
Sepulang sekolah, di ruang Band..
"Oke, mulai hari ini dan seterusnya, kita akan berlatih satu sampai tiga lagu untuk pertunjukkan festival musik nanti. Apa kalian siap?"
Ara, Sam, Angel dan Revina saling berpandangan. Tak ada satu pun diantara mereka yang menjawab pertanyaan Coach Jeremy. Termasuk Ryuu yang hanya diam tak berkutik.
"Ayolah! Kunci dari suksesnya suatu Band itu adalah semangat dan tekad! Kenapa kalian terlihat lesu seperti ini?"
Mereka semua masih diam tak menjawab. Merasa tak didengarkan, Coach Jeremy pun menunjuk Ara yang tentunya membuat kaget semua yang ada disitu. Apa maksud dari Coach Jeremy menunjuk Ara? Apa Ara melakukan kesalahan?
"Suatu Band itu harus ada yang membuat percikan api semangat. Karna kau terlihat selalu ceria, kau harus jadi leader dari Band ini, Altheara!" seru Coach Jeremy tegas.
"E-eh? Kenapa harus aku? Yang lain juga selalu terlihat ceria kok!" elak Ara tak terima.
"B-bagaimana kalau leadernya Ryuu saja?" sambung Ara menunjuk Ryuu takut-takut.
Ryuu berdecak kesal, "Jangan menimpakan hal yang tak kau kuasai pada orang lain."
"Ara, aku tak yakin kalau leadernya Ryuu, ia bisa membuat semua anggota Band semangat. Wajahnya saja, suram begitu. Pendiam dan dingin pula," kritik Coach Jeremy blak-blakan. Sedangkan Ryuu yang mendengar itu hanya diam tanpa suara.
"Oh, tidak. Ryuu pasti sangat tersinggung mendengar kritikan Coach Jeremy," batin Ara khawatir pada Ryuu.
"Oke! Sudah diputuskan ya, leader dari Band ini adalah Ara! Semuanya setuju, kan?"
"Setuju, Coach!" jawab semua yang ada disitu termasuk Ryuu.
"Berarti kalian tinggal membuat nama Band dan menentukan lagu apa yang akan kalian bawa di festival musik nanti," ujar Coach Jeremy.
"Coach, kebetulan aku sudah membuat list lagu yang biasa dibawakan di acara festival musik. Ini, Coach!" seru Sam seraya menyodorkan sebuah kertas pada Coach Jeremy.
Lama Coach Jeremy terdiam membaca list yang sudah Sam buat. Sambil memanggut-manggutkan kepala, Coach Jeremy pun mengambil pulpen di saku kemejanya dan mencoret semua list lagu di kertas tersebut.
Melihat hal itu, tentu saja sukses membuat semua yang ada disitu terkejut. Termasuk Sam yang tidak terima tulisan list lagu buatannya dicoret begitu saja oleh Coach Jeremy.
"Untuk lagu, biarkan aku sendiri yang menentukan. Kalian belum tahu apa-apa tentang Band. Jadi, jangan pernah bertindak sendiri tanpa kusuruh," kata Coach Jeremy yang berhasil membuat hati seorang Sam patah berkeping-keping. Menyadari Sam yang kecewa sekaligus sedih, Angel pun tak terima.
"Coach! Kami memang masih belum tahu apa-apa tentang Band. Tapi, setidaknya biarkanlah kami bereksplorasi dengan menentukan lagu apa yang akan kami bawakan nanti," bela Angel pada Sam.
Coach Jeremy diam. Seperti memikirkan apa yang Angel katakan. Detik selanjutnya, lelaki berusia hampir 30 tahun itu pun tersenyum lebar.
"Ya sudah, kalau begitu, aku akan memilih tiga lagu di list ini. Satu lagu jepang, satu lagu indonesia, dan satunya lagi lagu barat. Jadi, totalnya ada tiga lagu. Bagaimana, setuju?"
Sam, Angel, dan Ara yang tadinya muram mulai bersemangat kembali, "Setuju, Coach!"
"Oke, kalau begitu, kita mulai latihannya sekarang! Awas ya, mulai besok dan seterusnya tidak boleh ada yang bolos. Karna aku tidak akan mengajarkan kalian dengan lembut lagi!"
"Baik, Coach!" seru semua yang ada disitu.
***
"Duh, rasanya tenggorokanku langsung sakit karna Coach Jeremy terus menerus menekanku agar bisa nada rock. Aku 'kan, paling tidak bisa bernyanyi genre rock," keluh Ara pada Angel dan Sam seraya berjalan bersama menuju parkiran sekolah.
Ryuu yang ada di belakang pun memutar bola matanya, "Itu resikomu sebagai vocalis, bodoh."
"Ya! Aku tahu! Tapi, tak ku sangka list lagu yang Sam rekomendasikan ada lagu rocknya! Dan parahnya, Coach Jeremy memilih lagu rock tersebut!"
"Hehehe, maaf Ra. Ini memang salah si idiot ini," kata Angel seraya melotot pada Sam dan mencubit pelan laki-laki itu.
"Cih, padahal tadi saat ekskul, kau membelaku. Kenapa sekarang kau malah menyalahkanku?" sindir Sam sambil tertawa kecil.
"Oh iya! Ngel, sesuai perjanjian saat di kantin siang tadi, kau harus menemaniku dulu sepulang ekskul! Kebetulan Mamahku hari ini ulang tahun, dan aku ingin membelikan sesuatu untuknya," sambung Sam lalu menggandeng tangan Angel, mencoba berjalan duluan di depan Ara dan Ryuu.
"Wah, Mamahmu ulang tahun? Selamat ulang tahun ya, Mamah dari Sam yang idiot! Hahaha," ledek Ara bercanda.
Sam memanyunkan bibirnya, "Hmph! Ya sudah, aku pergi duluan ya dengan Angel! Dah!"
Sam pun pergi dan berjalan duluan sambil tetap menggandeng tangan Angel. Sesekali, bisa Ara dengar suara Angel yang minta di lepaskan genggaman tangan Sam padanya. Hahaha, sungguh lucu sekali dua pasangan baru itu, menurut Ara.
"Mereka serasi sekali ya," gumam Ara pelan.
"Kau iri dengan mereka?" tanya Ryuu di belakang Ara.
Ara membulatkan matanya, "Hei, kau sudah tahu bahwa mereka berpacaran?"
"Ya, Sam cerita padaku. Meski sebenarnya aku tak begitu peduli dengan ceritanya itu."
Ingin rasanya Ara menjitak kepala Ryuu karna ucapannya yang pedas itu. Namun, ia mengurungkan niatnya karna Ryuu tiba-tiba menanyakan sesuatu padanya.
"Kau parkir sepedamu dimana?"
"E-eh? Di sebelah sana! Di dekat pohon beringin itu!" tunjuk Ara pada sepedanya.
Ryuu diam saja sambil berjalan duluan di depan Ara. Rupanya, Ryuu mengambil sepeda sahabatnya itu dan menaiki sepeda tersebut. Melihat hal itu, tentu saja Ara terheran-heran.
"K-kenapa kau—"
"Aku tak membawa sepedaku. Jadi, biarkan aku yang memboncengmu sampai rumah," ujar Ryuu dengan cepat.
Ara mengangguk-angguk, "Aku baru sadar, akhir-akhir ini memang kita sudah tidak berangkat bersama lagi ya. Hari ini kau tak membawa sepedamu saja, aku tak tahu."
"Cepat naik, jangan banyak bicara. Atau kau kutinggalkan sendiri disini."
"Hmph! Ini kan sepedaku! Jahat sekali kalau kau sampai meninggalkanku!"
"Cepat naik," kata Ryuu dengan nada tegas.
"R-ryuu, malam ini kita makan malam bersama kan? Itu lho kegiatan makan malam rutin keluarga kita setiap bulan," ujar Ara membuka pembicaraan.
Ryuu mengangguk, matanya tetap fokus ke arah depan sambil terus mengayuh.
"Oh iya, malam kemarin kau bilang mau mengajariku belajar hari minggu. Bukankah hari minggu itu besok?"
Ryuu mengangguk lagi.
"Kita akan belajar dimana? Rumahku? Atau rumahmu?"
"Dimana saja, terserah kau," jawab Ryuu datar.
Ara memanyunkan bibirnya, "Ryuu! Kau kenapa sih?"
"Maksudmu?"
"Kau seperti orang marah padaku! Memangnya aku salah apa, padamu?"
"Marah? Aku tak mengerti ucapanmu."
"Apa karna soal kemarin? Kau masih kepikiran soal kemarin kan?"
"Soal kemarin? Memangnya kemarin ada apa?"
"Ih! Bahkan kau saja tak mengingat bahwa aku bilang, aku menyukaimu kemarin! Semudah itu kau melupakannya," batin Ara kesal.
"Al, kemarin memangnya ada apa?" tanya Ryuu untuk kedua kalinya.
Ara tertawa dipaksakan, "Hahaha, tidak kok. Tidak ada apa-apa. Maaf aku salah bicara, hehe."
***
Sesampainya di depan rumah Ara, di samping rumah Ryuu...
Ryuu menghentikan laju sepeda milik Ara. Setelah Ara turun, dengan cepat dia memasukkan sepeda Ara ke garasi rumah milik sahabatnya itu. Tak lama kemudian, dia pun muncul keluar dari garasi dan menghampiri Ara.
"Ya sudah, aku masuk ke dalam duluan, ya," ujar Ara sesampainya Ryuu dihadapannya.
Ryuu tak bicara apa-apa, dia hanya diam memperhatikan gerak-gerik Ara yang terlihat aneh.
"Kau yakin tak akan meng-klarifikasi ucapanmu padaku, kemarin?"
DEG!!!
Ara yang baru berjalan dua langkah dengan secepat kilat memutar kembali posisi berdirinya. Gadis itu menatap Ryuu kaget setengah mati.
"Tuh kan! Dia ternyata ingat! Dia hanya pura-pura tak ingat saja tadi!" batin Ara kesal, merasa dipermainkan.
"Kau yakin menyukaiku, al?"
Pipi Ara memerah, ia diam tanpa suara.
"Kalau kau tak jawab, berarti kau tidak bersungguh-sungguh menyukaiku, ya."
"Iya! Aku benar-benar menyukaimu, Ryuu!" seru Ara.
"Selama aku di Indonesia, aku tak pernah dekat dengan perempuan manapun selain dirimu. Kau selalu membuntutiku, menggangguku, dan mengusikku."
Ara kali ini menunduk. Ucapan Ryuu memang benar adanya.
"Kau pun juga sama, selama aku ada di Indonesia dan menjadi sahabatmu dari kecil, kau tak pernah mau dekat dengan laki-laki manapun kecuali dengan diriku. Tak peduli seberapa kejamnya kata-kataku padamu, kau tetap ingin berada didekatku."
"Nah! Itu artinya aku sangat menerima kepribadianmu yang seperti itu!" ujar Ara merasa menang.
Ryuu tersenyum sinis, "Tapi, aku paling tak suka perempuan keras kepala, banyak bicara, dan banyak tingkah sepertimu."
DEG!!!
Hati Ara merasa tertohok begitu saja mendengar ucapan Ryuu. Jadi, selama ini dimata Ryuu, Ara terkesan seperti itu? Ara sungguh tak mengerti. Selama ini, dia merasa jadi orang yang paling pengertian, paling peduli, dan paling sayang pada Ryuu. Namun, nyatanya tidak dimata Ryuu.
"Aku akan buktikan," lirih Ara pelan yang masih menunduk.
"Apa?"
Ara menengadahkan kepalanya, "Aku akan buktikan bahwa perasaanku selama ini bukan main-main!"
Ryuu terdiam untuk sesaat. Menyadari bahwa ucapan Ara dan raut wajah sahabatnya itu begitu penuh dengan tekad. Detik selanjutnya, Ryuu tersenyum. Bukan senyuman sinis, tapi senyuman manis yang selalu Ara impikan.
Ara mengernyitkan dahinya bingung melihat senyuman manis Ryuu. Meski dalam hatinya, ia berteriak kegirangan melihat Ryuu yang tersenyum manis seperti itu padanya. Tidak. Ini bukan waktunya untuk terpesona akan ketampanan Ryuu. Lagipula Ara yakin, senyuman manis sahabatnya itu tak akan bertahan lama.
"Coba kau pikir-pikir dulu. Selama ini kita dekat sebagai sahabat, bukan sebagai pacar. Jadi, aku yakin perasaanmu itu hanya terbawa suasana saja karna kita selalu dekat," ujar Ryuu kembali dengan wajah datarnya.
"Tidak! Aku bersumpah, perasaanku bukan terbawa suasana karna kedekatan kita! Aku menyukaimu pada pandangan pertama! Tepat saat kita kelas 2 SD dulu!"
Kali ini Ryuu terlihat cukup terkejut dengan ucapan Ara. Sampai-sampai dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku sangat ingat sekali. Saat kau baru masuk SD, tepatnya di kelasku, kau tak punya teman satu orang pun. Itu karna mungkin karna kau bukan dari Indonesia, jadi semua temanku merasa bahwa dirimu asing. Kondisi itu diperparah dengan kepribadianmu yang dingin dan bermulut pedas. Semua teman di kelasku jadi semakin tak ingin mendekatimu. Tapi, berbeda denganku. Dari awal kau datang ke kelasku, aku sudah menyukaimu," jelas Ara yang membuat Ryuu semakin tak bisa berkata-kata.
"Ingat dengan perbincangan kita untuk yang pertama kalinya, dulu? Saat itulah aku sudah menyukaimu meski sikapmu begitu padaku!"
Ryuu masih diam. Tapi dalam pikirannya, ia berusaha mengingat apa yang dimaksud Ara.