STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 10 - Kecewa



Ara kini berada di kamarnya sekarang. Tubuhnya benar-benar terasa letih. Pasalnya, beberapa menit yang lalu ia baru saja sampai ke rumahnya. Perjalanan survei dari Puncak memang sangat menguras tenaga.


Tok! Tok! Tok!


"Buka saja Mom, tidak aku kunci kok," kata Ara mempersilahkan Mommy-nya masuk.


Pintu pun terbuka. Memperlihatkan Santia yang menatap Ara khawatir. Setelah menutup pintu, Santia menghampiri Ara yang terbaring dikasurnya.


"Di perjalanan macet, ya?" tanya Santia sambil mengelus kepala Ara.


Ara menggeleng, "Tidak tahu, Mom. Sepanjang perjalanan aku tidur hehe."


"Ya ampun, kau ini! Untung saja Ryuu ikut bersamamu, kalau tidak, kau pasti tak akan sampai ke puncak!"


"Eh? Kok Mommy tahu aku survei bersama Ryuu?"


"Mommy diberi tahu oleh Bunda Yuu. Dia bilang, Ryuu ikut untuk survei bersamamu."


"Hmm," Ara mengangguk-ngangguk tanda mengerti.


"Kakimu sudah baikan? Mommy kaget sekali saat tadi Ryuu menggendongmu pulang ke rumah."


"Sudah, Mom. Tenang saja, aku 'kan kuat hehehe."


"Ah, iya! Mom! Lihat deh, foto tempat Camping ini ternyata sama dengan di instagram! Bahkan menurutku lebih bagus daripada di fotonya!" seru Ara seraya memperlihatkan foto di ponselnya.


Santia tersenyum sambil mengangguk, "Kau benar. Tempatnya bagus sekali. Kalau begitu, berarti minggu depan kita jadi berangkat camping bersama-sama."


Ara ikut tersenyum, "Wah aku tak sabar, hehehe."


"Ya sudah, kalau begitu Mommy mau masak makan malam dulu ya. Takut Daddy kelaparan jika nanti pulang dari kantor tidak ada apa-apa di rumah," ujar Santia seraya berjalan ke luar kamar Ara.


Bersamaan dengan pintu ditutup, Ara mendengar suara notifikasi di ponselnya. Tanpa berpikir panjang, Ara melihat notifikasi apa itu. Ternyata, sebuah pesan singkat dari orang yang disukainya.


Ryuu, tentu saja.


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Sudah tidur?


Ara tersenyum-senyum sendiri membaca pesan itu. Tumben sekali, Ryuu mengiriminya pesan seperti ini. Tunggu. Apa jangan-jangan Ryuu khawatir dengan kondisi Ara? Jika benar, Ara pasti akan sangat senang sekali.


Jari lentik Ara pun memutuskan untuk membalas pesan tersebut. Agak aneh rasanya harus saling mengirim pesan di ponsel padahal rumah mereka saling bersampingan.


🐱Altheara Kawaii🐱 : Belum. Memangnya ada apa, Ryuu?


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Buka jendela kamarmu.


🐱Altheara Kawaii🐱 : Eh? Ada apa sih?


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Indah sekali.


🐱Altheara Kawaii🐱 : Apanya?


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Jika kau ingin tahu, buka dulu jendela kamarmu.


Ara mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Ia pun bersusah payah untuk berdiri dan berjalan membuka jendela kamarnya. Kakinya masih terasa sakit, memang.


🐱Altheara Kawaii🐱 : Sudah. Lalu apanya yang indah, Ryuu?


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Lihat ke atas langit.


Tanpa pikir panjang, Ara mendongak ke atas langit. Matanya seketika langsung membulat saat melihat bulan purnama yang bersinar begitu indahnya. Dengan terburu-buru, Ara mencoba memotret bulan tersebut menggunakan ponselnya.



🐻Nakajima Ryuu🐻 : Aku tahu kau pasti akan langsung memotretnya.


"Eh? Kok dia bisa tahu?" batin Ara dalam hati sambil memperhatikan kamar Ryuu yang ada di sebrang kamarnya.


"Aneh, padahal jendela kamar Ryuu tertutup. Bagaimana dia bisa tahu aku memotret bulannya?"


Saat sedang bertanya-tanya seperti itu, tiba-tiba Ara membulatkan matanya kaget. Di bawah sana-tepatnya di taman belakang rumah milik Ryuu, berdiri seorang laki-laki yang seumuran dengan dirinya. Itu adalah Ryuu, tentu saja.


Senyuman Ara langsung merekah sambil melambai-lambaikan tangannya pada Ryuu. Namun, di bawah sana Ryuu hanya diam dengan ekspresi dinginnya. Merasa diabaikan, Ara langsung mengirim pesan pada Ryuu.


🐱Altheara Kawaii🐱 : Kau tidak lihat aku tersenyum dan melambaikan tanganku padamu?


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Sudah ya, aku ngantuk.


🐻Nakajima Ryuu🐻 : Selamat malam :)


Hampir saja ponsel Ara jatuh karna ia terlalu terkejut membaca pesan dari Ryuu. Jantungnya berdetak kencang tak karuan melihat emoticon 'smile' yang ada di pesan tersebut. Bagaimana tidak? Selama mereka berkomunikasi lewat pesan di ponsel, Ryuu tak pernah mengirim pesan dengan emoticon. Namun, untuk pertama kalinya dalam hubungan persahabatan mereka, Ara melihat emoticon smile yang dikirim oleh Ryuu.


Ya, emoticon S-M-I-L-E.


Ara jadi membayangkan Ryuu yang sedang tersenyum manis sekarang. Wajar saja Ara merasa senang. Karna, sepanjang hidupnya, Ara bersumpah tak pernah melihat Ryuu tersenyum ataupun tertawa. Ia hanya melihat wajar datar, dingin, dan senyuman Ryuu yang miring dan sinis. Ya, hanya senyuman sinis, bukan senyuman manis yang sekarang ia bayangkan.


"Seandainya aku benar-benar melihat Ryuu tersenyum manis, aku pasti akan pingsan saat itu juga."


***


Esoknya..


Di sekolah, pelajaran ke-3


Bukannya menulis apa yang di catat Sensei di papan tulis, Ara malah asyik memperhatikan Ryuu yang terlihat begitu serius menulis. Tak bisa dipungkiri, Ryuu memang anak yang selalu serius kalau soal belajar.


Sungguh kebalikan dari Ara yang pemalas.


"Catat apa yang Sensei tulis di papan tulis," ujar Ryuu sambil terus menulis tanpa sedikitpun menoleh ke arah Ara.


"Hihihi. Jadi kau sadar sedang di perhatikan olehku, ya," canda Ara sambil tertawa kecil.


Ryuu menggebrak mejanya pelan dengan pulpennya, matanya langsung menatap tajam Ara. Ditatap seperti itu, Ara buru-buru menulis apa yang ada di papan tulis.


"Huh, galak sekali," batin Ara sambil memajukan bibirnya.


"Pekan depan ulangan harian bahasa jepang ya, anak-anak," ucap Chiko Sensei tiba-tiba seraya tersenyum simpul.


"Haaa?!" semua anak 3 MIPA B berteriak bersamaan, termasuk Ara dan terkecuali Ryuu.


Chiko Sensei tertawa, "Ayolah, bahasa jepang itu mudah, kok,"


"Tidak, Sensei! Bahasa jepang rumit sekali! Apalagi kalau sudah membahas huruf kanji, duhhh!" seru Ara mengeluh seraya memajukan bibirnya.


Chiko Sensei lagi-lagi tertawa, "Ah, tidak begitu rumit kok. Oh iya, kau 'kan dekat dengan Ryuu. Kenapa kau tak minta ajarkan saja oleh dia?"


Merasa namanya disebut, Ryuu melirik Ara sebentar lalu kembali menatap Chiko Sensei di depan.


"Bisa 'kan, Ryuu?"


Ryuu mengangguk mengiyakan pertanyaan Chiko Sensei. Namun, Ara bisa mendengar hembusan napas Ryuu yang sangat tidak menyenangkan. Oh tidak, sepertinya Ryuu tak berniat untuk mengajarkan bahasa jepang pada Ara.


"Untuk siapa saja yang merasa kesulitan dengan pelajaran bahasa jepang, bisa minta ajarkan oleh Ryuu, ya? Dia 'kan orang jepang asli, pasti kalian akan lebih mudah memahami," jelas Chiko Sensei yang membuat semua murid perempuan di kelas itu membelalakan matanya kaget.


"Eh? Serius, Sensei?"


"Wah, aku mau kalau begitu!"


"Aku juga, aku juga!"


Ara berdecak kesal sambil menutup kupingnya. Semua teman-teman perempuannya itu sangat berisik dan ricuh karna perkataan Chiko Sensei. Hmm, padahal Ara ingin hanya dia saja yang diajarkan oleh Ryuu. Tapi, kenapa jadi seisi kelas begini? Apalagi hanya perempuannya saja yang mau.


Benar-benar menyebalkan bagi Ara, bukan?


"Ya sudah, kita lanjutkan lagi belajarnya, ya," ujar Chiko Sensei yang mengakhiri semua keributan anak perempuan di kelas tersebut.


Entah ada angin apa. Sam, Angel, dan Revina langsung menatap ke arah Ara. Di tatap tiba-tiba seperti itu, Ara mengernyitkan dahinya. Eh? Ada apa sebenarnya?


"Kasihan sekali, Ara. Pasti dia tadinya sangat senang karna Ryuu akan mengajarkan pelajaran bahasa jepang padanya. Tapi, ternyata yang akan diajarkan jadi sekampung," batin Angel dalam hati.


"Ini kesempatanku untuk mendekati Nakajima Ryuu. Syukurlah Ryuu tidak hanya mengajarkan Ara saja," batin Revina sambil tersenyum sinis.


Sedangkan Sam, pikirannya itu berbeda dengan Angel dan Revina. Alasan dia menatap Ara karna memang hanya ingin melihat wajah Ara saja. Tak lebih. Entah kenapa setiap melihat wajah Ara, dia pasti selalu ingin tertawa. Ya, entah kenapa.


Dan diantara tiga orang tersebut, Ara lebih fokus terhadap tatapan Sam yang begitu mengunci matanya. Tanpa Ara sadari, ternyata ada satu orang lagi yang menatapnya-ralat, meliriknya sekilas. Ya, siapa lagi kalau bukan Nakajima Ryuu?


Al, pulang sekolah jangan pulang dulu. Aku akan memberikanmu hadiah yang ku janjikan," ujar Ryuu setengah berbisik sambil terus memperhatikan Chiko Sensei di depan.


"Eh? Oh, i-iya. Baiklah," jawab Ara cukup terkejut sambil mengangguk-angguk.


***


"Ryuu! Kau mau kemana?"


Ryuu menghentikan langkahnya dan langsung membalikkan tubuhnya. Tanpa berlama-lama, Ara segera menghampiri Ryuu dengan ekspresi wajah yang tak menyenangkan. Bagaimana tidak? Ryuu, sahabat yang paling di cintainya itu malah berjalan dengan perempuan lain! Terlebih lagi, perempuan itu adalah orang yang paling Ara tak sukai.


Revina Kyle. Ya, jujur saja Ara kurang suka dengan orang pendiam seperti Revina. Berbeda dengan diamnya Ryuu, diamnya Revina itu entah kenapa sangat mengganggu Ara yang cerewet dan ceria. Maka dari itu, Ara merasa orang seperti Revina tak bisa dekat-dekat dengan Ryuu.


"Kau mau kemana?" Ara mengulangi pertanyaannya sambil menatap Ryuu dan Revina kesal.


"Ehm, itu, aku.."


"Mulai hari ini aku akan mengajarkan les bahasa jepang pada Revina setiap pulang sekolah. Kecuali jika ekskul basketku mengadakan latihan," ucap Ryuu memotong ucapan Revina.


Ara semakin geram mendengar ucapan Ryuu, "Apa? Les? Bukankah Chiko Sensei bilang-"


"Ini adalah permintaan Revina sendiri. Karna aku merasa menganggur di rumah setiap pulang sekolah, jadi aku mengiyakan permintaan Revina."


"Eh? T-tapi kau tak pernah mengajarkanku les selama ini! Kita 'kan sudah bersahabat sejak kecil, Ryuu!" seru Ara tak terima.


"Memangnya kau pernah minta diajarkan les olehku? Tak pernah, 'kan?"


DEG!!


Jawaban Ryuu sontak membuat Ara terdiam dan menunduk. Benar juga apa kata Ryuu. Selama ini Ara tak pernah minta diajarkan belajar, les, atau apapun itu. Selama ini, setiap Ara ke rumah Ryuu, pasti ia hanya sekedar berbincang atau makan dengan Bunda dan Ayahnya saja.


"Ya sudah, kalau begitu, kami duluan ya," kata Revina memecah keheningan antara Ryuu dan Ara.


Ryuu mengangguk, "Kau langsung pulang saja, ya. Bilang pada Bunda, hari ini aku ke rumah Revina untuk mengajarkan les dulu."


Revina dan Ryuu pun berjalan duluan, meninggalkan Ara yang masih diam mematung. Saat Revina dan Ryuu sudah cukup jauh, Ara menatap punggung Ryuu dengan kecewa. Ya, sangat kecewa. Padahal, Ara sudah sangat menantikan hadiah yang dijanjikan Ryuu. Tapi, kenapa Ryuu malah memilih untuk ke rumah Revina?


"Hadiah? Ini yang kau maksud hadiah, Ryuu? Memperlihatkan dirimu berjalan dengan Revina dan pergi bersamanya?" batin Ara kecewa dalam hati.