
...🖤🖤🖤...
...Kau terlalu baik pada semua orang. Hingga kau melupakan kepentinganmu sendiri. ...
...🖤🖤🖤...
"Ryuu, kau marah padaku?"
Sudah hampir ratusan kali Ara bertanya seperti itu pada Ryuu. Dan sudah hampir ratusan kali juga, Ryuu menjawab 'tidak' pada Ara. Untuk pertanyaan Ara yang ke sekian tadi, Ryuu sudah mencapai batas kekesalannya.
Tanpa bicara apapun, Ryuu pindah ke bangku Bus yang ada di belakang Ara. Ya, tadinya mereka duduk berdua di bangku yang bersampingan. Namun karena mulut Ara tak bisa diam, Ryuu memutuskan untuk pindah saja.
"Tuh, kan! Kau marah padaku!" seru Ara seraya memutar tubuhnya. Menghadap ke belakang一tepatnya ke arah Ryuu yang duduk di belakangnya.
"Aku tak marah padamu, Al," jawab Ryuu dingin sambil memasang earphone di telinganya. Bersiap untuk mendengarkan lagu kesukaannya.
"Kan sudah kujelaskan berkali-kali, aku terjebak di ruangan Kak Angga bersama Rangga itu tak sengaja. Dan pelukan yang kau lihat, itu tak lain hanya untuk membantu Rangga yang alergi dingin. Hidungnya mimisan begitu parah soalnya," jelas Ara dengan ekspresi yang begitu menggemaskan di mata Ryuu.
"Iya, iya. Aku paham. Dari awal kau jelaskan pun, aku sudah paham, tahu," balas Ryuu dingin.
"Huh! Kalau kau paham dan tak marah padaku, kenapa kau masih pindah duduknya? Kenapa tak kembali duduk disampingku?" cibir Ara sambil memutar kembali tubuhnya menghadap ke depan. Ke posisi yang benar.
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memainkan ponselnya, mencari lagu yang akan ia dengar. Ia mencoba tak peduli dengan cibiran Ara tadi.
"Permisi, boleh aku duduk disini?" tanya seorang lelaki asing berkaos hitam, terlihat berumur kisaran 30 tahun. Lelaki tersebut bertanya pada Ara yang sedang melamun.
"Eh? Duduk disini? Tapi 'kan masih banyak tempat duduk yang kosong, Pak," jawab Ara sambil menoleh ke arah tempat duduk kosong yang ada di sebelah kanannya.
Lelaki itu tersenyum, cengengesan karena menyadari penolakan halus dari Ara.
"Anu, begini. Aku itu masih muda, lho. Jadi jangan panggil aku Bapak, ya? Panggil Kakak saja, oke?"
Ara menelan ludahnya. Ia merasa tak nyaman karena lelaki itu kini menyentuh pundaknya tanpa seizinnya.
PLAK!!!
Sebuah tangan berkulit putih menepis kencang tangan lelaki itu yang masih bertengger di pundak Ara. Tentu saja, Ara yang melihat itu terkejut setengah mati seraya menoleh ke arah sampingnya.
Ternyata, di sampingnya sudah berdiri seorang Ryuu dengan wajah super dinginnya. Menatap tajam lelaki itu tanda tak suka.
"Bapak ada urusan apa ya dengan pacarku?" tanya Ryuu yang ekspresinya tiba-tiba saja berubah. Ryuu tersenyum sangat manis pada lelaki itu, hingga membuat lelaki itu jadi kikuk sendiri.
"P-pacar?" Ara dan lelaki itu bertanya bersamaan.
Ryuu pun dengan cepat duduk di samping Ara. Ia menatap Ara beberapa saat dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu setelah itu, ia kembali menatap lelaki itu dengan tatapan sangat ramah dan murah senyum.
"Apa pacarku berbuat suatu yang tidak mengenakkan Bapak? Apa dia berbuat salah?" Ryuu bertanya tanpa menghiraukan Ara yang kini sedang jantungan karena dipanggil 'pacar' oleh Ryuu.
"Ehm, tidak. Tidak kok, pacarmu tak berbuat salah padaku. K-kalau begitu, aku pergi dulu," ujar lelaki itu gelagapan sendiri seraya berjalan ke tempat duduk kosong yang terletak di paling belakang Bus.
"Ryuu, kenapa kau memanggilku pacar? Memangnya kau一"
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau nanti kau menangis hanya karena digoda oleh lelaki aneh seperti dia. Suara tangisanmu itu bisa membuat gendang telingaku pecah, tahu," potong Ryuu sembari memainkan ponselnya, melanjutkan mendengarkan musik yang tadi sempat ia pause.
"Hmm, iya deh. Terimakasih ya sudah membantuku," kata Ara sambil tersenyum manis. Namun, perkataannya itu tak digubris oleh Ryuu.
"Boleh aku ikut mendengarkan lagu di earphone-mu?" tambah Ara seraya mengambil salah satu earphone yang terpaut di telinga Ryuu. Ia sengaja tak menunggu jawaban dari Ryuu terlebih dahulu. Karena ia tahu, Ryuu pasti tak akan memperbolehkan ia ikut mendengarkan musik melalui earphone.
"Ck, dasar kau ini," gerutu Ryuu sambil berdecak. Namun, ia tetap membiarkan salah satu earphone yang direbut Ara tetap terpasang di telinga sahabatnya itu.
"Wah! Ini 'kan lagu Doraemon! Judulnya Himawari No Yakusoku, kan? Ternyata kau punya lagu ini, toh. Hahaha," ledek Ara sambil tertawa terbahak-bahak. Ia tak percaya ternyata Ryuu punya lagu yang ia sukai.
Ryuu diam saja sambil menatap Ara yang masih menertawakannya.
"Jangan-jangan, kau punya lagu Baling-baling bambu versi jepangnya ya? Atau versi indonesianya? Hahaha," lagi-lagi Ara meledek. Namun kali ini, Ryuu ikut tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Al," panggil Ryuu pada Ara yang sedang menatap keluar jendela Bus.
Ara menoleh pada Ryuu, "Hm? Ada apa, Ryuu?"
"Sebelum kita berdua sibuk belajar untuk masuk ke Universitas. Ehm, begini. Aku rasa, aku butuh refreshing dan... Ehm, dan kupikir kau juga pasti butuh refreshing."
"Jadi?" Ara mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Jadi, ehm. Kita berdua sepertinya memang harus pergi untuk refreshing," jawab Ryuu terbata-bata. Baru kali ini Ara melihat Ryuu begitu canggung padanya.
10 detik...
30 detik...
Ara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Rupanya, setelah berpikir lama sambil menatap ekspresi Ryuu yang canggung, ia jadi sadar. Bahwa kini, Ryuu sedang mengajaknya 'berkencan'. Dengan alasan refreshing.
"Hahaha, kau mengajakku berkencan, Ryuu? Kenapa harus segugup dan secanggung itu?" Ara tertawa sambil mencubit pipi putih Ryuu.
Ryuu pun menepis pelan tangan Ara agar berhenti mencubiti pipinya. Ia kembali memasang tampang dingin lalu membuang muka ke sembarang arah.
"Kenapa kau percaya diri sekali? Siapa juga yang mengajakmu berkencan? *Baka," ujar Ryuu ketus. Namun rupanya itu tak membuat tawa Ara terhenti.
^^^*Baka : Bodoh (Bhs Jepang) ^^^
"Tadinya, aku berpikiran untuk refreshing sendiri. Tapi sepertinya tak akan seru jika pergi sendirian. Jadi aku mengajakmu."
"Tapi, kalau kau tak mau, ya sudah. Aku akan ajak Revina saja. Dia pasti mau, sih," sambung Ryuu melirik sekilas Ara. Lalu kembali membuang muka.
Mendengar itu, tawa Ara seketika terhenti. Ia merasa terlalu berlebihan menertawakan Ryuu tadi.
"Ya ampun, Ryuu. Aku ini tertawa bukannya tak mau. Hanya saja一"
"Besok aku tunggu di Halte Bus ya. Jangan telat, ku tunggu jam 9 pagi. Jika kau belum datang , aku akan meninggalkanmu," potong Ryuu tak mau mendengarkan ocehan Ara lagi.
Ara pun mengangguk mengerti. Ia menatap Ryuu sungguh-sungguh, berusaha meyakinkan Ryuu bahwa ia tak akan telat besok.
"Memangnya, kita mau kemana sih, Ryuu?"
"Ke tempat yang belum pernah kita berdua kunjungi," jawab Ryuu dengan cepat. Sedangkan Ara hanya mengedip-ngedipkan matanya, bingung dengan jawaban yang diberikan Ryuu.
***
Esoknya, pukul 8 pagi...
Ara menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. Ia mengenakan hoodie pink, jeans pendek berwarna putih, dan rambut yang diikat biasa. Ia menimbang-nimbang penampilannya sendiri di cermin. Dan ia rasa, penampilannya itu terlihat sangat casual.
"Duh, aku bingung mau pakai baju apa! Kenapa daritadi tak ada baju yang menurutku cocok, sih?" gerutu Ara sambil bersiap membuka hoodie-nya, berniat mengganti hoodie-nya itu.
Drrrttt... Drrrttt.. Drrrttt...
Ponsel Ara yang tersimpan di atas meja belajar tiba-tiba bergetar. Menandakan ada pesan masuk pada ponselnya tersebut. Tanpa pikir panjang, Ara pun segera mengurungkan niat untuk mengganti hoodie kemudian berlari kecil meraih ponselnya di atas meja.
"Ara? Apa kau hari ini ada waktu?"
Ara mengernyitkan dahi sebelum akhirnya sebuah telfon berdering di ponsel yang berada di tangannya. Dengan secepat kilat, ia pun segera mengangkat telfon tersebut.
"H-halo? Ada apa, Rangga?"
"Ra! Kak Angga, hiks. Kak Angga..."
"Ada apa dengan Kak Angga?"
"Kak Angga, dia..."
Hati Ara mulai tak enak mendengar suara Rangga yang sedang terisak sambil terus menyebutkan nama Angga. Tentu saja, Ara jadi panik sendiri karena Rangga malah mematikan ponsel sebelah pihak.
"Lho? Kenapa telfonnya dimatikan?" batin Ara tak mengerti.
Gadis itu terdiam sejenak. Entah kenapa ia jadi kepikiran soal Angga. Hatinya sungguh tak tenang mendengar tangisan Rangga yang sepertinya sedang menangisi Kakaknya, Angga.
"A-apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Kak Angga di Rumah Sakit?" Ara lagi-lagi membatin.
Tanpa pikir panjang, Ara pun segera mengambil tas selempangnya. Ia berlari keluar kamar, menuruni tangga, lalu keluar dari rumah. Sesampainya diluar rumah, dengan cepat ia menelfon taksi online. Ya, ia tahu. Jika ia naik Bus untuk ke Rumah Sakit, pasti memakan waktu banyak. Maka dari itu ia lebih memilih Taksi online ketimbang Bus.
Taksi Online yang Ara pesan pun tak lama datang. Secepat kilat ia masuk ke dalam taksi lalu duduk di kursi belakang.
"Ke Rumah Sakit Melati ya Pak. Kalau bisa agak cepat ya bawa taksinya, karena saya buru-buru," Kata Ara pada Supir taksi di depannya.
Supir tersebut mengangguk, "Baik, Nona."
Taksi itu pun kini melaju dengan kecepatan lumayan kencang. Ya, sesuai permintaan Ara. Sepanjang perjalanan, gadis itu berdoa. Ia berdoa semoga tak terjadi apa-apa pada Angga di Rumah Sakit. Saking paniknya, ia sampai lupa bahwa hari ini adalah hari 'kencan'-nya bersama Ryuu.
Ia lupa, bahwa tepat di halte Bus, seorang laki-laki dingin, jenius, dan tampan一yaitu Ryuu sedang menunggu kedatangannya.