
🖤🖤🖤
Selamat malam,
Untuk cintaku yang tak terbalas.
🖤🖤🖤
"Kenapa yang ikut ke puncak besok jadi sebanyak ini?" tanya Ryuu menatap tajam semua orang dihadapannya.
Ara tertawa canggung. Ia tak tahu harus menjawab apa karna memang ialah penyebab dari tatapan tajam Ryuu sekarang. Bagaimana tidak? Malam ini, Ara datang ke rumah Ryuu bersama dengan Angel, Sam, Rangga, dan Revina.
"Besok subuh kan kita berangkat ke puncak, jadi boleh kan kita semua menginap di rumahmu?" tanya Rangga antusias.
Ryuu melirik Rangga sekilas. Lalu detik selanjutnya, ia bertanya pada Ara, "Dia siapa?"
"E-eh, dia 'kan Rangga. Anak baru di kelas kita! Masa kau tidak ingat?" jawab Ara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa manusia ini ada disini?" tanya Ryuu lagi seraya menatap sinis Revina.
Revina tertawa kecil, "Hei, jangan lupakan aku yang juga anggota Band-mu ya."
"Cih, paling-paling kau ikut memang karna ingin menggoda Ryuu saja," cibir Angel dengan suara kecil, namun masih bisa didengar oleh semuanya.
"Apa kau bilang?" tanya Revina kesal.
"Ah, hahaha. Sudah, sudah. Lebih baik, kita ke dalam saja, yuk. Disini dingin. Ayo, ayo masuk!" seru Ara mempersilahkan semuanya masuk ke dalam rumah Ryuu.
Setelah semuanya masuk ke dalam, Ara berniat menutup pagar rumah Ryuu. Namun, ia dikejutkan sesuatu karna ternyata sedari tadi Ryuu masih berdiri di tempatnya sambil menatapnya tajam.
"Eh? Ryuu? Kenapa kau masih disini?" tanya Ara kaget.
"Kau lupa ini rumah siapa?"
"Ah itu, 'kan memang perintah Bundamu begitu. Ajak semua teman-teman Band kita untuk berangkat besok ke Puncak. Aku tidak salah kan?" tanya Ara ragu-ragu.
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kesal, "Maksudku, kenapa kau seenaknya menyuruh mereka semua masuk ke dalam rumahku? Menginap pula."
"Itu juga perintah Bundamu tahu!"
"Bunda? Kapan?"
"Tadi pagi, sebelum aku berangkat sekolah, hehe. Ya sudah, aku ke dalam duluan, ya. Jangan lupa tutup pagar rumahmu!" seru Ara seraya masuk ke dalam rumah Ryuu.
Ryuu hanya diam sambil memejamkan matanya kesal. Ia tak tahu harus bicara apa lagi kalau memang Bundanya-lah yang mengatur ini semua. Lagipula, memang aneh rasanya jika pergi ke Puncak hanya bersama dengan keluarga Ara saja. Ya, setidaknya tahun ini Ryuu bisa merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman Bandnya, kecuali Rangga.
"Kenapa dia harus ikut segala sih? Memangnya dia temanku?" batin Ryuu kesal pada Rangga sambil menutup pagar rumahnya.
***
Tak lama kemudian, di ruang tamu...
"Eh?! Dibatalkan?!"
Ara, Sam, dan Angel terkejut setengah mati. Mereka refleks berdiri dari posisi duduknya mendengar Yuu一sang Bunda dari Ryuu mengatakan hal yang tak mengenakkan. Sedangkan Rangga, Revina, dan Ryuu masih duduk tenang tapi dengan perasaan yang tak kalah terkejutnya.
"Orangtua Ara besok ada acara Reuni SMA. Sedangkan Bunda dengan Ayah akan berkunjung ke rumah karyawan Ayah di kantor yang sedang sakit parah," jelas Yuu perlahan.
"Kenapa Mommy dan Daddy tidak bilang padaku soal ini?" batin Ara seketika menjadi sedih.
"Berarti, tante. Malam ini kita tidak jadi menginap, dong?" tanya Rangga tak mau basa-basi.
Angel menoleh ke arah Rangga, "Lagipula, siapa juga yang mengajakmu menginap disini? Percaya diri sekali kau," cibirnya dengan suara pelan namun masih bisa didengar semua orang.
"Putri yang mengajakku menginap disini, hehehe. Ya, kan Put?"
Ara membulatkan matanya, "Eh? Aku?"
"Iya, tadi saat istirahat 'kan kau sendiri yang sangat bersemangat mengajakku ikut ke Puncak besok," jawab Rangga tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
Ryuu menatap tajam Ara sambil mengangguk-anggukan kepala, "Hmm, begitu rupanya."
"Eh? Bukan, Ryuu. Bukan seperti itu ceritanya一"
"Jadi? Bagaimana, tante? Rencana ke Puncak besok benar-benar akan dibatalkan?" tanya Sam memastikan.
Yuu menaruh jari telunjuk di dagunya. Lama ia terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana, tante?" tanya Revina tak sabaran.
"Hmm, sebenarnya bisa saja sih kalian semua kesana besok. Lagipula kalian semua 'kan sudah besar. Tidak ada orangtua pun tidak masalah, bukan?" ucap Yuu setelah sekian lama berpikir.
"Eh? Kita semua kesana tanpa Bunda, Ayah, Mommy, dan Daddy-ku?" tanya Ara kaget.
"Iya. Maaf ya, Ara. Tapi, tenang saja. Disana, Bunda sudah memesan Villa tempat yang waktu itu kalian survei berdua, hehehe."
"Survei? Berdua?" tanya Rangga dan Revina bersamaan.
"Iya, Ryuu dan Ara. Ya sudah, kalau begitu Bunda mau ke kamar dulu ya. Kalian boleh tidur di kamar yang kosong di lantai atas. Sudah Bunda persiapkan semuanya!" seru Yuu sambil berjalan pergi menuju kamarnya dengan riangnya.
Hening. Suasana di antara ke-6 remaja SMA itu begitu canggung setelah kepergian Yuu. Ya, apalagi Ryuu. Sebagai tuan rumah, Ryuu tak tahu harus bagaimana. Karna ini pertama kalinya ada teman-teman yang menginap di rumahnya.
"Rangga dan Sam di kamar sebelah kanan. Revina, aku, dan Angel di kamar sebelah kiri," sambungnya seraya mempersilahkan semuanya naik ke lantai atas.
Sebelum menaiki tangga, Angel menatap Ara dengan tatapan tak setuju, "Mengapa kita harus sekamar dengan Revina?"
Revina yang sudah jalan lebih dulu di depan Angel segera menghentikan langkahnya, "Hei, sudah kubilang aku ini anggota Band juga. Selain itu, aku ini temannya Ryuu. Bukankah begitu, Ryuu?" tanya Revina pada Ryuu yang masih duduk di ruang tamu.
"Siapa bilang kau temanku?" tanya Ryuu sinis seraya berjalan pergi dari situ. Dilihat dari langkah kakinya, sepertinya Ryuu akan ke taman belakang rumahnya.
Ara tertawa canggung, "Hahaha, kalian ke kamar duluan saja ya. Nanti aku akan menyusul, dah!" serunya seraya mengejar Ryuu yang sudah jauh didepannya.
Awalnya, Rangga berniat mengejar Ara. Namun, niatnya itu diruntuhkan Sam karna Sam dengan cepat mendorong punggung Rangga agar terus berjalan menuju kamar yang akan mereka tempati.
"Hei, Sam! Biarkan aku mengejar Putri!"
Sam menggeleng-gelengkan kepala, "No, no, no. Kita harus segera tidur. Karna besok kita akan berangkat subuh."
Di belakang, Revina dan Angel saling tak mau bicara. Mereka berjalan menuju kamar yang akan mereka tempati dengan wajah tak menyenangkan.
"Aku juga ingin mengejar Ryuu, tapi aku yakin gadis tomboy ini pasti akan menahanku sama seperti Sam pada Rangga," batin Revina kesal sambil melirik Angel lalu melipat kedua tangan di perutnya.
***
Sementara itu, di taman belakang rumah Ryuu...
"Ryuu, kau tidak tidur?" tanya Ara seraya duduk di rumput taman, tepatnya di samping Ryuu.
Ryuu diam. Matanya itu terlalu fokus menatap langit malam. Bulan purnama kesukaan Ara menampakkan dirinya di langit malan ini. Apalagi, bintang-bintang yang berhamburan di langit juga semakin membuat langit malam ini terasa sangat cantik.
"Ryuu, aku mau bertanya. Boleh?"
"Hmm," timpal Ryuu berdehem.
"Sepertinya, Bundamu kenal Revina ya? Saat kita mengobrol di ruang tamu tadi, tatapan Bunda pada Revina terlihat beda."
"Tidak, Bunda tidak kenal Revina. Hanya saja, aku pernah cerita pada Bunda soal mengajar les Revina tanpa dibayar."
"Eh? Lalu? Bundamu tak bicara apa-apa mengenai hal itu?"
Ryuu melirik Ara sekilas, lalu kembali menatap langit malam, "Awalnya Bunda melarangku mengajar les di rumah Revina. Apalagi, aku tak dibayar sama sekali. Akhirnya, ku jelaskan saja pada Bunda bahwa Revina mengetahui rahasiaku. Dia mengancamku akan membocorkan rahasiaku padamu, Al," jelas Ryuu panjang lebar.
"A-apa Bundamu tak bertanya apakah rahasia yang kau simpan tersebut?"
"Tidak. Bunda tidak bicara apa-apa lagi setelah kujelaskan itu semua."
Ara seketika tersenyum-senyum sendiri, "Hmm, kau begitu tak ingin Revina membocorkan rahasiamu padaku. Sampai-sampai kau rela melakukan apapun yang diinginkan Revina."
"Ya, tetap saja pada akhirnya kau juga tahu rahasiaku 'kan? Sebenarnya aku itu hanya tak ingin kau tahu bahwa sewaktu-waktu, aku akan pergi ke Jepang lagi untuk memenuhi janjiku pada nenek soal perjodohanku dengan Aoi."
Ara memanyunkan bibirnya sambil menatap Ryuu dalam-dalam. Merasa di tatap seperti itu, Ryuu balik menatap Ara dengan tatapan sinis.
"Ngomong-ngomong, ada orang yang belum minta maaf padaku. Padahal, ia hampir saja akan membunuhku," sindir Ryuu sambil mengedarkan pandangannya.
"Eh? Maksudmu?" tanya Ara tak peka.
Ryuu berdecak kesal, "Dasar bodoh. Sudahlah, lupakan," katanya seraya bangkit dari duduknya. Detik berikutnya, Ryuu sudah berjalan meninggalkan Ara yang masih duduk di rumput taman.
"Kau mau kemana?"
"Tidur. Sudah larut malam," jawab Ryuu dingin.
"Ryuu, tunggu!"
Ara bangkit lalu mengejar Ryuu yang sudah berjalan cukup jauh di depannya. Setelah cukup dekat, gadis itu menarik tangan Ryuu agar berhenti di tempat.
"Apa, sih?" tanya Ryuu kaget seraya menepis tangan Ara.
"Mumpung aku sedang menginap disini, rasanya agak kurang kalau aku belum mengatakan ini," ujar Ara sambil tersenyum manis.
Ryuu memutar bola matanya, "Lagipula rumahmu ada di sebelah rumahku. Untuk apa menginap segala?" protes Ryuu kesal.
"Hehehe," Ara hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, kau mau mengatakan apa?"
Untuk sesaat, Ara tersenyum-senyum sendiri. Membuat Ryuu yang ada di hadapannya menatap Ara semakin kesal. Karna lama menunggu, Ryuu pun membalikkan tubuhnya, melanjutkan kembali langkahnya yang tertunda tadi.
"Ryuu. Aku menyukaimu!" seru Ara yang sukses membuat langkah kaki Ryuu terhenti seketika.
DEG!!!
"Dah, selamat malam!" sambung Ara cepat.
Setelah bicara seperti itu, Ara dengan cepat berlari mendahului Ryuu yang tertinggal di belakangnya. Sebenarnya, Ara juga cukup malu mengatakan hal tadi. Namun, tidak ada salahnya bukan menyatakan rasa suka pada orang yang memang kita suka? Apalagi, Ryuu sudah tahu perasaan Ara. Jadi Ara merasa untuk tak harus malu-malu lagi tentang perasaannya pada sahabatnya itu.
"Kau.. berniat menghancurkan persahabatan kita yang sudah hampir 10 tahun ini, ya?" batin Ryuu yang masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan Ara yang semakin menjauh darinya.