STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 8 - Survei?



Ryuu membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Sore ini, ia baru saja pulang dari ekskul basketnya. Wajar saja, Ryuu adalah kapten dari Tim Basket tersebut. Jadi, dia benar-benar sibuk mengajari para anggota ekskul basket lainnya yang masih baru.


"Ryuu? Kau sudah pulang? Kemari sayang," panggil Yuu sang Bunda yang ada di ruang tamu.


Ryuu pun dengan cepat menghampiri Bundanya. Namun, ia begitu terkejut melihat Ara dan Mommy-nya yang duduk di sofa ruang tamu. Tapi, karna pada dasarnya Ryuu itu bukan orang yang ekspresif, jadi dia tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya itu.


"Sini, duduk," ujar Yuu sambil memberikan sedikit tempat untuk Ryuu duduk.


"Jadi begini, kau ingat tidak ucapan Ayah saat kita makan malam minggu kemarin?" tanya Yuu tanpa basa-basi.


Ryuu menggeleng sambil duduk di samping Yuu, "Tidak, Bun. Aku tak ingat."


Santia tertawa, "Itu lho, Ryuu, kita sekeluarga 'kan akan liburan. Camping atau apalah itu."


Ryuu mengangguk-angguk tanda sudah mengingat, "Oh iya. Lalu? Apa urusannya denganku, Tante?"


"Orangtua kita sudah menemukan tempat Camping yang bagus dari instagram. Tapi, kita berdua yang harus survei melihat tempat Camping itu," jelas Ara cepat. Namun ia tak berani sedikitpun menatap mata Ryuu.


"Kenapa harus kita?"


"Ehm, kau tahu 'kan Daddy-nya Ara dan Ayah sangat sibuk bekerja di kantor. Mereka tak ada waktu untuk mensurvei tempat Camping. Maka dari itu, Bunda mohon kalian saja ya yang Survei hari minggu nanti," pinta Yuu dengan tatapan memohon.


"Aku tak bisa, Bun. Maaf juga ya, Tante Santia," kata Ryuu dengan cepat menolak.


"Hah? Memang kenapa, Ryuu?" tanya Santia agak kecewa.


"Aku ada latihan Basket di Sekolah hari minggu nanti. Lagipula, Al kan sudah besar. Dia pasti bisa survei sendirian, kan?"


Ara tertegun sebentar mendengar namanya diucap. Namun, ia masih tak berani menatap Ryuu. Dari tadi ia hanya menatap Bunda Yuu saja dan Mommy-nya.


"Kau ini laki-laki atau bukan, sih?"


DEG!!!


Ryuu segera menoleh ke belakang. Ia mendapati Ayahnya yang seperti habis mandi karna wangi sabun semerbak tercium di hidungnya. Vino-sang Ayah pun menghampiri Ryuu dan segera duduk di samping anaknya itu.


"Kau akan membiarkan Ara pergi sendirian untuk survei? Kau tega?" tanya Vino sambil menepuk pundak Ryuu pelan.


Ryuu diam. Ia sungguh tak tahu harus bicara apa.


"Om, ti-tidak apa-apa kok. Benar apa kata Ryuu. Aku 'kan sudah besar, jadi aku bisa pergi sendiri untuk survei," kata Ara mencoba mencairkan suasana.


"Kau bisa pergi bersama Bundaku dan Tante Santia, 'kan?" tanya Ryuu menatap Ara dalam-dalam. Namun, yang ditatap malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tidak, Ryuu. Maaf. Kami para Ibu rumah tangga tidak bisa meninggalkan rumah. Apalagi, perjalanan untuk survei ke tempat Camping itu sangat lama dan melelahkan bukan?" kata Santia beralasan.


"Iya, apalagi kita sudah tua. Tenaga kita sudah tidak seperti anak muda lagi. Maka dari itu, Bunda mohon agar kau dan Ara saja yang survei kesana," tambah Yuu meyakinkan anaknya.


"Memangnya, tempat Campingnya dimana sih, Bun?" tanya Ara penasaran.


"Di Puncak, Bogor. Tidak terlalu jauh sih, tapi bisa sangat menguras tenaga haha," jawab Yuu sambil tertawa.


Hening. Tak ada satu pun yang berbicara. Keputusan sekarang memang ada di tangan Ryuu. Merasa dibebankan, Ryuu pun berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap semua yang ada di situ dengan tatapan datarnya.


"Maaf ya, sekali lagi. Tapi aku memang tak bisa meninggalkan latihan ekskul hanya untuk Survei tempat Camping," ujar Ryuu seraya berjalan pergi berniat menuju kamarnya. Namun, baru saja tiga langkah, ia menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah Ara.


"Al, kau ke tempat Camping-nya bersama Angel saja, sahabatmu itu," ucap Ryuu lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Duh, anak itu!" batin Yuu kesal dalam hati.


"Wah, maaf ya Ara. Padahal Om sengaja menjemput kau hari ini karna untuk membicarakan hal ini. Tapi, Ryuu ternyata tidak bisa sependapat dengan kita, ya," kata Vino sambil tersenyum canggung dan malu.


"Hehe, tidak apa-apa kok Om, Bun,"


"Eh? Kok masih memanggil saya Om, sih? Panggil Ayah saja, hehe. Lagipula kan-"


"Lagipula apa?" Ara bertanya dengan suara cukup tinggi hingga Mommy-nya mencubitnya pelan.


"Suaramu di rendahkan dong, sayang," bisik Santia pada anaknya.


"Ah, maaf Om. Eh, maksudku Ayah," ujar Ara kikuk. Yuu, Vino, dan Santia pun tertawa.


"Hmm, padahal Ayah dan Bunda kira, kalian sudah berpacaran lho. Ternyata belum ya." kata Yuu yang mengejutkan Ara dan Santia.


"Hah? Serius, Yuu? Anak kita berdua pacaran?"


Yuu tertawa sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu-Santia. Diikuti oleh tawa Vino juga.


"San, kemarin malam 'kan aku dan suamiku memergoki Ryuu dan Ara."


Ara membelalakan matanya kaget setengah mati, "Hah?! Bunda Yuu serius akan memberitahu hal itu pada Mommy?! Ahh, tidakkk! Jangan, Bun! Kumohon, jangan!" batin Ara panik sendiri.


"Memergoki? Memergoki apa?"


"Itu lho, San. Ryuu dan Ara sedang ber-"


Ara dengan cepat memotong ucapan Vino, "Mom, kita pulang yuk. Sepertinya Daddy sudah pulang, tuh."


"Eh? Iya! Kau benar! Ini sudah jam 5 sore. Mommy belum masak apa-apa untuk makan malam," ujar Santia sembari melihat jam di ponselnya.


"Iya, Mom. Pulang yuk, nanti aku bantu masak hehe. Kasian 'kan nanti Daddy pulang tapi tak ada makanan di rumah," ucap Ara yang mulai keringat dingin karna melihat tatapan Yuu dan Vino yang sadar akan tingkah anehnya.


"Ya sudah, kalau begitu, kami berdua pulang dulu ya, Yuu, Vin."


Vino tersenyum lebar, "Hati-hati di jalan, ya!"


"Hei, rumah kita sebelahan apanya yang hati-hati? Hahaha..."


"Hahaha.." semua yang ada disitu pun tertawa karna ucapan Santia.


🐻🐻🐻


Hari Minggu, pukul 07:15


Ara membuka pagar rumahnya. Dia cukup terkejut melihat Ryuu yang juga sedang membuka pagar rumah sepertinya. Mereka berdua pun tak sengaja bertatapan, namun kemudian saling membuang muka.


Hening. Tak ada satu pun yang membuka pembicaraan. Mereka berdua hanya berhadapan, berdiam diri layaknya patung.


Ryuu melirik Ara sekilas, "Ayo, kita berangkat."


"E-eh? Mau kemana?"


"Bukankah kita akan survei ke Puncak Bogor?"


"Ka-kau bilang, kau tidak bisa karna ekskul basketmu latihan hari ini!"


"Oh? Jadi kau ingin berangkat sendiri saja? Baiklah," ujar Ryuu seraya berbalik badan, berniat masuk kembali ke dalam rumahnya. Namun, dengan cepat Ara menarik lengan Ryuu.


"Aku tak bisa sendiri kesana."


Ryuu menoleh, "Tak bisa? Kau tak meminta Angel sahabat terbaikmu itu untuk menemanimu kesana?"


"Dia sibuk. Jadi tak bisa-"


"Sibuk? Orang seperti dia bisa sibuk?"


"Hei! Semua orang itu punya kesibukan masing-masing, tahu!"


Ryuu berdecak kesal, "Dan aku juga sebenarnya punya kesibukan hari ini."


"Lalu? Kenapa kau berubah pikiran?"


"Aku..."


Ara menaikkan alisnya bingung, "Aku?"


"...di desak oleh Ayahku. Karna tak ada pilihan lain, aku menuruti ucapannya saja," jawab Ryuu seraya melihat ke sembarang arah.


"Oke, kalau begitu, kita harus pergi ke halte bus sekarang!" seru Ara seraya menggenggam tangan Ryuu dan berjalan memimpin di depan.


Ryuu memutar bola matanya seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Ara. Namun, sahabatnya itu bersikeras untuk tak melepaskan genggamannya. Karna Ryuu tak mau banyak bicara, ia pun membiarkan Ara tetap menggenggam tangannya sambil terus berjalan.


"Duh, aku senang sekali! Ku kira aku akan benar-benar pergi sendiri survei ke puncak, ternyata Ryuu ikut juga hari ini! Terimakasih, Ya tuhan! Do'aku agar Ryuu ikut survei tak sia-sia ternyata!" batin Ara sambil tersenyum-senyum sendiri.


🐱🐱🐱


Ara dan Ryuu sudah berada di Bus. Mereka berdua duduk di bangku Bus paling belakang. Entahlah, Ryuu yang memilih dimana mereka akan duduk. Jadi, Ara menurut saja.


Bus melaju dengan kecepatan sedang. Ara yang duduk di dekat jendela Bus benar-benar senang karna bisa melihat ke arah luar lewat jendela Bus. Buktinya, dari awal mereka duduk, senyuman Ara tak bisa berhenti merekah.


"Sesenang itu kau naik Bus?" tanya Ryuu yang tak mengerti jalan pikiran Ara.


Ara menoleh ke arah Ryuu masih dengan senyuman merekahnya, "Seingatku, aku pertama kali naik Bus saat aku umur 5 tahun."


"Oh," ucap Ryuu datar sambil memainkan ponselnya.


Tiba-tiba, Ara ingat akan sesuatu. Ia dengan segera membuka tas nya dan mengambil ponselnya.


"Ryuu, lihat. Ini tempat Camping yang akan kita survei," kata Ara seraya memperlihatkan foto di ponselnya.


Ryuu melirik foto di ponsel Ara sebentar. Lalu kembali fokus pada ponselnya. Ya, ia terlihat tidak begitu peduli dengan foto yang ditunjukkan Ara.


"Orangtua kita tahu tempat Camping ini dari instagram. Tapi, karna tempat Campingnya terlalu bagus, orangtua kita jadi agak curiga juga," terang Ara yang berhasil membuat Ryuu penasaran.


"Curiga? Curiga kenapa?"


"Memangnya kau tidak merasa aneh? Foto dari tempat Camping yang akan kita tuju bagus sekali. Jadi, orangtua kita curiga bahwa mungkin saja tempatnya tak sebagus di foto. Apalagi biaya sewanya sangat murah. Semakin mencurigakan, bukan?"


"Ah, jadi orangtua kita tak mau tertipu, begitu?"


"Iya, makanya mereka menyuruh kita mensurvei tempat camping itu apakah sama seperti di foto atau tidak."


Ryuu mendengus kesal, "Dan kini mereka merepotkan anak-anaknya hanya untuk hal seperti ini."


"Hei, kalau bukan kita, siapa lagi?" tanya Ara mulai ikut kesal.


"Mereka bisa menyewa tempat yang lebih dekat dan lebih terpercaya. Bukan hanya lihat di instagram saja."


"Ah, kau ini ya. Kau memang tak pernah bisa mengerti orang lain, kau masih belum berubah dari dulu," keluh Ara seraya menengok keluar jendela.


"Aku bukannya tak pernah bisa mengerti, aku hanya bingung dengan pikiran orang yang pikirannya tak sama denganku. Aku tidak nyaman dengan orang seperti itu," elak Ryuu dingin. Ara pun mengangguk-angguk saja.


"Padahal, aku juga sering membingungkanmu, bukan? Aku sering tak sependapat denganmu, kan?" tanya Ara yang membuat Ryuu berhenti memainkan ponselnya.


Ryuu melirik sebentar ke arah Ara, lalu kembali memainkan ponselnya, "Ya, benar. Kau baru sadar akan hal itu?"


Ara diam. Tak ada jawaban apapun dari gadis itu. Ryuu merasa jawabannya itu membuat Ara sakit hati. Sambil memakai earphonenya, Ryuu melirik sekilas ke arah sahabatnya itu.



"Eh? Tidur?"


Ryuu sungguh terkejut sekaligus aneh melihat Ara yang kini sudah tertidur. Padahal, baru beberapa detik tadi Ara masih berbicara dengannya. Tapi, gadis itu kini sudah tertidur dengan pulasnya. Secepat itu Ara tidur? Entahlah, Ryuu sebagai sahabatnya selama 10 tahun saja baru tahu bahwa Ara orang yang cepat tidur.


Ryuu berusaha fokus mendengar lagu dari earphonenya. Ia terus-menerus mengganti lagu di ponselnya, karna merasa tak ada lagu yang cocok di telinganya saat ini. Pasalnya, Ryuu itu orang yang suka dengan lagu yang membuatnya tenang dan tentram.


Tak lama, Ryuu berhenti mengganti lagu karna sudah merasa menemukan lagu yang cocok di telinganya. Lagu berbahasa Jepang, tentunya. Karna Ryuu sendiri merasa lebih familiar mendengar lagu Jepang, negara kelahirannya ketimbang lagu Indonesia.



Judul lagunya Best Friend, dari Kana Nishino. Perlahan tapi pasti, Ryuu melirik Ara sekilas. Tadinya, Ryuu berniat untuk mengajak Ara mendengarkan lagu ini bersamanya. Tapi, Ryuu mengurungkan niatnya itu karna melihat Ara yang tertidur sangat pulas. Ada rasa tak tega untuk membangunkannya.


Karna bagaimanapun, dia adalah sahabat Ryuu. Sahabat dari kecil yang sangat berharga baginya. Ya, Ara hanya sekedar sahabat. Tak lebih. Lagipula, Ryuu tak berniat menempatkan Ara 'lebih' dari sahabat di hatinya. Berbeda dengan Ara yang sangat menginginkan lepas dari zona sahabat masa kecil atau zona pertemanan.


Meski begitu, Ryuu sebenarnya masih tak tahu perasaan Ara padanya. Dia bukan orang yang peka terhadap perasaan, apalagi perasaan seorang gadis seperti Ara.


"Bodoh. Jika aku membiarkanmu ke puncak sendirian, kau mungkin tak akan sampai sana. Tidurmu begitu pulas, bagaimana kau bisa sampai tujuan?" tanya Ryuu dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.