pun menempelkan punggung tangannya ke dahi Angga, "Dan juga, suhu tubuhmu panas sekali,"


Angga menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berusaha meyakinkan Ara dengan tawanya.


"Aku memang sering batuk-batuk begini. Kau jangan khawatir, Ra. Sudahlah, lebih baik kau kesana. Teman-temanmu yang lain menunggumu di ruang Band untuk latihan pensi, kan?"


Ara tak membuka suaranya lagi. Namun, bisa dilihat bahwa ada rasa khawatir yang masih terpancar di mata gadis itu. Merasa tak enak karena dikhawatirkan, Angga pun mengusap pipi Ara pelan.


"Sudahlah, kubilang jangan khawatirkan aku一"


"Aku tak bisa diam saja melihat orang dalam keadaan sakit begini. Aku merasa jahat jika aku tetap pergi ke ruang Band dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Kak," ujar Ara memotong ucapan Angga.


Angga mengangguk sambil tersenyum. Matanya kini terlihat sayu menatap Ara yang semakin menatapnya khawatir.


Pandangan Ara menyapu seluruh ruangan studio. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada sebuah sofa panjang di dekat jendela kaca yang mengarah keluar studio Band. Tanpa pikir panjang, Ara pun segera menuntun Angga untuk duduk di sofa sana.


Setelah membantu Angga duduk di sofa, Ara langsung berdiri tegap kembali.


"Kak, apa Kak Angga sudah sarapan sebelumnya? Sarapan apa? Nasi atau apa?" tanya Ara layaknya anggota Palang Merah Remaja dimata Angga.


Angga tertawa dengan wajah yang sangat lemas, "Aku sudah makan nasi goreng tadi pagi bersama adikku, Rangga."


"Hmm," Ara mengangguk-anggukan kepalanya, "Kalau begitu, sekarang Kak Angga hanya perlu minum obat penurun demam lalu istirahat."


"Hah? Minum obat?"


"Apa Kak Angga mau ke rumah sakit saja?"


Angga segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak usah sampai ke rumah sakit. Aku hanya kecapekan saja kok karena mengurus studio Band ini sendirian dari pagi hingga malam," jelas Angga.


"Kalau begitu, Kak Angga harus minum obat ya. Sebentar, aku belikan dulu obat dan air minumnya di Apotek一"


Angga segera menarik tangan Ara yang baru saja akan berjalan pergi. Membuat gadis itu refleks menoleh ke arahnya sekarang.


"Kenapa, Kak?"


"Itu, obatku dan air minum ada di ruanganku. Kau tidak usah repot-repot ke Apotek, Ra," kata Angga seraya menunjuk ke salah satu ruangan yang cukup jauh. Tepatnya paling ujung diantara ruangan-ruangan Band lainnya.


"Dimana, Kak? Aku tak bisa lihat," Ara menyipitkan matanya, berusaha melihat ruangan yang ditunjuk Angga.


"Intinya, kau jalan lurus saja ke sana. Nanti kau akan menemukan ruangan paling ujung, nah itu ada ruangan yang pintunya ber-cat merah. Itu adalah ruanganku," jelas Angga yang suaranya makin terdengar lemah.


Ara mengangguk mengerti. Tanpa berlama-lama lagi, ia berlari ke koridor一melewati ruangan demi ruangan band yang sangat banyak. Ia tak sadar bahwa dibelakang sana一tepatnya di sofa一Angga sudah pingsan tak sadarkan diri.


***


"Hmm, aku yakin ini adalah ruangan milik Kak Angga. Pintu berwarna merah, dan ruangannya terletak di paling ujung koridor. Ternyata aku pintar juga ya, hihihi," batin Ara membanggakan diri sendiri.


Ara pun berniat membuka pintu ruangan tersebut. Namun, saat gadis itu lihat dengan seksama, sepertinya ada yang aneh dengan pintu ruangan milik Angga. Di knop pintu, bertuliskan 'Masukkan kata sandi'. Yang artinya, pintu ruangan tersebut hanya akan terbuka jika diberi sandi yang benar.


"Hah? Kenapa Kak Angga tak bilang bahwa pintu ruangannya adalah pintu yang memakai kata sandi?" batin Ara kebingungan.


"Yah, mau bagaimana lagi. Mungkin Kak Angga terlalu lemas hingga lupa bahwa ruangannya ini pakai kata sandi. Kalau begitu, aku harus kembali kesana untuk menanyakan kata s一"


Baru saja Ara membalikkan tubuhnya untuk kembali berjalan menemui Angga, ternyata ada seorang laki-laki yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya. Tentu saja, hal itu sukses membuat Ara terpekik kaget.


"Hahaha, kau habis melihat hantu, Ra? Kenapa sekaget itu melihatku? Hahaha," ledek laki-laki itu yang tak lain adalah Rangga.


Ara mengusap-usap jantungnya yang masih berdebar. Ia berdecak kesal karena Rangga terlihat puas menertawakannya.


"Kau sedang apa disini? Yang lain mencarimu tuh," kata Rangga yang kini sudah berhenti tertawa.


"Aku ingin mengambil obat dan air minum untuk Kakakmu, Kak Angga. Sepertinya dia demam karena kecapekan," jelas Ara dengan nada khawatir.


"Hah? Demam? Lalu, dimana Kak Angga sekarang?" tanya Rangga panik.


"Ada di depan, duduk di sofa panjang dekat jendela luar studio. Tadinya, aku akan pergi ke Apotek untuk membeli obat. Tapi kata Kak Angga tak usah, dia punya obat dan air minum di ruangannya. Makanya, aku ada disini sekarang untuk mengambilnya," jelas Ara lagi.


Rangga mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Lalu, kenapa kulihat kau malah diam saja di depan pintu?" Rangga mengernyitkan dahinya heran.


"Tentu saja aku tahu," jawab Rangga cepat.


***


Ara dan Rangga sudah berada di dalam ruangan milik Angga. Sudah cukup lama mereka berdua mencari-cari obat dan air minum yang kata Angga一ada di meja miliknya. Tapi, mau dicari bagaimanapun, Ara dan Rangga tak sedikitpun melihat keberadaan obat ataupun air minum di ruangan tersebut.


Ya, di ruangan tersebut hanya ada alat-alat band milik Angga, lemari, meja, kursi, dan poster-poster Band terkenal yang dikagumi oleh Angga.


"Apa kau berhasil menemukan obat atau air minum, Rangga?" tanya Ara memecah keheningan antara mereka berdua.


Rangga menggeleng sambil menyentuh leher belakangnya.


"Tidak, aku tidak menemukannya."


"Hmm, apa jangan-jangan Kak Angga menyimpan obat dan air minumnya di lemari itu ya?" Telunjuk Ara mengarah pada lemari coklat berukuran 1 meter di dekat poster.


Rangga menatap lemari itu sekilas, lalu kembali menatap Ara.


"Setahuku, itu adalah lemari dokumen milik Kak Angga. Aku tak berani membukanya, Ra," ujar Rangga terlihat ragu.


"Tapi, mungkin saja 'kan Kak Angga menyimpan一"


"Tidak masuk akal, Ra. Kak Angga tidak akan menyimpan obat atau apapun itu di dalam lemari dokumen. Lagipula, lemari itu pakai kata sandi juga. Sama halnya seperti pintu ruangan ini," jelas Rangga yang membuat Ara cukup tersentak kaget.


"Ternyata Kak Angga memang hobi pakai kata sandi ya," batin Ara sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh iya, satu hal lagi. Aku tak tahu kata sandi lemari itu. Yang ku tahu hanyalah kata sandi pintu ruangan ini saja, Ra."


Ara tersenyum tanda mengerti, "Iya, tak apa kok, Rangga. Daripada buang-buang waktu, lebih baik aku ke Apotek saja. Kasian Kakakmu daritadi menunggu, aku takut sakitnya bertambah parah," jelas Ara seraya berjalan menuju pintu. Berniat keluar dari ruangan tersebut.


BRUK!


DEG!!!


Mata Ara terbelalak sempurna tatkala tubuh kecilnya tiba-tiba di balik lalu di dorong ke dinding disamping pintu. Tak ketinggalan, kedua tangan Ara dikunci di atas kepalanya oleh sebelah tangan besar milik Rangga. Tentu saja, hal itu membuat Ara tak bisa bergerak kemana-mana karena Rangga benar-benar menahan genggaman一lebih tepatnya kuncian tangannya dengan kuat pada Ara.


"R-rangga? Kau kenapa?" tanya Ara takut-takut. Ia tak sedikitpun berani menatap mata Rangga.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kau kenapa? Kenapa kau terlihat sangat mengkhawatirkan kakakku?" Rangga balik bertanya dengan nada rendah namun sarat akan emosi.


"I.. Itu karena..."


"Kenapa? Kau menyukai Kak Angga, Hah? Oh iya, setelah cintamu ditolak berkali-kali oleh Ryuu, kau memutuskan untuk menyukai Kakakku?!"


Nada bicara Rangga meninggi. Membuat jantung Ara berdetak kencang karena terlalu takut pada Rangga.


"Kau tahu, kan? Aku ini menyukaimu! Aku mencintaimu! Aku tak perduli jika kau masih mencintai Ryuu. Tapi tolong, jangan jatuh cinta pada Kakakku. Aku tak bisa menerima hal itu!"


"Memangnya siapa yang jatuh cinta pada Kakakmu, Rangga?" Kali ini Ara berusaha membela dirinya sendiri seraya menatap Rangga serius.


Rangga tertawa, terdengar begitu meledek Ara.


"Ini baru hari pertama kau kenal dan bertemu Kak Angga. Tapi, kau sudah terlihat sangat mengkhawatirkannya. Kau sebegitu inginnya mendapatkan hati Kak Angga, ya?"


Ara memicingkan matanya kesal sambil berdecak.


"Rangga. Aku tak ada waktu untuk bertengkar denganmu. Aku harus segera membelikan obat untuk Kakakmu, Kak Angga. Lepaskan tanganku!" seru Ara berusaha memberontak. Tapi, nihil. Kuncian tangan Rangga di pergelangan tangan Ara semakin erat dan kencang.


"Lepaskan, Rangga!"


"Tidak mau. Aku tidak mau melepaskanmu jika kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau menyukai Kakakku?"


Ara berhenti memberontak. Sorot matanya benar-benar terlihat muak pada Rangga sekarang.


"Rangga. Lepaskan aku atau aku akan berteriak sekencang-kencangnya!"


"Oh? Silahkan saja! Kau lupa, Ra? Ini adalah Studio Band! Setiap ruangannya memiliki pengedap suara. Mau kau berteriak sampai lehermu putus pun, tidak akan ada yang bisa mendengar teriakanmu!" seru Rangga menantang Ara.


Ara membuang mukanya. Ia benar-benar marah juga muak pada Rangga. Selama ini, ia merasa menyesal karena menilai Rangga adalah teman lelaki baik-baik.


"Kalau kau diam, berarti kau mengiyakan bahwa kau menyukai Kakakku," ujar Rangga dengan nada rendah.


Ara kembali berdecak sambil menatap tajam Rangga, "Rangga. Kau masih mau membahas ini? Sudah kubilang, aku ini kasihan dan khawatir sakit Kak Angga bertambah parah! Memangnya salah ya jika aku menolong orang yang sedang sakit?"


"Iya, salah. Kau salah karena berani menunjukan kekhawatiranmu itu didepanku, di depan adiknya Kak Angga!"


Ara memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. Ia tak tahu harus bicara apa lagi pada Rangga yang benar-benar sangat kekanak-kanakan sekarang. Setelah itu, Ara pun kembali menatap Rangga. Kali ini tatapannya semakin tajam.


"Rangga, aku minta maaf jika aku membuatmu sakit hati. Aku benar-benar MINTA MAAF. Sekarang, intinya, kumohon lepaskan aku ya," kata Ara menekan kata 'MINTA MAAF'. Meski dalam hatinya, Ara merasa tak perlu minta maaf apapun pada Rangga. Justru Rangga-lah yang harusnya meminta maaf, bukan?


Rangga luluh mendengar perkataan maaf dari Ara. Perlahan, ia pun melonggarkan lalu melepaskan kuncian tangannya pada Ara. Setelah tangan Ara benar-benar bebas, gadis itu meringis sakit karena ternyata一pergelangan tangannya sangat merah akibat ulah Rangga.


Merasa bersalah, Rangga yang melihat itupun berniat untuk mengusap pergelangan tangan Ara. Namun, Ara dengan cepat menepis pelan tangan Rangga.


"Ayo kita keluar dari sini. Mau bagaimanapun, aku harus tetap pergi ke Apotek. Sampaikan permintaan maafku pada yang lainnya, ya. Nanti setelah semuanya selesai, aku akan menyusul kalian ke ruangan Band," jelas Ara dengan raut wajah yang masih terlihat tak nyaman dengan perlakuan Rangga tadi.


Rangga mengangguk tanpa membuka suara. Detik selanjutnya, ia pun segera menekan alat tombol digit kata sandi yang menempel di pintu ruangan tersebut agar pintu terbuka.


Tet! Tet! Tet! Tet!


Rangga mengernyitkan dahinya sebentar. Lalu kembali menekan alat tombol digit angka berisi kata sandi yang ia ketahui.


Tet! Tet! Tet! Tet!


Alat yang menempel di pintu ruangan tersebut kembali bersuara. Membuat Rangga dan Ara semakin panik.


"A... Ada apa, Rangga?"


Rangga menoleh ke arah Ara sambil menggeleng bingung.


"Aku tak tahu. Padahal kata sandi yang kumasukkan benar. Tapi kenapa alatnya berbunyi dan pintunya tak mau terbuka, ya?"


Ara menelan ludahnya kasar, "Hah? M-mungkin, kau salah memasukkan kata sandi, kali."


"Tidak, Ra. Aku benar-benar memasukkan kata sandi yang benar. Kata sandi ruangan Kak Angga ini adalah angka hari ulang tahunnya yaitu 242424," jelas Rangga meyakinkan Ara.


Ara mencoba mencari celah di raut wajah Rangga. Ia takut, Rangga sedang berbohong padanya. Namun, bisa ia lihat sendiri bahwa kini Rangga benar-benar berekspresi bingung dan panik sama sepertinya. Ini antara Rangga yang benar-benar panik atau Rangga yang sedang berakting.


Entahlah, Ara juga tak bisa menebak hal itu.


"Tolooong! Tolong kamiii!" Ara berusaha berteriak sekuat tenaga. Membuat Rangga yang berada disampingnya menutup kedua kupingnya dengan tangannya.


"Percuma, Ra. Sudah kubilang, ruangan ini memiliki pengedap suara. Suaramu tak akan terdengar mau bagaimanapun kau berteriak," jelas Rangga mengingatkan.


"Lalu, jika begini, bagaimana kita bisa keluar?" tanya Ara sangat panik.


"Setahuku, alat kata sandi yang menempel di pintu ruangan ini memang suka error. Satu-satunya cara agar bisa keluar dari sini yaitu harus ada orang yang mendobrak pintu ini dari luar," jawab Rangga yang raut wajahnya tak kalah panik dengan Ara.


"Itu artinya..."


"Ya, kita terjebak disini sampai ada orang yang mendobrak pintu dari luar," potong Rangga melanjutkan dialog yang akan Ara lontarkan.