STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 88 - Tak Sadar



...🖤🖤🖤...


...Wajar, jika hatimu sangat sakit. ...


...Itu artinya cintamu tidak bercanda. ...


...🖤🖤🖤...


Ryuu sedang memainkan gitar elektrik yang ada di ruangan Band. Ia tak sendiri, tentunya. Disampingnya, ada Revina yang sedang memainkan keyboard. Selain itu, ada Angel yang sedang memainkan Drum juga Sam yang sedang memainkan Bass. Mereka berempat benar-benar berlatih untuk lagu yang akan mereka bawakan di acara pensi nanti.


Sayangnya, Sang Vokalis yaitu Ara tak juga kunjung datang.


"Ryuu, Ara kemana sih? Kenapa dia belum datang juga?" tanya Angel sembari berhenti memainkan Drum lalu menyimpan stik Drum di saku celananya.


Revina dan Sam pun ikut berhenti memainkan alat musik mereka. Berbeda dengan Ryuu yang tetap saja memetik gitar tanpa memperdulikan pertanyaan Angel.


"Ryuu! Kau dengar tidak, sih?" Angel kembali bertanya dengan kesal.


Ryuu berhenti memetik gitar. Ia menoleh ke arah Angel sebentar, lalu kembali memainkan gitarnya tanpa berbicara sepatah katapun.


Hal itu tentu saja membuat Angel semakin kesal.


"Ryuu! Kau ini一"


"Bukankah Rangga sekarang sedang mencari Al? Kita tunggu saja. Mereka mungkin sekarang sedang berduaan dan tak mau diganggu," potong Ryuu dengan nada bicara yang sangat dingin. Tanpa menoleh ke arah Angel atau yang lainnya.


"Ya tapi 'kan sekarang kita sedang berlatih untuk pensi. Kenapa Ara tak bisa membagi waktunya antara latihan Band dengan berduaan bersama Rangga? Benar-benar menyebalkan," Revina membuka suaranya. Berusaha membuat suasana semakin panas.


"Revina, kau jangan menambah runyam situasi sekarang, ya! Lebih baik kau diam saja!" seru Angel menunjuk-nunjuk Revina yang posisinya tak jauh darinya.


Revina memutar rambut panjang ikalnya sambil berkacak pinggang.


"Heh! Kenapa jadi aku yang membuat runyam situasi? Bukankah Ara yang membuat runyam? Jika dia daritadi sudah ada disini, pasti kita sudah mulai latihan dan tak buang-buang waktu!" seru Revina membela diri.


"Hei, sudah. Sudah. Kalian jangan bertengkar begini, dong. Kita sebentar lagi akan lulus, jadi please jangan bersikap seperti anak kecil yang adu mulut tanpa lihat situasi dan kondisi," ujar Sam mencoba melerai Angel dan Revina yang saling menatap kesal satu sama lain.


Angel dan Revina pun tutup mulut. Namun, aura kekesalan masih terpancar di wajah mereka berdua.


"Kalau begitu, aku akan mencari Rangga dan Ara, ya. Kalian tunggu disini," kata Sam seraya berjalan menuju pintu ruangan Band.


"Aku ikut!" seru Angel dan Revina bersamaan. Membuat keduanya saling berpandangan tak suka.


"Oke, kita bertiga akan cari Rangga dan Ara. Ruangan Band di studio ini sangat banyak. Jadi mustahil juga jika aku mencari mereka berdua sendirian saja," ujar Sam menyetujui seruan Angel dan Revina.


"Kau bagaimana, Ryuu? Mau ikut mencari Rangga dan Ara?" sambung Sam seraya membuka knop pintu. Mempersilahkan Angel dan Revina keluar duluan.


Ryuu yang sedari tadi diam saja一asyik memainkan gitar menatap Sam lama tanpa membuka suara.


Sam mengernyitkan dahinya sambil mengangguk, tanda mengerti.


"Kalau kau tak mau ikut, ya sud一"


"Aku ikut," potong Ryuu dengan cepat. Khas dengan nada dingin dan wajah datarnya.


***


"Duh! Kemana sih Rangga dan Ara? Mereka berdua kira-kira berduaan dimana, ya? Bikin repot saja!" keluh Revina sambil ikut berjalan bersama Ryuu, Sam, dan Angel.


Angel menoleh ke belakang, tepat dimana Revina berjalan dibelakangnya. Ia menatap kesal Revina karena berani mengeluh dibelakang dengan suara keras.


"Kau kenapa, sih? Mukamu selalu saja begitu kalau menatapku. Kalau kau tak suka padaku, bilang!" tantang Revina pada Angel yang masih saja menoleh ke arahnya sambil berjalan.


"Iya, aku memang tak suka pada nenek sihir sepertimu!" seru Angel dengan nada cukup tinggi.


"Apa kau bilang?! Aku nenek sihir?! Jika aku nenek sihir, berarti kau akan aku kutuk menjadi babi gemuk! Kau bahkan lebih buruk dariku!"


"Babi? Kau yakin itu bukan panggilan untukmu, hah?"


Sam dan Ryuu yang berjalan paling depan pun refleks berhenti berjalan一lalu menoleh ke arah Angel dan Revina di belakang. Ternyata, di belakang sana Angel dan Revina berhenti berjalan. Dua gadis itu malah sibuk berdebat.


"Kalau kalian masih berniat untuk bertengkar, kita batalkan saja latihan Band kita hari ini," kata Ryuu ketus. Membuat Angel dan Revina diam seribu bahasa. Lalu detik selanjutnya, Ryuu kembali berjalan dan diikuti oleh Sam disampingnya.


Mau tak mau, Revina dan Angel pun harus menutup mulutnya lalu kembali berjalan.


"Ruangan Band disini benar-benar banyak sekali. Sudah seperti hotel saja, ya. Bahkan di lantai atas pun masih banyak lho ruangan Band-nya," ucap Sam sembari mengagumi ruangan demi ruangan yang mereka lewati.


"Yah, wajar saja sih. Ini kan studio Band terkenal dan mahal. Bahkan, ku dengar sering ada Band-Band papan atas yang latihan disini. Beruntung ya kita bisa latihan di studio ini gratis tanpa membayar apapun," tambah Sam.


Ryuu diam saja tanpa menggubris celotehan Sam. Matanya menatap lurus ke depan dengan serius sambil terus berjalan.


"Ryuu, kau mendengarkanku tidak sih? Huh, kau cuek sekali padaku!" seru Sam memanyunkan bibirnya sebal layaknya anak perempuan. Membuat Ryuu mau tak mau harus menoleh ke arah temannya itu.


"Jangan bertingkah seperti itu. Kau mirip Al jika begitu," kata Ryuu menahan tawanya. Ia berusaha tetap stay cool di depan Sam dan yang lainnya.


Sam cekikikan mendengar perkataan Ryuu. Saat sedang cekikikan seperti itu, tiba-tiba Sam menghentikan langkahnya. Hal itu tentu saja membuat Ryuu, Angel, dan Revina juga refleks一ikut berhenti berjalan.


"Ada apa, Sam? Kenapa berhenti berjalan?" tanya Revina agak terkejut.


"I.. Itu, Kak Angga!" seru Sam menunjuk-nunjuk ke arah depannya dengan telunjuk kanannya.


Ryuu, Angel, dan Revina pun otomatis menatap objek yang ditunjuk oleh Sam. Di depan sana一tepatnya di lobi dekat jendela studio yang mengarah keluar一tergeletak seorang lelaki yang tak lain adalah Angga, Kakaknya Rangga.


Tanpa pikir panjang, empat remaja berumur 18 tahun itu berlari menghampiri Angga yang tak sadarkan diri di samping sofa panjang.


"Kak Angga! Bangun, Kak! Kak!" teriak histeris Revina. Ia berlutut di samping Angga sambil mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Kakak sepupunya tersebut.


Ryuu ikut berlutut di samping Revina, sedangkan Angel dan Sam sibuk一mencoba menghubungi ambulans di rumah sakit terdekat.


"Suhu tubuhnya panas, bibirnya pucat, napas pendek, tubuhnya berkeringat dingin, dan jantungnya berdetak sangat cepat," kata Ryuu menjelaskan pada Revina.


"I.. Itu artinya?" Revina mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Itu artinya... Ada kemungkinan Kak Angga terkena serangan jantung."


***


Sore ini, Ryuu, Revina, Sam, dan Angel sudah berada di rumah sakit. Syukurlah, Ambulans tak datang terlambat. Dan Angga sudah ditangani tepat waktu dan kini sudah terbaring di kamar UGD untuk menjalani perawatan intensif.


Sekarang, Sam dan yang lainnya sedang menunggu Ryuu di ruang tunggu. Mereka menunggu Ryuu yang sudah cukup lama berada di ruang Dokter untuk mendengarkan segala diagnosis dari Dokter tentang keadaan Angga.


Beberapa waktu kemudian, Ryuu pun keluar dari ruang Dokter dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Membuat Sam dan yang lainnya menjadi panik.


"R-ryuu? Apa kata dokter tadi?" tanya Revina yang masih khawatir dengan keadaan Kakak sepupunya.


"Dokter bilang, Kak Angga terkena serangan jantung karena kelelahan dan kurang tidur. Selain itu, sepertinya juga Kak Angga terlalu stress akhir-akhir ini. Itu membuat penyakit jantungnya kambuh," jelas Ryuu seraya duduk disamping Sam.


Angel menatap Revina yang duduk disampingnya sambil mengernyitkan dahi, "Rev, memangnya sejak kapan Kak Angga memiliki penyakit jantung?"


"Dari kecil, Ngel. Dan asal kalian tahu saja, ya. Rangga juga memiliki penyakit jantung. Karena penyakit ini turunan dari mendiang Om-ku, Papahnya Kak Angga dan Rangga yang sudah meninggal akibat serangan jantung tiga tahun yang lalu," jawab Revina terisak. Ia mencoba menahan tangisnya.


"Kak Angga memang sosok yang pekerja keras. Dia bahkan mengelola studio Band sendiri tanpa bantuan dari siapa-siapa. Bahkan keluargaku pun tak ada yang ikut campur atas studio Band milik Kak Angga. Ya, Kak Angga tak pernah mau


merepotkan siapapun itu. Inilah sebabnya kenapa penyakitnya sering kambuh. Kak Angga tetap berusaha mengelola studio sendirian. Kalian bisa lihat sendiri, kan? Di studio tadi tidak ada siapapun staf studio selain satpam, tukang bersih-bersih, dan Kak Angga, kan?"


Sam mengangguk, namun masih ada yang belum ia mengerti.


"Tapi, kenapa Kak Angga tidak mempekerjakan orang saja? Tak usah dari anggota keluarga, tapi dari orang lain yang memang butuh pekerjaan, Rev," ujar Sam.


Revina menggeleng pelan, "Kak Angga sudah sering mempekerjakan orang lain, namun dia sering kena tipu seperti masalah dari alat-alat Band yang hilang, uang penghasilan studio Band yang dikorupsi, dan lain-lain. Nah, maka dari itu, aku pernah menyarankan sesuatu pada Kak Angga," jelas Revina.


"Menyarankan apa?" Kali ini Angel ikut bertanya karena penasaran sekaligus simpati.


"Aku menyarankan pada Kak Angga, untuk mempekerjakan aku dan Rangga saja. Tapi, Kak Angga menolak karena takut waktu belajarku dan Rangga terganggu. Dan pada akhirnya, Kak Angga bilang ia hanya akan mengelola studio Band sendirian tanpa merepotkan keluarga. Tambahannya, mungkin staf studio hanya ada tukang bersih-bersih dan satpam saja," jelas Revina panjang lebar.


Suasana menjadi hening. Tak ada satupun yang membuka suaranya. Mereka berempat terlalu larut dalam situasi ini. Situasi dimana mereka bisa merasakan bagaimana lelahnya menjadi seorang 'Angga' dalam mengelola Studio Band sebesar dan semewah itu hanya sendirian.


"Pertama-tama, lebih baik kita hubungi saja Rangga atau keluargamu yang lain, Rev," kata Sam memecah keheningan.


"Eh?" Revina mengernyitkan dahi sambil membulatkan matanya kaget.


"Ada apa?" tanya Angel dan Sam bersamaan.


"Ponselku kok tidak ada, ya?"


Sam ikut mengernyitkan dahi, tak percaya dengan ucapan Revina.


"Ah, masa sih?"


"Serius, Sam. Ponselku kok tidak ada, ya? Apa ponsel kalian ada?" tanya Revina mulai panik.


Ryuu, Sam, dan Revina pun segera ikut merogoh saku celana masing-masing. Mereka bertiga lalu saling berpandangan bingung karena ponsel mereka juga tak ada, sama seperti Revina.


"Ponsel kita... Ada di ruangan Band!" seru Sam dan Angel bersamaan. Suasana pun menjadi runyam seketika.


"Serius ada di ruangan Band? Bagaimana kalau ponsel kita jatuh di jalan? Atau di dalam Ambulans tadi?" tanya Revina bertubi-tubi karena panik.


Angel menggeleng, "Seingatku, saat kita berempat keluar dari ruangan Band tadi, tak ada satupun diantara kita yang membawa ponsel," jawab Angel yakin.


Revina mengangguk-angguk, tanda mempercayai ucapan Angel.


"Ryuu, kau sudah memberikan kunci Studio Band pada Pak Satpam yang berjaga kan?" tanya Revina memastikan.


"Iya, aku sudah memberikannya pada Pak Satpam," jawab Ryuu cepat.


"Duh, bagaimana kalau Pak Satpam-nya sudah pulang? Aku tak akan bisa menghubungi Rangga atau anggota keluargaku yang lain kalau ponselku saja sekarang tidak ada," ujar Revina semakin panik.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan kembali ke Studio Band. Kalian bertiga tunggu saja disini," kata Ryuu mencoba menenangkan suasana. Laki-laki tampan itu pun berdiri lalu berlari meninggalkan teman-temannya, berniat menuju pintu luar rumah sakit.


"R... Ryuu! Aku ikut!" seru Revina ikut berlari mengejar ketertinggalannya di belakang Ryuu.


Ryuu menoleh ke belakang seraya menghentikan laju larinya.


"Tak usah. Kau disini sa一"


"Seingatku, aku tahu rumah Pak Satpam Studio Band dimana. Semoga saja rumahnya masih di alamat yang aku tahu," jelas Revina memotong ucapan Ryuu.


***


"Bagaimana, Rangga? Apa yang lainnya sudah bisa dihubungi?" tanya Ara sembari memperhatikan Rangga yang sedang memainkan ponselnya sambil duduk di lantai一tepatnya duduk bersebrangan dengan Ara.


Entah berapa kali Ara bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti tadi. Dan juga, entah berapa kali Rangga menggeleng一menandakan bahwa tak ada satupun teman-temannya yang mengangkat telepon darinya sedari siang tadi.


"Aku sudah terjebak disini berjam-jam bersama Rangga. Bagaimana jika tak ada satupun yang menolong kita disini sampai besok pagi?" batin Ara merasa tak enak hati.


"Padahal nomor ponsel Ryuu, Sam, Angel, dan Revina aktif semua. Tapi tak ada satupun dari mereka yang mengangkat teleponku. Sungguh aneh," kata Rangga seraya mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Andai saja ponselku tak mati karena lowbat, pasti aku sudah menghubungi orangtuaku," balas Ara mendesah pasrah.


Rangga menjentikkan jarinya, tanda baru saja mendapatkan ide karena ucapan Ara tadi.


"Ide bagus! Kenapa kau baru bilang sekarang, Ra? Coba sebutkan nomor ponsel orangtuamu. Aku akan menelponnya sekarang."


Ara lagi-lagi mendesah pasrah. Kali ini ia memejamkan matanya tanda sudah tak tahu lagi harus bagaimana.


"Ini masalahnya, Rangga. Aku tak hafal nomor ponsel Mommy ataupun Daddy-ku."


"Kalau begitu, nomor ponsel anggota keluargamu yang lain."


"Nomor ponsel Anggota keluargaku yang lain? Aku juga tak hafal. Lagipula, aku tak punya anggota keluarga yang tinggal di Kota ini. Mereka tinggal diluar Kota semua," jelas Ara yang membuat Rangga juga dirinya sendiri semakin pesimis.


"Hatsyi! Hatsyi!"


Rangga tiba-tiba bersin berkali-kali, membuat Ara yang melihat itu tentu saja kaget karena sesaat setelah Rangga bersin-bersin一hidung Rangga mengeluarkan darah cukup banyak.


"Rangga! Rangga! Hidungmu kenapa berdarah?"


Ara berteriak panik seraya bangkit dari duduknya, lalu berjalan dan duduk di lantai一disamping Rangga dengan cepat.


Rangga menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Namun, bukannya berhenti, darahnya malah semakin mengucur banyak. Melihat itu, tanpa pikir panjang Ara membuka blezer biru yang ia kenakan untuk menyeka dan menutupi hidung Rangga agar menghentikan pendarahan tersebut.


"Rangga, kenapa kau tiba-tiba mimisan? Apa kau memiliki penyakit?" Ara bertanya dengan raut wajah sangat khawatir. Tangannya masih ikut membantu menutup dan menahan hidung Rangga dengan blezer miliknya.


Bukannya menjawab, Rangga malah tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau malah tertawa? Ada yang lucu?" tanya Ara tak mengerti dengan arti tawa dari Rangga.


"Hahaha, tidak, tidak. Hanya saja, aku sangat senang. Ternyata kau bisa mengkhawatirkan aku juga, ya," ujar Rangga menerangkan.


Ara terdiam. Tangannya perlahan melepaskan blezer yang ia tahan untuk menutupi hidung Rangga. Tanpa bicara apa-apa, Ara pun duduk disamping Rangga sambil menatap lurus ke depan一menatap ke arah pintu ruangan.


"Ehm, a... aku minta maaf, Ra. Aku tadi siang sudah berani membentakmu dan juga menyakiti pergelangan tanganmu. Percayalah, siang tadi aku hanya termakan emosi cemburu saja," jelas Rangga yang peka terhadap sikap Ara yang tiba-tiba diam.


"Kukira, kau mengkhawatirkan Kak Angga karena kau menyukainya. Tapi, saat tadi kulihat ternyata kau bisa mengkhawatirkanku juga, aku jadi merasa malu. Aku malu karena sudah berprasangka aneh-aneh padamu. Ternyata kau orangnya memang sangat perhatian terhadap siapapun, ya," tambah Rangga lagi. Namun, Ara tetap diam tanpa menoleh ke arah Rangga yang duduk disampingnya.


"Oh iya, aku mengidap alergi dingin. Ya, aku selalu mimisan kalau kedinginan. AC di ruangan ini terlalu dingin untukku. Padahal derajat dinginnya sudah yang paling rendah lho," kata Rangga sambil menatap suhu derajat AC yang ada di dinding ruangan, tepatnya disamping pintu.


Ara pun refleks ikut menatap AC. Lalu detik selanjutnya, ia menoleh ke arah Rangga.


"Mau kumatikan saja AC-nya, Rangga?" tawar Ara dengan santai. Seolah penjelasan dan permintaan maaf Rangga tadi hanya angin lalu baginya.


Rangga menggeleng, "Tidak usah. Yang ada jika AC-nya dimatikan, ruangan ini akan pengap dan panas."


Ara mengangguk tanda mengerti. Kemudian, ia menatap hidung Rangga yang masih ditutup Blezer oleh tangan Rangga sendiri.


"Apa hidungmu masih keluar darah?" tanya Ara yang tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Mimisanku ini hanya akan berhenti jika aku sudah tak merasa dingin lagi, Ara."


"Lalu? Bagaimana caranya agar kau tak merasa dingin lagi?"


"Kau mau tahu caranya?"


Ara mengangguk sambil menatap Rangga sungguh-sungguh.


SRETTT!!!


DEG!!!


Tubuh kecil Ara tiba-tiba ditarik lalu didekap sekencang-kencangnya oleh Rangga. Tentu saja, hal itu membuat Ara membelalakkan matanya juga terpekik karena saking kagetnya.


"Rangga?" Ara mengernyitkan dahinya. Ia kaget sekaligus takut karena Rangga memeluk dirinya tanpa seizinnya.


"Kau tadi bertanya padaku, 'kan? Bagaimana caranya agar aku tidak kedinginan lagi? Ya, inilah caranya. Kenapa? Kau keberatan kupeluk, Ra?" Rangga bertanya dengan suara berbisik. Persis di dekat telinga Ara.


"Kalau pelukan ini bertujuan untuk membuat tubuhmu hangat, tidak apa-apa, kok. Beritahu aku jika tubuhmu sudah tak dingin lagi, ya," ujar Ara tetap berpikiran positif pada Rangga.


Rangga tersenyum dibalik pelukannya pada Ara. Perihal mimisannya karena ia alergi dingin, itu memang benar. Tapi perihal pelukan bisa menghentikan mimisannya, itu adalah kebohongan. Sebuah pelukan tak akan bisa membuat mimisan Rangga berhenti begitu saja. Ya, Rangga biasanya harus minum obat yang biasa ia beli di Apotek. Selain itu, suhu di ruangan pun tak boleh dibiarkan tetap dingin jika ingin menghentikan mimisannya tersebut.


BRUKKK!!!


Pintu ruangan Angga tiba-tiba didobrak dari luar. Memperlihatkan Ryuu dan Revina yang terlihat sangat shock melihat pemandangan di dalam ruangan Angga.


"Al?" Ryuu membelalakkan matanya tanpa berkedip. Ibarat kaca yang pecah, hatinya hancur berkeping-keping melihat Ara dan Rangga sedang berpelukan.


Namun nyatanya, Ryuu tak sadar akan rasa sakit hati yang menjalar dihatinya sekarang.


Selain itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Ara, baru kali ini ia melihat ekspresi Ryuu yang sangat terkejut tanpa ekspresi dingin dan cuek seperti biasanya.


Ini....


Benar-benar situasi yang tak terduga.