
🖤🖤🖤
Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan menyayangimu sedalam ini?
🖤🖤🖤
"Ryuu, kau serius mau menginap disini denganku?"
Ryuu melirik Ara lalu segera menatap objek lain.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ehm, tidak. Hanya saja..."
"Tenang saja, aku tak tertarik padamu. Jadi aku tak akan berbuat macam-macam," kata Ryuu ketus memotong ucapan Ara.
Ara tertawa canggung mendengar perkataan Ryuu yang cukup menohok di hatinya.
"Hahaha, iya juga ya. Sepertinya aku yang terlalu berlebihan berpikiran macam-macam."
"Ya, tugasku disini hanya menemanimu saja. Tak lebih. Itu yang di perintahkan Mommy-mu padaku," jelas Ryuu lalu dibalas anggukan oleh Ara.
"Sudah sana, lebih baik sekarang kau tidur," sambung Ryuu seraya merebahkan diri di sofa ruang tamu.
Ara menggeleng dengan cepat, "Jahat sekali aku jika membiarkan pacarku一 Ehm, membiarkan sahabatku tidur di sofa rumahku," kata Ara takut-takut karena saat ia berucap kata 'Pacarku' tadi, Ryuu langsung menatapnya tajam.
"Jadi? Kau ingin kita tidur bersama di kamarmu, begitu?"
"Eh? T.. Tidak! Bukan begitu maksudku!" seru Ara cukup terkejut dengan pertanyaan frontal dari Ryuu.
"Lalu, kau maunya apa? Tidak mungkin kan aku tidur di kamar orangtuamu?"
"Iya juga sih, tapi tetap saja. Aku tak tega denganmu. Kau kan punya alergi dingin, jadi kalau kau tidur di sofa, aku takut alergimu kambuh."
Ryuu diam sebentar. Lalu detik berikutnya, ia bangkit dari sofa sambil menatap Ara yang masih duduk di sampingnya.
"Kalau begitu, kau saja yang tidur disini, ya. Aku yang akan tidur di kamarmu," ujar Ryuu seraya membalikkan tubuh, bersiap meninggalkan Ara.
Ara pun dengan cepat menarik baju Orange Ryuu dari belakang. Membuat Ryuu mengurungkan niatnya untuk berjalan.
"J.. Jangan dulu! Jangan dulu masuk ke kamarku! Aku akan membereskan kamarku terlebih dahulu! Jadi, kau tunggu dulu disini ya!" seru Ara cukup panik lalu segera berlari menuju kamarnya.
BRUKKK!!!
Terdengar pintu kamar yang ditutup cukup kencang. Ryuu yang masih berdiri di ruang tamu pun mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa Ara terlihat sepanik itu? Apa yang disembunyikan oleh Ara di kamarnya? Padahal, biasanya Ara biasa saja jika Ryuu masuk ke dalam kamarnya.
Tatapan Ryuu kini teralihkan pada Cupcake yang ada diatas meja ruang tamu. Itu adalah Cupcake pemberian Revina untuk Ara. Perlahan tapi pasti, Ryuu mengambil Cupcake tersebut dari atas meja.
"Cupcake apa ini? Kenapa baunya agak aneh?" batin Ryuu sesaat setelah ia mencium bau dari Cupcake tersebut.
Karena baunya cukup samar, Ryuu pun semakin intens mencium bau Cupcake itu.
"Eh? Ryuu? Kau sedang apa?" teriak Ara dari arah tangga. Gadis itu dengan cepat berlari menuruni anak tangga lalu menghampiri Ryuu dengan tatapan kaget.
"Kenapa kau menciumi Cupcake-ku? Apa Cupcakenya sudah basi?" tanya Ara kebingungan.
Ryuu menggeleng cepat, "Tidak, Cupcake ini tidak basi kok."
"Ah, kalau begitu, aku akan memakannya sekarang. Sini!" seru Ara ceria seraya berniat mengambil Cupcakenya dari tangan Ryuu.
Namun, niat Ara gagal karena Ryuu dengan secepat kilat memasukkan Cupcake tersebut ke dalam mulutnya. Sayang, Cupcake tersebut terlalu besar hingga tak masuk sepenuhnya ke dalam mulut Ryuu.
Ara membelalakkan matanya kaget melihat perilaku Ryuu yang tiba-tiba, "Hei! Kenapa kau memakan Cupcake-ku?"
Ryuu menjawab pertanyaan Ara. Namun, karena Cupcake tersebut tersumpal di mulutnya dan tak sepenuhnya masuk, yang terdengar di telinga Ara hanyalah kata : "Mmm.. Mmm.. Mmm..." saja.
Ara berusaha menahan tawanya. Ia kini bingung sekaligus ingin tertawa melihat Ryuu seperti ini. Oh, sungguh pemandangan yang langka.
Ryuu dengan cepat menggeleng sambil menatap tajam Ara. Tanda ucapan Ara itu tak benar adanya.
"Lalu? Kenapa kau makan Cupcake-ku?"
"Ithu.. Karenwaa.. Cupcakekh inih..."
Ara mengernyitkan dahinya. Gadis itu terlihat semakin bingung.
"Ryuu, sebaiknya kau kunyah dulu Cupcakenya. Baru kau boleh bicara."
Ryuu memutar bola matanya, "Suswahh, bodhoh.."
"Su.. Susah? Hahaha, lagipula suruh siapa kau memasukkan Cupcake ini semuanya ke dalam mulutmu?" tanya Ara sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ya sudah, kalau begitu, bagi aku sedikit saja!" sambung Ara seraya mengangkat tangan kanannya, berniat mengambil sisa Cupcake yang tak masuk ke dalam mulut Ryuu.
Ryuu tak membiarkan itu terjadi. Laki-laki itu dengan sigap menepis tangan Ara hingga membuat Ara makin kebingungan sekaligus kesal sekarang.
"Hei, kau ini serakah sekali! Kenapa kau tak memperbolehkanku memakannya?" tanya Ara mulai protes.
"Inih.. Punyakwuhh.." jawab Ryuu sambil membalikkan badan, ia berniat berjalan ke arah tangga menuju kamar Ara di lantai dua sana.
Tak ingin ditinggalkan begitu saja, Ara pun berlari secepat kilat lalu menghadang Ryuu tepat di anak tangga yang pertama.
"Ryuu, ayolah! Aku ingin mencicipinya sedikit saja!" rengek Ara layaknya anak kecil.
Ryuu menggelengkan kepala. Ia tetap pada pendiriannya.
"Ya sudah, kalau begitu...."
Ara tanpa permisi memiringkan kepalanya一mendekat pada wajah tampan Ryuu. Tidak, bukan wajah. Lebih tepatnya mendekat pada bibir Ryuu. Detik selanjutnya, Ara pun menggigit sedikit Cupcake yang masih mencuat dari bibir Ryuu. Membuat laki-laki itu membelalakkan matanya kaget menatap Ara tak percaya.
"Aku juga berhak memakannya sedikit, tahu! Karena Cupcake ini kan milikku!" seru Ara seraya mengunyah sedikit Cupcake yang ada dalam mulutnya sekarang.
1 detik...
10 detik...
20 detik...
Hening. Ara baru menyadari bahwa Ryuu ternyata diam terpaku melihatnya. Sambil memasang eskpresi polos, Ara mengernyitkan dahinya bingung. Ia tak mengerti kenapa Ryuu melihatnya dengan tatapan cukup aneh seperti ini.
"Al..."
"Kenapa, Ryuu?"
Ryuu menggelengkan kepala sambil mengunyah Cupcake yang kini sudah bisa masuk sepenuhnya ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan cepat sambil membuang muka.
"Ya sudah, kalau begitu, aku tidur duluan ya! Kau boleh ke kamarku sekarang!" seru Ara dengan nada cerianya lalu kembali berjalan ke ruang tamu. Meninggalkan Ryuu yang masih berdiri di dekat tangga.
"Al..." panggil Ryuu pada Ara yang baru saja duduk di sofa ruang tamu.
"Hmm? Kenapa, Ryuu?" tanya Ara menatap Ryuu yang berdiri membelakanginya.
Ryuu memejamkan mata sambil menghembuskan napas panjang.
"Asal kau tahu saja, bibirmu tadi sedikit menempel pada bibirku, tahu." ujar Ryuu dingin sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Ara.
Untuk beberapa saat, Ara diam dengan tatapan kosong. Ia mencoba menetralisir apa maksud dari ucapan Ryuu. Hingga beberapa menit kemudian, Ara menyadari akan sesuatu.
Matanya membulat lebar. Jantungnya berdebar kencang. Dan aliran darah mengalir deras dalam tubuhnya.
"EH?! APA YANG KU LAKUKAN PADA RYUU TADI?!" teriak Ara histeris sambil menyentuh bibirnya dengan kedua tangannya.