
🖤🖤🖤
Lelaki dan perempuan bisa menjadi sahabat. Tapi pada satu titik, mereka akan jatuh cinta satu sama lain. Mungkin untuk sementara, mungkin di waktu yang tidak tepat, mungkin terlambat. Atau mungkin selamanya...
~Dave Matthes Band~
🖤🖤🖤
"Ryuu? Kau kenapa melamun saja daritadi? Kau masih lapar?"
Pertanyaan Ara sontak membuat lamunan Ryuu terbuyarkan. Kini, mereka berdua sedang makan di Restoran Jepang. Ara sendiri yang memilih Restoran tersebut. Ya, sepertinya gadis itu ingin merasakan sensasi makan di Restoran Jepang bersama orang Jepang asli, siapa lagi kalau bukan Ryuu?
Ara masih menatap Ryuu heran. Sedangkan Ryuu terlihat buru-buru menghabiskan Onigiri miliknya.
"Kau yakin hanya memesan Onigiri saja, Ryuu? Tidakkah makananmu terlalu sederhana?" tanya Ara sambil memasukkan sendok berisi Omelette Rice ke dalam mulutnya.
Note : Di Jepang sana, Omelette Rice di sebut Omurice. Begitu pula di Restoran bergaya jepang
"Onigiri adalah Makanan favoritku sedari kecil, saat aku masih tinggal di Jepang," jawab Ryuu sekenanya.
Ara mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Namun, detik selanjutnya gadis itu mengkerutkan dahinya bingung karena lagi-lagi Ryuu terlihat melamun.
"Ryuu? Hei? Kau kenapa, sih?"
Ryuu tertegun karena Ara melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Ryuu.
"Eh?"
"Kau kenapa, Ryuu? Apa kau marah padaku karena aku ingin makan di Restoran Jepang ini?"
"T-tidak kok," kata Ryuu lalu kembali memakan Onigiri-nya.
Ara menghela napas panjang sambil menatap Ryuu dalam-dalam. Sedangkan Ryuu menatap objek lain, tak sedikitpun menatap Ara. Bukankah gerak-gerik Ryuu terlihat mencurigakan? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya?
Jika iya, hal apakah yang dipikirkan Ryuu sedari tadi?
"Kau sudah selesai kan makannya? Setelah ini, bisakah antar aku ke一"
"Ah, kebetulan aku juga ingin ke Toko Aksesoris," ucap Ryuu dengan cepat memotong ucapan Ara.
Ara membulatkan matanya kaget, "Eh?"
"Bukankah kau ingin ke Toko Aksesoris?" tanya Ryuu memastikan.
"I.. Iya sih, tapi kenapa kau bisa tahu?"
Ryuu mengangkat kedua bahunya sambil melirik sinis Ara, "Entahlah, aku hanya menebak saja."
Ara terdiam. Ia menelan ludahnya kasar. Dalam hati, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tidak, tidak mungkin. Ya! Ara yakin itu pasti tak mungkin!
"Ryuu tak akan mungkin tahu isi catatanku! Lagipula, aku kan sudah menyimpan catatan itu di dalam tasku, hehehe," batin Ara berusaha tenang.
***
"Ryuu? Kau kenapa? Ayo kita masuk ke dalam," ajak Ara membuyarkan lamunan Ryuu seketika.
Ryuu tertegun. Matanya menatap ke arah kanan dan kirinya. Oh, iya. Ia baru sadar bahwa kini ia dengan Ara sudah berada di Rumah Sakit一tempat Sam, Angel, dan Revina di rawat. Tanpa menunggu lama, Ara pun masuk ke kamar rawat Angel lalu diikuti Ryuu di belakangnya.
"Angel! Aku merindukanmuuu!!!"
DEG!!!
"Eh?"
Ara membulatkan matanya terkejut setengah mati. Mulutnya itu menganga lebar tatkala melihat di hadapannya tak ada Angel, melainkan 2 orangtua lelaki dan perempuan paruh baya yang berumur kisaran 35 tahunan一seperti sedang membereskan sesuatu di ranjang rumah sakit.
"Maaf, kalian siapa ya?" tanya si Perempuan paruh baya itu.
"Iya, kenapa ada dua anak muda yang menjenguk kita?" tambah si Lelaki paruh baya dengan wajah bingung.
Ara dan Ryuu saling berpandangan untuk beberapa saat. Detik selanjutnya, dua insan itu menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjal di kamar ini. Ya, ini semua salah Ara.
Ara..
.. menuntun Ryuu ke kamar yang salah! Kamar Angel bukanlah disini!
Ryuu tersenyum sangat manis pada Ara. Membuat Ara yang ada di sampingnya diam sambil menelan ludahnya kasar. Ya, Ara tahu. Dia sangat paham situasi ini.
"Maaf ya Pak, Bu. Kami salah kamar," kata Ara cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ryuu mengangguk, "Kalau begitu, kami permisi dulu ya Pak, Bu," tambah Ryuu seraya pergi duluan meninggalkan Ara.
Tak ingin ditinggalkan begitu saja, Ara pun berlari mengikuti Ryuu lalu menutup pintu kamar rumah sakit itu.
"Kenapa kita bisa salah kamar? Kau memangnya tak tahu kamar Angel dimana?" tanya Ryuu heran pada Ara.
"Kemarin, Angel memberitahukan nama kamarnya di rumah sakit. Dan ini kan kamar Camelia no. 1661! Tapi, kenapa Angel tak ada disini ya?"
Ryuu berdecak sambil mengacak-acak poni Ara yang rapi.
"Hei, kau tak lihat? Kita berada di depan kamar Camelia no.1616, Al," ujar Ryuu sambil tersenyum manis.
Ara sempat terpana melihat senyuman Ryuu. Namun, buru-buru ia tersadar. Detik setelahnya, ia pun melihat papan nama kamar rumah sakit yang ada di hadapannya dengan Ryuu. Benar saja, ia salah baca papan nama kamar dan membawa Ryuu ke kamar yang salah!
"Hehehe, maafkan aku, aku tak sadar ternyata aku salah baca papan nama kamar," ucap Ara beralasan.
Ryuu tersenyum miring, "Dasar bodoh," katanya diikuti senyuman canggung dari Ara.
***
Ara tak sengaja menggebrak meja resepsionis Rumah Sakit kala ia mendengar sahabatnya一Angel dan Revina sudah tak ada di Rumah Sakit. Hanya tersisa Sam saja yang masih di rawat. Itu pun, Sam tak boleh dijenguk terlebih dahulu karena kondisinya masih belum memungkinkan dijenguk oleh orang selain keluarga.
"Saudari Angelica Nasution dan Saudari Revina Kyle pulang tadi pagi karena kondisi mereka sudah sangat baik, Nona," jelas Resepsionis tersebut sambil tersenyum ramah.
Ara terdiam. Ia heran kenapa Angel tak memberitahukan hal tersebut padanya.
"Ya sudah, kalau begitu terimakasih atas infonya ya, Bu," ujar Ryuu yang ada di samping Ara.
Ryuu pun pergi dari situ lalu diikuti Ara di sampingnya. Mereka kini berjalan keluar menuju pintu utama Rumah Sakit. Selagi berjalan bersamaan, Ryuu tak bicara apa-apa pada sahabatnya itu.
Namun, tiba-tiba saja Ryuu menghentikan langkahnya. Membuat Ara mau tak mau harus ikut berhenti berjalan juga.
"Kenapa, Ryuu?" tanya Ara mengerutkan dahinya.
"Bagaimana kalau kita ke Taman Balai Kota saja sekarang?"
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget, "Eh?"
"Lagipula, masih jam 15:15, kok. Terlalu cepat rasanya kalau kita pulang ke Rumah begitu saja," jelas Ryuu. Diikuti anggukan serta ekspresi sumringah dari Ara.
***
Ara dan Ryuu sudah berada di Taman yang ada di Balai Kota. Dua sejoli itu kini duduk di Bangku panjang Taman yang sudah disediakan disitu. Tapi, entah kenapa. Tak ada yang memulai pembicaraan satupun. Mereka berdua malah saling diam tanpa suara.
Ara melirik Ryuu sekilas. Betapa kagetnya ia saat mengetahui ternyata Ryuu juga ikut meliriknya. Buru-buru Ara menatap objek lain. Ia tak sanggup jika harus bertatapan dengan Ryuu.
"Kau kenapa, sih? Kelihatannya gugup sekali, hahaha," ledek Ryuu tertawa kecjl.
Ara terdiam, matanya berbinar melihat tawa Ryuu yang begitu indah di matanya.
"Ah, kau tertawa..." gumam Ara pelan.
Ryuu menghentikan tawanya lalu kembali memasang ekspresi dinginnya, "Aku tidak tertawa, tuh."
"Hmm, jelas-jelas tadi kau tertawa, tahu!"
"Tidak. Aku tidak tertawa."
"Kau tertawa, Ryuu!"
Ryuu menganggukan kepalanya, "Baiklah, baiklah. Aku memang tertawa tadi," ujarnya mengalah pada akhirnya.
Entah kenapa, suasana kembali hening. Ara dan Ryuu sama-sama diam tanpa suara lagi. Hei, memangnya ada apa, sih? Kenapa suasana dua sejoli itu bisa secanggung ini?
Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja pandangan Ryuu dan Ara kini sama-sama menatap objek yang sama. Dimana di sebrang bangku taman yang mereka duduki, terdapat dua sepasang kekasih yang duduk juga seperti mereka. Si perempuan sedang bersandar di bahu si lelaki. Sedangkan si lelaki tersenyum-senyum sambil berbicara santai.
Oh, pemandangan yang sangat manis bagi Ara. Tapi mungkin tidak bagi Ryuu.
Ryuu tiba-tiba menepuk pundaknya. Refleks, Ara pun menoleh ke arah Ryuu dengan tatapan bingung.
"Eh? Kenapa, Ryuu?"
Ryuu tak menjawab. Dia mencoba menatap objek lain di depannya.
"Pundakmu sakit, bukan? Apa perlu kupijit?" tanya Ara sambil menyentuh pundak Ryuu.
Ryuu menepis tangan Ara dengan cepat, "Bukan, bodoh," katanya sinis.
"Apa kau mau mencobanya? Seperti sepasang kekasih di depan kita," sambung Ryuu. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.
DEG!!!
"EHHH?!" Ara membelalakkan matanya tak percaya.
"Tidak mau? Ya sudah."
"T.. Tidak, kok! Aku mau! Aku mau!" seru Ara seraya menempelkan kepalanya di pundak Ryuu.
Ara pun tersenyum-senyum. Tentu saja ia tak akan melewatkan kesempatan tersebut bukan? Dalam hati, ia sangat senang hingga membuatnya ingin sekali berteriak pada dunia bahwa ia sangat menyukai dan mencintai Ryuu. Meskipun gadis itu agak kerepotan juga sih, mengatur detak jantungnya yang tak karuan.
Tanpa Ara tahu, Ryuu ikut tersenyum simpul. Namun, buru-buru ia memasang kembali ekspresi dingin. Ia tak mau Ara melihat bahwa ia juga ikut tersenyum.
"Al, boleh ku tanya sesuatu?" tanya Ryuu membuka suaranya.
"Ada apa, Ryuu?"
"Apa kau tak merasa kehilangan sesuatu?"
"Eh? Maksudmu?"
"Yah, kehilangan kertas catatan misalnya."
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget. Ia dengan cepat menjauhkan kepalanya dari pundak Ryuu. Debaran jantungnya kian cepat kala melihat tatapan Ryuu yang begitu tajam padanya.
"Ryuu.. Kau membacanya?!"
"Iya, aku membacanya," potong Ryuu dengan cepat. Ekspresinya sangat tak bisa dimengerti oleh Ara sekarang.
"Ehhh?!" teriak Ara tak percaya. Detik selanjutnya ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena orang-orang di sekitarnya menatapnya aneh.