STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 26 - Puncak? Yuhuuu!



🖤🖤🖤


Pilih mana?


Kehilangan sahabat dengan cara memiliki dirinya seutuhnya?


Atau..


Tetap diam demi mempertahankan hubungan persahabatan?


🖤🖤🖤


Tok! Tok! Tok!


"Eh? Ara? Silahkan masuk," ujar Yui一bundanya Ryuu mempersilahkan Ara masuk.


Ara menahan napasnya melihat Ryuu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sahabatnya itu masih tidak sadarkan diri selama tiga hari ini. Tentu saja, hal itu semakin membuat Ara merasa sangat sedih dan bersalah.


"Bun, maafkan aku yang bodoh ini," kata Ara seraya menundukkan kepala.


Yui menggeleng sambil tersenyum penuh kehangatan, "Ini sama sekali bukan salahmu, sayang."


"Sebagai sahabatnya hampir 10 tahun ini, aku terlalu bodoh karna tidak tahu alergi yang di derita Ryuu. Kupikir, semua orang jepang menyukai teh greentea. Jadi aku membelikan Ryuu Ice greentea," Ara terisak, air matanya tak bisa ia bendung lagi. Sedangkan Yui yang ada di sebelah Ara mencoba menenangkan kesedihan gadis itu.


"Mungkin ini karna Ryuu juga yang terlalu pendiam. Dia tidak pernah berterus terang tentang apapun yang dirasakannya. Jujur, sebagai Bundanya, Bunda saja baru tahu sekarang bahwa Ryuu memiliki alergi teh hijau. Ternyata, hanya Nenek Ryuu saja yang tahu soal alergi Ryuu," jelas Yui seraya mempersilahkan Ara duduk di sebelahnya. Setelah Ara duduk dengan tenang, Yui kembali berbicara.


"Nenek Ryuu? Apakah Nenek Ryuu yang tinggal di Jepang itu?"


"Iya, Nenek Ryuu yang di Jepang adalah Ibunya Bunda sekaligus orangtua Bunda yang tersisa. Sejak kecil, Bunda memang kurang dekat dengan Ryuu. Ryuu lebih dekat dengan Neneknya dibanding dengan Bunda."


Ara terdiam, ia memikirkan sesuatu dalam otaknya, "Mungkin karna kedekatan Ryuu dengan Sang Nenek, jadi Neneknya itu berani menjodohkan Ryuu dengan Tachibana Aoi tanpa sepengetahuan Bunda Yui," batinnya dalam hati.


"Ra? Ara?" Yui membuyarkan lamunan Ara seraya menepuk pelan pundak gadis itu.


"Eh? Ehm, lalu Bun, bagaimana keadaan Ryuu setelah 3 hari dirawat?" tanya Ara berdehem, mengganti topik pembicaraan.


"Gejala awalnya sih Ryuu mengalami sakit kepala, tenggorokan yang gatal, dan perut yang mual. Tapi, kondisinya sekarang sudah baikan kok," jawab Yui sambil tersenyum manis.


"Sudah baikan? Bukankah Ryuu sedang tidak sadarkan diri? Dia sedang koma kan?"


Yui terdiam seketika. Lalu detik berikutnya, tawanya itu menggelegar ke seluruh penjuru kamar.


"Tidak sadarkan diri? Ryuu itu sekarang hanya sedang tidur, Ara. Hahaha..."


Ara ikut tertawa canggung seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Oh, kukira dia sedang koma, Bun. Hahaha. Makanya aku tadi sangat sedih sekali."


"Tidak kok, kau tenang saja. Ryuu itu walau kelihatan lemah tapi sebenarnya kuat kok fisiknya, hehehe.."


"Siapa yang Bunda bilang lemah? Aku?" tanya Ryuu yang ternyata sedari tadi sudah membuka matanya.


"Mau apa kau kesini?" tanya Ryuu langsung bertanya pada Ara, lengkap dengan tatapan sinisnya.


"Aku mau mengucapkan selamat ulang tahun padamu," jawab Ara sambil tersenyum manis.


Yui menepuk jidatnya, tersadar akan sesuatu hal, "Oh iya, kemarin kan ulang tahun Ryuu! Kenapa Bunda bisa lupa, ya?"


"Wah? Serius Bunda lupa?" tanya Ara tak percaya.


"Iya, saking khawatirnya dengan kondisi Ryuu, Bunda sampai lupa bahwa kemarin ulang tahun Ryuu yang ke-18 tahun. Hahaha..."


"Hahaha, wajar sih ya, Bunda pasti sangat khawatir pada anak Bunda satu-satunya ini," balas Ara ikut tertawa.


Ryuu memutar bola matanya dengan malas, "Lagipula ulang tahunku bukanlah hari yang spesial. Sama saja seperti hari-hariku yang biasanya."


"Tidak! Kau salah besar! Hari ulang tahun itu adalah momen paling berharga setiap setahun sekali dalam hidup ini! Jadi, kita tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja, tahu!" seru Yui bersemangat.


"Maaf ya, Bun. Karna kecerobohanku, ulang tahun Ryuu jadi tidak bisa dirayakan ke puncak," kata Ara merasa bersalah.


"Ehm, no no no! Kau salah, sayang." Yui tersenyum-senyum sendiri, "Justru ulang tahun Ryuu tetap akan dirayakan di Puncak."


"Eh? Benarkah, Bun?"


"Iya, besok kan hari Jumat, dan besok juga Ryuu sudah boleh pulang dari rumah sakit! Bagaimana kalau kita ke Puncak hari sabtu saja?" tawar Yui pada Ryuu dan Ara.


Ara mengangguk semangat, sedangkan Ryuu hanya melirik Ara sekilas lalu menatap Bundanya dengan tatapan tak setuju.


"Bun, eskul Band-ku di sekolah sedang mengadakan latihan rutin untuk festival musik nanti. Sedangkan aku sudah berhari-hari tidak sekolah dan tidak latihan Band. Lagipula, hari Sabtu kan masih sekolah. Apakah aku harus izin sekolah dan izin tak latihan Band lagi?" protes Ryuu tak terima dengan rencana Bundanya.


"Tidak apa-apa, hanya sehari saja kok. Jadi sabtu subuh kita berangkat, dan minggu siang kita pulang. Bagaimana? Ara setuju, tidak?" tanya Yui meminta pendapat Ara.


Ara mengangguk setuju, "Bagaimana kalau kita ajak Sam dan Angel sekalian? Jika Band kita kekurangan cukup banyak orang untuk latihan, pasti latihan Band akan diliburkan, bukan? Jadi, kita ajak saja Sam dan Angel agar latihan Band diliburkan dulu oleh Coach Jeremy!"


"Hahaha, kau benar juga Ra! Wah, memang ya. Anak Santia memang jenius sekali. Mommy-mu pasti bangga sekali memiliki anak sejenius dirimu," puji Yui yang membuat Ryuu ingin tertawa seketika.


"Jenius macam apa dia?" gumam Ryuu pelan, namun masih bisa Ara dengar.


"Hmm, Bundamu saja mengakui aku itu jenius! Bilang saja kau iri kan, hahaha!" seru Ara seraya mencubit pelan pipi Ryuu. Dengan cekatan Ryuu menepis tangan Ara.


"Ya sudah, kalau begitu, Ra. Besok kau ajak itu, siapa tadi kau bilang? Ah, iya. Sam dan Angel! Kau ajak saja Sam dan Angel untuk ikut kita ke Puncak hari Sabtu nanti. Semakin ramai kan pasti akan semakin seru. Setuju?" tanya Yui meminta pendapat untuk terakhir kalinya.



Senyuman Ara merekah kegirangan. Lalu, detik selanjutnya dia mengangguk dengan penuh semangat yang membara, "Siap, Bunda!"


Tatapan Yui beralih pada Ryuu yang hanya diam sambil menggelengkan kepalanya kesal, "Bunda dan Ara memang sama-sama keras kepala. Mereka cocok sekali menjadi anak dan ibu," batin Ryuu dalam hati.