STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 35 - Perjodohan



🖤🖤🖤


Kamu adalah ketidakmungkinan,


Yang selalu aku semogakan.


🖤🖤🖤


"RYUU?! KAU SEDANG MENEMBAKKU SEKARANG?!"


Ryuu terdiam untuk beberapa saat. Lalu tak lama kemudian ia tersenyum miring, "Kau begitu ingin menjadi kekasihku, ya?" tanyanya dengan wajah meledek.


"Hmph! Ternyata kau sedang mempermainkanku toh!" protes Ara kesal sambil memanyunkan bibirnya.


Ryuu tertawa kecil sambil memperhatikan wajah Ara yang berekspresi kesal padanya. Baru saja Ryuu akan membuka suaranya lagi, tiba-tiba suara dering telepon terdengar begitu keras hingga membuat Ara dan Ryuu terlonjak kaget.


"Angkat teleponmu, Al. Nada deringmu membuatku kaget tahu!" ujar Ryuu dengan ketus.


Ara mengernyitkan dahinya bingung, "Eh? Ponselku 'kan sedang di charge di kamar Angel dan Revina, Ryuu."


"Lalu, telepon siapa yang berbunyi?"


Mereka berdua kini terdiam dan menatap satu sama lain. Ya, mereka saling mencoba mempertajam pendengaran masing-masing. Beberapa detik berikutnya, Ara pun mengetahui itu nada dering dari ponsel siapa.


Siapa lagi kalau bukan...


"Ryuu? Itu nada dering ponselmu, tahu!" seru Ara seraya menunjuk saku jaket Ryuu yang terang karna ponselnya yang menyala.


"Eh?" Ryuu segera merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel miliknya, "Kau benar, ternyata nada dering dari ponselku," katanya dengan wajah datar. Jika boleh, ingin sekali Ara menertawakan Ryuu sekarang juga.


"Bagaimana bisa dia tidak mengetahui nada dering ponselnya sendiri? Hahaha," batin Ara tersenyum menahan tawa.


Sebelum Ryuu mengangkat telepon yang sedari tadi berdering di ponselnya, ia menatap Ara tajam terlebih dahulu.


"Kenapa kau tersenyum-senyum?"


"Eh? T.. Tidak kok," jawab Ara menyembunyikan senyumannya dengan kedua tangannya.


"Aku akan mengangkat telepon ini, jadi jangan menggangguku. Awas saja!" seru Ryuu memperingatkan seraya bangkit dari Sofa tempat ia duduk.


"Memangnya itu telepon dari siapa?" tanya Ara penasaran sebelum Ryuu pergi dari ruang tamu.


Ryuu melirik Ara dan menatapnya dengan tatapan yang aneh dan sulit di artikan, "Kau tak perlu tahu. Ini urusanku," katanya seraya pergi dari situ menuju kamarnya yang ada di lantai 2.


Ara terdiam dan membiarkan otaknya untuk beberapa saat menangkap maksud dari ucapan Ryuu. Kenapa pula dia tak perlu tahu siapa yang menelpon Ryuu? Toh, itu hanya sebuah panggilan biasa bukan? Atau bisa jadi, orang yang menelpon Ryuu sangat penting hingga Ara一yang mana sebagai sahabatnya pun tak boleh tahu apa yang mereka bicarakan di telepon sekarang.


"Apa jangan-jangan, yang menelpon Ryuu adalah Neneknya di Jepang? Atau mungkin..."


Ara terdiam beberapa saat. Lalu pada detik berikutnya ia melanjutkan ucapannya dengan mata terbelalak kaget, "...Jangan-jangan yang menelpon Ryuu adalah Aoi? Calon gadis yang akan dijodohkan dengannya oleh Neneknya yang di Jepang?!"


***


Pagi harinya...


Ara, Ryuu, Rangga, Revina, Sam, dan juga Angel sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Kalau bukan karena Bu Tia yang datang dan memasak untuk mereka, pasti kini mereka semua belum sarapan sama sekali. Namun, setelah memasak sarapan, Bu Tia malah pergi begitu saja sambil mengucapkan "Selamat bersenang-senang!" dengan senyuman manisnya.


"Duh, badanku sakit semua karna kau menendangiku sepanjang malam tadi!" kesal Revina sambil mengunyah sarapannya.


"Eh? Kau yakin tak salah bicara? Kau tuh yang mendengkur begitu keras tadi malam hingga aku tak bisa tidur!" balas Angel tak mau kalah.


"Hahaha, seumur hidup aku tak pernah tidur mendengkur! Jika benar, mana buktinya? Apa kau punya bukti? Rekaman saat aku mendengkur, misalnya. Mana?"


"Sepanjang malam tadi aku sangat bersusah payah untuk tidur, tahu! Aku sama sekali tidak kepikiran untuk merekammu yang sedang mendengkur!"


"Oh? Kalau begitu, ucapanmu itu hanya bohong belaka, ya! Menunjukkan bukti saja tak bisa, itu berarti kau pembohong, hahaha!"


"Apa kau bilang?! Pembohong?!"


"Iya! Kau itu pem一"


BRUAKKK!!!


Sam menggebrak meja makan secara tiba-tiba hingga membuat Revina menghentikan ucapannya. Dengan wajah penuh kesal, dia pun pergi dari ruang makan lalu keluar dari Villa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Lihat? Lama-lama orang lain akan muak juga melihat pertengkaran kalian berdua," sindir Ryuu ketus sambil kembali melanjutkan makannya.


"K.. Kurasa, Sam masih kesal padamu, Ngel. Soal yang tadi malam kau tidak menuruti ucapannya untuk kembali duluan ke Villa ini tapi kau malah tetap mencari Putri," ucap Rangga menambahkan.


Perasaan Angel langsung tak enak dan gelisah terhadap Sam. Dengan wajah penuh rasa cemas, ia menatap Ara yang memang duduk di sampingnya.


"Duh, Ra. Aku harus bagaimana ini?" tanya Angel.


Ara yang sedari tadi melamun langsung terbuyarkan lamunannya seketika, "E-eh?" tanyanya dengan wajah polos.


"Sam pergi dari sini, aku harus bagaimana? Mengejarnya lalu meminta maaf padanya kah? Atau bagaimana?" tanya Angel memperjelas pertanyaannya.


Ara membelalakkan matanya kaget, "E-eh? Sam pergi dari sini? Kapan?"


"Duh, kau dari tadi melamun sih ya. Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi mengejar Sam dan meminta maaf padanya, dah!" seru Angel seraya bergegas dari situ menuju luar Villa.


Sepeninggalnya Angel, tersisa Ryuu, Rangga, Ara, dan Revina yang masih melanjutkan sarapan pagi. Ara juga malah kembali melanjutkan lamunannya sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulutnya. Mengetahui hal itu, Rangga pun menatap Ara khawatir.


"Put? Kau tidak suka sarapan ini ya?" tanya Rangga membuka suara duluan.


Lamunan Ara seketika terbuyarkan, "Eh? T-tidak, kok. Aku suka sarapan ini, hehehe."


"Lalu, kenapa dari tadi kau melamun saja?"


"M-memangnya aku melamun, ya? Hahaha, mungkin itu hanya pandanganmu saja, Rangga."


"Kau benar-benar melamun, Al. Kita berdua tidak buta," ketus Ryuu sambil melirik sinis Ara.


Rangga tentu saja tak terima mendengar Ryuu bicara seperti itu, "Ryuu, jangan selalu bicara ketus pada Putri. Mungkin saja dia punya sesuatu yang ia pikirkan sedari tadi makanya ia melamun," belanya seraya menatap Ara penuh khawatir.


"Ara, ngomong-ngomong, kita akan pulang kapan?" tanya Revina mengalihkan pembicaraan. Rupanya dia tak suka bila Ryuu dan Rangga terlihat mengkhawatirkan Ara.


"Kita pulang siang ini. Memangnya kenapa, Rev?"


"Ah, tidak. Tidak. Aku hanya memastikan saja, kok."


Ara tersenyum simpul pada Revina. Tanpa ia sadari, ia pun kembali melanjutkan lamunannya yang tertunda. Rupanya, sedari tadi gadis itu sedang memikirkan kejadian tadi malam. Ya, saat Ryuu mengangkat telepon yang berdering di ponselnya.


Sebenarnya, Ara diam-diam mengikuti Ryuu dan menguping pembicaraan Ryuu dibalik pintu kamar sahabatnya itu. Karna Ryuu memang tidur sendiri. Sedangkan Sam dan Rangga satu kamar. Jadi Ara tidak takut akan ketahuan jika menguping.


Flashback On


Malam tadi, pukul 02:15 WIB


Ara sedang berdiri di depan kamar Ryuu. Ia menempelkan telinganya di pintu kamar tersebut sambil mempertajam pendengarannya. Ia pikir, ia bisa tahu apa yang dibicarakan Ryuu bersama orang yang menelponnya. Tapi nyatanya nihil. Ia sama sekali tak mengerti apa yang Ryuu ucapkan pada orang yang menelponnya itu.


Note : Chan adalah panggilan untuk perempuan misal teman dekat, sahabat atau pacar. Tapi, laki-laki juga bisa dipanggil chan kalau dekat sama kita. Intinya Chan ini lebih umum dipakai untuk perempuan yang dikasihi atau sangat akrab dengan kita.


"Apa sih yang mereka bicarakan? Aku tak mengerti sama sekali," gumam Ara sangat penasaran sambil terus menguping.


Tiba-tiba...


BRUKKK!!!


"A-awww!"


Ara jatuh tersungkur ke arah depan karna pintu kamar Ryuu terbuka dengan cepat. Saking kencangnya jatuh tersungkur, sampai-sampai kalung berbentuk bulan yang di pakai Ara一 pemberian dari Ryuu ikut jatuh ke lantai. Sambil menatap Ara kaget sekaligus bingung, Ryuu membantu Ara untuk kembali berdiri.


"Kau menguping pembicaraanku di dalam ya?" tanya Ryuu kaget.


Ara meringis sambil memakai kembali kalungnya di lehernya. Ia malah tak menghiraukan pertanyaan Ryuu sama sekali.


"Jawab pertanyaanku," ucap Ryuu dengan wajah serius.


"I.. Iya, aku menguping pembicaraanmu dengan Aoi," jawab Ara sambil menunduk.


"Memangnya kau mengerti apa yang kubicarakan?" tanya Ryuu sambil menarik dagu Ara ke atas agar kepalanya lurus mengarah kepadanya, "Kau 'kan sangat payah dalam bahasa jepang," sambungnya dingin.


"Ehm, memang benar sih..."


"Lalu, untuk apa kau menguping jika kau saja tak mengerti apa yang ku katakan?"


"Ya, mungkin saja aku bisa mengerti sedikit," jawab Ara sekenanya.


Ryuu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring.


"Baka," ujarnya seraya masuk ke kamarnya. Namun, sebelum pintu ditutup, Ara menahan knop pintu kamar Ryuu. Menatapnya dengan tatapan memohon.


"Kenapa? Kau mau tidur bersamaku?"


"B.. Bukan! Aku masih ingin bertanya, tahu!" seru Ara cukup tertegun dengan pertanyaan frontal Ryuu.


Ryuu mengangguk-anggukan kepalanya sambil menatap Ara tajam, "Tanya apa?"


"Apa.. Apa kau sering berkomunikasi dengan Aoi?"


"Tidak, jarang."


"Apa kau sering menelponnya? Atau Aoi duluan yang menelponmu?"


"Aku tak pernah menelponnya duluan. Dan Aoi baru kali menelponku untuk pertama kalinya."


"Ja.. Jadi, tadi itu pertama kalinya kalian berbicara di telepon?"


Ryuu mengangguk, "Kami biasanya hanya bertukar pesan atau email saja, tak lebih."


Entah kenapa, Ara merasa lega mendengar ucapan Ryuu. Ya, itu artinya, masih ada kesempatan dan celah baginya untuk mendekati Ryuu tanpa merasa ada saingan. Tapi jika dipikir-pikir lagi, bukankah Revina juga mengincar Ryuu? Mengingat hal itu, rasa lega Ara berkurang sedikit.


"Sudah kan kau tak akan bertanya apa-apa lagi? Aku mau tidur," ujar Ryuu seraya bersiap menutup pintu.


Lagi-lagi Ara menahan knop pintu kamar Ryuu. Membuat Ryuu cukup jengkel dibuatnya.


"Apa lagi, sih?" tanya Ryuu sudah mulai sebal.


"Aku mau tanya sekali lagi," kata Ara dengan wajah serius sekaligus penasaran.


"Apa?"


"Apa kau.. Apa kau setuju dijodohkan dengan Aoi?"


"Tentu saja, bagaimanapun dia adalah calon perempuan pilihan Nenekku. Aku yakin pilihan Nenek tak akan salah."


Ara tersentak kaget mendengar jawaban Ryuu yang cukup membuat hatinya tertohok. Sambil menundukkan kepalanya, ia melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan knop pintu kamar Ryuu.


"Tapi, bukan berarti aku menyukainya, Al. " ujar Ryuu yang sepertinya menyadari kesedihan Ara.


"Eh?" Ara langsung menatap Ryuu kaget sambil membelalakkan matanya.


"Kan sudah ku bilang, aku memberimu waktu untuk membuatku menyukaimu hingga waktu kelulusan tiba. Jika sampai saat waktu kelulusan aku masih belum juga menyukaimu, sepertinya aku memang tak ada pilihan lain selain menerima perjodohanku dengan Aoi di Jepang sana," jelas Ryuu sambil menutup pintu kamarnya dengan cepat.


BRUK!


Pintu tertutup.


Ara mengernyitkan dahinya bingung. Sekilas, matanya tadi bisa melihat bahwa sedetik sebelum pintu ditutup, Ryuu tersenyum manis padanya. Disaat itu pula jantungnya berdebar kencang dan wajahnya merah merona. Bahkan ia saja tak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya sendiri.


"Kenapa Ryuu tersenyum manis seperti itu padaku? Apa jangan-jangan dia benar-benar serius untuk mengakhiri persahabatan kami?" batin Ara seraya menggigit bibir bawahnya, mencoba menyembunyikan rasa senang yang berkumpul di hatinya sekarang.


Flashback Off


"Ra, kau sudah selesai sarapannya?" tanya Rangga yang seketika membuyarkan lamunan Ara.


"Eh?"


"Tadi malam, saat aku mencarimu, aku melihat ada sungai yang sangat indah di sekitar sini," jelas Rangga yang berbisik di telinga Ara.


"Eh? Benarkah?" tanya Ara antusias yang membuat Ryuu dan Revina langsung menatap Ara seketika.


Revina berdecak, "Kalian membicarakan apa, sih? Kenapa bisik-bisik segala?"


"Bukan urusanmu, wleee..." jawab Rangga menjulurkan lidahnya seraya pergi dari ruang makan sambil membawa piring bekas sarapannya tadi. Langkah kakinya itu pun diikuti oleh Ara dibelakangnya yang juga membawa piringnya.


Kini, tersisa Ryuu dan Revina saja yang masih melahap sarapan. Tak ingin diam terlalu lama, Revina pun membuka suara.


"Ryuu, bagaimana hubunganmu dengan orang yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Revina yang memang sudah tahu dari awal tentang hal itu.


"Baik-baik saja. Memang kenapa?" Ryuu balik bertanya dengan dingin.


"Ah, tidak. Hanya saja, aku penasaran. Pada akhirnya kau akan lebih memilih siapa, ya. Hahaha..."


"Maksudmu?"


"Maksudku, apa pada akhirnya kau akan lebih memilih Aoi? Ara? Atau mungkin, aku?" tanya Revina sambil tersenyum angkuh.


Ryuu memutar bola matanya, memasukkan makanan ke mulutnya, lalu menatap Revina dengan tatapan penuh rasa tak suka.


"Kau tidak masuk dalam daftar pilihanku. Jadi jangan harap ya," ujar Ryuu ketus. Detik selanjutnya ia sudah pergi dari situ sambil membawa piring bekas sarapannya, meninggalkan Revina sendirian di ruang makan.


Hati Revina seketika panas mendengar ucapan ketus Ryuu padanya. Ia diam tak berkutik. Lebih tepatnya, ia sedang menahan emosi sambil mengepalkan tangannya.


"Awas saja, Ryuu. Aku akan menghancurkan Ara sebagaimana aku dihancurkan olehmu," batinnya sungguh kesal.